Share

Bab 2

Penulis: Anna Smith
Setengah jam kemudian, kami kembali ke kediaman Keluarga Santorini yang pernah kami tinggali bersama.

Selama bertahun-tahun, aku selalu percaya bahwa dibawa masuk ke lingkungan keluarga berarti sebuah pengakuan ... bahwa suatu hari nanti, aku akan berdiri di sini secara terbuka, bukan sebagai bayangan atau alat, tetapi sebagai wanita yang diakui di rumah ini. Namun, aku telah salah mengartikan kedekatan sebagai rasa memiliki, dan menganggap keheningan sebagai persetujuan.

Aku salah besar.

Hari ini, kediaman Keluarga Santorini tidak pernah terasa sehidup ini.

Pesta pertunangan itu disaksikan oleh seluruh kota ... setiap tokoh besar mafia, para perantara politik yang selalu berbicara dengan teka-teki, bos-bos serikat pekerja dengan catatan darah di pembukuan mereka, dan orang-orang yang namanya tidak pernah muncul di atas kertas tetapi dapat menentukan nasib mereka yang namanya tertulis di sana.

Lampu gantung kristal menyala terang di atas kepala, memancarkan cahaya ke seluruh lantai marmer yang dipoles hingga berkilauan seperti cermin. Sementara, udara di sekitar terasa berat, dipenuhi oleh aroma parfum mahal, senyuman yang terlatih, dan tekanan tak terucapkan dari serangan tersembunyi di antara sikap terhormat.

Baru ketika dibawa menjauh dari kerumunan dan kembali ke bangunan sayap kediaman itu, aku mengerti apa yang harus kukorbankan demi kemegahan itu.

Kotak-kotak penyimpanan, laci-laci berkode, senjata-senjata yang tersembunyi di balik panel palsu ... semuanya hilang.

Bahkan satu-satunya foto berbingkai yang pernah Damian izinkan untuk kusimpan ... juga hilang.

Di tempatnya, kini terganti sebuah tirai sutra pucat, cermin berbingkai emas, dan vas kristal berisi bunga bakung.

Karpet-karpet lembut, perabotan yang indah, dengan warna putih dan emas di mana-mana.

Tidak ada satu pun jejakku yang tersisa.

Jadi, inilah alasan mengapa dia menyuruhku untuk pindah sebulan yang lalu.

Bukan karena tidak nyaman.

Melainkan, karena ingin menghapus jejak keberadaanku.

Suara Damian terdengar dari belakang. "Aku mau memperkenalkan."

Aku berbalik.

Dia berdiri di sana mengenakan setelan jas mewah yang dibuat secara khusus, dan tampak sempurna seperti biasanya.

Julia Landovo berpegangan pada lengannya, rambutnya pirang dan bermata biru, penampilan wanita itu seperti sesuatu yang suci dan tak tersentuh.

"Julia," kata Damian dengan tenang. "Ini Vicky Milia."

Julia memiringkan kepalanya, sorot matanya berbinar dengan kilat keakraban yang tiba-tiba.

“Ternyata, ini benar-benar kau,” katanya sambil tertawa kecil. “Aku mengenalmu.”

Dia melangkah lebih dekat, menatapku secara terang-terangan.

“Dulu waktu kita masih sekolah,” lanjutnya sambil tertawa kecil. “Kau selalu mengikuti Damian.”

Dia memiringkan kepala, berpura-pura sedang bernostalgia.

“Orang-orang sering bercanda bahwa secepat apa pun dia berjalan, kau pasti selalu ada di sana ... seperti lem yang tak pernah bisa dilepaskan.”

Kata-katanya terdengar santai, bahkan terasa hangat.

Namun, semua itu bagaikan sebuah tamparan.

Semua tatapan mata di ruangan itu langsung tertuju padaku.

Rasa dingin menjalar naik di punggungku.

Damian juga menoleh, alisnya sedikit mengerut ... lalu dia tersenyum.

“Vicky adalah orang kepercayaanku,” katanya dengan santai.

Mata Julia menyapu wajahku yang pucat, penuh dengan kekaguman palsu.

“Aku benar-benar iri,” katanya manis. “Mampu bergaul dengan para laki-laki dan menjalin persaudaraan dengan mereka.”

Dia menghela napas.

“Tidak seperti aku. Sejak kecil, aku hanya bisa berteman dengan perempuan. Begitu dekat dengan seorang pria, orang-orang akan menyebutku … tidak feminin.”

Ruangan itu pun menjadi sunyi senyap.

Dan, wajahku menjadi semakin pucat pasi.

Aku mencengkeram telapak tangan, memaksa diriku untuk tidak bereaksi terhadap tatapan tajam yang datang menyelidik dari segala arah.

Kemudian Damian berbicara lagi, suaranya terdengar santai ... tetapi dengan sedikit nada tajam di dalamnya, sebuah ketajaman yang disengaja seolah-olah dia sedang memotong sesuatu hingga bersih.

“Dia bukan hanya orang kepercayaan,” tambahnya. “Dia juga pembersih masalah di keluarga ini.”

Klarifikasi yang diberikan bukan karena itu perlu ... tetapi karena dia ingin menarik garis tegas, untuk memastikan tidak ada ruang lagi untuk kesalahpahaman di depan Julia.

Dia langsung menoleh pada wanita itu, tanpa melirikku lagi.

“Sayang, ayo aku perkenalkan kau ke keluarga,” katanya.

Dia merangkul pinggang Julia dan menuntunnya menuju aula utama, posturnya terbuka dan jelas-jelas protektif, seolah-olah posisi wanita itu di sisinya adalah hal yang memang seharusnya dan tak perlu lagi dipertanyakan ... sementara posisiku baru saja dihapus secara resmi.

Aku mengikuti mereka selangkah di belakang.

Para tetua keluarga sudah duduk.

Mereka menatap ragu pada Damian ....

Tetapi, sebelum ada yang sempat berbicara, Julia sudah tersenyum dan berkata lebih dulu, “Aku sudah melihat Vicky di sisi Damian selama bertahun-tahun. Jujur saja, aku pikir .…”

Dia berhenti sejenak, pada waktu yang diatur sempurna.

“… kalian berdua mungkin akan berakhir bersama.”

Ekspresi Damian tidak berubah sedikit pun. “Tidak akan,” katanya datar.

“Dia hanya orang kepercayaan ... dan bawahanku saja.”

Damian kemudian menatap ke arahku dengan sorot mata tajam.

“Lagi pula ....” tambahnya dengan santai. “Vicky juga sudah punya tunangan.”

Kata-kata itu menggema.

“Dan, dia akan segera menikah.”

Setiap tatapan mata kembali tertuju padaku. Aku sedikit menundukkan kepala dan tersenyum.

“Iya,” kataku. “Itu benar.”

Untuk sepersekian detik, Damian melirikku dengan tatapan persetujuan.

Dan akhirnya, ketegangan itu pun lenyap begitu saja.

Julia mengencangkan cengkeramannya pada lengan Damian dan memberiku senyum kecil penuh kemenangan.

Damian berjalan melewatiku.

Tangannya refleks terangkat, dan jari-jarinya melengkung ke arah bahuku ... sebuah kebiasaan lama, dulu dia biasa membersihkan serat dari mantelku atau menarikku lebih dekat tanpa ragu.

Namun, dia berhenti di tengah jalan.

Kemudian tangannya mengubah arah. Dia berbalik dan sebaliknya meraih Julia, merapikan rambutnya, menyisir kembali sehelai rambut yang terlepas dengan hati-hati, seolah-olah gangguan itu memang sudah direncanakan sejak awal.

Dia mencondongkan tubuh lebih dekat saat berpapasan, cukup dekat hingga bahunya menyentuh bahuku, dan suaranya direndahkan hingga hanya aku yang bisa mendengarnya.

“Keputusan yang bagus,” katanya pelan. Sebuah persetujuan yang dibungkus dengan sikap tidak peduli, jenis pujian yang diberikan kepada seseorang yang tahu kapan harus menyingkir. “Saat kau benar-benar menikah nanti, aku akan menyiapkan sebuah rumah untukmu, dan mobil.”

Dia berpikir sejenak, cukup lama hingga kata-katanya meresap.

“Anggap saja itu sebagai kompensasi.”

Nada suaranya tenang, terukur dan hampir terdengar seperti seorang dermawan.

Seperti seorang eksekutif yang menyetujui pemberian uang pesangon untuk sebuah proyek yang akhirnya telah selesai.

Makan malam pun dimulai.

Aku duduk sendirian di ujung meja panjang, dengan postur tubuh sempurna dan ekspresi yang tak berubah, aku memperhatikan Damian dan Julia memimpin di ujung meja sebaliknya. Para tamu mengalir menatap ke arah mereka, dengan gelas terangkat dan senyum terpoles. Aku bisa mendengarnya dengan sangat jelas saat itu ... suara mereka terdengar merendah penuh hormat ketika menyapanya.

"Nyonya Julia."

Pujian demi pujian mengalir dengan mudah. Sanjungan atas kebijaksanaan Damian. Kekaguman atas persatuan kekuatan yang setara, kemitraan garis keturunan yang setara yang ditakdirkan untuk memperkuat keseimbangan kota.

Damian merasakan tatapanku sebelum aku mengalihkan pandangan.

Damian menoleh, tatapannya bertemu dengan mataku di seberang meja. Dia mengangkat gelasnya ... bukan dengan kehangatan atau pun rasa terima kasih, tetapi dengan ketelitiannya yang familiar itu. Sebuah penilaian, pengakuan dan bahkan kepuasan dari seorang pria yang percaya bahwa semuanya berjalan persis seperti yang direncanakan.

Aku mengangkat gelas sebagai balasan, dan tersenyum dengan sempurna.

Kuharap kau masih bisa terus tersenyum seperti itu, Damian.

Tiga hari lagi.

Ketika keturunanmu telah tiada ....

Kau akhirnya akan mengerti apa akibatnya karena sudah meremehkanku.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pewaris Yang Disembunyikan   Bab 9

    Sudut Pandang Elia.Saat email tersebut selesai beredar melalui saluran-saluran penting, dampaknya datang lebih cepat dari yang kuduga.Aku mendengarnya pertama kali, bukan dari sumber yang kupercaya, tetapi dari seorang perantara yang terlalu menyukai gosip hingga tidak bisa menahan mulutnya.“Dia membatalkan pernikahannya,” katanya. “Dia pergi begitu saja sebelum mengucapkan sumpah. Dia bahkan tidak repot-repot mencari alasan.”Aku menerimanya tanpa berkomentar, karena apakah Damian menikah atau tidak, itu sudah bukan lagi menjadi urusanku. Tetapi dua hari kemudian, kenyataan menguji kepastian itu.Aku sedang kembali dari pasar bersama salah satu pembantu rumah tangga ketika melihatnya di depan gerbang.Dia sedang berdebat dengan petugas keamanan, suaranya serak, ketenangannya goyah dengan cara yang belum pernah kulihat sebelumnya. Rambutnya tampak acak-acakan, matanya merah seperti sudah lama tidak tidur, dan ketika dia menoleh karena mendengar suara langkah kakiku, tatapannya langs

  • Pewaris Yang Disembunyikan   Bab 8

    Sudut Pandang Damian.Vicky menghilang dengan cara yang hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang memahami sistemku luar-dalam .... Semuanya bersih, tanpa suara dan jejak.Selama minggu pertama, aku meyakinkan diri sendiri bahwa dia hanya sedang marah, bahwa ini adalah caranya melakukan aksi tutup mulut dengan tajam dan dramatis, sebagai hukuman buatku untuk menunjukkan maksudnya.Dia selalu paham tentang tekanan, selalu tahu bagaimana cara menerapkannya tanpa merusak struktur yang ada. Aku berasumsi dia akan kembali setelah melampiaskan amarahnya, setelah aku menenangkan diri, dan setelah keseimbangan di antara kami kembali normal seperti semula.Lagipula, dia sedang hamil.Fakta itulah yang lebih menguatkan kesabaranku daripada apa pun. Vicky tidak akan lari ketika ada sesuatu yang harus dilindungi. Dia tidak pernah melakukannya.Dua minggu berlalu. Kemudian, lanjut sampai empat minggu. Namun pada akhir bulan kedua, masih belum ada tanda apa pun ....Tidak ada penampakan, pergerakan k

  • Pewaris Yang Disembunyikan   Bab 7

    Mereka menemukanku karena mengira aku masih sendirian, dan karena orang-orang seperti itu selalu menganggap dilepaskan dari pengawasan sama dengan tidak dijaga.Retakan pertama di kerajaan Damian datang secara tenang, bukan dengan tembakan atau ancaman, tetapi dengan dokumen dan waktu yang tepat. Itu karena jalur pelayaran melalui Laut Adrios sebenarnya tidak pernah benar-benar menjadi miliknya.Aku yang telah mendesain, mengoptimalkan, dan juga memproteksinya. Sehingga, ketika aku memisahkan diri dari dunianya, maka rute itu memang sudah seharusnya runtuh bersama kepergianku. Tetapi tidak, karena aku akan merebutnya kembali.Para pembeli awalnya sangat waspada. Namun, mereka memang selalu begitu ketika sebuah nama berpindah tangan terlalu cepat.“Kargo ini terdaftar atas nama Santorini,” kata salah satu dari mereka melalui saluran terenkripsi, nadanya lebih ke berhati-hati daripada menuduh. “Kita tidak boleh terjebak di antara dua keluarga.”“Tadinya memang terdaftar atas nama Santori

  • Pewaris Yang Disembunyikan   Bab 6

    Sudut Pandang Vicky.Aku tidak menghilang ke dalam kota.Aku meninggalkannya dari atas.Helikopter itu lepas landas sebelum fajar, baling-balingnya merobek langit Kota Cigo menjadi kisi-kisi cahaya yang semakin menyempit, dan aku tidak menoleh ke belakang saat kami menyeberangi danau dan berbelok ke timur, karena apa yang kubawa tidak lagi menjadi bagian dari cakrawala itu.Para pengawal ayahku tidak mengatakan apa pun selama penerbangan, bukan karena kepatuhan tetapi karena rasa yakin, karena mereka telah menunggu selama lima tahun untuk panggilan ini dan tidak pernah percaya kalau aku tidak akan melakukannya.Mereka menerimaku tanpa banyak pertanyaan.Klinik swasta itu terletak di luar kota, tersembunyi di balik hamparan kebun anggur dan dinding batu tua yang usianya bahkan lebih tua daripada catatan modern mana pun.Dan ketika brankar didorong melewati pintu, para staf rumah sakit sudah tahu apa yang tidak boleh ditanyakan, itu merupakan tanda pertama bahwa pengaturan ayahku belum l

  • Pewaris Yang Disembunyikan   Bab 5

    Sudut Pandang Damian.Alarm kebakaran berbunyi pada pukul dua lewat tujuh belas dini hari.Bukan dari sistem kediaman utama, alarm ini datang melalui saluran pribadi, jenis saluran yang diperuntukkan bagi properti yang tidak didaftarkan secara resmi. Sebuah rumah persembunyian, tempat yang terdaftar menjadi lokasi terakhir Vicky."Sudah dikonfirmasi?" tanyaku, sudah dalam keadaan berdiri."Sudah, Bos," jawab Markus. "Rusak total, bahan bakar tambahan. Tidak ada mayat yang ditemukan."Tidak ada mayat.Aku tidak duduk kembali. Aku malah berjalan menuju jendela, memperhatikan lampu-lampu kota yang membelah kegelapan malam dengan garis-garis yang jelas, karena hanya ada dua kemungkinan dan tidak satu pun yang sesuai dengan hasil yang telah kusetujui.Entah karena dia ceroboh ... walaupun Vicky tidak pernah ceroboh seumur hidupnya, atau memang dia sendiri yang membakarnya."Periksa rekeningnya," kataku. "Semuanya."Ada jeda di telepon, jeda yang menunjukkan keraguan yang disamarkan sebagai

  • Pewaris Yang Disembunyikan   Bab 4

    Keesokan harinya, Damian datang.Julia menggandeng lengannya.Kali ini, dia tidak mengenakan gaun putih.Julia melangkah masuk ke ruangan dengan gaun rancangan desainer berwarna abu-abu mutiara, jenis gaun yang biasa dikenakan untuk jamuan kenegaraan dan audiensi kerajaan, gaun itu dijahit dengan sempurna.Potongannya tegas, bahan kainnya tebal, dan siluetnya jelas berwibawa. Dia mengenakan sepatu hak tinggi yang terlalu elegan untuk bangsal rumah sakit, dan di jarinya berkilau cincin Keluarga Santorini yang besar dan berkilauan, memantulkan cahaya setiap kali bergerak.Dia tampak seperti seseorang yang telah resmi dinobatkan.Damian berjalan di sampingnya, tenang dan khidmat.Dia berhenti beberapa langkah dari ranjangku, lalu mengamati sejenak, seperti seseorang yang sedang menilai senjata rusak.“Kudengar kau sudah bangun,” katanya dengan tenang. “Aku tahu kau tidak akan mati semudah itu.”Aku tersenyum tipis, dan gerakan kecil itu terasa di tulang rusukku.“Iya,” jawabku dengan suar

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status