Share

2. Sosok Lain

Penulis: Aksara Ocean
last update Tanggal publikasi: 2025-10-02 11:04:01

Bab 2 Sosok Lain

Dua hari berlalu dengan begitu cepat, tapi kebahagiaan di hati Bashira tidak pernah surut. Atas rencana perjodohan dua belah pihak keluarga, senyumnya senantiasa terukir lebar dan awet.

"Hari ini aku mau ketemu sama Arion, Pa," ucap Bashira saat tiba di meja makan.

Bukan hanya Hadi yang menoleh, tapi Dania dan Lita pun melakukan hal serupa. Dua perempuan itu adalah keluarga baru Bashira. Lima tahun lalu, Hadi menikahi Lita, seorang janda beranak satu.

"Kamu gak pergi ke hotel?" tanya Hadi menyimpan sendok dan garpu.

"Mau, Pa. Setelah makan siang nanti aku pasti pergi ke hotel." Bashira menjawab dengan senyum penuh. Di bawah meja, kakinya bergerak-gerak, menandakan bahwa ia sangat tidak sabar bertemu sang kekasih. Ada banyak hal penting yang ingin Bashira bicarakan soal acara pertunangan dua minggu lagi.

Perempuan yang satu itu memang terkenal ceria. Bashira juga ramah dan mudah bergaul dengan siapa pun. Karena sikapnya itu, Bashira sering diikutsertakan ke dalam pertemuan penting para tetua Pakusadewo, yang sampai detik ini masih mengurus bisnis besar keluarga mereka.

"Jangan sering-sering keluar rumah kalau tidak bekerja, Ra, Mama khawatir kamu kelelahan." Lita berucap penuh perhatian.

"Jangan khawatir, Tante, tenagaku masih sangat banyak. Aku pasti bisa sehat sampai acara tunanganku dan Arion tiba," balas Bashira.

Senyum yang sempat singgah di bibir Lita, perlahan tenggelam hingga tak tersisa. Panggilan Tante masih disematkan oleh Bashira, membuatnya sedikit tidak nyaman. Namun, ia bisa apa selain menerima dengan hati yang lapang?

Lima menit kemudian, Bashira beranjak lebih dulu, berpamitan pada keluarganya dan bergegas melajukan mobil.

Soal Arion, Bashira memiliki sedikit kekhawatiran. Sejak kemarin malam kekasihnya itu sulit dihubungi. Belasan pesan yang dikirimkan Bashira hanya dibalas sesekali. Bashira bingung, tidak biasanya Arion bersikap seperti ini.

"Apa mungkin Rion masih sibuk di kantor?" tanya Bashira menghentikan laju kendaraan roda empatnya. Ia bingung harus pergi ke mana. Ke rumah Arion, atau ke perusahaan Atmadja?

"Sebaiknya aku telfon aja Tante Melani," putus Bashira menghubungi calon mertuanya.

Bashira mengambil ponsel, mengklik nama Melani di layar. Sempat menunggu beberapa detik, akhirnya Melani menjawab panggilan.

"Halo, Shira calon menantuku?" Melani menyapa dengan suara terdengar sangat ramah.

Hati Bashira kembali menghangat. Kekhawatirannya pada Arion sempat mereda selama beberapa saat.

"Tante Cantik, aku mau tanya apa Rion udah pulang ke rumah?"

"Aduh, Arion pasti belum menghubungi kamu, ya? Maaf, ya, Shira. Kemarin Arion sibuk sekali di perusahaan, menggantikan papanya yang tiba-tiba harus pergi ke luar kota. Sekarang Arion belum pulang ke rumah. Katanya dia mau istirahat di apartemen. Kamu bisa ke sana kalau mau."

Ah, ternyata begitu.

Bashira menjadi lebih lega. Kepalanya mengangguk samar. Sebelum panggilan dimatikan, pada Melani Bashira berkata akan menghampiri Arion di apartemen.

