BERSAMBUNG
“Jalan-jalan ke rumah ya Bang,” Gaby langsung sebutkan alamatnya dan Langga sebut Insha Allah dan ucapkan terima kasih atas undangan remaja cantik ini, saat Langga pamit, ortunya dan ortu Boba masih berada di ruang perawatan.“Nanti kalau Boba sudah bisa pulang dan masih ada sisa depe-nya, ambil saja buat kamu yaa!” sahut Langga lagi dan Gaby langsung mengangguk, sebab Gaby bilang, agaknya hari ini Boba bisa pulang.Dengan motornya yang bergaya klasik yang berharga lebih 300 jutaan, Langga pun pergi dari rumah sakit milik Abang-nya ini.Namun sebuah rencana sudah tersusun di otaknya.Langga lalu cari sebuah penginapan biasa di pusat kota Bagoya ini, dia sengaja tak mau memberi tahu keluarganya di sini, kalau dirinya ada di Kota Bagoya.Padahal sepupu-sepupu ayahnya, keturunan mendiang kakek Aldi Sulaimin yang saat muda di juluki ‘Macan Gurun’ dan semasa hidup miliki 4 istri, yang anehnya hanya miliki 4 anak, masing-masing satu dari istri-istrinya, masih banyak yang tinggal di sini dan
“Bawa dia ke rumah sakit terdekat, aku akan ikuti dari belakang dengan motorku, nanti kamu aku bayar dobel,” kata Langga, sehingga si sopir angkot ini langsung mengangguk, tapi dia tak ragu minta di bayar di muka.Mau tak mau Langga cabut dompetnya dan berikan 5 lembar uang pecahan 100 ribu, sehingga si sopir angkut sumringah dan tak lagi segan bantu mengangkat tubuh pelajar yang pingsan tersebut.Langga yang di bantu si sopir ini angkat tubuh pelajar malang ini dan minta si pelajar wanita temani ke rumah sakit.“Aku takut Om?” si pelajar wanita ini malah ragu naik angkot tersebut.“Aku akan ikuti di belakang dengan motorkku, jangan takut, dia akan selamat,” kata Langga sambil dorong tubuh si pelajar wanita ini masuk angkot tersebut, sekaligus jangan buang-buang waktu. Langga tak peduli lagi dengan nasib ke 7 pelajar yang tadi dia hajar.Bahkan 4 orang yang sebelumnya dia tampar dan tendang, ke 4 orang tadi malah dia tambahi lagi dengan injakan di kaki, akibatnya ke empatnya bernasib
Pria ini belum terlalu tua, wajahnya pun masih sangat tampan, namun brewok lebat di tambah rambut yang sebahu, membuatnya terlihat lebih tua dari usianya yang sebenarnya.Sudah lebih 1,5 tahun dia melacak pembunuh istrinya, namun belum juga menemukan titk terang. Sudah kemana-mana pria bergerak melacak, tapi jejak 2 pembunuh Julia belum juga ditemukan.Dialah Langga Kasela, sang pengusaha merangkap agen dan kini berpangkat Mayor di Institusi Intelejen Negara.Sampai keliling Kalimantan ia lacak bahkan Jakarta, Bandung hingga ke Surabaya, namun usahanya seolah menemui jalan buntu.Ia bahkan kini ada di Sulawesi, tepatnya di Bagoya, yang tetanggaan dengan Propinsi Sulawesi Utara, yang terkenal dengan gadis-gadis jeiltanya yang mirip blasteran, yang beribukota Manado.Kota yang memiliki hubungan erat dengan kakek-kakeknya juga kakek buyutnya, juga ibu kandungnya yang berasal dari sini.Langga kini duduk termangu di sebuah kafe pinggir jalan, dia sudah bosan nongki di café mahal, pria ini
Aldi duduk di sisi adiknya, membiarkan celana katun mahalnya kotor sambil menatap nisan Julia.“Mau sampai kapan kamu di sini Langga, sementara para penjahat pembunuh Julia berkeliaran di luaran sana,’ cetus Aldi Sulaimin.“Aku masih merasa bersalah dengan Julia bang, dia sudah berkorban nyawa buatku, sementara aku…laki-laki brengsek, tak setia dengannya dan dulu sempat-sempatnya nakal dengan wanita lain...!” sahut Langga, mirip keluhan sebenarnya.Aldi ikut hembuskan nafas panjangnya dan membiarkan Langga merokok di sisinya, redakan hatinya yang masih gundah gulana ini.“Betul kamu banyak salah, tapi alangkah tak eloknya kamu di sini saja menyesali diri. Sebaiknya kamu cari pembunuh itu, selesaikan semuanya…aku sudah tahu siapa jati dirimu sebenarnya, kamu punya lisensi membunuh bukan?” cetus Aldi tiba-tiba, hingga Langga menatap kakaknya.“Jadi...Abang sudah tahu?” Langga tentu saja kaget bukan main, abang-nya kini tahu profesi gandanya, yang seorang agen.Sebagai jawabannya Aldi men
Sepanjang jalan menuju ke rumah sakit, Langga yang panik apalagi melihat wajah Julia makin pucat, mencoba sadarkan istrinya."Julia...sayang, bangun, tahan yaa, bentar lagi kita sampai di rumah sakit," seru Langga makin panik.Julia sesaat membuka mata, dengan berlinang air mata wanita cantik ini senyum menatap Langga.“Sayang…aku tak kuat lagi…peliharalah anak kita, selamatkan kandunganku ini, kelak namakan dia sama dengan namaku,” terdengar suara Julia sangat lemah.“Julia, jangan begitu, kamu pasti akan selamat, penjahat jahanam itu tak akan bisa membuatmu meninggalkan aku dan bayi kita,” sahut Langga cepat sambil peluk erat tubuh Julia yang berlumuran darah.Julia mencoba senyum sambil menahan sakit tanpa berkata-kata, lalu kembali pejamkan mata.Tak sampai 15 menitan, mereka sampai di rumah sakit dan dengan langkah tergesa-gesa Langga angkat tubuh besar Julia ke IGD.Operasi darurat pun segera di lakukan untuk selamatkan dua nyawa sekaligus, nyawa Julia dan juga nyawa bayinya. Dua
Baru sampai di rumahnya, Langga senyum kecil saat menerima chat dari papanya, yang mengabarkan…Novita Sulaimin menolak menikah buru-buru dengannya.“Si cantik bilang tak siap, jadi saran papa, mulai kini jaga tuh bini kamu yang bernama Julia Haruna, kan dia lagi hamil cucu papa, urusan mami kamu biar papa bujuk pelan-pelan” Itulah chat Rey ke Langga, tanpa mau sebutkan kenapa Novita meminta tunda pernikahan dengan dirinya.Langga juga menerima chat dari atasannya di institusi intelejen, yang mengabarka dia bisa cuti, juga ucapan selamat, karena misi sukses…sekaligus pangkatnya dinaikan menjadi Mayor!Namun tentu saja tidak ada upacara kenaikan pangkat, layaknya aparat dapat anugerah. Naik pangkatnya Langga hanya berupa SK resmi yang di kirim ke surel khusus miliknya.Satu minggu kemudian.Ipda Kuya dan Ipda Anca melonjak-lonjak kegirangan dapat bonus luar biasa dari Langga, termasuk Susi Ngondek."Astagaaaa...aku sekarang miliuner!" seru Kuya dan Anca, saat lakukan vidcal segitiga den