LOGINWARNING đ Siapa yang tak iri melihat kehidupan Yasmine? Dikaruniai suami mapan dan dua anak menggemaskan, keluarganya tampak seperti potret kebahagiaan sempurna. Namun di balik senyum yang selalu ia tunjukkan, tersembunyi hati yang sunyiâmenanti kehangatan yang tak lagi ia dapatkan dari sang suami, Angga. Hingga takdir mempertemukannya dengan Satrio, ayah dari teman sekolah anaknya. Pertemuan yang semula biasa, perlahan berubah menjadi candu. Rasa nyaman tumbuh, logika memudar, dan cinta terlarang pun mulai bersemi. Kini, Yasmine dihadapkan pada pilihan: mempertahankan keluarga yang perlahan retak, atau mengikuti debar yang membuatnya kembali merasa hidup. Temukan kisah penuh emosi dan dilema cinta terlarang ini.
View MoreâNegatif lagi. Apa Mama bilang? Kamu imandul! Sdah jelas hasilnya negatif lagi, pake tas tes segala. Udah, ini pokoknya yang terakhir. Awas kamu tes tes lagi nggak guna!â seru Mama Tami mengejek dan memukul belakang kepala menantunya.
âAku bukan mandul. Cuma belum dikasih keturunan aja. Allah belum mempercayai kami mempunyai anak. Karena Allah ngerasa jika kami belum mampu merawatnya,â sanggah Melisa. Melisa masih berpositif thinking. Toh, ia dan suaminya juga belum pernah melakukan program kehamilan apa pun. Jadi, tak ada salahnya mencoba dulu, bukan? Bukankah semua bisa diusahakan. Melihat raut wajah murung dari Rehan, Melisa kemudian menatap wajah suaminya dan berkata, âMas, bagaimana kalau nanti kita coba program hamil dulu. Kita bisa lakukan bayi tabung danââ âNggak perlu, Mel!â sentak Rehan kasar sambil menghempas tangan Melisa dari pundak kirinya. âItu hanya buang-buang uang dan waktu tahu, nggak? Biaya program hamil itu juga nggak sedikit. Kalau sampai udah nyebur, nggak cuma dua ratus juta sekali program. Iya kalau berhasil, kalau enggak? Buang-buang duit dan hasilnya malah nggak ada. Rugi bandar, you know?â Rehan menyentak kasar lagi tangan istrinya yang berada di lengan. âBelum juga cuti kerjaku yang sering diambil. Uang gajiku nanti juga dipotong terus. Kamu tahu âkan jika sering absen nanti aku akan dipecat? Kamu lupa, gajiku sebulan itu cuma berapa?!â imbuh Rehan lagi. Dia sudah buntu ide kali ini. Melisa masih berusaha meluluhkan hati sang ibu mertua. âTapi, Mas. Setidaknya sekali aja kita periksa dulu sama-sama, dan coba cek apakahââ âSama aja. Kalau kamu yang mandul, mana bisa hamil? Ya bener kata Rehan, buang-buang waktu dan uang!â sahut Mama Tami dengan ketus. Melisa menyanggah lagi. âTapi kalau bukan aku yang mandul gimana, Mas?â âKamu meragukanku, Mel? Aku nggak mungkin mandul, lah!â sangkal Rehan agak tersinggung. Dia menatap Melisa dengan tatapan tak suka. âUdah deh, Han. Mama nggak mau nunggu lama lagi. Kita sepertinya harus memberitahu Melisa hari ini!â bisik Mama Tami tepat di dekat telinga sang anak sulung. Rehan tampak menimang sesuatu, sebelum akhirnya memutuskan, âMama benar. Dan untuk kamu, Mel. Kamu pokoknya harus rela dimadu! Aku pengen punya keturunan dari wanita lain,â terangnya dengan telak. Rehan terdiam sejenak. Ia juga bimbang, haruskah mengatakan ini pada Melisa? Tetapi kalau tidak, maka ia tak akan mempunyai keturunan sama sekali. Tami sudah tak bisa menahan rahasia ini lebih lama lagi. Ia pun menuntut, âDan asal kamu tahu, Melisa. Rehan harus mempunyai anak. Meski dari rahim wanita lain!" Melisa terbelalak. âApa? Nggak mau, Mas! Kamu nggak bisa giniin aku! Kamu janji mau setia, kan? Kita nikah juga baru dua tahun, Mas! Ayolah, jangan patah semangat dulu. Seenggaknya kita bisa mencoba untukââ âBaru dua tahun katamu?