Mobil kembali bergerak pasti, membelah jalanan ibu kota yang pada merayap. Sejak awal menjalin hubungan dengan Arion, ia tahu kekasihnya itu memiliki sebuah apartemen yang dekat dengan perusahaan Atmadja. Bashira pernah singgah di sana beberapa kali. Ia pun memiliki kartu akses, sehingga bisa keluar masuk unit apartemen Arion dengan bebas.

Tiba di gedung apartemen, Bashira naik ke lantai dua belas. Tangannya gegas menempelkan kartu akses di depan gagang pintu.

Baru masuk dua langkah, bau alkohol menyengat hidung. Bashira sampai meringis. Ia merasa tidak nyaman dengan bau tersebut.

"Apa dia mabuk?" tanya Bashira kembali khawatir sekaligus tidak nyaman.

Sepanjang mata memandang, Bashira tidak menemukan Arion. Kalau sudah begitu, pastinya Arion berada di kamar. Di sana ada dua pintu kamar. Bashira tahu di mana Arion sering tidur jika menginap di apartemen.

Membuka pintu kamar utama, napas Bashira tertahan. Tubuhnya seakan tersentak. Sebab di atas ranjang itu, Arion tidak tidur sendirian. Matanya nanar memandang seorang perempuan tanpa busana berbaring di samping kekasihnya.

Hal apa yang sudah mereka berdua lakukan di apartemen ini? Cekalan Bashira pada gagang pintu menguat, bersamaan dengan air mata yang sudah menggenang. Semula Bashira ingin berbalik lantas pergi. Namun, muncul lagi hentakan dari amarah yang terkumpul dalam dirinya.

"Arion!”

****

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pewaris Kejam Itu, Adalah Suamiku   59. Kebersamaan

    Bab 59 Kebersamaan "Jangan takut sama Tante Lita ataupun Dania. Mereka gak punya kuasa apa-apa di sini." Bashira menenangkan empat asisten rumah tangganya."Terima kasih, Non, sudah datang dan membela kami," ucap Asih mewakili teman-temannya."Sama-sama, Bi. Aku juga makasih, karena Bibi dan yang lain lebih mendengarkan apa kata Kakek Gunawan.""Kami semua akan selalu berada di pihak Non Shira dan Pak Gunawan."Bashira tersenyum mendengarnya, seperti mendapat teman setia yang tak akan pernah pergi dari sisinya."Sekarang Bibi dan yang lain kembali bekerja, ya. Kalau Tante Lita berulah lagi, jangan sungkan memberi tahu aku." Bashira lantas meninggalkan dapur.Perempuan itu naik ke lantai dua, berganti baju dan membawa baju ganti lainnya. Malam ini ia akan menginap lagi di hotel. Hatinya yang masih kecewa pada Hadi, enggan sekali bertemu dengan lelaki paruh baya itu.Setelah selesai bersiap dan menenteng satu paper bag juga tas kerja, Bashira kembali ke bawah. Saat itulah ia berpapasan

  • Pewaris Kejam Itu, Adalah Suamiku   58. Menahan Malu

    Bab 58 Menahan MaluDatangnya Gunawan dengan membawa peringatan, otomatis membuat posisi Hadi semakin terancam. Selama beberapa saat, ia dan Lita kompak membisu di tempat semula."Pak Gunawan terlalu ikut campur, Pa. Dia merasa lebih berhak atas Bashira, padahal Papa adalah ayah kandung anak itu!" Lita menoleh pada Hadi, berucap sangat pelan tapi sarat akan amarah yang cukup besar.Hadi diam saja."Segera lakukan sesuatu, Pa, supaya Pak Gunawan tidak memandang rendah posisi Papa di rumah ini.""Diam, Ma!" titah Hadi tak mau mendengar apa pun lagi. "Papa Gunawan tau semua yang terjadi pada kita dan Bashira. Itu artinya, dia punya mata-mata di rumah ini."Lita melotot mendengar itu. Ia lekat menatap Hadi."Jadi maksud Papa ... semua orang yang bekerja di sini tunduk pada Pak Gunawan?"Hadi tak mau menjawab pertanyaan itu. Ia memilih berdiri."Mau ke mana, Pa?""Jangan pernah sekali pun membicarakan pernikahan Bashira dan Sabian di rumah ini.""Gak bisa begitu, Pa!" bentak Lita tak terim

