Short
Melepaskan Identitas Sebagai Istri Bos Mafia

Melepaskan Identitas Sebagai Istri Bos Mafia

By:  IvyCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
9Chapters
11views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Aku adalah pembunuh paling terampil sekaligus penasihat kepercayaan sang bos mafia, Alexander, dan juga istri rahasianya. Namun, selama lima tahun pernikahan rahasia kami, dia tidak pernah mengizinkan putra kami memanggilnya "Papa". Dia selalu berkata bahwa keluarga-keluarga musuh terus mengawasi kami dan aku serta putra kami adalah satu-satunya kelemahannya. Semua itu, katanya, demi melindungi kami. Aku memercayainya, lalu diam-diam membantunya mengurus seluruh urusan keluarga, sampai cinta pertamanya, Bella, kembali dengan seorang anak laki-laki berusia lima tahun. Dia bahkan memesan seluruh taman bermain hanya untuk mereka berdua bermain seharian. Hari itu adalah ulang tahun putraku. Dia dengan keras kepala menunggu papanya pulang, memeluk kue yang perlahan meleleh di tangannya. Saat itu, harapanku benar-benar hancur. Aku menelepon seseorang dan berkata pelan, "Tolong hapus identitasku dan Leo. Hapus semua informasi tentang kami." Namun, ketika aku dan putraku benar-benar menghilang, bos mafia yang berkuasa itu justru menjadi gila, menyisir seluruh dunia, dan mencari jejak kami tanpa henti ....

View More

Chapter 1

Bab 1

"Hapus identitas kami. Punyaku dan Leo. Hapus semuanya," kataku pada Marco, kenalanku di pasar gelap.

"Sophia? Kamu sudah gila? Kamu itu penasihat keluarga dan pembunuh bayaran nomor satu mereka. Bos Alexander nggak akan pernah membiarkanmu pergi," ujar Marco, suaranya penuh keterkejutan.

Aku menjahit sendiri luka tembak di perutku, suaraku datar tanpa emosi. "Itu urusanku. Aku nggak mau lagi ada Sophia dan Leo di dunia ini."

Beberapa detik keheningan menggantung di ujung sana sebelum Marco menghela napas. "Baik. Beri aku tiga hari."

Setelah Marco menutup telepon, aku bersandar pada dinding klinik yang dingin dan tertawa getir.

Semua orang iri dengan posisiku. Mereka melihatku sebagai tangan kanan Alexander, wakil bos tanpa gelar resmi. Mereka tidak tahu aku sudah menjadi istrinya selama lima tahun. Mereka tidak tahu tentang Leo.

Selama lima tahun itu, dia melarang putra kami memanggilnya "Papa".

"Ini akan membuat kalian jadi sasaran," katanya selalu. "Aku melakukan ini demi menjaga kalian tetap aman."

Aku memercayainya. Aku tinggal di balik bayangan, mengurus seluruh urusan keluarga, sampai cinta pertamanya, Bella, kembali ke Sibara dengan seorang anak laki-laki berusia lima tahun yang benama Lucas.

Dia membawa Bella berbelanja secara terang-terangan. Dia membelikan Lucas mainan. Leo-ku hanya bisa melihat foto-foto paparazi mereka dari dalam area rumah yang terkurung.

Aku memejamkan mata, mengulang kejadian siang tadi di benakku, misi yang gagal total.

Lucas ingin piza dari tempat populer di pusat kota, jadi Alexander membawa mereka ke sana. Tanpa ragu. Lokasi mereka langsung bocor. Saat kami keluar dari restoran, tembakan senapan mesin menghujani kami seperti badai.

Alexander secara refleks menerjang untuk melindungi Bella dan Lucas, menutupi mereka dengan tubuhnya.

Aku dibiarkan terbuka. Sebutir peluru pun menembus perutku.

Bahkan sebelum sempat membalas tembakan, raungan Alexander menembus hiruk-pikuk.

"Sophia! Lindungi kami! Kamu satu-satunya yang bisa menahan mereka! Ulur waktu untuk kami!"

Dia mundur bersama Bella dan putranya, meninggalkanku hanya dengan siluet punggungnya yang dingin dan semakin menjauh.

Sambil menekan sisi perutku yang berdarah, aku membuat jalan keluar dari penyergapan itu.

Ketika tubuhku yang remuk akhirnya sampai di rumah sakit, aku mendapati Alexander sedang menenangkan Bella dengan lembut. Dia hanya mengalami satu goresan kecil, nyaris tak berarti.

"Alexander, aku takut ...," bisik Bella sambil bersandar di dadanya, memainkan peran korban rapuh dengan sempurna.

"Sudah selesai. Kamu aman sekarang." Alexander menenangkannya, mengusap rambutnya.

Bella melihatku. Dia meninggikan suaranya, pura-pura khawatir. "Sophia nggak marah, 'kan? Kita memang meninggalkannya di penyergapan itu ...."

Alexander bahkan tidak menoleh. "Nggak apa-apa. Dia kuat. Orang-orang itu bukan tandingannya."

Dia berhenti sejenak, suaranya berubah dingin. "Lagian, kalau saja enam tahun lalu dia nggak membiusku, kamu nggak akan pergi meninggalkan negara ini karena marah. Kamu nggak akan menderita. Dia berutang ini padamu."

Saat itulah hatiku hancur sepenuhnya.

Konyol sekali. Akulah yang menyelamatkannya.

Enam tahun lalu, Alexander dibius afrodisiak dalam jebakan yang dipasang keluarga rival. Aku menggunakan tubuhku sendiri sebagai penawar dan menyeretnya keluar dari kepungan.

Dua bulan kemudian, aku hamil.

Ketika Bella tahu, dia kabur dari Sibara dengan marah dan menikahi pria lain di Arika.

Aku baru mengetahui kebenarannya saat dia kembali enam bulan lalu. Dia menceraikan suaminya yang merupakan seorang pelaku kekerasan dan dia menjalani hidup yang menyedihkan.

Alexander menikahiku untuk bertanggung jawab. Dia memperlakukan aku dan Leo dengan cukup baik dan tak pernah membicarakan malam itu lagi.

Aku pikir dia telah belajar mencintai keluarga kami. Aku tidak menyadari bahwa dia masih percaya akulah yang merekayasa semuanya untuk menjebaknya.

Aku menyelesaikan perawatan lukaku dan menyetir kembali ke kediaman.

Di ruang tamu, Leo duduk di sofa dengan setelan kecil yang dibelikan Alexander untuknya, kakinya bergoyang-goyang, matanya berbinar penuh harap.

"Mama!" Dia melompat berdiri. "Kapan Papa pulang? Dia janji mau mengajakku ke taman bermain!"

Aku teringat Alexander di rumah sakit yang sedang memanjakan Bella. Dia tidak akan datang. Aku tahu itu.

Namun, melihat harapan di mata Leo dan menyadari kami akan pergi selamanya, aku mengeluarkan ponsel dan mengirim pesan pada Alexander.

[ Hari ini ulang tahun Leo yang ke-5. Kamu janji mau bawa dia ke taman bermain. Kamu bakal datang? ]

Di luar dugaan, balasan datang seketika.

[ Aku bakal sampai rumah satu jam lagi. ]

Leo melihat ekspresiku dan bersorak, "Papa bakal datang, 'kan? Aku tahu dia nggak akan lupa!"

Aku mengangguk, rasa hangat samar muncul di dadaku.

Mungkin ... mungkin aku salah. Mungkin dia masih peduli pada Leo.

Leo berlari ke dapur mengambil kue, dengan hati-hati menata lilinnya. "Mama, kita tunggu Papa buat menyalakannya ya?"

Satu jam berlalu. Tak ada yang datang. Dua jam berlalu. Sunyi.

Leo berbaring di ambang jendela, menatap gerbang. "Mama, Papa kena macet ya?"

Aku hampir saja mengarang alasan ketika ponselku berbunyi.

Notifikasi media sosial dari Bella.

Foto itu memperlihatkan Alexander di taman bermain, menggendong Lucas di bahunya, sementara kembang api meledak di langit. Lucas mengenakan setelan yang sama persis dengan milik Leo.

Keterangannya tertulis "Terima kasih untuk malam yang ajaib. Dua ksatriaku".
Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status