â sela Rehan dengan tatapan murka. Ia menggebrak meja dan membuat Melisa melonjak kaget. âIya memang baru dua tahun! Tapi aku butuh anak secepatnya, Mel! Aku butuh anak untuk penerusku! Aku ini anak pertama, pemegang kekuasaan di rumah ini! Kalau aku nggak segera punya anak, tahta anak emasku itu bisa direbut sama Revan, adikku! Revan kerjanya cuma begajulan nggak jelas, otak atik motor dan nggak tahu kerja yang bener. Kamu paham nggak sih? Aku nggak bisa sesabar orang-orang yang harus nunggu belasan tahun, Mel! Kamu itu kalau mandul, ya harus terima dong kalau dimadu! Atau, kamu mau kita cerai aja?â sentak Rehan dengan kasar. âCerai?â Melisa menangis dengan dada yang berdebar. Kenapa mereka sudah memutuskan seperti itu? Padahal, cek kesehatan si Rehan nya saja belum pernah dilakukan selama ini. Melisa menggeleng. Kalau pun dicerai, lantas Melisa harus tinggal di mana? Sementara ia tak mungkin kembali ke panti asuhan. Tak enak jika merepotkan ibu panti. Melisa hanya lulusan SMP, mencari pekerjaan pun juga sulit dengan ijazah rendah. Dan selama ini, Melisa hanya diberikan uang terbatas oleh Rehan. Belum ada pegangan uang jika nantinya diceraikan. Saat Rehan hendak beranjak, Melisa berinisiatif memegangi lengan dan mencegah Rehan supaya tak pergi dari hadapan. Berusaha memperbaiki semuanya dan berusaha lebih lagi supaya dapat mempunyai keturunan. Melisa berusaha menyergah. Dia tak mau gagal berumah tangga. âMas, dengerin aku lebih dulu. Bicarakan ini dengan kepala dingin, Mas,â kata Melisa. âNggak ada yang perlu dibicarakan, Mel! Kita sudah tidak bisa diselamatkan! Kamu tidak bisa memberiku keturunan. Lalu, apa yang kuharapkan darimu? Harapan semu? Mimpi saja, tanpa kenyataannya apa? Sampai kapan, Mel?" Rehan melempar gelas yang ada di hadapan. Melisa tak menyerah. Dia tetap berusaha mempertahankan rumah tangganya saat ini. "Mas, kita baru dua tahun menikah, dan kamu malah mau nikah lagi, Mas? Kenapa kamu nggak sabar aja dulu. Siapa tahu dengan sabar lagi, kita bisaââ âBisa apa? Siapa tahu kamu yang mandul selamanya dan nggak bisa punya anak?â potong Mama Tami sengit. Ia enggan melirik Melisa lagi kali ini. âJadi, rugi dong Rehan mempertahankan kamu? Lebih baik terima aja, madumu akan datang sebentar lagi. Kamu masih bisa tinggal di sini nanti seperti biasa. Kalau cerai, kamu mau tinggal di mana? Ibu pantimu aja ngebuang kamu sejak dulu!â Mama Tami membeberkan semuanya. "Ma, baru dua tahun. Paling nggak beri aku setahun lagi. Aku bisa buktiin kalau aku nggak mandul, Ma, Mas. Please, dengerin aku dulu. Hanya setahun, setelah nggak behasil, kita bisa ...." Melisa tak melanjutkan ucapannya. Ia ingin menikah sekali seumur hidup. Tapi, kenapa malah seperti ini? "Setahun terlalu lama digunakan untuk wanita yang salah!" ungkap Rehan yang membuat kepingan lara pada hati Melisa semakin berserak. Dada Melisa kembang kempis. Kata-kata âwanita yang salahâ tadi membuat air matanya mengalir deras. "Wanita yang salah katamu, Mas? Apa kamu tidak mengerti, aku mengabdi padamu sebagai istri yang patuh dan taat. Inikah balasanmu, Mas?" Melisa memukul dadanya sendiri. Oksigen di sekitarnya direnggut paksa. Ia bagaikan diajak terbang ke awan dan dihempaskan paksa. "Taat sama suami sudah kewajibanmu, Mel!" kata Rehan sambil mencebikkan bibir. âLagian, istri keduanya Rehan mungkin udah OTW hamil! Dia juga udah telat seminggu!â imbuh Mama Tami memberitahu yang sontak membuat Melisa melotot tak karuan. Melisa terkejut bukan main. âApa? Istri kedua? Haâ hamil? Mas, kamu nikah lagi tanpa sepengetahuanku? Kamu selingkuh?â Bagai di sambar petir di pagi hari. Kenyataan yang diungkapkan Mama Tami membuat Melisa terkejut bukan main. Dia menodong suaminya yang hendak beranjak, seolah tak mempunyai salah sedikit pun. âMas, jawab aku! Jadi, kamu selingkuh, Mas? Kenapa kamu giniin aku?â tanya Melisa sambil mencegah kepergian sang suami yang hendak bekerja. Melisa menggeleng dan tak percaya mendengar yang dikatakan ibu mertua serta suami terkasihinya tersebut. Rehan mendekat sambil menatap istrinya dengan raut wajah marah. Mencengkeram kuat dagu Melisa dengan keji. Tatapan Rehan membuat sang wanita membeku di tempatnya. Melisa yang saat itu sedang mati-matian menahan luka menganga dalam dada, hanya bisa meringis pelan melihat perlakuan sang suami. Dulu sangat baik bak malaikat pada Melisa. Tetapi 6 bulan belakangan, Rehan dan Mmaa Tami berubah menjadi iblis mengerikan. âJaga bicaramu itu, Mel! Aku tidak berselingkuh!â sanggah Rehan dengan menghempas wajah istrinya sampai Melisa hampir terjerembab jatuh. âKamu nggak dengar apa yang dikatakan Mama tadi? Aku sudah menikah! Menikah! Jadi, aku tidak berselingkuh dengan Rina.â Rehan menjelaskan sekali lagi sambil membentak. âApa telingamu udah nggak berfungsi sampai kata-kata sekencang tadi nggak dengar, ha?â bentak Rehan sambil melirik sinis istrinya yang masih mengenakan piyama. âSejak kapan Mas menikah? Mana sah jika menikah tanpa ijin dari istri pertama, Mas?â selak Melisa lagi menggoyangkan lengan suaminya yang memakai kemeja biru muda. âBuktinya, kami bisa menikah sah,â kata Rehan yang mengikis jarak ke arah istrinya. âDan Rina itu sekarang sudah sah menjadi istri keduaku. Kami sudah menjadi sepasang suami istri. Tahu nggak?â bentaknya lagi lebih menyakitkan. Rehan semakin mengetatkan rahang dan juga membentak Melisa tanpa ampun lagi. Melisa hanya bisa menciutkan nyali sambil tergugu. Netranya mengabut dan dia tak kuasa menahan air mata. Yang sejak tadi ditahan Melisa supaya tak luluh lantak serta membuatnya lemah. Haruskah dia pergi sekarang dari rumah ini?Tergoda papah teman anakku. Bab 90Satrio mengantarkan Kayla hingga gerbang sekolah, ketika hendak berbalik menuju mobilnya kembali. Terdengar seseorang memanggilnya dari dalam sekolah. âOm Satrio tunggu!â Satrio kembali menoleh, dan mendapati Bianca tengah berlari kecil ke arahnya. Ia pun kembali berbalik menunggu gadis itu menghampirinya. âKenapa, Bi?â tanya Satrio begitu Bianca ada tiba dihadapannya. âAku mau bicara sebentar, bisa?â Bianca balik bertanya dengan nafasnya yang masih terengah. âBoleh, mau tanya apa?â tanya Satrio dengan kening mengkerut. âTapi sebentar lagi jam masukkan?â ucapnya sembari melirik jam tangannya. Bianca mengangguk pelan. âIya, aku bentar aja kok.â âKenapa, ada yang penting banget?â tanya Satrio menatap Bianca penasaran. Dalam hatinya takut terjadi sesuatu dengan Yasmin. Namu Bianca kembali menggeleng. âAku gak tau ini penting atau tidak, aku mau ketemu Om nanti pas jam makan siang, bisa?â Kening Satrio mengerut dalam. âKetemu pas jam makan sia
Bianca menatap kosong ke arah lapangan basket yang terbentang di hadapannya. Pikirannya melayang jauh, dipenuhi segala peristiwa yang belakangan ini bergemuruh di hidupnya.Orang tuanya berselingkuh, bercerai, dan kini... masing-masing berusaha mencari kebahagiaannya sendiri.Bianca sedikit terlonjak kaget saat hawa dingin menyentuh pipinya. Ia mendongak dan mendapati Niko berdiri di depannya, menutupi pandangannya ke arah lapangan."Jangan melamun terus. Nanti yang lewat bisa terserap," sindir Niko lembut, disertai senyum hangat yang tersungging."Aku tidak melamun," bantah Bianca, tangannya terulur menerima minuman dingin yang disodorkan Niko."Namanya saja tidak melamun. Aku berdiri di depanmu saja tak sadar," Niko memutar bola matanya, lalu duduk di sisi Bianca.Bianca menghela napas panjang, lalu meneguk minuman yang tutupnya sudah dibukakan Niko."Rasanya aku ingin menghilang saja, Nik," ucap Bianca setelah menelan minumannya."Masuk saja ke lubang buaya, pasti langsung lenyap t
Yasmin menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya terbelalak sempurna ketika melihat Satrio tiba-tiba berlutut tepat di hadapannya. Di tengah ruangan yang telah disulap begitu indah dan memukau, pemandangan itu membuat napasnya tercekat."Maas..." Bibir Yasmin bergetar hebat, tak mampu merangkai kata-kata lagi. "Ini... apa maksudnya..."Tatapan mata Satrio yang lembut dan penuh cinta yang tulus, membuat jantung Yasmin berpacu semakin kencang seolah ingin melompat keluar."Yasmin..." panggil Satrio lembut, mendongak menatap lurus ke manik mata wanita itu."Iyâiya..." Yasmin mundur selangkah dengan tubuh yang sedikit gemetar."Aku sadar, mungkin ini bukan momen yang paling tepat untuk melakukan hal seperti ini. Tapi aku tak tahu lagi harus menundanya sampai kapan lagi," ucap Satrio dengan nada yang begitu tulus, membuat kening Yasmin berkerut penuh haru."Mas...""Yas... Sejak awal pertemuan kita, hati ini selalu bergetar menahan gejolak yang seharusnya tak kurasakan. Namun bukannya
"Mas, kamu nggak salah mengajak aku makan malam di siang bolong begini?" Yasmin menatap Satrio dengan kening berkerut ragu.Sementara Satrio berusaha keras menahan tawa melihat wajah bingung itu. "Nggak salah kok. Aku cuma mau suasana yang beda, yang nggak dimiliki orang lain."Yasmin menghela napas panjang, tak tahu lagi harus berkata apa.Pasalnya, Satrio mengajaknya menikmati makan siang romantis di sebuah restoran mewah, namun disusun persis seperti makan malam. Bahkan ada lilin yang menyala di tengah mejaâsungguh hal yang terasa ganjil dilakukan saat matahari masih tinggi.Dan yang lebih membuatnya heran, restoran itu tampak lengang, tak ada satu pun pengunjung lain selain mereka berdua. Apakah restoran ini sepi karena makanannya kurang enak? batinnya bertanya-tanya."Sudah, jangan dipikirkan soal waktu yang terasa tidak tepat itu. Yang penting kita bisa menghabiskan waktu bersama," Satrio menautkan jemarinya ke tangan Yasmin, membuat lamunan wanita itu seketika buyar. Ia pun men






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore