登入Pada hari mengurus akta pernikahan, nama pengantin pria di akta malah berubah. Tunangan pacarku, si putri mafia itu memeluknya sambil menatapku dengan senyuman penuh kemenangan. "Penipu cinta dan tuan muda palsu, bukankah sangat serasi? Aku tak meladeninya dan hanya menatap pacarku. Dulu, saat dia baru saja dijemput kembali oleh keluarga mafia sebagai tuan muda yang asli, dia bahkan sanggup menanggung hukuman keluarga selama tiga hari tiga malam demi bisa menikahiku. Namun, dia malah mengangguk setuju hari ini. "Hanya bercanda saja, kamu nggak akan marah, 'kan?" "Ini hanya akta pernikahan, tunggu sampai Tasya sudah puas dan senang, kalian bisa cerai. Setelah itu kita bisa membuat akta pernikahan baru." Aku tersenyum. Lalu berbalik dan melangkah ke arah tuan muda palsu itu. "Akta pernikahan sudah di tangan, suamiku. Sudah saatnya kita merencanakan pernikahan kita baik-baik."
查看更多“Sonya aku turut berduka atas kematian Janu, anak kamu,” ucap Sugeng saat bertemu Sonya di salah satu acara seminar kedokteran.
Sonya berjuang menelan ludahnya saat mendengar perkataan Sugeng salah satu rekan sejawatnya di rumah sakit. Sonya berjuang menutupi kesedihannya dengan senyuman manis miliknya. “Terima kasih Dokter Sugeng.”
“Aku tidak menyangka musibah itu menimpa, Janu,” ucap Sugeng dengan wajah penyesalan.
Siapa yang menyangka musibah akan menimpa seseorang? Andai musibah bisa disangka, semua orang pasti berlomba-lomba mencegahnya. Sonya menelan ludah dengan susah payah tenggorokannya tercekat. Andai ia bisa mengulang waktu, ia akan melakukan apa pun untuk mengembalikan Janu ke dunia ini.
“Sonya ....” Sugeng menyentuh lengan Sonya berusaha untuk menyadarkan Sonya dari lamunannya.
“Ah ... iya, bagaimana?” tanya Sonya sembari kembali menunjukkan senyumannya untuk menutupi kegalauan dan kesedihan hatinya.
“Aku ....”
“Sonya, Sayang sudah selesai?”
Suara lelaki di belakang Sonya membuat Sugeng menghentikan perkataannya dan menatap lelaki pemilik suara yang ada di belakang tubuh Sonya.
“Pak Emir, saya mengucapkan bela sungkawa,” ucap Sugeng saat melihat Emir yang berdiri di belakang Sonya.
“Terima kasih, Pak ....” Emir menatap Sonya yang ada di sampingnya meminta bantuan karena dirinya tidak mengetahui siapa lelaki yang saat ini berdiri di hadapannya.
“Sugeng, dia Dokter Sugeng ahli bedah di rumah sakit aku.” Sonya langsung membantu suaminya yang tidak tahu siapa Dokter Sugeng.
“Terima kasih Dokter Sugeng, ucapan Anda sangat berarti,” ulang Emir sembari menjabat tangan Sugeng dan memberikan senyuman terbaik miliknya.
“Saya benar-benar kaget mendengar beritanya dan awalnya saya menyangka kalau kematian anak Anda akan mempengaruhi hubungan Anda karena menurut kabar burung anak Anda meninggal tercebur ke kolam saat dalam pengawasan Anda, Pak Emir,” ucap Sugeng polos, dia sama sekali tidak tahu imbas dari perkataannya akan membuat Sonya terguncang dan kembali mengingat peristiwa itu.
Tubuh Sonya bergetar saat mendengar perkataan Sugeng, “Say—“
“Kami baik-baik saja, pernikahan kami baik-baik saja dan terima kasih atas perhatiannya Dokter Sugeng tapi, saya dan Sonya tetap saling mencintai dan harmonis. Kami, tetap berjuang dengan perkawinan ini,” potong Emir sembari menyusupkan jemarinya ke pinggang Sonya dan merapatkan tubuh mereka berdua berusaha untuk menahan bobot tubuh Sonya yang sudah hampir terjatuh karena lututnya terlalu lemah untuk menahan bobotnya lagi akibat mendengar perkataan Sugeng.
“Wah ... saya bersyukur mendengarnya, saya berharap pernikahan kalian berjalan sebaik mungkin dan menjadikan kejadian ini sebagai perekat pernikahan kalian bukan sebagai pemecah.” Sugeng memberikan saran pada Sonya dan Emir, pasangan yang menurut Sugeng adalah pasangan yang sangat serasi dan akan sangat disayangkan bila pasangan di hadapannya itu berpisah.
“Terima kasih atas doanya, Dok, saya dan istri saya pamit dulu,” ucap Emir sembari merangkul lebih erat pinggang Sonya dan mendorong dengan lembut pinggang Sonya agar pergi menjauhi Sugeng.
