LOGINAria Kingsley had been kissed before. But never like this. Not against the cold wall of her father’s mansion. Not by the one man sworn to guard her body, not steal it. Aria has been raised like a jewel in a glass box—perfect, untouchable, and suffocated by her father’s power. When a threat against her life surfaces, Damon Cross, a brooding ex-special forces soldier with scars he doesn’t talk about, is hired as her personal bodyguard. Aria hates his rules. Damon hates her defiance. But the more they clash, the hotter the tension burns. Every stolen glance, every forbidden touch threatens to destroy the walls between them. Yet Damon’s past is as dangerous as Aria’s future. Enemies close in, secrets unravel, and passion becomes a risk neither can afford. In a world where loyalty can be bought and betrayal is inevitable, one question remains— Can Aria survive falling in love with the one man she was never meant to have?
View MoreBab 1 Kejutan Maksiat
====
“Tumben pulang cepat? Kamu tidak lembur malam ini?” tanya sang mertua membukakan pintu buat Alisya malam itu.
“Malam ini saya of , Ma. Badan saya pegal semua. Yang lain mana? Sudah pada tidur, ya?” tanya Alisya sembari melepas sepatu di kakinya.
“Mama kurang tahu. Setelah makan malam tadi, masing-masing masuk kamar.”
“Rena?”
Alisya menyebut nama putrinya.
“Dia baru saja terlelap. Sepertinya kelelahan setelah bermain tadi siang.”
“Baik, Ma. Saya mau mandi dulu, lalu istirahat.”
“Sebentar, Sya!”
“Iya, Ma?”
Perempuan dua puluh tujuh tahun itu berbalik. Menatap serius wajah mertuanya.
“Seharusnya kamu jangan malas untuk kerja lembur! Kamu, tahukan, kalau kebutuhan keluarga ini sangat banyak. Cicilan tiap bulannya itu besar, biaya kuliah Intan, angsuran ini, itu, sementara suamimu belum juga mendapat pekerjaan baru. Mumpung kamu bisa bekerja, gunakan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya! Karena Mama enggak bisa gantikan kamu lembur, seandainya bisa, Mama pasti tak akan pernah malas untuk kerja lembur tiap hari! Untuk mencari tambahan gajimu yang tak seberapa itu.”
“Maaf, Ma. Bukannya saya malas. Tetapi, setelah lembur tiap malam selama ini, membuat saya kelelahan, sesekali saya istirahat, ya, Ma. Malam ini saja. Besok, saya pasti akan lembur lagi.”
“Ya, sudah! Sebetulnya itu hak kamu. Kami hanya numpang makan dari gajimu. Jadi, mama tidak berhak memaksamu ini dan itu, iyakan?
“Jangan bilang numpang makan, dong, Ma! Kebetulan saja, Mas Fajar terkena PHK. Untuk sementara saya yang bekerja. Tidak apa-apa, begitu Mas Fajar mendapat pekerjaan lagi, saya bisa lebih santai bekerjanya.”
“Nah, itu kamu tahu! Jadi kenapa malas lembur! Kalau hanya mengharapkan gaji saja, enggak akan cukup!”
Alisya menghela napas. Mertuanya tak paham juga. Padahal, dia memutuskan untuk tidak bekerja lembur malam ini dengan penuh pertimbangan. Tambahan gaji yang dia perolah dengan lembur tiap malam, memang lumayan untuk menutupi seluruh kebutuhan keluarga besar suaminya. Tetapi, rasa lelah yang mendera setelah bekerja tiada jeda, membuatnya memutuskan untuk istirahat malam ini.
Fajar menikahinya tiga tahun yang lalu, saat Alisya baru saja menyelesaikan kuliahnya. Belum sempat mendapat pekerjaan, Fajar memintanya untk menikah. Mengingat Fajar sudah mapan, wanita itu menerima lamaran. Merengkuh hidup bahagia sebagai istri seorang manager di sebuah perusahaan ternama.
Fajar langsung menghadiahinya sebuah rumah baru untuk mereka huni berdua, sambil menikmati bulan madu. Namun, sejak sang papa mertua meninggal setengah tahun yang lalu, keluarga besar sang suami pinda ke rumah itu. Alisya berusaha tetap bahagia meski tinggal serumah dengan mertua.
Wanita itu tak paham bagaimana ceritanya, tiba-tiba Fajar tekena PHK. Sang suami tak pernah berterus terang hal yang sebenarnya. Setiap Alisya bertanya, hanya amarah yang dia terima. Mungkin Mas Fajar masih syok, emosinya labil, gampang meledak-ledak, begitu batin wanita itu menduga-duga.
Terpaksa Alisya yang menggantikannya mencari kerja. Berbekal izasah sarjana, mencoba mencari kerja ke mana-mana. Tetapi keberuntungan belum berpihak kepadanya. Rika, sabahat semasa SMA-nya, menawarkan bekerja di pabrik sarung tangan tempat dia bekerja.
“Simpan izasah sarjana kamu, Sya! Sekarang gunakan izasah SMA saja. Anggap ini sebagai batu loncatan, daripada keluargamu gak makan! Sementara enggak apa-apalah kerja kasar begini!” usul Rika empat bulan yang lalu.
Alisya menerimanya. Dengan penuh ihklas dia menjalani peran barunya, tulang punggung keluarga suaminya.
“Ya, sudah, mandi sana! Langsung istirahat, biar besok bisa lembur!”
Sang mertua membuyarkan lamunanya.
“Baik, Ma. Saya ke kamar dulu.”
Alisya melangkah gontai. Tak langsung menuju kamarnya, tetapi berbelok menuju kamar Rena. Ingin melepas kangen sekaligus memastikan keadaan putri kecilnya.
Wanita itu mencium kening putrinya dengan lembut, berusaha tak bersuara. Khawatir menggangu lelapnya tidur sang putri kesayangan. Puas menatap wajah mungil itu, Alisya merapikan selimut tipis penutup tubuhnya, lalu beranjak ke kamar utama.
Alisya sangat ingin malam ini bisa menghabiskan waktu bersama sang suami. Dia berharap Fajar belum terlelap. Ibu muda beranak satu itu sangat merindukan sentuhan dari sang suami. Ya, sejak dia lembur setiap malam, mereka sudah sangat jarang bersama. Pulang dari pabrik pukul sepuluh malam, dengan diantar bus karyawan jam setengah dua belas tengah malam baru tiba di rumah.
Fajar sudah terlelap, tak pernah menuggu Alisya pulang. Pun Alisya tak berani membagunkan tidur lelap sang suami. Esok pagi, wanita itu harus bangun sebelum Subuh. Pukul enam pagi, bus karyawan sudah menjemput. Alisya berangakat saat Fajar belum terjaga. Ada rasa bersalah di relung hati wanita lugu itu. Dia tak bisa lagi secara maksimal memunuhi kewajibannya sebagai istri. Tak ada waktu untuk memberikan nafkah batin buat sang suami.
“Malam ini, mumpung aku tidak lembur, aku akan memenuhi kewajibanku. Akan kusenangkan hatinya dan kupuaskan dahaganya. Semoga dengan malam surprise ini, Mas Fajar akan semangat untuk mencari pekerjaan baru esok hari.” Begitu niat hati Alisya.
Berjingkat dia berjalan menuju pintu kamar utama. Sengaja pintu kamar tak pernah dikunci, agar saat Alisya pulang, tak perlu membangunkan sang suami yang telah terlelap.
Malam ini, kerinduan Alisya akan sentuhan suami semakin menghentak. Wanita itu ingin memberi kejutan yang sempurna. Alisya menggenggam handle pintu, menekannya ke arah bawah, lalu mendorongnya perlahan. Tak ada derit pintu terkuak yang terdengar, surprise ini akan berjalan seperti yang diharap, begitu pikir Alisya.
Alisya mendorong daun pintu tanpa suara agar tubuh rampingnya bisa masuk. Kemudian dia melangkahkan kaki jenjangnya sembari mencari keberadaan suami tercinta dengan matanya.
“Mas!” lirih panggilan itu keluar dari mulutnya.
“Sya? Kamu sudah pulang?”
Alisya membeku. Nanar menatap pemandangan di atas ranjang. Sepasang manusia yang sangat dia kenal, berada di atas ranjang miliknya. Bersatu dan bergumul, tanpa ada satu inci yang memisahkan tubuh keduanya.
“Sya!”
Fajar menyebut namanya sekali lagi, lalu perlahan turun dari atas ranjang. Pelan pria itu melepas rengkuhan tangan wanita yang sedang bersamanya. Peluh membanjir di leher dan punggungnya.
“Maaf, Sya!” ucap Desy seraya membungkus tubuh telanjangnya dengan selimut tipis, lalu memungut pakaian yang bertebaran di lantai kamar.
Alisya bagai terpaku, mulut dan lidah terasa kelu. Hilang semua kalimat juga kata-kata, atau sekedar mengucap satu abjad saja. Ini terlalu mengejutkan baginya.
“Permisi!”
Wanita itu berlalu menuju kamarnya. Kamar yang disediakan Alisya untuknya. Dia adalah keponakan mertuanya. Sudah sangat lama ikut tinggal bersama mertuanya, bahkan sebelum Alisya dinikahi Fajar. Itu sebab dia juga tinggal di rumah Alisya.
******
Bersambung.
Aria’s POVThe glow from the computer screen was the only light in the house, a cold, digital blue that made the shadows in the corners of the kitchen look like they were reaching for me. It was 3:14 AM. The twins were asleep, their rhythmic breathing coming through the monitor in a soft, fuzzy static that was the only thing keeping me grounded.I wasn’t supposed to have the password to Damon’s backup drive. He’d told me months ago it was "firm business," a boring vault of litigation files and property deeds. But Damon had a habit of using dates that were significant to him—not our anniversary, or the girls' birthdays, but the date he’d won his first major case. 0912.The drive clicked, whirred, and then opened.I didn't find legal briefs. I didn't find the "Henderson merger."I found a folder titled “The Observer.”Inside, it wasn't just the te
Aria’s POVThe digital age has a way of turning a suburban cul-de-sac into a high-tech gladiator pit. In Oakwood Estates, we didn't use stones to finish off our enemies; we used 280 characters and high-resolution screenshots.It started at 6:00 AM on a Tuesday. I was bleary-eyed, leaning against the kitchen counter while the espresso machine hissed, waiting for the caffeine to jump-start my heart. The twins were still asleep—a rare mercy—and the house was wrapped in that fragile, pre-dawn silence that always felt like the calm before a storm.My phone pinged. Then it buzzed. Then it began to sing a frantic, rhythmic tune of incoming notifications.I picked it up. A link had been blasted to every member of the HOA, the "Organic Circle," and the "Bright Beginnings" parent portal. The sender was an encrypted address: TheObserver@OakwoodUnderground.com.The subject line was simple: “
Aria’s POVIn the zip code of Oakwood Estates, the "Bright Beginnings" Academy wasn't just a preschool; it was the Ivy League for toddlers. Getting into their "Seedling" program was widely considered the only way to guarantee a spot in the private elementary schools that fed into the preparatory academies that, eventually, spat out CEOs and world leaders.The admissions process was more rigorous than most corporate mergers. It required a developmental assessment, a parental interview, and—the most brutal hurdle—a "Social Compatibility Audit."And this year, due to an unexpected plumbing disaster in the east wing, there was only one vacancy left for the spring semester.It was down to the Blackwood twins or Chloe Miller’s son, Leo.“It’s a bloodbath, Aria,” Margot whispered, leaning against the weathered fence of her backyard. We were standing in the shadows of h
Aria’s POVThe fluorescent lights of the 24-hour Super-Mart hummed with a depressing, low-frequency buzz that matched the state of my nerves. It was 11:14 PM. Damon was still "at the office"—though after my trip to 5th Avenue, I knew that was a flexible term—and the twins had finally succumbed to a bout of teething-induced exhaustion.I was standing in Aisle 4, staring at a box of Glitter-Puffs.They were neon pink, coated in a crystalline sugar that looked like it could power a small city, and featured a cartoon unicorn that looked high on its own supply. In the world of Oakwood Estates, this box was a war crime. We were a neighborhood of sprouted grains, kale-infused smoothies, and "ancient grain" puffs that tasted like lightly seasoned drywall.But Lyra hadn't eaten a solid meal in two days, and Elara was currently only accepting foods that were "vibrant pink." I was tired. I was being stalked
Aria’s POVThe morning after a revelation is always the hardest. The sun rises with a cheerful, suburban indifference, casting long, golden fingers across the breakfast nook as if the world hasn't fundamentally shifted on its axis.Damon was h
They say you shouldn’t play with fire, but they never tell you how warm it feels right before you get burned.For two weeks, I had been living a double life that would make a spy sweat. By day, I was the helpful cousin, the volunteer at the community cen
The morning after Lynn’s eighteenth birthday felt like the heavy, breathless pause before a thunderstorm. I sat at the kitchen island, nursing a third cup of coffee, watching the sunlight crawl across the linoleum. Everything looked normal. The twins were occupied
The ivory dress was finally safe. Pastor Timon’s "guilt money" had secured a second chance at my dream, and for forty-eight hours, I let myself believe that the universe was finally exhausted from throwing hurdles in my path. I had spent the morning finalizing the


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.