เข้าสู่ระบบBab 3 Sifat Asli
Namanya disebut disebut dengan lantang. Arion menggeliat, tidak menyadari ada seorang perempuan yang berjalan cepat untuk menarik lengannya. "Bangun kamu, Rion!" bentak Bashira sambil memukul punggung Arion sekuat tenaga. Barulah Arion meringis, lantas sadar bahwa dirinya tengah menghadapi situasi berbahaya. Sambil tersentak, lelaki itu beranjak duduk. Matanya menatap Bashira yang sekarang berdiri kaku dengan wajah memerah. Perempuan itu terlihat sangat marah. Arion menoleh ke samping, pada selingkuhan yang ternyata masih berada di apartemennya. Sialan! Umpatan kasar menggaung dalam hati. Arion buru-buru mengambil baju di lantai dan mengenakannya. "Jelaskan sama aku, apa yang kamu lakukan sama perempuan itu?!" jerit Bashira menuntut jawaban. "Sayang, dengarkan dulu." "Bajingan kamu, Arion!" Bashira menjerit lagi. Langkah kakinya bergeser, berpindah pada si perempuan yang masih terlelap seakan tak ada keributan di dekatnya. "Bangun kamu!" titah Bashira tidak mengguncang lengannya, tapi langsung menjambak rambut perempuan itu. Selingkuhan Arion meringis, langsung tersentak melihat keberadaan Bashira. "Pergi dari sini sekarang juga!" titah Arion pada Yura. "Jangan pergi ke mana pun!" Bashira mengacungkan jari telunjuknya. Mata perempuan itu melotot tajam. "Biarin aja dia pergi! Urusanku sama dia udah selesai!" bentak Arion seraya menarik tangan Bashira keluar kamar. "Apa kamu bilang? Urusan kamu sama dia udah selesai? Urusan apa? Urusan ranjang maksud kamu?!" cecar Bashira. Sepanjang hubungannya dengan Arion, tidak pernah sekalipun ia membentak-bentak kekasihnya seperti ini. Bashira sungguh tidak menyangka, lelaki yang sangat dicintainya, juga dipercaya mampu menjaga kesetiaan hubungan mereka, malah tidur dengan perempuan lain. Lebih parahnya, tidak ada sedikit pun rasa bersalah di wajah Arion. Arion malah balik melotot tajam. "Iya! Aku sama Yura memang punya urusan di atas ranjang! Kenapa? Kamu mau marah?" Bashira mundur dua langkah ketika Arion tidak lagi mencekal lengannya. Kepalanya menggeleng pelan, masih sangat tidak percaya Arion akan menebas hatinya dengan pengkhianatan seperti ini. "Kamu gila, Rion! Kita mau tunangan, tapi kamu malah tidur sama perempuan lain!" bentak Bashira. Ia menoleh ke samping, pada Yura yang baru keluar kamar. Sepertinya, perempuan murahan itu hendak pergi seperti kata Arion beberapa saat lalu. Tentu saja Bashira tidak akan tinggal diam. Kakinya hendak mengayun, tapi lagi-lagi Arion menahan sambil berkata, "ayo pergi dari sini! Tunggu apa lagi?!" "Jangan coba-coba keluar dari sini, Sialan, urusan kita belum selesai!" Lantang Bashira berucap. Yura sempat dilanda kebingungan. Usai melihat Arion menatap tajam, ia pun buru-buru meninggalkan apartemen. Ketika keluar, jeritan Bashira di dalam sana masih terdengar melengking. "Akan aku adukan sikap kurang ajar kamu ini sama Kakek!" ancam Bashira tak main-main. Orang yang telah menyakiti hatinya harus menerima ganjaran setimpal, tidak boleh dibiarkan begitu saja, kendati orang tersebut adalah Arion—lelaki yang selama tiga tahun ini selalu menjadi prioritas Bashira. "Silakan kamu adukan semuanya sama Kakek Gunawan, Shira! Apa kamu lupa, apa pun yang terjadi kita tetap akan bertunangan, menikah, lalu menjadi suami istri! Ingat, ya, ada perjanjian di antara keluarga kita, di mana kamu harus menjadi istriku!" Arion benar-benar gila. Alih-alih meminta maaf, ia malah menunjukkan sifat aslinya. Hancur sekali hati Bashira, tapi ia akan berusaha melawan. "Tubuh kamu sudah kotor, Rion. Laki-laki kurang ajar yang gak bisa menjaga kesetiaan seperti kamu, gak pantas jadi suamiku!" Arion tertawa keras, menganggap enteng semua permasalah