Share

DiRumah

***

Sesampai di rumah, seperti biasa, rumah ku pasti tak ada orang.

Orang Tua ku mempunyai warung nasi Ampera di pasar, dan selalu menghabiskan waktunya dari pagi hingga petang untuk berjualan.

Aku anak ke dua dari tiga bersaudara,

Kakak pertama ku sudah tamat sekolah dan saat ini sedang membantu Ibu dan Ayah di warung.

Sedangkan adik ku, masih berumur 5 tahun.

Aku merebahkan tubuhku yang terasa lelah karena banyaknya aktivitas yang ku lalui hari ini.

Mengambil hp di laci, lalu baring sambil memainkannya.

Ada dua panggilan tak terjawab dari nomer baru di hp ku. Pasti bang Ardan dan bang Rian.

Ada juga beberapa pesan dari cowok online ku.

Saat ini pacar ku ada tiga, yang pertama Toni, aku mengenalnya saat aku pulang ke tempat nenek waktu libur sekolah.

Yang kedua Rudi, dia ku temui dari f*.

Dan yang ketiga tadi Bobi, teman satu sekolah.

Mereka sangat baik padaku, tak jarang mereka selalu mengisi pulsa atau kuota internet ku agar kami tetap bisa berkomunikasi.

Hanya Bobi yang tak kuberi tahu nomerku .

Kebaikan Bobi dari seringnya dia mentraktirku dan Rere makan di kantin.

Biarlah Bobi hanya menjadi pacar saat ku disekolah.

Mendapatkan cowok sangatlah mudah, cukup mengandalkan wajah ku yang katanya 'cantik'. 

Drrrttt Drtttr Hp ku berdering karena ada panggilan dari Toni.

Sebenarnya aku sangat malas mengangkat telfon dari nya, lebih tepatnya aku telah bosan.

"Hallo Ay, baru pulang sekolah ya?" ucap Toni saat panggilan telah tersambung.

"Iya ay, baru aja sampai rumah!"

"Oh, makan dulu ay, biar perutnya ga kosong!"

"Iya Ay, yasudah aku makan dulu,ya?"

"Gak mau di temani?"

"Enggak deh, batre hp ku juga lowbet tadi lupa ngecas" ucapku yang sudah pasti bohong.

"Oh yasudah, nanti kalau batre hpnya sudah ada, sms aku ya biar nanti aku telfon!"

"Maaf ay, aku gak ada pulsa jadi ga bisa sms deh!"

Ini selalu menjadi cara ku untuk mendapatkan pulsa dari Toni, dia gak akan pernah membiarkan aku kehabisan pulsa.

"Oh yasudah, nanti biar aku isi"

"Jangan ay, malu aku ah kamu isiin terus pulsa aku!" aku berpura pura menolak, padahal ngarep banget.

"Gak papa ay, aku kan sayang sama kamu. Yang penting di sana kamu setia ya?"

Setia katanya? Mana bisa!

Mana bisa aku menolak cowok yang bisa aku manfaatkan. Ada ada aja si Toni !

"Iya Ay, pasti setia aku kok, yasudah aku makan dulu ya!"

"Iya Ay"

Setelah panggilan telah terputus, aku langsung mendapatkan sms dari Mkios.

Toni langsung mengirimkan aku pulsa dengan jumlah yang menurut ku  banyak, 50.000.

"Yess,Lumayan banget dah!"

Aku segera mengirimnya pesan dengan tanda titik dua bintang.

"Assalammualaikum, Ketuaaa? Anggota masuk ya?" Teriak seseorang dari luar pintu yang sudah pasti si Rere.

"Iya masuk, ketua lagi di kamar!" Balas teriak ku.

"Buset dah, belum ganti baju sekolah udah senyum senyum, kenapa, cerita dong?"

"Aku lagi bahagia ni, oya kau ada pulsa gak? Kalau gak ada biar aku transperrrr" ucapku saat Rere sudah di dalam kamar.

"Di isikan pulsa sama siapa kau?" 

"Biasalah, si Toni!"

"Oh, boleh deh transper yang 10 rebu ya?"

"Aman!"

Berbagi dari pemberian cowok hal yang biasa bagi kami, walaupun keseringan aku yang memberi ke Rere tapi sama sekali tak masalah bagiku. Hitung hitung juga sedekah untuk Rere,eh!

"Btw end baytheway kita kapan ni cari kayu untuk persiapan persami?" tanya Rere di sela kami bersantai ria.

"Sore aja deh, skrg mah panas!" sahutku dengan sambil memainkan f* kesayangan, mana tau ada yang kecantol.

"Tapi di mana?"

"Hmm, di belakang rumah bang Rian aja, kan banyak pohon tuh di belakang rumahnya!"

"Boleh juga!"

"Eh tp tunggu, kalau kita ambilnya d rumah bang Rian, mending minta tolong dia aja langsung yang ambilkan, yekan?"

Tanya ku seraya Menaik-turunkan  alis.

"Bisa juga tuh,"

Toktoktok tiba tiba  ketukan terdengar dari pintu depan. 

"Siapa tu,Ci?" tanya Rere penasaran.

Aku juga penasaran, siapa siang siang begini datang ke rumah. 

Apa Ibu atau Ayah? Tapi mereka tidak pernah pulang tengah hari begini.

Kalau ada apa apa pun, biasanya aku yang di suruh kesana.

"Yuk, Re kawanin aku buka pintu!" Aku mengajak Rere ke depan, karena sebenarnya aku takut.

"Takut ah!" jawab Rere yang tak kalah takut.

"Kan sama sama,Re. Yuk ah!" aku menarik paksa tangan Rere untuk membuka pintu.

Sebelum membuka pintu, kami membaca segala ayat yang kami ingat agar kami selalu di lindungi sama Allah.

Toktoktok

"Iya siapa?" tanya ku sebelum membuka pintu, tapi sama sekali tak ada sahutan.

Toktoktok

Aku dan Rere saling pandang dengan wajah yang ketakutan, padahal hari masih sangat terang.

Pelan ku genggam gagang pintu lalu klekk pintu terbuka.

"Bang Rian?" ucapku kaget dengan sosok yang ku temui tadi di depan gang.

"Hehe maaf abang menganggu jam istirahat kamu, abang cuma mau kasih ini, nasi bungkus untuk makan siang kamu" kata bang Rian sambil menyodorkan sebungkus nasi.

"Satu doang,eh!" Aku langsung menutup mulutku yang kebablasan.

"Eh maksudnya untuk Rere gak ada?" tanya ku dengan wajah yang pura pura polos.

Kulihat sekilas Rere sedikit merengut, apa dia cemburu? 

"Maaf Re, abang gatau kalau kamu ada di sini, jd abang cuma beli satu"

"biasa aja kali!" Jawab Rere cuek dan langsung kembali kedalam kamar.

Aku dan Bang Rian saling menatap melihat tingkah Rere yang sedikit aneh.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status