  • Pewaris Kejam Itu, Adalah Suamiku   57. Ancaman Gunawan

    Bab 57 Ancaman Gunawan"Kita berdua tidak punya masalah, Ra!""Punya!" timpal Bashira mengingatkan. "Jangan pernah lupakan masalah yang Papa timbulkan sendiri!""Masalah apa maksud kamu ini? Kamu membuat seakan-akan Papa adalah orang tua yang buruk!"Bashira menatap tajam Hadi. Andai lelaki paruh baya itu bukan ayah kandungnya, mungkin ia akan langsung meludahinya tanpa ragu. Semua itu dikarenakan, Hadi sangat playing victim."Pertama, Papa mendesak supaya aku membantu Papa mendapatkan posisi lebih tinggi di hotel ini. Karena aku menolak, Papa makin berubah dan menganaktirikan aku. Kedua, Papa menyetujui hubungan Dania dan Arion, dengan maksud supaya aku merasa terusik, bukan? Dan yang ketiga, Papa terang-terangan menjadikan Dania prioritas." Bashira membeberkan semuanya tanpa ragu.Lita melotot mendengarnya. Sungguh berani sekali Bashira bicara panjang lebar seperti itu. Sementara Hadi dibuat bungkam seketika. Lelaki paruh baya itu perlahan mundur, satu hal yang membuat Lita menggera

  • Pewaris Kejam Itu, Adalah Suamiku   56. Amarah Di Tengah Malam

    Bab 56 Amarah Di Tengah MalamDada Lita seakan dihantam habis-habisan mendengar berita itu. Ia gegas berdiri. Gerakannya yang cepat dan tiba-tiba itu membuat Hadi terusik dari tidurnya."Ada apa, Ma?" tanya Hadi, dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka.Lita tak menjawab. Ia masih sibuk mendengar ocehan Dania di telepon. "Sudah kamu pastikan, Dan, kalau Arion gak mengarang cerita?""Ya ampun, Ma, buat apa Arion mengarang cerita? Dari tadi mukanya kusut, aku sampai gak bisa bikin dia terangsang!" ucap Dania frontal."Ini semua gak bisa dibiarkan!" Lita langsung menatap tajam pada Hadi, setelah memutus panggilannya dengan Dania begitu saja. "Kenapa Papa gak ngasih tau Mama, kalau pernikahan Bashira dan Sabian akan dipercepat?""Apa?" Hadi bertanya linglung."Bashira dan Sabian akan menikah tahun ini, Pa! Papa pasti sudah tau kan?" tuduh Lita dengan jari mengacung ke wajah Hadi."Papa sama sekali gak tau soal itu, Ma!" sanggah Hadi. Lelaki paruh baya itu lekas meninggalkan kamar, henda

  • Pewaris Kejam Itu, Adalah Suamiku   55. Penolakan!

    Bab 55 Penolakan!"Bashira dan Sabian akan segera menikah."Arion mengacak rambutnya. Perkataan Melani beberapa jam lalu, berhasil menghancurkan mood-nya hari ini."Kita cari rencana untuk menggagalkan pernikahan itu, Ma!""Mana bisa! Di belakang mereka ada keluarga Pakusadewo!"Sekarang Arion memukul setir kemudi. Ia tak mampu membayangkan, jika kelak Bashira dan Sabian resmi menjadi sepasang suami istri. Itu artinya, jalan untuknya mendapatkan Bashira benar-benar telah buntu."Apa yang harus aku lakukan?" Arion menerawang jauh ke depan, padahal di depannya hanya ada tembok kokoh.Saat ini, ia sedang berada di basement klub malam, hendak menyusul Dania yang sejak tadi merengek minta ditemani. Sayangnya Arion tak bisa menolak, sebab Dania pasti akan curiga mengapa dirinya tiba-tiba tak jadi datang.Kepala Arion bertambah berat ketika masuk ke area klub. Musik berdentum keras. Puluhan orang berbaur, menari seperti kehilangan akal sehat. Pandangan Arion pun berkeliling, mencari di mana

