LOGINAlayya Varsha atau yang kerap di panggil Ayya terpaksa menyembunyikan identitasnya karena pekerjaan yang ia geluti. Tapi semuanya berubah saat ia bekerja sama menjadi pacar sewaan dari seorang bos ternama. Identitas yang susah payah ia sembunyikan perlahan terbongkar dan berkaitan dengan laki-laki yang perlahan ia sukai. Dendam, kebencian dan pengkhianatan yang perlahan menjadi cinta. Apa mungkin dunia yang jelas bersebrangan mampu menyatukan cinta mereka? atau justru dendam terdalam yang akan memisahkan mereka untuk selamanya?
View More"Aku Nana"
"Nantara"
"Aumi"
"Anaya"
Dan ini identitas baru yang Ayya gunakan setelah beberapa kali menjalani pekerjaan sebagai pacar sewaan.
Ya. Dia membuka penawaran untuk para laki-laki yang ingin memiliki pacar sementara, paling lama seminggu, setelah itu mereka akan berpisah dan kembali asing.
Banyak hal yang telah Ayya lalui selama menjadi pacar sewaan. Mulai dari diperkenalkan pada orang tua hanya untuk semalam.
Atau ia dijadikan alat untuk membuat perempuan-perempuan obsesi menjauh. Bahkan orang terakhirnya memintanya menjadi pacar sewaan untuk memutuskan tunangannya.
Yang terakhir itu cukup parah dan membuat Ayya sedikit trauma.
"Silakan duduk."
Laki-laki bertubuh tinggi dengan kacamata dan pakaian ala kantoran menarik kursi untuknya.
Kali ini Ayya diminta untuk menemaninya makan malam bersama teman-teman rekan kerjanya, agar tidak terlihat jomblo jadi Andi menyewanya.
"Wow, pacar lu cantik banget, An. Ketemu di mana?"
Ayya melirik Andi saat mendapat pertanyaan.
"Di restoran ini. Nggak sengaja ketemu," Andi menyahut, sedikit canggung.
"Iya, di sini," timpal Ayya menebarkan senyuman manisnya.
Mungkin karena wajahnya yang cantik dan bentuk tubuh yang ideal membuatnya hampir laku keras. Tidak rugi menjadikannya pacar sewaan.
Setelah makan malam berakhir, Andi menghampirinya dengan senyuman manis yang mentereng.
"Gimana kalo kita lebih mengenal s—" Kalimatnya terhenti saat Ayya mengangkat tangannya.
"Nggak bisa. Lo nyewa gue cuman buat hari ini aja dan sesuai perjanjian, kita nggak akan ketemu lagi atau jadi lebih dari penyewa," terang Ayya tanpa perasaan.
Andi mengangguk samar kemudian mengeluarkan ponselnya.
"Udah gue transfer. Sampai ketemu lagi dan semoga kita berjodoh."
Ayya tersenyum paksa kemudian berlenggang pergi dengan wajah masam. Ia paling benci orang seperti Andi, yang tidak konsisten.
"Tunggu."
Langkahnya terhenti. Ini bukan suara Andi.
"Aku?"
Laki-laki berjas hitam itu mengangguk.
"Kamu buka sewa pacar?" Nada suaranya mengandung kegelian.
"Iya."
"Pas banget, aku punya kerjaan. Buat kamu, sekarang ikut aku!"
Ayya menahan dirinya saat tangannya ditarik secara tiba-tiba. Ia takut sesuatu buruk menunggu di dalam sana.
"Mau ngapain!" Ia nyaris terpekik.
"Jadi pacar bohongan lah. Ayo!"
"Eh! Nggak bisa gitu, harus tanda tangan perjanjian dulu!!" Ayya memegangi tangan laki-laki itu, kakinya dibuat sekeras mungkin agar tidak terseret.
Laki-laki asing itu berdecak. "Nggak sempet! Kalo kamu mau, bakal dibayar 5 juta!"
Mata Ayya membulat sempurna mendengar nominal yang hampir 20 kali lipat dari harga yang ia tetapkan.
"Deal!" Uang memang segalanya.
Dengan langkah ringan penuh bayang-bayang kekayaan, gadis itu masuk ke ruang VIP yang ada di restoran.
Rasa gugup seketika menyergapnya saat orang-orang di dalam sana menatapnya dengan berbagai ekspresi.
Sepertinya ini acara keluarga.
"Ooh, ini pacar kamu."
Seorang perempuan bersanggul khas orang kaya melontarkan cibiran dengan lirikan sinis.
"Iya."
Ayya melirik penuh kagum pada laki-laki dengan kemeja putih di sisinya. Dua kancing atasnya sengaja dibuka, menampakkan kulit putih bersih dan otot yang samar-samar mengintip.
"Ak—"
"Nggak perlu perkenalan, nggak penting." Perempuan tadi kembali bersuara membuat hati Ayya menderu kesal.
"Dia pacarku, jadi tolong hargai perasaan dia dan berhenti membuat perjodohan konyol!"
Ayya menoleh saat tangannya digenggam lembut. Getaran hangat dari ujung jemarinya yang indah semakin memacu detak jantung gadis itu.
"Bohong! Nggak mungkin kamu milih cewek kaya gini!"
Ayya menoleh sinis mendengar hardikan kejam itu. Mendadak ia jadi terbawa suasana yang panas.
Di hadapannya, seorang perempuan yang tampak seusia dengannya tengah menatapnya tajam seperti seekor serigala yang terusik. Garpu di tangannya seakan hendak melayang saat Ayya melihatnya.
"Ngapain bohong. Aku sama dia udah lama pacaran. Dia juga orang yang tinggal di penthouse-ku."
Perempuan itu semakin kelabakan. Setiap gerak-geriknya seperti hendak menguliti Ayya hidup-hidup.
Untuk beberapa saat, gadis itu merasa takut dan menyesali keputusannya.
"Yasudah, karena Nerian udah punya pacar, kita nggak akan ganggu lagi. Dan soal Siren, Om minta maaf."
Perempuan tadi—Siren—langsung berdiri saking emosinya.
"Nggak, Om David! Aku udah buntutin Nerian ke mana pun dan nggak pernah ada cewek ini di hidupnya! Aku nggak percaya sama mereka!" teriak Siren kesetanan.
Ayya yang terpancing pun langsung merangkulkan tangannya di leher Nerian dengan sikap manja. Ia melancarkan tugasnya sebaik mungkin.
"Berarti dia juga ngintip kegiatan kita di rumah, ya." Nada suaranya terdengar menggelikan, bahkan di telinganya sendiri.
Nerian menelan paksa salivanya kemudian melepas lembut tangan itu dari lehernya.
Ia menatap Ayya yang bahkan tidak ia kenal sambil berkata, "Maaf ya, nanti aku perketat penjagaan."
Siren yang menyaksikan semuanya lantas mengamuk. Ia mengambil langkah panjang menghampiri Ayya.
Tangannya terangkat tinggi dan belum sampai menyentuh sehelai pun rambutnya, Nerian sudah lebih dulu menahannya.
"Aku sudah peringatkan, jangan sentuh perempuanku!"
Setelah mengatakan itu, ia menghempas kasar tangan Siren hingga menabrak meja di belakangnya.
Siren mengaduh kesakitan sambil mengusap-usap pinggangnya yang terbentur cukup keras.
"Nerian! Kamu nggak boleh sekasar itu sama Siren!" Wanita bersanggul itu berteriak marah.
"Aku nggak peduli. Siapa pun yang nyentuh pacarku bakal berhadapan sama aku!"
"Apa maksud kamu!? Aku ini tantemu dan Siren sahabatmu dari kecil. Jangan gara-gara perempuan nggak jelas kaya dia kamu nyakitin kami!" tegas Vada di sela amarah yang tertahan.
"Aku malah nggak akan segan-segan menggunakan kekerasan." Kalimat terakhir itu cukup membuat mereka merinding. Ayya akui aura laki-laki ini sangat mendominasi.
"Sudah, sudah. Vada, kamu jangan terus tekan Nerian. Dia sudah punya pacar jadi kita nggak bisa ikut campur lagi. Ayo pulang."
"Tapi, Pah! Di—" Ucapan Vada tertahan saat Siren menyentuh lengannya.
"Tante Vada, ini semua gara-gara perempuan itu. Dia pasti yang bikin Nerian sekasar ini. Kita jangan terpancing," bisik Siren menatap ganas ke arah Ayya.
"Kamu benar, kita harus balas dia nanti," bisik Vada yang samar-samar terdengar di telinga Ayya.
"Baiklah kalo kamu ngeyel mau sama cewek kampungan ini! Tante nggak ikut campur."
Ayya ingin sekali memukul mulut lantang wanita itu. Bisa-bisa ia dihina seperti itu.
"Ayo kita pulang," ajak suaminya lagi sambil tersenyum penuh arti dan bermain mata dengan Vada.
Selepas kepergian mereka, Ayya langsung menarik jauh dirinya dari Nerian. Ia mendadak gugup tak jelas dan beberapa kali berdehem.
"Mana bayarannya."
Nerian menatapnya sekilas kemudian melempar pandangannya ke sang asisten.
"Ah... Dia pacar sewaan yang saya temukan di depan restoran tadi. Saya bilang bakal bayar dia 5 juta."
"Pacar sewaan?" Nada suara Nerian terdengar menggelikan.
"Iya! Kenapa? Ada yang salah?" ketus Ayya galak.
"Cepet bayar! Soal pegang-pegang tadi nggak gue masukin ke itungan pelanggaran. Anggap aja lo nggak tau syarat kerja samanya."
Nerian mengangkat sebelah alisnya sambil terus menatap Ayya. Tubuhnya yang tinggi gagah dan ideal membuat Ayya sedikit tersudutkan.
"Bukannya kamu yang pegang aku, ya?"
Ayya berdecak gemas. "Pokoknya bayar!" tegasnya.
"Gimana kalo aku mau kerja sama selama 4 bulan?"
Ayya menoleh dramatis. "Nggak bisa! Seminggu paling lama."
"Selama 4 bulan kamu juga tinggal di rumahku dengan segala fasilitas yang lengkap dan bebas ngelakuin apa aja," Nerian kembali mengajukan penawaran.
Ayya sedikit tergiur mendengarnya, apalagi tampang Nerian yang terlihat seperti pengusaha kelas atas. Jas yang dipakainya saja dari merek terkenal yang pernah Ayya lihat di majalah.
"Nggak bisa, gue memegang prins—"
"Setiap bulan dibayar 10 juta, dan setiap kamu berhasil membuat orang-orang itu menjauh, aku kasih bonus 5 juta," ujar Nerian memotong kalimat Ayya.
"SETUJU!"
Reno yang melihat calon istrinya datang dengan gaun seksi berwarna merah menyala seketika membuat kedua matanya membulat sempurna liur nya hampir menetes saat pikiran cabul menari-nari di benak nya. " Tuan Reno, apa kabar " Ragas menyapa hangat " Baik, baik. Sangat baik " sahutnya penuh kegirangan yang tidak bisa di tutupi. Mata liarnya tak lepas dari tubuh memikat Ayya " Ini Alayya, dia baru pulang dari studi nya. Dia sengaja tampil kaya gini demi Pak Reno " Ayya yang mendengarnya ikut tersenyum manis, jauh dalam dirinya ia menahan mual yang bergejolak diperut. Rasanya ingin sekali ia membenturkan dua kepala pelontos itu sampai pecah. " Wahh, cantik sekali. Benar-benar sesuai selera saya " Ujar Reno, dari segi wajah kentara sekali dia itu pria cabul. " Ayya, cepet temenin Pak Reno sambut tamu " Dengan penuh keterpaksaan Ayya menurut, ia menemani laki-laki plontos berperut buncit dan bergigi emas----menyambut tamu yang berdatangan. Saat tangan kasar dan gemuk Re
Kamar yang semula bernuansa putih gading dengan ornamen warna-warna pastel kini terlihat begitu gelap dan banyak barang-barang yang rusak----dan barang bekas yang di taruh disana. Cahaya matahari mengintip masuk melalui sela papan kayu yang melapisi jendela di kamar itu. Di sisinya seorang perempuan lusuh tampak duduk dengan mata terpejam menunjukkan guratan merah dari urat mata yang menyembul. Tampak mengerikan sekaligus menyedihkan. Ayya memeluk tubuhnya yang meringkuk pedih di atas kasur usang. Perlahan matanya terbuka, sorot mata yang semula terlihat berbinar ceria kini jauh lebih redup dan dingin. Ia mengangkat pelan tubuhnya diiringi rasa sakit menjalar di seluruh syaraf nya. " Nih makanan nya, abisin " Seorang pelayan menaruh kasar piring berisi nasi dan lauk sisa kemudian berlenggang pergi dengan wajah sombong seolah dia baru saja memberi makan seekor peliharaan. Ayya melirik tanpa minat, ia tidak akan menyentuh makanan itu. Dirumah ini tidak ada yang aman ba
Jarum jam menunjukkan pukul 8 malam saat Nerian menyambangi kedai ayam goreng tempat Ayya bekerja. Sang pemilik toko langsung menyambutnya dengan senyuman ramah " Mau pesen apa Kak? " tanyanya ramah " Saya mau tanya, kurir makanan anda kemana ya? saya suaminya " Ujar Nerian langsung tanpa basa-basi Keterkejutan terlihat di sorot mata wanita itu, tatapannya menyapu penampilan Nerian dari atas hingga bawah. " Tadi siang saya suruh dia antar pesanan ke kantor Winata tapi sampe sekarang dia belum juga pulang, nomernya nggak aktif. Pak " Sahutnya cemas bercampur kesal " Ck! mana motor kurir dibawa dia " Gumam nya menyuarakan keresahan hatinya " Soal motor nanti saya ganti, saya permisi " Setelah itu Nerian bergegas pergi Perasaan nya semakin kacau, sejak tadi ia sudah menghubungi Ayya namun nomernya masih belum aktif. " Nggak mungkin dia kabur " Nerian kembali mengecek ponselnya dan pas sekali saat itu Riyan menghubungi nya. " Apa udah ada kabar dari Aina? " ta
" Ini, hati-hati di ya. Awas! jangan sampe hancur makanan nya " Ayya mengangguk cepat " Okey! tenang aja " serunya riang menerima bungkusan isi makanan yang akan ia antarkan. " Harus di anter ke tujuan ya!! fotoin penerima nya " pemilik kedai ayam goreng itu berteriak sambil memperhatikan Ayya yang keluar dengan dua kantong plastik penuh dengan makanan. Dengan penuh semangat Ayya mengendarai motor matic yang pakai untuk mengirim makanan. Ia mengantarkan beberapa makanan ke beberapa rumah dan beberapa toko yang memesan. " Terimakasih, order lagi ya " Ujar Ayya membuat si penerima tersenyum manis. Ayya menceklis lalu memgirim foto pesanan yang telah ia kirim. Kemudian Ayya memeriksa pesanan terkahir yang tersisa " Winata group!! " Pekik nya kemudian meriksa kembali alamat yang tertera. Dan benar, itu alamat kantor Nerian. Jantung nya berdebar tak karuan mendadak ia ingin menghilang atau pingsan saat ini juga. Ayya memikirkan banyak cara yang terlintas di kepalany






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews