Bab Utama : 3/3 Selesai. Bab Bonus Hadiah Akumulasi : 2 Bab. Bab Bonus Gems Akumulasi : 4 bab . Bab Extra Author Akumulasi : 13 Babb. Bab Utama merupakan bab terakhir malam ini ... selamat beristirahat. Besok Author mulai update full ya ... hari ini sibuk sekali di Real Life. Terima kasih.
Kota Surgawi—jantung Tanah Terlarang Dewa dan Iblis—berdiri di antara awan keemasan yang retak. Dinding hitam menjulang setinggi langit, diukir dengan simbol kuno dewa dan iblis yang sudah berlumuran darah sejak ribuan tahun lalu. Kini, setelah perang panjang yang mengguncang daratan, kota itu menjadi pusat perhatian semua sekte, klan, dan paviliun besar.Di aula agung yang dipenuhi bendera darah dan dupa ritual, ratusan tetua sekte berkumpul. Para elder Paviliun Bayangan Iblis, klan Pembunuh Dewa, sekte Racun Iblis Utama, hingga Sekte Gema Takdir berdiri berdampingan. Mereka berbeda-beda, tapi satu suara bergema di ruang itu:“Kevin Drakenis, penguasa baru! Kaisar Tanah Terlarang!”Suara itu mengguncang pilar batu, bergema seolah langit pun ikut menyetujuinya.Kevin duduk di kursi batu hitam di tengah aula, tapi tatapannya kosong. Jubah perangnya masih berlumur darah Larxene, rambutnya kusut, dan pedang di tangannya masih belum ia lepaskan. Ia tak mengangkat kepalanya, hanya mendenga
Angin dingin mencabik reruntuhan Desa Langit. Suara langkah berat Larxene menggema, pedang raksasa berlapis aura merah gelapnya diseret di atas tanah. Bau darah bercampur belerang memenuhi udara.Kevin berdiri di samping Ravena, tubuhnya basah oleh keringat dan darah musuh yang masih menetes dari pedangnya. Nafasnya berat, tapi matanya tetap membara. Sementara Ravena—kedua pupilnya memancarkan cahaya kebiruan yang aneh. Uap es keluar dari pori-porinya, dan setiap tarikan nafasnya membekukan debu di udara.Larxene menyeringai.“Dua melawan satu? Kalian pikir bisa menyentuhku? Kalian hanya bayangan di hadapan pedangku.”“Cih!” Kevin meludah darah ke tanah.“Coba saja, bajingan. Tadinya aku pikir kau itu Dewa Seiryu yang baik hati, tapi ternyata kau sama saja... anjing penjaga Tian Long!”“Brengsek Kau, Kevin! Kau juga sama kejamnya dengan Tian Long! Apa bedanya kamu dengan dia?” balas Larxene.“Bedanya? Aku tidak mau kau jadi anjing penjagaku!” ejek Kevin.Ravena hanya menurunkan bahu,
Ledakan biru-ungu menyambar langit. Es abadi milik Ravena Xenagon membentuk ratusan tombak kristal yang menancap di bumi, membekukan apapun yang disentuhnya. Di seberang medan perang, Larxene Gods tertawa—wajahnya berganti-ganti cepat, dari bocah hingga wanita tua, dari gadis jelita hingga monster berlidah panjang. Sungguh mengerikan padahal ia adalah wanita yang cantik ... atau itu juga bukan wajah aslinya?“Lucu sekali… kau pikir es bisa membungkusku, Ravena?” suara Larxene terdengar di lima arah sekaligus. “Hanya mainan anak kecil!”Ratusan bayangan Larxene bergerak serentak, masing-masing membawa cambuk hitam yang berayun memotong udara, menebas tubuh pasukan Dracarys yang masih berusaha bertahan. Tubuh mereka robek, darah muncrat ke langit, kepala-kepala beterbangan.Sungguh tragis nasib para pasukan yang memiliki ranah kultivasi yang rendah.Ravena berdiri di atas naga es raksasanya. Rambut hitamnya berkibar, wajahnya dingin penuh amarah.“Mulutmu terlalu banyak, dewi sampah.”De
Langit kian bergemuruh. Petir hitam, api biru, dan hujan darah bercampur jadi tirai suram di atas Desa Langit membuat suasana desa ini semakin mengerikan.Di tengah kawah besar yang dulunya tanah desa, Helena Caraxis masih bertarung mati-matian melawan Axel Gods. Setiap tabrakan mereka menciptakan gelombang kehancuran yang menghancurkan sisa bangunan, membuat tanah terlarang terus bergetar seperti hendak runtuh.Helena, dengan tubuh berlumuran darah, menahan pedang panjangnya Stormfang Saber yang dipenuhi aura petir biru. Napasnya berat, pundaknya bergetar, namun matanya masih membara. “Axel… bahkan kalau tubuhku hancur, aku akan menjatuhkanmu ke tanah hari ini!”Pertarungannya dengan Dewa Tanpa Wajah ini telah menguras habis energi spiritualnya. Ia hanya bertahan dengan energi naga yang ia dapatkan saat berada di Negeri Naga Seiryu, namun energi ini pun sudah hampir habis. Riwayatnya akan tamat kalau ia tidak memiliki energi sama sekali untuk menghadapi Axel Gods.Axel hanya tertawa,
Langit di atas Desa Langit semakin suram. Celah-celah hitam terbuka, memuntahkan kilatan putih menyilaukan seolah surga dan neraka sedang bertarung memperebutkan tanah kecil itu.Di bawah bayangan langit yang koyak, Desa Langit tak lagi terlihat seperti desa. Rumah-rumah kayu hancur jadi puing, sawah-sawah terbakar hingga tinggal arang. Bau asap, besi darah, dan daging hangus bercampur jadi udara yang nyaris tak bisa dihirup.Namun di antara reruntuhan itu, pasukan Paviliun Dracarys masih berdiri—cultivator Ranah Inti Emas hingga Integrasi Tubuh, membentuk barisan terakhir yang menghalangi gelombang dewa-iblis.Pasukan lainnya sudah gugur oleh kehebatan pasukan Kaisar Tanah Terlarang yang telah disihir oleh Axel menjadi pasukan yang sangat kuat.Ledakan demi ledakan mengguncang desa. Tubuh-tubuh para cultivator meledak di udara, organ berserakan di tanah. Tanah yang dulunya hijau kini menjadi sungai merah.Di tengah lautan darah itu berdiri Claudia Xander.Gaunnya yang dulu anggun kini
Langit sepertinya bukan lagi milik manusia. Bintang-bintang menghilang, bulan tertelan kabut, dan udara bergetar oleh benturan energi yang terlalu besar untuk ditanggung dunia spiritual Tanah Terlarang Dewa dan Iblis.Di atas lautan darah yang penuh mayat mengapung, dua sosok bertarung—Helena Caraxis dan Axel Gods. Bukan sekadar duel, melainkan tabrakan dua kekuatan yang sanggup merobek kenyataan itu sendiri.Helena, tubuhnya berlumuran darah segar bercampur noda kering yang membeku di kulit. Nafasnya berat, namun tatapannya menyala, penuh api pemberontakan. Rambut hitamnya berkibar liar, menyatu dengan kilatan petir yang membungkus seluruh tubuhnya. Di tangannya, Stormfang Saber bergetar ganas, memuntahkan kilatan biru keunguan yang menyalak seperti kawanan serigala lapar.Setiap ayunan pedang itu melahirkan badai. Setiap tebasannya mencabik udara, menciptakan retakan di langit, menggelegar bagai ribuan guntur jatuh bersamaan.Sementara di hadapannya, Axel—sosok berkerudung tanpa w