  • Pewaris Kejam Itu, Adalah Suamiku   54. Pemain?

    Bab 54 Pemain?"Kamu kasihan sama aku, ya?" tanya Bashira saat di mobil."Apa kelihatannya begitu?" Sabian malah balik bertanya, menoleh sebentar pada Bashira.Sekarang Bashira diam. Sejak tadi, ia tak melihat Sabian menumpahkan sorot kasihan padanya. Lelaki itu malah terlihat seperti ingin memberinya perlindungan ekstra."Ra, aku tau betul kamu bukan perempuan lemah. Selama ini kamu bisa bertahan di rumah, meski di sana ada Dania dan Tante Lita. Tapi untuk berhadapan dengan Om Hadi, aku yakin kamu akan bertarung dengan perasaan kamu sendiri. Sejujurnya kamu enggan berkonflik dengan Om Hadi."Itu benar, dan Bashira tak perlu repot-repot membantah asumsi Sabian."Maka dari itu, serahkan Om Hadi padaku," sambung Sabian."Mau kamu apakan papaku?" tanya Bashira dengan mata memicing. Sejak masuk mobil, ia tak lagi mengenakan kacamata hitamnya."Nggak akan diapa-apain, kok. Tapi setidaknya kalau ada aku, Om Hadi akan segan memarahi kamu."Bashira tertawa mendengarnya. Ia percaya Sabian tak

  • Pewaris Kejam Itu, Adalah Suamiku   24. Pertengkaran Hadi dan Bashira

    Bab 24 Pertengkaran Hadi dan Bashira"Pa, kenapa urusan di luar belum selesai juga? Ayo cepat pulang! Barusan Bashira mengamuk dan hampir menampar Dania!"Telepon dari istrinya membuat Hadi terpaksa menyudahi pertemuan dengan orang penting. Ya, lelaki paruh baya itu mampir ke tempat lain setelah pu

  • Pewaris Kejam Itu, Adalah Suamiku   22. Minta Maaf Lagi?

    Bab 22 Minta Maaf Lagi?"Boleh aku bertanya, Ra?" Sabian memulai pembicaraan lebih dulu, setelah lima menit terlewati begitu saja, sejak mereka masuk ke dalam mobil dan melakukan perjalan pulang menuju kediaman Bashira.Bashira menoleh sebentar, memberikan anggukan kepala sebagai izin."Ada masalah

  • Pewaris Kejam Itu, Adalah Suamiku   21. Perubahan Sikap

    Bab 21 Perubahan SikapBashira kerap memikirkan sikap Hadi, mulai menyalahkan diri sendiri karena tak bisa memenuhi keinginan sang ayah. Namun, Bashira benar-benar tidak bisa berbuat banyak, jika keinginan Hadi bersinggungan langsung dengan Hotel Pakusadewo.Begitulah hidup Bashira. Setelah mendian

  • Pewaris Kejam Itu, Adalah Suamiku   20. Menyiram Bensin Ke Dalam Api

    Bab 20 Menyiram Bensin Ke Dalam ApiKabar diangkatnya Sabian menjadi wakil direktur telah menyebar, tak hanya menciptakan kehebohan di keluarga Atmadja, tapi Lita dan Dania yang bukan siapa-siapa dan tak memiliki pengaruh apa-apa, menjadi sangat heboh sekaligus tidak tenang."Aku gak habis pikir sa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status