Short
Belenggu Sang Bos Mafia

Belenggu Sang Bos Mafia

作家:  Lotus完了
言語: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
7チャプター
2ビュー
読む
本棚に追加

共有:  

報告
あらすじ
カタログ
コードをスキャンしてアプリで読む

概要

Mengejar Istri

Cinta Toxic

Plot Twist

Pelakor

Mafia

Pilih Kasih/Egois

Penyesalan

Seminggu sudah berlalu, dan Tonny akhirnya menyadari bahwa aku tak lagi meminta-minta uang padanya. Saking senangnya, pria itu sampai meluangkan waktu untuk mengirimiku pesan singkat, sebuah pujian yang langka. [Sayang, akhirnya kamu paham juga caranya jadi istri ketua mafia yang pantas.] Dia bahkan menambahkan janji manis. [Obat khusus buat ibumu sudah aku kirim. Selama kamu bersikap manis dan tidak serakah, aku akan kasih segalanya buat kamu.] Tonny tidak tahu, saat pesan itu masuk, aku sedang berdiri di depan mesin cetak, menunggu lembar demi lembar surat cerai keluar. Saat itu aku masih mengenakan gaun usang dari tiga tahun yang lalu. Di balik kemewahan statusku sebagai istri ketua mafia yang ditakuti, tak ada yang percaya bahwa untuk sekadar membeli pembalut pun, aku harus mengemis pada Helen, orang kepercayaannya. Aku pun harus mengajukan izin tiga hari sebelumnya hanya untuk bisa keluar rumah. Tonny selalu berdalih bahwa itu semua demi melindungiku. "Di luar sana terlalu berbahaya, Sayang. Kamu cukup diam di rumah aja." Namun, segalanya hancur seminggu yang lalu. Saat Ibu kritis, aku memohon pada Helen agar mengizinkanku pergi tanpa melewati prosedur birokrasi yang konyol itu. Helen sengaja menahanku selama lima hari dan baru melepaskanku setelah Ibu mengembuskan napas terakhir. Obat khusus? Buat apa lagi? Ibu sudah tiada, dan kesabaranku pun sudah habis.

もっと見る

第1話

Bab 1

"Kita cerai, Tonny. Suratnya udah aku tanda tangan."

Aku meletakkan dokumen perceraian itu di atas meja kerjanya.

"Jangan kumat lagi." Dia bahkan tidak melirikku, matanya tetap tertuju pada laporan di depannya. "Malam ini aku ada pertemuan penting. Nggak ada waktu meladeni permainanmu."

"Aku nggak sedang main-main, ya." Aku menekankan setiap kata. "Aku mau cerai."

Barulah dia mendongak. Tatapannya menunjukkan rasa tidak senang.

"Kamu tau 'kan aku nggak suka lelucon kayak gini."

Beberapa bawahannya bergegas keluar ruangan dengan penuh pengertian, meski sempat melempar tatapan kasihan padaku.

"Aku nggak sedang bercanda." Aku mengepalkan tangan, memaksa diri untuk menatap langsung matanya.

Tonny bangkit. Bayangan tubuhnya yang tinggi menjulang menyelimutiku. Aroma parfum yang bercampur dengan cerutu seketika membuat tenggorokanku tercekat.

"Sayang." Dia menarik pinggangku ke dalam pelukannya, lalu berbisik tepat di telingaku.

"Obat ibumu itu harganya 15 juta per butir, dan dia harus minum enam butir sehari. Kalau kamu ninggalin aku, apa kamu mau biarin dia mati begitu aja?"

Gigiku bergemeletuk penuh kebencian.

Dulu aku sangat memuja sikap dominannya, tapi sekarang, aku sangat muak.

"Aku nggak butuh obatmu lagi!" Aku mendorongnya sekuat tenaga, melanjutkan dengan setengah berteriak, "Ibuku udah nggak ada! Aku cuma butuh tanda tangan kamu!"

Tatapan Tonny seketika berubah menjadi gelap dan tajam.

"Kamu berani bohong pakai alasan itu? Baru tadi pagi Helen nunjukin video ibumu sedang jalan santai."

Mataku terbelalak, baru saja hendak membantah saat Helen muncul di ambang pintu.

"Bos, kita harus berangkat sekarang."

Tonny segera beranjak pergi, meninggalkan perintah dengan ketus, "Jangan macam-macam. Kita bicara lagi setelah aku pulang."

Aku tahu dia tidak akan pernah bicarakan ini lagi.

Di matanya, ini hanyalah satu lagi drama "tidak jelas" karena aku sedang ingin cari perhatian.

Biasanya, tak sampai empat jam, aku akan datang padanya untuk minta maaf.

Dulu, aku memang selemah itu.

Saat itu aku sangat takut membuatnya marah karena tak ingin pasokan obat Ibu dihentikan. Apa pun permintaannya, akan kuterima dengan senyum.

Meski orang-orang mencibirku "seperti tak punya harga diri", aku pura-pura tuli.

Tapi kali ini berbeda.

Jika seminggu yang lalu dia mau mendengarkan teleponku sampai selesai, mungkin saat ini aku masih sudi membohongi diriku sendiri bahwa ini semua adalah cinta.

Tapi saat aku baru saja memohon di telepon waktu itu, Helen langsung merampas ponselnya.

"Nyonya mau keluar rumah untuk beli perhiasan koleksi terbaru lagi ya? Tapi di luar kondisinya sedang nggak aman. Nyonya bahkan nggak bisa pegang pistol ... jangan merepotkan Bos di saat seperti ini," ujar Helen ketus.

Aku menjelaskan dengan panik, "Bukan begitu! Ibuku …. "

"Ibu Anda baik-baik saja." Dia memotong kata-kataku dengan nada lembut yang dibuat-buat.

"Tadi aku sempatin menjenguk, nafsu makannya bagus. Kalaupun ingin keluar rumah, seharusnya Nyonya nggak usah pakai kondisi kesehatan ibu sendiri sebagai alasan, 'kan?"

Padahal, dalam foto yang diam-diam dikirim oleh perawat, kondisi Ibu memburuk drastis. Nyawanya terancam!

Baru saja aku ingin menjelaskan, Tonny memotong dengan tidak sabar, "Cukup, Belinda. Aku sibuk, nggak punya waktu dengar kebohonganmu."

"Kamu selalu berbohong supaya bisa keluyuran. Terakhir kali kamu bilang sakit gigi, sekarang kamu malah jadiin ibumu alasan?"

"Turuti aja pengaturan Helen. Dia yang paling profesional, dia bisa urus semua dengan baik."

Begitulah cara dia menangani semua permintaanku.

Meski statusku adalah istri bos mafia, bahkan untuk membeli pembalut pun aku harus mengajukan permohonan dana kepada Helen.

Apalagi untuk keluar rumah.

Helen selalu punya seribu satu alasan untuk menolaknya.

"Alasan Nyonya keluar rumah nggak cukup kuat. Kalau gigi bungsu Anda sakit, minum obat pereda nyeri aja dulu."

"Nyonya menyelamatkan anak kucing yang keracunan pestisida? Itu bukan urusan saya."

"Pembalut? Pinjam aja sama pelayan."

Akhirnya, gigi bungsuku tumbuh miring tanpa pernah sempat ke dokter.

Anak kucing itu pun mati di pelukanku.

Bahkan para pelayan di vila itu memandangku dengan iba.

Tonny memang mengirimkan gaun mewah dan perhiasan setiap musim ke vila ini.

Tapi semuanya terkunci di lemari. Aku bahkan tidak punya hak untuk menyentuhnya.

Ironis sekali. Saat ibuku sekarat, aku justru sedang sibuk menulis dua puluh ribu kata permohonan izin untuk keluar rumah.

Helen hanya meliriknya sedetik sebelum melempar berkas itu kembali.

"Izin keluar harus diajukan tiga hari kerja sebelumnya. Tunggu aja tiga hari lagi."

Aku menangis sejadi-jadinya, memohon padanya, "Izinin aku pergi dua jam saja, ibuku benar-benar sedang kritis!"

Dia malah tersenyum. "Oh ya? Tapi kalau memang udah waktunya mati, mau kamu datang menjenguk pun dia akan tetap mati."

"Aku harus menjalankan tugasku menjaga Nyonya. Tanpa alasan yang sah, aku nggak bisa biarkan Nyonya keluar."

Telepon-teleponku pada Tonny pun selalu ditolak.

Tiga hari, lima hari, tujuh hari.

Sampai akhirnya perawat mengirimkan foto jasad Ibu.

Sebelumnya aku masih bisa membohongi diri bahwa ini adalah bentuk "perlindungan" dan "cintanya".

Kini ibuku sudah meninggal. Alasan apa lagi yang tersisa untuk tidak melarikan diri dari sangkar ini?

Aku menyeka air mata kepedihan ini, mengakhiri semua ingatan itu, dan mulai mengemasi barang-barang.

Tiba-tiba ponselku berbunyi. Tonny mengirimkan sebuah tautan media sosial.

Di foto unggahan Helen itu, dia berdiri di samping Tonny, mengangkat gelas merayakan kerja sama mereka.

Keterangan fotonya: [Rutinitas kerja bersama Bos.]

Belum sempat aku bereaksi, masuk pesan perintah dari Tonny.

[Sudah lihat postingan Helen? Jangan berpikiran macam-macam. Sekali lagi kutegaskan, hubungan kami murni atasan dan bawahan.]

[Keluarga kita sedang dalam proses pembersihan citra. Aku tidak mau ada orang yang menganggap orang kepercayaan keluargaku tidak akur dengan istriku.]

Setiap ada hal yang menyangkut Helen, dia selalu muncul paling cepat.

Tadinya aku tak ingin menanggapi, tapi rasa dendam di hatiku tak bisa lagi diredam.

Toh aku sudah kehilangan segalanya, apa lagi yang perlu kutakutkan?

Aku pun mengetik komentar sinis di unggahan itu.

[Keluarga mana pun wajib merekrut Helen jadi orang kepercayaan. Hebat sekali, dia bahkan berani mengurung istri bosnya sendiri dan memainkan wewenang kecilnya dengan sangat lihai.]

[Tolong pertahankan "keadilan" ini saat kamu berhasil naik jadi istri nanti, ya.]

Setelah menekan tombol kirim, sesak di dadaku sedikit berkurang.

Aku menjejalkan gaun terakhir yang paling sederhana ke dalam koper.

Gaun-gaun mewah yang tidak pas di badanku, rumah megah yang dipenuhi kamera pengintai, obsesi Tonny untuk mengendalikan yang berkedok cinta ....

Semuanya tak akan bisa menahanku lagi.

Ponselku tiba-tiba bergetar. Tonny menelepon.

Langsung kumatikan.

Sangat cepat dan tegas, sama seperti caranya mematikan telepon dariku saat Ibu sedang sekarat.
もっと見る
次へ
ダウンロード

最新チャプター

続きを読む

読者の皆様へ

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

コメントはありません
7 チャプター
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status