di depan mata. "Sekali lagi, Shira, kamu gak akan pernah bisa lari dariku. Meskipun aku tidur dengan ratusan perempuan sekalipun, Kakek Gunawan tidak akan pernah memutuskan hubungan di antara kita berdua!” ****Bab 59 Kebersamaan "Jangan takut sama Tante Lita ataupun Dania. Mereka gak punya kuasa apa-apa di sini." Bashira menenangkan empat asisten rumah tangganya."Terima kasih, Non, sudah datang dan membela kami," ucap Asih mewakili teman-temannya."Sama-sama, Bi. Aku juga makasih, karena Bibi dan yang lain lebih mendengarkan apa kata Kakek Gunawan.""Kami semua akan selalu berada di pihak Non Shira dan Pak Gunawan."Bashira tersenyum mendengarnya, seperti mendapat teman setia yang tak akan pernah pergi dari sisinya."Sekarang Bibi dan yang lain kembali bekerja, ya. Kalau Tante Lita berulah lagi, jangan sungkan memberi tahu aku." Bashira lantas meninggalkan dapur.Perempuan itu naik ke lantai dua, berganti baju dan membawa baju ganti lainnya. Malam ini ia akan menginap lagi di hotel. Hatinya yang masih kecewa pada Hadi, enggan sekali bertemu dengan lelaki paruh baya itu.Setelah selesai bersiap dan menenteng satu paper bag juga tas kerja, Bashira kembali ke bawah. Saat itulah ia berpapasan
Bab 58 Menahan MaluDatangnya Gunawan dengan membawa peringatan, otomatis membuat posisi Hadi semakin terancam. Selama beberapa saat, ia dan Lita kompak membisu di tempat semula."Pak Gunawan terlalu ikut campur, Pa. Dia merasa lebih berhak atas Bashira, padahal Papa adalah ayah kandung anak itu!" Lita menoleh pada Hadi, berucap sangat pelan tapi sarat akan amarah yang cukup besar.Hadi diam saja."Segera lakukan sesuatu, Pa, supaya Pak Gunawan tidak memandang rendah posisi Papa di rumah ini.""Diam, Ma!" titah Hadi tak mau mendengar apa pun lagi. "Papa Gunawan tau semua yang terjadi pada kita dan Bashira. Itu artinya, dia punya mata-mata di rumah ini."Lita melotot mendengar itu. Ia lekat menatap Hadi."Jadi maksud Papa ... semua orang yang bekerja di sini tunduk pada Pak Gunawan?"Hadi tak mau menjawab pertanyaan itu. Ia memilih berdiri."Mau ke mana, Pa?""Jangan pernah sekali pun membicarakan pernikahan Bashira dan Sabian di rumah ini.""Gak bisa begitu, Pa!" bentak Lita tak terim
Bab 57 Ancaman Gunawan"Kita berdua tidak punya masalah, Ra!""Punya!" timpal Bashira mengingatkan. "Jangan pernah lupakan masalah yang Papa timbulkan sendiri!""Masalah apa maksud kamu ini? Kamu membuat seakan-akan Papa adalah orang tua yang buruk!"Bashira menatap tajam Hadi. Andai lelaki paruh baya itu bukan ayah kandungnya, mungkin ia akan langsung meludahinya tanpa ragu. Semua itu dikarenakan, Hadi sangat playing victim."Pertama, Papa mendesak supaya aku membantu Papa mendapatkan posisi lebih tinggi di hotel ini. Karena aku menolak, Papa makin berubah dan menganaktirikan aku. Kedua, Papa menyetujui hubungan Dania dan Arion, dengan maksud supaya aku merasa terusik, bukan? Dan yang ketiga, Papa terang-terangan menjadikan Dania prioritas." Bashira membeberkan semuanya tanpa ragu.Lita melotot mendengarnya. Sungguh berani sekali Bashira bicara panjang lebar seperti itu. Sementara Hadi dibuat bungkam seketika. Lelaki paruh baya itu perlahan mundur, satu hal yang membuat Lita menggera
