MasukWARNING đ Siapa yang tak iri melihat kehidupan Yasmine? Dikaruniai suami mapan dan dua anak menggemaskan, keluarganya tampak seperti potret kebahagiaan sempurna. Namun di balik senyum yang selalu ia tunjukkan, tersembunyi hati yang sunyiâmenanti kehangatan yang tak lagi ia dapatkan dari sang suami, Angga. Hingga takdir mempertemukannya dengan Satrio, ayah dari teman sekolah anaknya. Pertemuan yang semula biasa, perlahan berubah menjadi candu. Rasa nyaman tumbuh, logika memudar, dan cinta terlarang pun mulai bersemi. Kini, Yasmine dihadapkan pada pilihan: mempertahankan keluarga yang perlahan retak, atau mengikuti debar yang membuatnya kembali merasa hidup. Temukan kisah penuh emosi dan dilema cinta terlarang ini.
Lihat lebih banyakDi sebuah rumah sederhana berlantai dua, seorang wanita tengah berias di dalam kamarnya. ia adalah Yasmin yang tengah menunggu sang suami pulang.
Yasmin menatap pantulan dirinya di cermin meja rias, jemarinya dengan lembut menyisir rambut sehalus sutra. Ia mengambil lip serum, lalu mengoleskannya perlahan di bibir ranum yang tampak semakin memikat. Setelah selesai, Yasmin bangkit dari duduknya dan berputar pelan. Lingerie hitam yang membalut tubuhnya tampak kontras dengan kulit putih bersihnya. âHeeemmm, wangiâŚâ gumamnya puas, menghirup aroma parfum mahal yang baru saja ia semprotkan di titik-titik sensitif tubuhnya. Matanya terarah pada jam di atas nakas dekat tempat tidur. Senyum terbit di bibirnya ketika jarum panjang hampir menyentuh angka dua belas. âSebentar lagi Mas Angga pulang⌠mending aku tunggu di bawah,â ujarnya pelan, sambil meraih jubah satin dan membungkus tubuh indahnya. Dengan langkah ringan, Yasmin meninggalkan kamarnya untuk menyambut suami tercinta. Sebelum turun, ia menyempatkan diri memastikan kedua anaknya sudah tertidur. Ia berbelok ke lorong tempat kamar mereka berada. Ceklek. Yasmin membuka pintu bercat putih bertuliskan nama Bianca. Senyum lembut menghiasi wajahnya melihat gadis sepuluh tahun itu tertidur pulas memeluk boneka beruang kesayangannya. âTidur yang nyenyak, sayang .âŚâ bisiknya, lalu menutup pintu perlahan. Ia menyeberang ke kamar di seberang. Pintu bercat coklat bertuliskan Brayan. Yasmin membuka sedikit, cukup untuk mengintip. Bocah delapan tahun itu tampak lelap dengan posisi tidur khasnya. âUhhh ⌠jagoan Bunda juga udah nyenyak, hihihi .âŚâ bisiknya sambil menahan tawa kecil. Bolehkah ia bangga memiliki putra-putri yang pintar dan mandiri sejak dini? Tentu saja. Ia menutup pintu dengan hati-hati lalu berjalan menuruni tangga. Kaki jenjangnya melangkah perlahan, sementara jubah satinnya berkibar lembut mengikuti gerakan tubuhnyaâmembuat sosoknya tampak begitu anggun di bawah cahaya temaram lampu dinding. Rumah sudah dalam keadaan gelap, hanya diterangi lampu kecil di sepanjang anak tangga yang menciptakan suasana malam begitu syahdu. Saat Yasmin menapaki anak tangga terakhir, suara deru mesin mobil terdengar dari arah depan, disusul suara gerbang terbuka. âMas Angga sudah pulang!â serunya girang, sebelum berlari kecil ke arah pintu depan. Tiba di depan pintu, Yasmin langsung memutar anak kunci lalu menariknya hingga setengah terbuka. Seketika ia merapatkan jubah satin tipisnya saat hembusan angin malam menyentuh kulitnya. Dari tempatnya berdiri, ia melihat sang suami tengah memarkirkan mobil di carport. Begitu pintu mobil terbuka, wajah lelah itu langsung terlihat. Tatapan sekilas Angga padanya terasa dingin, datar, seolah sekadar formalitas. Biib. Angga menekan tombol kunci mobil, memastikan semuanya terkunci sempurna. Ia kemudian menutup dan mengunci gerbang dengan cermat sebelum akhirnya melangkah ke arah istrinya yang menunggu di depan pintu. âKamu belum tidur?â tanya Angga tanpa ekspresi, ketika sudah berdiri di hadapan Yasmine. Yasmine menggeleng pelan. âBelum, nungguin kamu.â âKenapa mesti nunggun saya?â nada dingin Angga membuat dada Yasmine terasa mengerut, tapi ia menahan diri. âMau aku siapkan makan malam, Mas?