Mag-log inSebagai manusia, wajar-wajar saja bila Rosa tak mengerti banyak hal. Namun dari semuanya, Rosa paling tidak mengerti dengan : 1. Jalan hidupnya; 2. Perempuan menjaga makan ditempat umum (Terlebih didepan crush); 3. Para ibu dengan motor; 4. Dia disebut mirip chipmunk; Dan yang terakhir, Arzan yang tetap mengganggunya dengan kata 'suka' sementara sudah ribuan kata penolakan yang dilempar percuma padanya. Arzan tetap tak menyerah.
view more“You are cursed.”
Those words had been whispered to Aria from the moment she was born, and tonight, they echoed louder than ever.
The music and the celebration thundered through the hall, all of it was for her – the broken wolf, the stillblood, the unwanted bride.
Aria stood beside the feast table, her legs cramped as she tightly clenched her fingers. This was her celebration, but she was forbidden to even sit.
She was wearing a long crimson dress that hung tightly to her scars, her shoulders throbbed where the long diagonal marks hid beneath the fabric.
No chains bound her wrist tonight, yet she felt more trapped than ever. Her eyes were down, she dared not look up – lest she provoke another beating.
“Dance, Aria, Dance.” from across the hall, someone jeered.
“You’re the guest of honour aren’t you?” another sneered, “You should dance for us.”
Ronan, her drunken half brother and the heir to the pack, lifted his goblet of wine in mock salute. Lyra, his twin, purred loudly as the entire hall erupted into more laughter.
“You’ll make such a perfect bride, dear sister.” her words were smooth, but they had a hidden bite that only Aria could perceive.
Her chest tightened as she took a step backwards. This wasn’t a celebration. This was a funeral – hers.
She kept on moving backwards, slow as a shadow. The attention of the party wolves drifted elsewhere, and when she was sure that she was unseen. She slipped towards the servant's door.
The moment the doors shut behind her, she let out a sigh of relief. Her heart pounded as she tightened her resolve and whispered.
Run. Now.
The servant’s passageway was a massive labyrinth that she knew by heart. Twice, she was forced to duck past busy staff. She moved like a shadow, hugging the cold, narrow lined walls decorated with the images of her ancestors.
She spat at their painted faces.
Cursed! Stillblood! A disgrace!
They had all made her life a living hell.
As she reached the rear door, her fingers quickly ruffled through her cloak pockets until they clamped around hard, cold steel.
The longest key slid into the lock and she turned.
CLICK!
The door groaned open and the mountains of her clawhold breathed icy air into her lungs.
She took a step forward and her foot landed in the snow. She took another step, savoring the feeling of the wind on her face, before she broke into a grin and ran.
Thorns pierced through her soles, their sharp bristles tearing through her naked feet, large thick branches clawed at her arms, all trying to stop her, to hinder her in her quest for freedom.
Her muscles screamed, and her heart pounded within her chest.
Aria ignored them, she was not going to let a little pain stop her from getting what she had always wanted. Freedom.
She ran faster.
She was almost free.
She could almost taste it.
The moment she passed through the treeline that separated her Clawhold from the wilderness. She burst into laughter.
Then –
“Leaving so soon, Big Sis?”
Aria skidded to a stop, her breath stopped beating within her chest.
Her eyes narrowed and, with trembling hands, she turned around to face the tree lines.
From behind the trees, Lyra stepped out. The sharp soft rays of the moonlight showcased her beautiful angles. She was beautiful, deadly and full of venom. She had a sinister gleam in her eyes.
Aria took a step back.
Lyra smiled, her eyes taking in the fear in her half-sister’s face.
“Oh my God. You almost made it.” She chuckled, “You know we had a bet on if you were going to try to escape, right? And guess what? I won.”
She laughed harder, her words cutting through Aria’s confidence.
“I can’t believe you actually thought we’d let you leave. Or did you?”
