Setelah jamuan makan selesai, maka dilanjutkan dengan pesta dansa.
Itu bukanlah momen penuh romansa ... melainkan sebuah pertunjukan. Sebuah ajang pamer kekayaan dan pengaruh Keluarga Santorini yang sengaja dimaksudkan untuk mengesankan setiap tamu yang hadir, sekaligus melancarkan aliansi masa depan ke segala arah yang dapat dijangkau.
Aku berdiri sendirian di tepi ruang dansa, berada di posisi yang sempurna, dan tak terlihat sama sekali.
Julia bergerak di antara kerumunan anggun bak ratu.
Kali ini dia tidak mengenakan gaun putih, melainkan gaun satin berwarna biru tua yang megah, jenis gaun yang tidak terlalu berkilau namun bisa membuat warna lain di sekitarnya seolah tampak redup. Anting-anting zamrud menyentuh lehernya di setiap langkah, dan sebuah sisir berlian antik menahan tatanan rambutnya dengan baik. Sebuah penampilan dengan perpaduan dari kekayaan turun-temurun, kekuasaan yang kokoh, dan status yang tak perlu dipertanyakan lagi. Tepuk tangan mengikutinya secara otomatis.
Dia lalu berhenti di depanku.
Tatapannya menyapu ke bawah, santai, dan tak terburu-buru .... Kemudian, mendarat pada tanda samar yang terlihat di atas garis leher gaunku.
Sebuah tanda ciuman.
Bekas milik Damian.
Sesuatu yang tajam berkelebat di sorot matanya, kilatan ejekan dan konfirmasi.
"Vicky," katanya lembut dan ramah. "Kenapa kau berdiri di sini sendirian?"
Dia memiringkan kepala, ekspresi wajahnya berubah menjadi rasa khawatir yang dibuat-buat, seolah-olah dia sedang berbuat baik dengan memperhatikanku.
"Tunanganmu seharusnya datang menemanimu, kan?" Matanya menyapu lantai dansa dengan dramatis. "Lagipula, ini pesta pertunanganku, tapi kau tidak terlihat bahagia."
Bibirnya melengkung, membentuk senyuman yang tampak anggun dan tepat.
"Kecuali .…" Dia berhenti sejenak, menurunkan suaranya cukup pelan hingga hanya aku yang bisa mendengarnya. "Tunangan yang terus kau sebut-sebut itu adalah Damian?"
Julia melangkah lebih dekat, cukup dekat hingga kata-katanya berbisik di telingaku.
"Kau seharusnya tahu diri dan sadar posisi," gumamnya, terasa manis seperti racun. "Kau tidak lebih dari alat yang dia gunakan di ranjang."
Sebelum aku bisa menjawab, sebuah kehadiran yang familiar mendekat dari arah belakang.
"Sayang ...." Suara Damian menyela dengan tenang dan santai. "Apa yang kalian bicarakan?"
Lengannya melingkari pinggang Julia, gerakannya tampak terampil dan posesif, lalu menarik tubuh wanita itu agar merapat ke sisinya.
Aku seolah dianggap hanya menjadi bagian dari pilar marmer di belakangku.
"Oh, bukan apa-apa," kata Julia ringan. Dia bersandar pada Damian. "Aku hanya khawatir karena Vicky terlihat agak kesepian di sini."
Tatapan Damian beralih kepadaku, terasa dingin dan penuh penilaian.
"Tunanganmu sudah datang," katanya datar. "Dia tadi mencarimu."
Seolah dipanggil oleh kata-kata itu, seorang pria berjalan mendekat.
Markus, dia adalah salah satu kapten di lingkaran dalam Damian, orang kepercayaannya.
"Aku baru saja kembali setelah menangani sebuah situasi," kata Markus, sambil mengangguk ke arahku. "Sepertinya aku belum melewatkan acara puncaknya."
Wajahku tegang dan dadaku terasa sakit.
Namun, aku tetap memaksakan diri untuk tersenyum.
"Kalau begitu ...." tambah Markus dengan santai, sambil mengulurkan tangannya. "Bagaimana kalau kita berdansa?"
Alunan musik orkestra pun mulai bergemuruh.
Aku pun menyambut tangan pria itu.
Di seberang lantai dansa, Damian tampak menuntun Julia ke bagian tengah, dan kerumunan orang terbelah memberi jalan bagi mereka seperti aliran air.
Saat kami bergerak, Markus mendekat dan bicara dengan suara rendah.
"Bos memberi perintah," katanya. "Tidak ada yang boleh merusak pertunangan ini. Mainkan saja peranmu dan jadi tunangan yang baik."
Pandanganku terasa kabur seketika.
Setetes air mata terjatuh tanpa disadari oleh siapa pun, tertelan oleh kilauan lampu gantung kristal dan alunan musik.
Mereka terlihat sangat sempurna.
Di tengah lantai dansa, langkah kaki mereka selaras tanpa cela, setiap putaran terasa tepat, dan setiap jeda terlewati dengan mulus ... seolah-olah mereka telah berlatih bersama selama bertahun-tahun.
Aku teringat dia pernah mengatakan kepadaku dengan nada malas bahwa dia tidak bisa berdansa, dan itu bukanlah keahliannya.
Dia tidak berbohong.
Dia hanya tidak ingin berdansa denganku.
Dan kemudian ....
Musik mendadak berhenti.
Teriakan-teriakan histeris meletus.
Para pria menyerbu dari kerumunan, wajah mereka tertutup topeng dengan senjata terangkat.
Kekacauan meledak tanpa peringatan.
Sebelum aku sempat bereaksi, tangan-tangan kasar mencengkeramku dari belakang.
Tangan lain mencengkeram Julia pada saat yang bersamaan.
Tudung hitam ditarik paksa menutupi kepala kami.
Kegelapan seketika menelan segalanya.
Kami diseret ... sepatu bot bergesekan dengan lantai marmer, tubuh saling bertabrakan, pergelangan tangan ditarik ke belakang dan diikat erat.
Di suatu tempat di dekatku, sebuah suara yang terdistorsi bergema, terdengar geli.
“Jadi ini kedua wanita itu,” katanya. “Yang satu selingkuhanmu dan satunya lagi tunanganmu.”
“Mari kita lihat mana yang lebih berharga.”
Jantungku berdebar kencang.
“Satu nyawa bernilai seratus tujuh puluh miliar.”
Aku mendengar suara Damian menyela, terdengar dingin dan terkendali, penuh dengan nada peringatan yang tajam, “Apa kau benar-benar berpikir bisa mengambil uangku dan keluar dari sini dengan selamat?”
Gelak tawa menjawab pertanyaannya, penuh dengan nada mengejek dan kepercayaan diri.
“Itu bukan urusanmu.”
Suara gemuruh baling-baling helikopter terdengar membelah udara.
"Kita barter uang dan wanita secara bersamaan." Suara itu berkata, dan terasa semakin dekat.
Aku mendengar adanya pergerakan. Suara gesekan berat dari tumpukan uang tunai yang diseret di atas lantai batu.
Damian tidak ragu-ragu.
Para penculik tertawa puas saat sebuah tali dijatuhkan dari atas. Uang itu berhasil diamankan, lalu ditarik ke atas dalam hitungan detik. Kemudian tangan-tangan bergerak lagi ... Julia dibebaskan.
Dia terhuyung-huyung di sampingku, napasnya memburu cepat, tanpa luka.
Suara Damian segera menyusul.
"Beri kami waktu tiga puluh menit. Seratus tujuh puluh miliar sisanya sedang dalam perjalanan. Tidak ada uang tunai sebanyak itu di sini."
Untuk sesaat, tidak ada seorang pun yang berbicara.
Kemudian, salah satu penculik tertawa terbahak-bahak.
“Lihat?” serunya bangga. “Sudah kubilang dia sama berharga dengan tunangannya. Kalian bodoh sudah kalah taruhan. Nanti di rumah, kalian harus mencuci kaus kakiku.”
Seseorang bersiul dan yang lainnya mendecakkan lidah karena kecewa.
Di sampingku, Julia mendesah pelan.
“Itu … jumlah yang banyak sekali,” gumamnya, dengan nada tidak terlalu ngeri, tetapi terasa lebih seperti penyesalan. “Tapi bukannya dia hanya bawahanmu saja?”
Keheningan kembali menyelimuti.
Kemudian suara lain ikut menimpali, terdengar tajam dan penuh wibawa.
Itu adalah kakak laki-lakinya Julia.
“Adikku itu seorang putri Keluarga Landovo,” katanya datar. “Bukan orang yang bisa dibandingkan dengan seorang pembersih masalah.”
Dia menoleh ke arah Damian.
“Apa kau yakin ingin menebusnya?”
Hening sejenak.
“Kalau kau melakukannya ....” tambahnya dengan tenang. “Kami terpaksa harus mempertimbangkan kembali aliansi pernikahan ini.”
Damian menjadi tidak ragu-ragu sama sekali.
“Tidak,” katanya. “Kau benar.”
Kata-kata itu menghantam dadaku seperti sebuah tembakan.
Dia berbalik ke arah para penculik.
“Aku tidak akan menebusnya. Lakukan apa pun yang kalian mau padanya.”
Seseorang bersorak kegirangan.
“Sudah kuduga!” teriak sebuah suara. “Damian Santorini tidak akan pernah menghancurkan pernikahannya demi seorang wanita simpanan. Kau yang kalah!”
“Sial,” umpat yang lain, merasa kesal. “Sungguh buang-buang waktu.”
Sebuah sepatu bot menghantam keras punggungku, dan aku secara refleks langsung meringkuk ke dalam, lenganku mengencang di sekitar perut demi melindungi bayi ini dengan tubuhku.
“Karena Bos Damian tidak menginginkannya ....” geram pria itu, sambil mencengkeramku lagi. “Maka dia akan menjadi milik kita.”
Mereka mulai menyeretku pergi.
Lalu ... terdengar suara tembakan yang tajam dan presisi.
Salah satu pria yang memegangiku tersentak hebat dan roboh ke lantai. Darah segar menyembur panas mengenai kakiku.
“Penembak jitu!” teriak seseorang.
Kedua pria yang menahanku langsung menjadi panik. Salah satunya mendorongku ke depan, menyentak tubuhku hingga berdiri tegak, dan menodongkan pistol tepat ke punggungku.
“Dasar bajingan gila!” teriaknya ke arah Damian. “Wanita simpananmu ada di sini! Kalau tembak sekali lagi, aku akan meledakkan kepalanya!”
Suara Damian terdengar lantang, jauh lebih dingin dari yang pernah kudengar selama ini.
“Dia bukan wanitaku,” katanya. “Dan siapa pun yang membuat masalah di wilayah kekuasaan Santorini tidak akan pernah dibiarkan hidup.”
Dia memberikan perintah.
Tembakan demi tembakan kembali terdengar.
Di atas kami, helikopter menjatuhkan bom asap yang tebal dan menyesakkan dada. Kemudian, diikuti suara memekakkan telinga dari suara granat yang menghantam lantai batu.
Pria yang menyeretku mengumpat keji dan mendorong tubuhku ke samping dengan keras.
Saat berusaha meraih tali, dia sempat berbalik dan menembak.
Dan, tembakan itu mengenai kakiku. Rasa sakit yang menyengat langsung mencabik-cabik diriku.
“Dasar wanita jalang,” geramnya. “Bukannya orang-orang bilang kau tidur dengan Damian? Tapi, dia malah memperlakukanmu seperti ini. Kalau aku tahu kau tidak berharga, aku pasti sudah kabur dari tadi.”
Suara ledakan terdengar bergemuruh.
Dunia terasa berputar, dan pandanganku mulai kabur.
...
Ketika aku membuka mata, cahaya di sekelilingku terasa lembut dan beraroma steril.
“Kau sudah sadar?” kata Dokter Simon yang sudah tua dengan lembut sambil memeriksa pupil mataku. “Kau beruntung karena peluru itu menembus kakimu. Aku sudah mengobati lukanya dan menghentikan pendarahan.”
Dia berhenti sejenak, lalu ekspresinya berubah menjadi lebih serius.
“Saat ledakan itu terjadi, kau sedang membungkuk, bersembunyi di balik pilar,” lanjutnya hati-hati. “Itulah sebabnya punggungmu mengalami luka bakar akibat ledakan. Aku juga sudah membersihkan dan membalutnya.”
Lalu, dia tampak ragu-ragu cukup lama hingga membuat jantungku berdebar kencang.
“Dan bayi itu ....” Dia akhirnya berkata dengan lebih lembut sekarang, “Dia baik-baik saja.”
Jari-jariku mengepal lemah di bawah selimut.
“Kapan kau akan menikah dengan Markus?” tanyanya pelan. “Bayi ini sangat beruntung.”
“Aku akan memberitahumu setelah tanggalnya ditetapkan,” jawabku dengan suara serak.
“... Damian?” tanyaku.
Dokter itu terdiam sejenak.
“Bos sedang bersama Nona Julia. Dia dirawat di ruang VIP dan sangat terguncang.”
Terguncang?
Aku tertawa pelan.
“Dokter,” kataku. “Nyalakan monitornya.”
Monitor menyala.
Julia terbaring di atas seprai sutra, terlihat pucat dan rapuh. Damian sedang duduk di sampingnya, menyuapinya sup dengan sabar dan hati-hati, setiap gerakannya tampak penuh pemujaan.
“Aku hampir saja kehilanganmu.” Suaranya bergetar. “Aku tidak bisa hidup tanpamu.”
“Aku tahu,” bisik Julia lembut. “Kau sudah menyelamatkanku.”
Lalu, Damian merogoh sakunya.
Mengambil sebuah kotak beludru.
Napasku terhenti seketika.
Dia berlutut.
Di dalam kotak itu terdapat cincin ibunya yang menjadi warisan turun-temurun Keluarga Santorini.
“Menikahlah denganku,” kata Damian lembut. “Bukan demi keluarga ataupun aliansi. Tapi karena aku sangat mencintaimu.”
“Iya,” isak tangis Julia. “Iya, aku bersedia.”
Monitor pun menjadi buram.
Jadi, dia sebenarnya tahu bagaimana cara mengatakan hal itu.
Hanya saja, bukan untuk ditujukan kepadaku.
Dokter itu mengamatiku dengan tenang.
“Aku sudah melihatmu tumbuh bersamanya,” katanya. “Kau memang tidak pernah cocok untuknya. Aku tahu kau mencintainya. Tapi, dia sudah bertunangan sekarang.”
Suasana hening sejenak.
“Karena kau juga sudah bersama Markus …. Jadi, lupakan saja dia.”
Kemudian, melalui rekaman video lain, aku melihat Damian sedang berbicara dengan nada tajam.
“Seharusnya dia tidak perlu diselamatkan,” katanya dingin. “Dia tidak layak.”
Lalu, dia mengangkat sebuah cincin lain.
Cincin lambang Sang Bos Mafia.
Dan, di baliknya ....
Terlihat sebuah gaun pengantin.
Gaun yang dulu pernah kulihat sketsanya dia gambar secara diam-diam.
Namun, itu bukan untukku.
Dan, tidak akan pernah untukku.