MasukAmelia Hart spent three years loving a man who never loved her back. On the night of their third wedding anniversary, her husband—powerful billionaire Ethan Carter—hands her divorce papers and chooses another woman. Heartbroken and alone, Amelia signs the papers and walks away from the only man she ever loved. But Ethan doesn’t know her biggest secret. She is pregnant with his child. Five years later, Amelia returns to the city, no longer the weak woman he abandoned. She is stronger, independent, and determined to build a new life for her son. When Ethan Carter sees the little boy who looks exactly like him, his world turns upside down. Now the man who once rejected her wants his family back. But Amelia has only one answer for him. “You lost us the moment you let me go.”
Lihat lebih banyakRumah ini masih berbau sama: parfum ruangan mahal yang gagal menutupi aroma busuk pengkhianatan. Aku menarik napas cukup dalam, membiarkan bau itu meracuni paru-paruku, mengingatkanku mengapa aku kembali. Sepuluh tahun memang waktu yang cukup untuk membangun topeng sebagai lulusan terbaik London, namun tak pernah cukup untuk memadamkan api yang membakar ulu hatiku setiap kali kaki ini memijak lantai marmer keluarga Baron.
"Nona Aura akan segera turun, Tuan Adrian. Anda ingin minum sesuatu?" Suara pelayan itu gemetar. Aku bisa merasakan hawa dingin yang kupancarkan menembus seragam tipisnya, membuat nyalinya menciut.
"Tidak perlu," sahutku tanpa menoleh. Suaraku datar, sedingin es yang membeku di kutub. Aku menyesuaikan letak kacamata berbingkai perak di hidungku. Di balik lensa ini, aku sedang memetakan setiap sudut ruangan, mencari titik terlemah dari benteng kesombongan yang dibangun pria yang menghancurkan keluargaku.
Tap. Tap. Tap.
Suara langkah kaki dari tangga melingkar itu membuatku mendongak. Detik itu juga, aku merasakan hantaman di dada yang kusangka sudah mati rasa. Aura Clarissa muncul. Dia tidak memakai gaun pesta angkuh yang kuharapkan; dia hanya mengenakan gaun tidur satin tipis dan outer panjang. Rambut hitamnya terurai berantakan, membingkai wajah polos yang tampak lelah. Di mataku, dia tidak terlihat seperti putri mahkota; dia tampak seperti burung dalam sangkar emas yang sayapnya baru saja kupatahkan secara mental, bahkan sebelum kami bicara.
"Jadi, ini 'anjing' baru yang dibeli Papa untuk menjagaku?"
Suara Aura memecah sunyi, tajam dengan sarkasme yang sudah kuprediksi. Dia berhenti di anak tangga terakhir, melipat tangan dan memicingkan mata ke arahku. Aku membiarkannya menelusuri penampilanku dari sepatu hingga rambut. Aku tahu dia sedang mencari celah untuk menghinaku.
"Nama saya Adrian," jawabku, memastikan suaraku berat dan tidak tergoyahkan. "Saya tutor privatmu untuk enam bulan ke depan. Saya harap kamu sudah membaca kontrak yang ditandatangani ayahmu."
Dia tertawa getir. "Kontrak? Dengar ya, Tuan Tutor. Aku sudah membuat lima orang sepertimu mengemis untuk berhenti dalam waktu kurang dari sebulan. Jadi, saran saya... ambil uang mukamu, dan pergilah sebelum aku mengubah hidupmu menjadi neraka yang nyata."
Aku tidak mundur. Aku justru melangkah maju, membiarkan dominasiku memenuhi ruangan hingga dia sedikit tersentak. "Sayangnya, Nona Aura, saya sudah lama tinggal di neraka. Saya rasa kita akan menjadi teman yang sangat cocok."
Aku melihat alisnya bertaut. Dia pasti menyadari bahwa aku berbeda dari pria-pria yang dikirim ayahnya sebelumnya. Aku tidak menatapnya dengan nafsu yang disembunyikan; aku menatapnya dengan kegelapan yang seolah bisa melihat langsung ke balik tulang rusuknya.
"Maksudmu apa?" tantangnya, suaranya naik satu oktav karena gelisah.
Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling aula dengan senyum miring. "Rumah ini sangat mewah, tapi baunya seperti kuburan. Kamu tidak bosan karena pelajaran bisnis, Aura. Kamu bosan karena kamu sadar bahwa di rumah ini, kamu hanyalah pajangan yang menunggu waktu untuk dijual kepada penawar tertinggi."
Kalimatku menghantamnya tepat di ulu hati. Aku bisa melihat kemarahan sekaligus luka di matanya. "Kau tidak tahu apa-apa! Kau hanya pekerja yang dibayar untuk mengawasiku!"
"Mungkin," jawabku tenang sembari berdiri tepat di depannya. Aku sengaja menonjolkan perbedaan tinggi kami, memaksanya untuk mendongak sepenuhnya. "Tapi saya adalah satu-satunya orang yang tahu bagaimana cara keluar dari sini tanpa harus hancur. Tergantung seberapa patuh kamu di kelas saya."
Napasnya tertahan. Aku bisa mencium aroma murni dari tubuhnya yang kini terkepung oleh wangi sandalwood dan tobacco milikku. Aku melihat bibirnya terkatup rapat, seolah semua kata hinaannya mendadak lenyap.
"Aura! Sudah berkenalan dengan Adrian?"
Suara berat yang sangat kukenali menggelegar dari balkon lantai dua. Baron berdiri di sana, mengenakan jubah sutra dengan cerutu di tangan—tampak seperti raja yang sedang meninjau ternaknya. Pria tua ini pernah tertawa saat melihat keluargaku hancur.
Aku segera menarik diri, memasang wajah formal yang sempurna sebagai topeng. "Sudah, Tuan Baron. Nona Aura sangat... antusias menyambut sesi pertama kami."
Baron tertawa puas. "Bagus! Adrian ini ahli strategi. Belajarlah darinya, Aura. Jangan memalukan keluarga." Dia mengembuskan asap cerutu ke arah kami. "Gunakan cara apa pun, Adrian. Jika dia membangkang, lakukan apa saja agar dia mengerti arti disiplin."
Aku melihat Aura mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. Dia diperlakukan seperti aset bermasalah, dan itu adalah bagian dari rencanaku untuk membuatnya semakin terpojok.
"Mari, Nona Aura," ajakku dengan nada manis yang palsu. "Ruang belajar ada di sana, bukan?"
Aku mengikutinya menuju perpustakaan pribadi yang suram. Begitu kami masuk, aku menutup pintu kayu yang berat itu dan memutar kunci.
Klik.
Aku sengaja membiarkan suara itu bergema agar dia merasa terkurung. Dia berbalik dengan wajah waspada. "Kenapa kau mengunci pintunya?!"
Aku membisu, melangkah tanpa suara mengitarinya. Aku berhenti tepat di belakang kursinya, membiarkan deru napasku terasa di tengkuknya hingga dia gemetar. Sekarang, saatnya pelajaran yang sesungguhnya dimulai.
Adrian baru saja meletakkan kartu asnya di atas meja: sebuah kalung berdarah yang seharusnya sudah terkubur sepuluh tahun lalu. Dia mengharapkan Aura hancur atau memohon penjelasan. Namun, saat jemari Aura menyentuh logam dingin itu, Adrian menyadari satu hal yang luput dari risetnya selama sepuluh tahun di London.
Mata Aura tidak menunjukkan ketakutan. Ada kilatan pengenalan yang jauh lebih gelap di sana.
Aura tidak bertanya siapa Adrian. Dia justru menggenggam kalung itu hingga telapak tangannya berdarah, lalu menatap Adrian dengan senyum yang sama persis dengan senyum licik Baron. "Jadi, kau orangnya," bisik Aura pelan, hampir tak terdengar.
Tiba-tiba, suara kunci pintu yang diputar Adrian tadi terdengar berderit dari luar. Seseorang sedang mencoba masuk, dan itu bukan pelayan yang membawa minum.
The apartment felt smaller that night.Amelia noticed it in little ways.The way Leo’s toy car sat in the middle of the floor with one wheel slightly bent.The faint crack in the wall near the window she’d stopped seeing months ago.The hum of the fridge that never quite went away.Nothing had changed.But it felt like everything had.Leo was still half-asleep when she carried him from the couch to the bed.He mumbled something she couldn’t make out, curling into her automatically.“Mama…”“I’m here,” she said softly.Always the same answer.Always immediate.She sat beside him longer than usual, brushing her fingers lightly through his hair.Her mind wouldn’t stop.It kept replaying the day.The house.The table.Evelyn’s voice.This life offers things you might not be able to give him.Amelia closed her eyes briefly.“No,” she whispered.But the words didn’t sound as steady as they should have.
Ethan found her exactly where he expected.Near the fountain.Not too close. Not too far.Close enough to step in if Leo slipped.Far enough to pretend she wasn’t hovering.Leo, on the other hand, had no such restraint.He was crouched at the edge, sleeves damp, fingers dragging through the water like it was the most fascinating thing in the world.“Look, Mama,” he called again, as if she hadn’t been watching the entire time.“I see,” Amelia said.Her voice was soft.But her eyes were sharp.Always moving.Always calculating.Ethan stopped beside her.For a moment, neither of them spoke.The quiet wasn’t comfortable.But it wasn’t hostile either.Just… loaded.“She shouldn’t have said that,” Ethan said finally.Amelia didn’t turn.“She meant it.”“I know.”That made her glance at him.Brief.Searching.Then back to Leo.“She always does,” he added.Amelia let out a small breath.“Good to know.”Leo splashed water again, laughing when it flicked back onto his arm.“Mama, it’s cold!”“T
They didn’t stay outside long.Leo went tearing ahead again, chasing god-knows-what, giggling in that high, unstoppable way kids do. His joy bounced off the hedges and came back to them in little bursts.Amelia never took her eyes off him.Not once.Ethan noticed how rigid her shoulders stayed.“Hey,” he said under his breath. “He’s okay.”“I know,” she answered.She still didn’t loosen up.Back inside, Evelyn hadn’t moved an inch from where they’d left her. Same chair, same posture, same unreadable face.“Lunch is almost ready,” she said.Ethan gave a small nod. “We’ll stay.”Amelia’s eyes flicked to him.We?He saw the look but didn’t take it back.Leo was already tugging her fingers. “Can we eat here? Please, Mama?”Everything in her screamed wrong place, wrong people, wrong everything.But Leo’s face was lit up like he’d just discovered Christmas came twice a year.Saying no right now would feel like yanking his happiness away for no reason he’d understand.“…Yeah, okay,” she said quietly.Leo beame
Amelia couldn’t sit still.She wiped the same spot on the counter three times, then caught herself and tossed the cloth in the sink.The apartment smelled like lemon cleaner and coffee that had gone cold hours ago.She checked her phone again. 11:12. No messages. No missed calls.She opened the fridge, stared at nothing, closed it.“They’re fine,” she said to the empty kitchen. Her voice sounded thin.She paced to the window, then back. Sat on the couch. Stood up again.Finally she grabbed her phone and dialed Ethan before she could talk herself out of it.It rang twice.“Amelia.”His voice was calm. Too calm.“Where are you guys?”A short pause. “At my place.”“That’s not an answer.”Another beat. “I’ll text you the address.”The call ended.She stared at the screen until the text came through—a street name in the hills, one of those areas she’d
The next afternoon, Amelia arrived at the café ten minutes early.She chose a table near the window, hoping the public place would make the meeting less uncomfortable.Her fingers tightened around the cup of coffee in front of her.She hadn’t seen Ethan this closely in five years.And now he sudden
Amelia didn’t sleep that night.She lay awake in bed, staring at the ceiling while Leo slept peacefully beside her.His small hand rested lightly on her arm, as if even in sleep, he needed to feel her presence.Amelia turned her head and looked at him.Her ches
Amelia stayed by the window a long time after Ethan left. The apartment felt quieter than usual, the kind of quiet that presses in.She kept seeing Leo’s face when he’d said “Daddy,” the easy way Ethan had answered, like it was normal. Like five years hadn’t happened.She hugged her own arms, mostl
Amelia held Leo’s hand tightly as they walked home.She didn’t realize how tight her grip was until Leo gently tugged.“Mama… that hurts.”Amelia immediately loosened her hold.“I’m sorry,” she said softly.Leo looked up at her.“You’re sad.”












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.