ログインSeminggu sudah berlalu, dan Tonny akhirnya menyadari bahwa aku tak lagi meminta-minta uang padanya. Saking senangnya, pria itu sampai meluangkan waktu untuk mengirimiku pesan singkat, sebuah pujian yang langka. [Sayang, akhirnya kamu paham juga caranya jadi istri ketua mafia yang pantas.] Dia bahkan menambahkan janji manis. [Obat khusus buat ibumu sudah aku kirim. Selama kamu bersikap manis dan tidak serakah, aku akan kasih segalanya buat kamu.] Tonny tidak tahu, saat pesan itu masuk, aku sedang berdiri di depan mesin cetak, menunggu lembar demi lembar surat cerai keluar. Saat itu aku masih mengenakan gaun usang dari tiga tahun yang lalu. Di balik kemewahan statusku sebagai istri ketua mafia yang ditakuti, tak ada yang percaya bahwa untuk sekadar membeli pembalut pun, aku harus mengemis pada Helen, orang kepercayaannya. Aku pun harus mengajukan izin tiga hari sebelumnya hanya untuk bisa keluar rumah. Tonny selalu berdalih bahwa itu semua demi melindungiku. "Di luar sana terlalu berbahaya, Sayang. Kamu cukup diam di rumah aja." Namun, segalanya hancur seminggu yang lalu. Saat Ibu kritis, aku memohon pada Helen agar mengizinkanku pergi tanpa melewati prosedur birokrasi yang konyol itu. Helen sengaja menahanku selama lima hari dan baru melepaskanku setelah Ibu mengembuskan napas terakhir. Obat khusus? Buat apa lagi? Ibu sudah tiada, dan kesabaranku pun sudah habis.
もっと見るBarang-barang yang kupasang di situs jual beli segera diborong oleh seorang pembeli anonim dengan harga yang sangat tidak masuk akal.Vila itu pun laku dalam waktu singkat.Aku tahu siapa pelakunya, tapi aku sudah tidak peduli lagi.Berbekal uang hasil penjualan dan sedikit barang, aku bersiap berangkat ke Negara Khemir untuk bergabung dalam proyek arkeologi baru.Sebelum berangkat, Profesor Martha menepuk pundakku."Posisiku aku serahkan sama kamu. Sekarang aku bisa pensiun dengan tenang dan pergi berkeliling dunia."Kami berdua tertawa bersama.Tiba-tiba, ponselku berdering nyaring.Suara asisten baru Tonny terdengar panik di seberang sana."Nyonya! Kumohon datanglah ke rumah sakit sekarang! Bos diserang!"Baru saja aku hendak menolak, Profesor Martha menepuk tanganku pelan. "Pergilah. Mungkin ini pertemuan terakhir kalian seumur hidup."Aku mencengkeram ponselku erat-erat. Setelah terdiam cukup lama, aku bergumam, "Baiklah."Di dalam ruang perawatan, Tonny terbaring dengan wajah puc
Proses penandatanganan surat cerai berjalan dengan sangat lancar, di luar dugaan.Tonny tidak menampakkan batang hidungnya, dia hanya mengutus asisten barunya untuk mengantarkan dokumen."Nyonya, Bos berpesan …." Asisten itu tampak ragu untuk melanjutkan."Panggil aku Belinda," potongku sambil membubuhkan tanda tangan dengan mantap.Asisten itu kemudian menyodorkan sebuah map tebal."Bos menghibahkan vila ini untuk Anda, dan apartemen penthouse atas namanya juga sudah dibaliknamakan menjadi milik Anda. Selain itu, di dalam kartu ini ada saldo 80 miliar, sebagai rekening pribadi Anda.""Kata sandinya adalah hari ulang tahun Anda."Aku menatap kartu hitam itu, memutuskan untuk menerimanya, namun mendorong kembali kunci vila yang dia sodorkan."Apartemen dan uangnya akan aku terima. Tapi untuk vila ini, tolong jualin aja."Asisten itu tampak sangat kebingungan. "Bos sangat berharap Anda menyimpannya ….""Kalau gitu bilang sama dia," potongku lagi. "Aku merasa mual setiap kali melihat vil
Dia masih mengenakan setelan jas, namun lingkaran hitam di bawah matanya tak lagi bisa disembunyikan.Mobil jip di belakangnya penuh sesak dengan peralatan baru."Tiba-tiba aku merasa harus mendukung proyek arkeologi ini. Peralatan seharga 45 miliar ini hanya sedikit aja bentuk dukunganku."Ekspresinya tampak serius, meski bekas tamparan di wajah tampannya belum juga hilang.Baru saja aku hendak menolak, rekan-rekan timku sudah tidak tahan untuk maju dan menyentuh peralatan baru itu."Belle." Dia melangkah ke arahku, kedua tangannya membawa sebuah kotak bekal hangat.Saat tutupnya dibuka, aroma hidangan laut yang pekat langsung menyeruak.Perutku seketika terasa mual dan bergejolak.Dia menatapku penuh harap."Aku sampai minta kepala koki sendiri yang antarkan ini, tiga jam perjalanan dengan mobil.""Dulu kamu paling suka makan ini, 'kan? Cobalah sedikit."Aku tak bergeming, hanya menyahut datar, "Aku alergi hidangan laut. Nyentuh sedikit aja akan bikin kulitku gatal dan ruam merah."T
Suara Leon terdengar makin mengecil, penuh ketakutan."Waktu itu Nona Helen sendiri yang nyerahin surat kematiannya. Katanya Bos sedang nggak stabil, jadi berita ini nggak perlu dilaporin. Urusan Nyonya Belinda selama ini memang selalu dia yang tangani .... "Tonny menoleh dengan cepat, menatap tajam ke arah Helen."Seingatku, aku nggak pernah kasih perintah seperti itu."Wajah Helen pucat pasi, dia berusaha keras untuk tetap tenang. "Bos, waktu itu kita sedang sibuk ngurusin kerja sama, aku cuma takut fokus Anda terpecah.""Diam!" bentak Tonny padanya."Sini ponselmu! Aku mau lihat laporan medis ibunya yang asli!"Helen menggeleng panik dan refleks melangkah mundur.Tanpa basa-basi, Tonny merampas tasnya dan mengeluarkan ponsel dari dalam tas.Segala pemberitahuan kondisi kritis yang selama ini disembunyikan.Setiap sen uang yang diajukan atas namaku, namun semuanya masuk ke rekening pribadinya.Serta banyak sekali riwayat pesan yang kelihatannya lembut namun penuh niat busuk.Tanpa s






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.