“Saya permisi dulu, Dok, saya tadi sudah izin pada panitia acara untuk pulang duluan karena kami ada acara keluarga,” ucap Sonya seraya melambaikan tangannya ke arah Sugeng.
Sonya dan Emir pun berjalan ke arah parkiran mobil dan masuk ke dalam mobil Sonya berkata pelan, “Kita jadi ke tempat ibu?”
“Iya, kita jadi ke tempat ibu.”
Sonya mencium wangi mobil Emir yang tercium wangi parfum lain, dia sangat hafal wangi parfum suaminya dan juga wangi parfum dirinya. Tapi, dia tidak hafal dengan wangi parfum mawar yang ada di mobil Emir.
“Kenapa?” tanya Emir pada Sonya yang terlihat kebingungan.
“Ini wangi siapa? Kamu ganti parfum?” tanya Sonya dan membuat Emir kaget. “Kamu ganti wangi parfum kamu?”
“Hah ... nggak, apa sih ini wangi biasanya aja, kamu ngaco, Sayang,” ucap Emir sembari membuka kaca jendela Sonya dan dirinya, berusaha membuang wangi apa pun yang ada di mobil itu.
“Wanginya parfum mawar dan mirip kaya wangi parfum murahan, Emir,” ucap Sonya sembari mengendusi sekitarnya. “Kamu bawa Lo—“
“Ngarang aja kamu, Sonya,” potong Emir sembari menjalankan mobilnya ke arah kemacetan ibu kota.
***
“Sonya, Emir, Ibu senang kalian datang untuk makan malam, Ibu kesepian ini,” ucap Parwati yang datang menyambut Sonya dan Emir. Dengan cepat Parwati memeluk Sonya dan mengapit lengan Sonya.
“Kamu sehat, Sonya? Kamu makan benar kan? Kamu makan, makanan yang Ibu masakkan dan kirim ke rumah sakit setiap makan siang kan?” tanya Parwati yang sangat menyayangi Sonya seperti anaknya sendiri itu.
“Iya, Bu, Sonya makan makanan Ibu setiap hari,” jawab Sonya.
“Bagus, Ibu nggak mau kamu sakit karena makan-makanannya sembarangan ingat mag kamu,” ucap Parwati sembari berjalan ke arah meja makan dan mempersilahkan Sonya duduk.
“Emir nggak di tanya, Bu?” tanya Emir yang sedikit kesal karena tidak di sapa sama sekali oleh Parwati yang notabene adalah Ibu kandungnya.
“Emir kamu juga ibu suka kasih makan siang juga, kan.” Parwati mencium pipi anak semata wayangnya itu.
“Iya, sih, tapi, masa hanya Sonya yang di sapa aku nggak, kan aku anak Ibu,” keluh Emir.
“Eh ... kalian berdua anak-anak Ibu, Ibu sayang kalian berdua tidak ada beda,” ucap Parwati sembari duduk di kursi miliknya dan mulai meminta pembantunya untuk menyiapkan makanan.
“Ibu sehat?” tanya Sonya sembari melihat kondisi Parwati untuk memastikan kalau mertuanya ini dalam keadaan sehat walafiat walaupun memiliki penyakit jantung yang sudah parah hingga sudah dipasang tiga buah ring di jantungnya.
Parwati menggenggam tangan Sonya dan berkata lembut, “Ibu akan selalu sehat, Nak, selama kalian berdua sehat dan akur.”
Sonya memaksakan senyumannya saat mendengar perkataan Parwati, bahu Sonya terasa berat seolah tertimpa beton yang sangat besar dan membuat bahunya sangat sakit. “Iya, Bu ....”
“Walau Ibu tahu semenjak kematian Janu, ini semuanya akan berat. Ibu paham, Nak, Ibu ....” Parwati mengusap air matanya dengan menggunakan punggung tangannya.
“Bu, kami baik-baik saja, Ibu tidak usah khawatir,” ucap Sonya sembari menggenggam tangan Parwati berusaha memberikan kekuatan pada mertuanya walaupun sejujurnya saat ini dirinyalah yang sangat membutuhkan sokongan dari orang lain.
“Kalau ada apa-apa kasih tahu Ibu, Ibu mohon Sonya, Ibu sayang sama kamu,” ucap Parwati yang langsung di jawab anggukkan oleh Sonya dan mereka kembali makan malam dengan penuh kehangatan keluarga yang menurut Sonya sangat semu.
***
Setelah sampai ke rumah Sonya langsung ke kamar mandi dan membersihkan dirinya, saat Sonya keluar dari kamar mandi ia mendapati Emir yang sedang duduk di sofa sembari menatap kolam renang yang ada di samping kamar mereka.
“Emir ....”
“Ya?” jawab Emir sembari mengalihkan pandangannya dari kolam renang ke arah Sonya.
“Kenapa kamu bunuh anak kita?” tanya Sonya.
“Maksud kamu apa, Sonya?”
***
Saat Alex menjatuhkan pistolnya, dia tidak melemparnya jauh, melainkan membiarkannya jatuh lurus ke bawah, ke posisi yang tidak jauh dariku.Dia sengaja memancing emosi Stanley, menggunakan tubuhnya sebagai tameng sekaligus mengalihkan perhatian Tasya.Tatapan matanya bertemu denganku dan aku langsung memahami maksudnya.Dia sedang mencari kesempatan untukku!Aku yang terabaikan pun diam-diam mengambil pistol itu dan dalam sekejap, situasi pun berbalik."Sebagai calon nyonya Keluarga Zavi, aku nggak akan membiarkan suami masa depanku mati begitu saja di sini."Aku menjilat bibirku dan tersenyum liar.Alex memanfaatkan kelengahan Stanley, melayangkan satu pukulan penuh tenaga ke wajahnya, membuatnya terlempar dan menghantam deretan meja hingga pingsan.Setelah dua orang itu diselesaikan, Alex pun berjalan mendekat, langsung menggendongku, lalu mengecup pipiku, "Kerja bagus, memang calon nyonya Keluarga Zavi."Anak buah Keluarga Zavi pun tiba. Jenazah Tasya dibawa pergi.Stanley ditangka
"Jangan bergerak!"Itu Tasya. Dia mengangkat pistol dan menempelkannya di punggung Alex."Buang senjatamu atau kubunuh kamu sekarang juga?!"Stanley yang dari tadi muram di samping, mendadak tertawa terbahak-bahak, menyemangati Tasya dengan wajah penuh semangat, "Benar, bunuh dia! Dia yang menghancurkan Keluarga Rozee dan Keluarga Tosa sampai jadi seperti ini! Dia pantas mati!" Alex sama sekali tidak meliriknya. Dia berkata dengan dingin, "Biarkan aku dan Alice pergi. Aku janji Keluarga Zavi nggak akan menyentuh keluarga kalian lagi. Tapi, kalau kalian berani melukai pewaris Keluarga Zavi, konsekuensinya nggak sanggup ditanggung Keluarga Tosa."Suasana hening sejenak. Namun, tiba-tiba Tasya malah tertawa.Ekspresinya sangat gila, persis seperti Stanley, "Konsekuensi? Apalagi yang harus kutakuti? Hidupku sudah hancur!"Setelah dikepung dan diserang oleh keluarga-keluarga lain, Keluarga Rozee dan Keluarga Tosa memang masih sempat mempertahankan fondasi. Namun, saat mereka mengira semu
Dia terihat jauh lebih kurus, matanya cekung, rambutnya berantakan dan setelan jas yang dulunya rapi, kini penuh kerutan. Tidak ada lagi kegagahan seorang tuan muda Keluarga Rozee.Begitu melihatku, matanya berbinar. Dia menerjang ke arahku, tanpa memedulikan pelayan yang mencoba menghadangnya.Pengawal di sampingku segera maju dan menghentikannya."Alice!" teriaknya dengan suara serak di balik pengawal. "Aku sudah tahu salah! Aku benar-benar sudah tahu salah! Aku nggak seharusnya membiarkan Tasya mempermainkanmu. Tapi, orang yang kucintai dari dulu sampai sekarang tetap kamu, nggak pernah berubah!""Kita sudah bersama selama lima tahun! Kembalilah bersamaku! Asal kamu kembali bersamaku, aku akan menuruti apapun. Kita mulai dari awal lagi, semuanya akan kembali seperti dulu, ya?""Dulu?" Aku tertawa, "Dulu yang mana?""Yang saat kamu di kantor catatan sipil, menjadikanku bahan lelucon demi menghibur Tasya di depan semua orang?""Atau saat kamu membiarkan Tasya tinggal di rumah kita, l
Entah karena mobilnya terlalu mewah atau sopirnya yang terlalu ahli, orang yang duduk di dalam mobil sama sekali tak menyadari berlalunya waktu. Tanpa terasa, kami sudah tiba di tujuan.Di sisi jalan yang lebar terbentang hutan pribadi yang luasnya luar biasa lebar. Aku menatap ke depan dan melihat sebuah kastil raksasa yang berdiri megah.Dengan hormat, Seto berkata, "Nona Alice, selamat datang di Keluarga Zavi. Tuan Roy dan Nyonya Lydia sudah sangat ingin bertemu denganmu."Aku turun dari mobil dengan linglung dan masuk ke dalam kastil itu dengan perasaan campur aduk.Begitu sampai di aula utama, aku langsung ditarik oleh seorang wanita paruh baya yang cantik."Kamu yang namanya Alice? Benar-benar cantik sekali. Maaf ya, putraku sudah merepotkanmu.""Sejak kecil, dia sudah hidup terpisah dari keluarga. Saat dia ditinggalkan Keluarga Rozee dan berada di titik terendah hidupnya, kamu masih memilih untuk tetap bersamanya.""Seluruh Keluarga Zavi sangat berterima kasih padamu."Ucapan it






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
評論