Bab 56 Amarah Di Tengah MalamDada Lita seakan dihantam habis-habisan mendengar berita itu. Ia gegas berdiri. Gerakannya yang cepat dan tiba-tiba itu membuat Hadi terusik dari tidurnya."Ada apa, Ma?" tanya Hadi, dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka.Lita tak menjawab. Ia masih sibuk mendengar ocehan Dania di telepon. "Sudah kamu pastikan, Dan, kalau Arion gak mengarang cerita?""Ya ampun, Ma, buat apa Arion mengarang cerita? Dari tadi mukanya kusut, aku sampai gak bisa bikin dia terangsang!" ucap Dania frontal."Ini semua gak bisa dibiarkan!" Lita langsung menatap tajam pada Hadi, setelah memutus panggilannya dengan Dania begitu saja. "Kenapa Papa gak ngasih tau Mama, kalau pernikahan Bashira dan Sabian akan dipercepat?""Apa?" Hadi bertanya linglung."Bashira dan Sabian akan menikah tahun ini, Pa! Papa pasti sudah tau kan?" tuduh Lita dengan jari mengacung ke wajah Hadi."Papa sama sekali gak tau soal itu, Ma!" sanggah Hadi. Lelaki paruh baya itu lekas meninggalkan kamar, henda
Bab 55 Penolakan!"Bashira dan Sabian akan segera menikah."Arion mengacak rambutnya. Perkataan Melani beberapa jam lalu, berhasil menghancurkan mood-nya hari ini."Kita cari rencana untuk menggagalkan pernikahan itu, Ma!""Mana bisa! Di belakang mereka ada keluarga Pakusadewo!"Sekarang Arion memukul setir kemudi. Ia tak mampu membayangkan, jika kelak Bashira dan Sabian resmi menjadi sepasang suami istri. Itu artinya, jalan untuknya mendapatkan Bashira benar-benar telah buntu."Apa yang harus aku lakukan?" Arion menerawang jauh ke depan, padahal di depannya hanya ada tembok kokoh.Saat ini, ia sedang berada di basement klub malam, hendak menyusul Dania yang sejak tadi merengek minta ditemani. Sayangnya Arion tak bisa menolak, sebab Dania pasti akan curiga mengapa dirinya tiba-tiba tak jadi datang.Kepala Arion bertambah berat ketika masuk ke area klub. Musik berdentum keras. Puluhan orang berbaur, menari seperti kehilangan akal sehat. Pandangan Arion pun berkeliling, mencari di mana
Bab 54 Pemain?"Kamu kasihan sama aku, ya?" tanya Bashira saat di mobil."Apa kelihatannya begitu?" Sabian malah balik bertanya, menoleh sebentar pada Bashira.Sekarang Bashira diam. Sejak tadi, ia tak melihat Sabian menumpahkan sorot kasihan padanya. Lelaki itu malah terlihat seperti ingin memberinya perlindungan ekstra."Ra, aku tau betul kamu bukan perempuan lemah. Selama ini kamu bisa bertahan di rumah, meski di sana ada Dania dan Tante Lita. Tapi untuk berhadapan dengan Om Hadi, aku yakin kamu akan bertarung dengan perasaan kamu sendiri. Sejujurnya kamu enggan berkonflik dengan Om Hadi."Itu benar, dan Bashira tak perlu repot-repot membantah asumsi Sabian."Maka dari itu, serahkan Om Hadi padaku," sambung Sabian."Mau kamu apakan papaku?" tanya Bashira dengan mata memicing. Sejak masuk mobil, ia tak lagi mengenakan kacamata hitamnya."Nggak akan diapa-apain, kok. Tapi setidaknya kalau ada aku, Om Hadi akan segan memarahi kamu."Bashira tertawa mendengarnya. Ia percaya Sabian tak
Bab 40 Salah Paham[Tugas dari Bu Melani sudah berhasil saya laksanakan. Sekarang Pak Sabian ada di rumah sakit. Keadaannya kritis.]Melani terbahak senang menerima informasi dari orang suruhannya. Ia lantas masuk ke ruangan Arion, memberikan ponselnya agar sang putra bisa membaca pesan yang ada di
Bab 35 Terungkap"Kali ini kamu keterlaluan," ucap Bashira pelan. Sekarang mereka tengah berada di kamar hotelnya.Sebelum datang ke kamar, Bashira bersikeras membawa Sabian pergi ke rumah sakit. Tapi calon suaminya itu keras kepala. Dengan sangat percaya diri Sabian berkata, bahwa lukanya akan sem
Bab 34 Gelap Mata"Jangan bicara sembarangan kamu, Arion! Sumpah demi Tuhan, kita berdua gak pernah tidur di satu ranjang yang sama!" teriak Bashira tidak bisa menahan amarah.Bagaimana tidak begitu? Arion terang-terangan berani memfitnahnya seperti ini. Harga diri Bashira tercoreng, maka segera ia
Bab 19 Tantangan Untuk SabianSetelan jas berwarna biru navy adalah pilihan Sabian untuk pergi ke kantor pusat di hari ini. Lelaki itu datang dengan gagah, ditemani beberapa staff kepercayaan Wira.Inilah hasil dari percakapan antara Sabian dan Wira, ketika Sabian menyempatkan diri datang ke kediam