â tanyanya lembut, berusaha mengabaikan sikap acuh itu. âSaya sudah makan di kantor,â jawab Angga singkat sambil membuka kancing lengan kemejanya. Yasmine hanya mengangguk kecil, lalu mengikuti langkah suaminya menuju kamar. âPintu sudah kamu kunci lagi belum?â tanya Angga tanpa menoleh, menaiki anak tangga satu per satu. âSudah, Mas. Aku kunci,â jawabnya pelan. âAnak-anak sudah tidur?â âSudah, mereka udah pulas pas aku cek tadi.â âHeeemmm .âŚâ gumam Angga datar, lalu membuka pintu kamar mereka. Begitu masuk, Angga melempar jas dan tas kerjanya ke atas ranjang, lalu berlalu menuju kamar mandi tanpa sepatah kata. Dengan tangan bergetar menahan sesak di dada, Yasmin memungut jas dan tas suaminya. Ia menatanya kembali di tempat semestinya, mencoba menenangkan diri. âSabar, Yasmin .âŚâ bisiknya lirih â mantra kecil yang sudah terlalu sering ia ulang hanya untuk tetap kuat. Sambil menunggu Angga, Yasmin menyiapkan baju ganti dan meletakkannya rapi di atas ranjang. Ia lalu menatap cermin, merapikan rambut yang sedikit berantakan karena angin malam. Tak lama kemudian, suara pintu kamar mandi terbuka. Angga keluar dengan hanya berbalut handuk kecil di pinggang. Ia melirik sekilas ke arah Yasmine, lalu berjalan menuju meja tanpa sepatah kata pun, sambil mengusap rambutnya yang basah. Yasmin mendekat, lalu membantu mengeringkan rambut Angga dengan hairdryer. âKenapa keramas malam-malam?â tanyanya lembut sambil mengusap rambut Angga dengan handuk kecil. âGerah,â jawab Angga singkat. âOh iya, hari ini memang panas banget. Brayan aja tadi sampai kena ruam saking panasnya.â âHeeemmm. Jangan lupa kasih salep ya, sama sunscreen besok pagi.â âIya, Mas,â sahut Yasmine pelan. Begitu rambut suaminya terasa kering, Yasmine mematikan hairdryer lalu mencabut colokannya. Ia menatap punggung Angga yang kini tengah mengenakan baju tidur yang tadi disiapkannya. Saat Angga hendak merapikan kancing bajunya, Yasmin tiba-tiba memeluknya dari belakang. âMas ⌠aku kangen,â bisiknya lirih. Angga berhenti sejenak, lalu menatap pantulan mereka di cermin di hadapannya. âAwas dulu, Yas. Bajunya belum dikancing semua.â Yasmin hanya tersenyum kecil. âGak usah di kancing sekalian, Mas .âŚâ suaranya terdengar setengah manja. âYas, saya capek. Mau istirahat.â Yasmin terdiam beberapa detik. Ia tahu nada ituâdingin, tegas, dan membuat hatinya menyesak. Tapi rasa rindunya lebih kuat dari logika. Ia menunduk, suaranya nyaris tak terdengar. âAku cuma kangen sama kamu, Mas âŚâ "Kangen gimana? Setiap hari kita bertemu!" "Bukan seperti ituuuu ...." rengek Yasmine manja, sambil menggoyangkan tubuhnya. "Yas. awas dulu." "Gak mau .... " "Yasmin." ucap Angga dengan tegas. Tapi yasmin belum menyerah, ia semakin berani menggerakkan tangannya di perut Angga dengan lembut, berusaha membangkitkan g4irah suaminya. Angga menghela napas panjang, lalu melepaskan tautan tangan Yasmin dengan hati-hati. âUdah malam. Tidur, ya.â Yasmin menyerah, meski lembut ucapan Angga mampu menggores luka di hatinya, akhirnya ia mengangguk perlahan, meski matanya terasa panas. Ia melangkah mundur dan menatap punggung suaminya yang kini melangkah menuju ranjang, lalu merebahkan tubuhnya di sana sudah berbaring membelakangi dirinya. Sunyi. Hanya suara detak jam di dinding yang menemani malam merekaâdua orang yang berada di ruangan sama, tapi seolah di dunia yang berbeda. Yasmin menggigit bibir bawahnya, lalu perlahan ikut berbaring di samping Angga, memunggungi tubuh suaminya yang kini sudah diam tak bergerak. Air mata menetes pelan dari sudut matanya. Ini bukan kali pertama ia merasakan penolakan seperti ini â dan setiap kali terjadi, hatinya tetap terasa perih. Apakah ia sudah tidak lagi menarik di mata suaminya? Pertanyaan itu terus bergema di kepalanya, membuat dadanya terasa sesak. Dengan gerakan lemah, Yasmine menarik selimut hingga menutup dadanya. Di sampingnya, terdengar dengkuran halus, tanda Angga sudah terlelap, seolah tak ada apa pun yang salah di antara mereka. Yasmin menutup mata rapat-rapat, menggigit ujung selimut untuk menahan isakan agar tidak lolos dari bibirnya. Malam kembali sunyi, hanya tersisa suara napas dua insan yang tidur di ranjang yang sama ⌠tapi hatinya terasa sangat jauh.Butiran embun di permukaan gelas menjadi bukti sudah berapa lama Yasmin duduk sendirian di sebuah kafe, sedangkan orang yang mengajaknya bertemu itu masih belum juga menampakkan batang hidungnya.âIni orang niat datang gak sih?!â ucapnya kesal. Karena pertemuan ini tadi, ia jadi tidak sempat berbelanja ke pasar.Namun nyatanya, sudah hampir dua jam Sabrina belum juga datang.âAku tunggu sepuluh menit lagi. Kalau masih belum datang, aku pulang saja,â putusnya, mengangguk yakin.Yasmin meraih gelasnya, lalu menghabiskan isinya hingga tandas.Tepat saat isi gelas itu kosong, pintu masuk kafe terbuka dari luar.Sabrina melangkah dengan angkuh menghampiri Yasmin. Setiap langkahnya dibuat seanggun mungkin, dagu terangkat tinggi. Ia menarik kursi di hadapan Yasmin, lalu duduk dengan gaya yang terkesan sombong.âMaaf menunggu lama, jalanan macet banget,â ucapnya sambil tersenyum sinis, menatap Yasmin dari atas hingga ke bawah.âGak masalah,â balas Yasmin dengan senyum yang dipaksakan. âJadiâŚ
âYas⌠Saking inginnya kamu berpisah dariku, sampai-sampai buat cerita seaneh ini?âAngga tidak mungkin percaya begitu saja pada ucapan istrinya itu. Ia yakin betul, Yasmin bukan wanita yang akan berbuat seperti itu.Yasmin bangkit dari duduknya, lalu mendongak menatap suaminya yang berdiri tepat di hadapannya.âAku bicara apa adanya, Mas. Kalau kamu sudah berani berselingkuh, aku pun bisa melakukan hal yang sama. Aku sudah berciuman dengan pria lain, dia sudah menyentuh setiap jengkal tubuhku. Kami berpelukan, saling merasakan kehangatan, sampai sama-sama menyebut nama satu sama lain dalam suasana yang paling intimâââCUKUP, YASMIN!!âSuara teriakan Angga memecah keheningan malam itu, bergema di seluruh sudut kamar. Telinganya terasa panas menyengat, dan dadanya terasa sesak mendengar setiap kalimat yang keluar dari mulut istrinya.âKenapa? Tidak sanggup mendengarnya, atau tidak terima kalau apa yang selama ini kamu anggap milikmu sudah disentuh dan dinikmati oleh pria lain?ââYas⌠Ku
âYasmin, Sayang⌠Kamu masih di sana?âYasmin tersadar dari lamunannya yang mendalam. Ia mengerjap beberapa kali, baru bisa menjawab panggilan Satrio.âIya, Mas. Aku dengar kok,â jawabnya sambil mengusap wajah yang terasa basah oleh keringat dingin.âJadi bagaimana tawaranku tadi? Kamu mau, kan?â Satrio kembali mengulang pertanyaannya, menunggu jawaban dengan penuh harap.Yasmin menggigit pelan bibir bawahnya, kembali terjebak dalam kebingungan yang makin berat. âMas, masalah ini kita bahas lain kali saja yaâŚâ jawabnya akhirnya, berusaha menghindari keputusan yang mendadak.Di seberang sambungan, terdengar helaan napas panjang yang terasa berat. Yasmin bisa merasakan rasa kecewa dan frustasi dalam nada bicara pria itu. âBaiklah, Sayang. Maaf kalau aku terkesan terlalu terburu-buru.ââMaafkan aku juga, Mas,â ucap Yasmin dengan kepala tertunduk, seolah Satrio bisa melihatnya.âTidak apa-apa, Sayang. Memang aku yang salah.âYasmin hanya bisa terdiam. Ia tahu, meski Satrio berusaha terdeng
Angga menjemput anak-anaknya pulang sekolahâsesuatu yang sangat jarang ia lakukan sebelumnya. Dulu, urusan ini selalu diserahkan sepenuhnya kepada istrinya, dan ia tak pernah sekalipun menyadarinya.Jujur saja, Angga sangat menyesal telah menyia-nyiakan Yasmin selama ini. Baru setelah rasanya hampir kehilangan, ia sadar betapa berartinya sosok wanita itu dalam hidupnya.âAyahhh!!âAngga segera menunduk dan membuka kedua tangannya lebar-lebar saat melihat Brayan berlari menghampiri. Bocah berusia delapan tahun itu terlihat sangat gembira melihat ayahnya yang datang menjemput.âAduh, jagoan AyahâŚâ Angga memeluk tubuh mungil itu erat-erat.âTumben Ayah yang jemput. Bunda di mana?â tanya Brayan setelah melepaskan pelukan.âBunda lagi ada urusan sebentar. Gak apa-apa kan kalau kali ini Ayah saja yang menjemput?â Angga menatap wajah polos putranya dengan lembut.Brayan langsung mengangguk semangat. âBoleh banget! Aku suka kok!â serunya riang, lalu kembali memeluk tubuh ayahnya.âAyah sayang












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan