เข้าสู่ระบบ“Apa? Apa maksudmu aku menaruh obat tidur ke dalam minumanmu? Kenapa juga aku lakukan itu? Aku bahkan tidak pernah memikirkan hal seperti itu,” balas Ilyena cepat.
Alexis mengusap wajahnya, dia bahkan tak tahu apa yang baru saja dia katakan, menuduh istrinya yang bahkan berjalan dengan kaki terbuka untuk melakukan suatu kejahatan seperti menaruh obat tidur? Oh, man... Dia akan segera ketahuan.Alexis membungkuk, menaruh tangannya di kedua lututnya seraya bersandar ke tembok.“Tidak juga. Di mata hukum, aku adalah istri sah, aku bisa menuntut sebagian asetnya jika perceraian terjadi.” Ilyena mengangkat bahunya acuh seraya mengulas senyum. Teressa terdiam. Dia tidak memprediksi jawabannya Ilyena sama sekali. Apa lagi saat Ilyena tersenyum sambil memiringkan kepalanya. Ekspresinya jelas mengatakan kalau dia tidak akan merasa insecure, selama ini dia hidup jauh ke atas dari kata layak. Itu melukai ego Teressa, dia menggigit bibirnya cukup kuat, terprovokasi olehnya. “Nyonya Genovese?” Ilyena menoleh pada salah satu anak buahnya Alexis, yang tidak dia tahu namanya. Dia kemudian mendekatinya, dan menyerahkan sebuah surat bersamaan dengan sebuah paket. “Kami mendapatkan ini siang tadi, tetapi kami menaruhnya di pos keamanan sehingga lupa menyerahkannya padamu,” jelas pria itu. “Oh, tidak apa-apa. Terima kasih.” Ilyena menatap kosong ke atas surat dan paket itu. Teressa menyadari betapa cepatnya ekspresi Ilyena berubah.
Alexis terdiam sejenak. “Sampai urusanku dengannya selesai.” Ilyena tidak akan puas dengan jawaban yang terlalu umum. “Dan sampai kapan itu?” Sesaat hanya keheningan yang menyelimuti mereka. Tak ada jawaban pasti dari Alexis. “Apa yang sebenarnya kau coba bicarakan?” tanya Alexis. “Apakah kau sedang mencari tahu di mana batasan hubungan kita?” Ilyena mengernyitkan alisnya sebelum mendengus, entah kenapa jawaban Alexis membuatnya kesal meski memang benar begitu. Dia merasa hubungannya abu-abu sekarang. “Tidak perlu dijawab jika kau memang tidak punya jawabannya, kau bisa mengatakan yang sejujurnya.” Ilyena memalingkan wajahnya. Tak ada respons dari Alexis untuk beberapa saat, tetapi jelas dia sedang mempertimbangkan sesuatu dari caranya mengusap tangannya. “Sampai SMC menjadi stabil sepenuhnya, sehingga tidak ada lagi predator yang merasa berani untuk muncul di depan wajahmu. Teressa juga mempunyai perannya sendiri dalam hal ini, untuk itulah
“Oh, ini Alexis, suamiku,” ucap Ilyena, pertama kalinya memperkenalkan Alexis pada orang lain sebagai suaminya. Herald seketika menahan nafasnya. Lalu memaksakan senyum sambil mengulurkan tangannya pada Alexis. Sementara Alexis hanya tersenyum simpul, menatap matanya tajam seolah sedang memperingatkan, sepertinya Alexis mengenali pria ini. “Aku tidak tahu kalau kau sudah menikah,” gumam Herald sambil menatapnya. “Aku mempostingnya di akun instagramku,” balas Ilyena agak canggung. “Bukankah kau bilang kau ingin ke kamar mandi? Aku sudah bertanya di mana kamar mandinya.” Alexis menginterupsi, itu adalah sebuah kebohongan. Ilyena menoleh padanya, mungkinkah Alexis ingin menyelamatkannya dari suasana canggung atau sekedar ingin memisahkan mereka cepat. “Oh, ya.” “Kalau begitu, sampai jumpa lagi,” ucap Herald. “Kuharap kita bisa bertemu lagi nanti.” Ilyena mengangguk cepat, sebelum mengikuti Alexis yang menarik pinggangnya dan membimbingnya langsung untuk ke kamar mandi. Ilye
“Apa? Apa maksudmu aku menaruh obat tidur ke dalam minumanmu? Kenapa juga aku lakukan itu? Aku bahkan tidak pernah memikirkan hal seperti itu,” balas Ilyena cepat. Alexis mengusap wajahnya, dia bahkan tak tahu apa yang baru saja dia katakan, menuduh istrinya yang bahkan berjalan dengan kaki terbuka untuk melakukan suatu kejahatan seperti menaruh obat tidur? Oh, man... Dia akan segera ketahuan.Alexis membungkuk, menaruh tangannya di kedua lututnya seraya bersandar ke tembok. “Itu pertama kalinya dalam hidupku aku tidur sangat nyenyak,” gumam Alexis. “Well, congrats?” Ilyena mengangkat bahunya acuh. Detik berikutnya, Alexis kembali ke kasur, dia langsung menekan sebuah ciuman di kepalanya Ilyena. Bahkan sikap tak acuhnya Ilyena, seolah dia bahkan tidak tahu apa yang baru saja dia berikan pada Alexis adalah sesuatu yang besar. Bagi Alexis, tidur nyenyaknya semalam adalah sebuah anugerah yang besar. Ilyena membeku di atas kasur, apa lagi ketika Alexis
Alexis tidak memberikan reaksi khusus pada pertanyaan bagaimana jika Ilyena hamil. Dia tetap menekan dadanya ke punggung Ilyena, mendekapnya lembut. “Bagaimana menurutmu jika kau hamil?” tanya Alexis. Ilyena terdiam saat pertanyaan itu berbalik padanya. “Sebenarnya aku belum mau hamil. Kau tahu, kita baru menikah sebulan. Setidaknya aku ingin menikmati waktuku terlebih dahulu. Aku juga baru berusia 22 tahun, tidakkah itu sedikit terburu-buru, menurutmu?” “Hm, aku sedikitnya setuju. SMC masih belum stabil. Jika mereka tahu komisaris utama hamil, mereka bisa melakukan protes lagi, terutama para jajaran direksi. Mereka sangat sensitif terhadap cuti hamil,” balas Alexis. “Aku membawa pil kontrasepsi, jadi tenang saja.” Ilyena akhirnya bisa menghela nafas lega. Dia bisa tenang karena ternyata Alexis mempersiapkannya. Dia terlalu sibuk mempersiapkan dirinya sendiri secara raga sebelumnya. Setelah mandi air hangat, Alexis membantunya mengeringkan rambut Ilyena
Alexis mengecup pelipis Ilyena seraya merasakan sisa-sisa pelepasannya di dalam tubuh Ilyena, dia tidak langsung menariknya keluar. Dan Ilyena bersandar ke lengannya, dia tampak nyaman. Ilyena pikir itu sudah selesai, sebelum Alexis kembali mendorong masuk. “Bukankah kau baru saja keluar?” tanya Ilyena. “Kita akan melakukannya lagi?”Alexis terkekeh pelan. “Kau belum mendapatkan pelepasanmu. Lagi pula, memangnya kau sudah puas? Bukankah kau belum merasakan rasanya diujung tanduk?” “Kurasa aku sudah selesai saat foreplay tadi,” gumam Ilyena. “Tidak, aku masih ingin melakukannya, karena yang pertama tadi aku keluar lebih dulu. Maaf soal itu, aku tidak menyentuhmu sebulan lebih, sehingga tubuhnya sangat sensitif terhadap sentuhan,” jelas Alexis seraya menghela nafasnya. Ilyena mengangguk pelan. “Baiklah kalau begitu.” “Tetapi aku akan berhenti jika kau sudah tidak ingin melakukannya.”“Tidak, tidak,” bantah Ilyena cepat. “Aku tidak menyangka jika