“No… no.. I wasn’t.” Aria lied, her words coming out in a stutter,
“I know you want freedom Aria,” Lyra said, smirking. At an unnatural speed, she rushed forward.
She reached Aria and grabbed her by her hand. “But you don’t deserve freedom, Aria. You don’t deserve anything other than what we give you. You are cursed, Aria. Always remember that.”
Aria shook her head, “Please, just let me-”
SMACK!
Aria did not see when her sister lifted her hand nor when she slapped her. One moment, she was standing in front of her sister, the next, she was flying through the air.
Her weak body smashed through trees as her sister backhanded her back through the treeline.
She lay there on the icy forest floor, too stunned and broken to move.
With slow steps, Lyra walked over to her half-sister. She bent down and smirked at her. “You are not a wolf,” she spat, “You are a thing. Cursed, Useless. Broken. You are a charity case. Know your place and maybe you can live.”
After saying that, she spat at her broken sister and walked away, her footsteps fading in the background as she left.
Aria didn’t cry.
She couldn’t.
Because deep within, some hidden part of her agreed with her half-sister.
She was nothing more than a girl with a dead mother and a cursed bloodline. A girl who could never shift, never fight, never live.
She was broken and she knew it.
She lay there on the snow, her eyes open and lifeless as she accepted her fate.
She was going to get sold off, whether she liked it or not.
The snow fell on her.
And it was cold, heavy and merciless.
Just like the world that caged her.
BEBERAPA hal terkadang berlalu begitu cepat tanpa di sangka-sangka. Seperti, misalnya kau tengah menonton sebuah film tetapi ternyata eksekusi adegannya tidak membuatmu tertarik dan lekas mendatangkan bosan, namun karena masih penasaran dengan ujung cerita pada akhirnya kau akan memilih mempercepat laju jalannya film tersebut tanpa pikir panjang. Iya, seperti itu. Inti adegan dan juga sekelumit kisah yang coba sutradara sampaikan dapat sekilas di pahami dan di ingat. Begitu juga akan kehidupan. Memang saat menjalaninya terasa berat, ingin menyerah dan membuatmu terasa ingin meninggalkan dunia dengan sesegera mungkin. Sebab kewarasan tengah berada di ujung tanduk. Akal sehat tidak berjalan sebagaimana mestinya. Kondisi hati juga hancur lebur di obrak-abrik takdir. Pada akhirnya, hanya kata menyerah dan putus asa yang keluar dari belah bibir. Kehidupan dan takdir memang begitu. Benang merahnya sangat rumit untuk di uraikan dengan rangkaian kata belaka. Namun percayalah. Ketika semua
“ROSA! Lo tau nggakㅡ”“ENGGAK! NGGAK TAU! NGGAK TAU! GUE IKAN SOALNYA!”Sementara Arzan mengulum senyum geli, gadis chipmunk tersebut mati-matian menahan gondok. Bukan karena apa, setelah kejadian di mana ia juga mati-matian menggombali Arzan dan ketahuan oleh pemuda itu bahwa Rosa tengah mengerjainya sebagai ajang balas dendam. Arzan marah seharian, mogon bicara dan tahu-tahu besoknya malah menggantikan Rosa dalam hal gombal menggombali.Jantung Rosa tidak kuat. Memang ya, balas dendam itu tidak baik. Rosa malah nyaris spot jantung setiap saat karena Arzan membalasnya dua kali lebih parah daripada apa yang dia lakukan. Bahkan tak ragu-ragu untuk mengejarnya sepanjang sekolah demi berkata :“MAKMUMKU! KAMU MAU KEMANA? KOK CALON IMAMMU INI DITINGGAL?!”Rosa malu. Rosa nyaris sinting. Nyaris mati karena detakan jantungnya tak keruan. Sial. Lihat saja senyum manis Arzan yang masih betah bertengger. Rosa ingin sekali mencakar wajah tampan itu tetapi sayang kalau memiliki goresan. Rosa hany
“ZAN, tau nggakㅡ”“Udah dong, Saaa!”Arzan tidak sanggup. Arzan tidak kuat lagi. Arzan sudah tidak bisa menanggungnya lagi. Arzan bisa-bisa stres plus diabetes jika diberi gula terus-menerus. Bukannya apa-apa, hanya saja memang Arzan menyukai perubahan sifat Rosa. Sangat malahan. Manisnya tak tanggung-tanggung membuat Arzan terkadang malu sendiri. Arzan malah seperti anak gadis sementara Rosa seperti cowok yang hobi menggombalinya seperti sekarang.Tingkah manis Rosa terkadang datang begitu saja tanpa permisi, langsung menyerang danㅡtok! Pas sekali mengenai hatinya. Arzan lama-lama bisa jantungan kalau begini caranya.Rosa nyengir, tidak merasa bersalah sama sekali. “Gue 'kan belum selesai ngomong, sayangku. Aduh! Gemoy sekali Anda!” Rosa terbahak.Arzan tersenyum tabah. Sabar sekali menghadapi Rosa.“Zan, lo tau nggakㅡ”“Kalau gue mirip calon imam lo?” sambar Arzan jengah, kalimat ini sering sekali dilontarkan Rosa padanya. Bahkan tak malu mengungkapkannya di depan umum sekalipun. Ben
HARI ini adalah hari pertama Rosa memasuki sekolah setelah libur nyaris satu bulan lamanya. Tak banyak yang berubah. Di pagi hari Rosa sudah bangun lebih dulu untuk memasak sarapan. Membangunkan Jessica agar mau berangkat sekolah tepat waktu namun gadis itulah yang paling susah untuk di atur. Sementara Lion bisa mengurus dirinya sendiri dengan baik. Iya, memang Jessica memilih tinggal bersama mereka meski kadang pulang juga. Rosa tak keberatan justru senang-senang saja.Rosa dan Lion tinggal di apartemen Jessicaㅡgadis itu yang memaksa. Rosa dan Lion tidak memiliki sanak saudara sehingga Demian menawarkan diri menjadi wali legal mereka. Setidaknya sampai Rosa lulus kuliah dan bekerja. Awalnya si gadis ragu namun setelah diyakinkan oleh ketiga sahabatnya, Rosa setuju. Hanya sampai ia mendapatkan pekerjaan tetap.Rosa berdecak sebal, masih mengenakan celemek bekas memasak dan saat kembali ke kamar Jessica masih dalam posisi sama persis saat ia tinggalkan tadi. “Jessica! Ih! Buruan mandi!
ROSA kembali berduka. Di hari kepulangannya dari rumah sakit dan di hari yang sama pula Rosa melihat Julian terbaring lemah di atas ranjang. Penuh luka dan tak berdaya. Rosa tak merasakan apapun saat menatap Julian yang jangankan untuk kembali menyakitinya, bergerak saja sulit. Seorang polisi pun m
DI karenakan luka jahitan di perut maupun di kepala Rosa sudah mengering. Gadis tersebut diizinkan berjalan-jalan keluar kamar asal tetap pada pengawasan dan larangan yang seharusnya. Gadis chipmunk tersebut tentu senang akhirnya bisa keluar dari kamar super sumpek karena Jessica dengan kurang ajar
KAMAR inap Rosa ramai meski di isi hening, memperhatikan setiap gerak-gerik dokter yang kembali mengecek kondisi tubuh si gadis. Setelah Rosa sadar, Jessica seperti orang kerasukan menelepon semua orang, memberitahukan kabar gembira ini. Chelsie dan Jenna datang dengan napas terengah-engah dan mata
DUA minggu berlalu. Kondisi Rosa makin memburuk. Arzan tidak tahu harus bagaimana mendefinisikannya namun ia rasa setiap melangkah menuju kamar si gadis. Lututnya melemas melihat banyak alat penopang kehidupan yang terpasang di tubub Rosa. Arzan seharusnya bersyukur saat gadis itu masih bisa bertah
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu