LOGINMarcus berusaha berdiri dengan napas tersenggal, dia mencondongkan senjata yang dia simpan mengarahkannya pada Lena.
Laki-laki itu tertawa. Lena yang melihat itu juga mengeluarkan senjatanya, dia mengarahkan senjata tersebut ke arah Marcus. "Kau tidak akan bisa menarik pelatuk tersebut, Lena~" tantang Marcus dengan senyum sinis. "Aku akan... melakukannya!" Hingga akhirnya—sebuah letusan terdengar. Marcus berdiri beberapa langkah dari Lena, tangannya masih memegang senjata. Lena terhenti sesaat sebelum tubuhnya kehilangan keseimbangan. DORR DORR Suara dua letusan senjata api terdengar di deck tersebut bersamaan dengan suara kembang api, banyak yang tidak menyadarinya kalau itu adalah suara senjata. Suara sesuatu yang jatuh ke dalam air terdengar. "Lena—!" teriak Jace dari kejauhan, suaranya pecah di tengah keributan. Tubuh Lena jatuh melewati pagar deck, menghantam permukaan laut yang gelap tanpa suara. Di saat yang sama, kembang api di langit meledak terang, menutupi suara tembakan dan jeritan dengan gemerlap yang memekakkan mata. "Sudah kubilang kau tidak bisa melakukannya!" gumam Marcus dingin menatap tubuh Lena yang terjatuh ke dasar laut. Saat tembakan itu, Lena melesetkan tembakannya tidak mengenai Marcus. Betapa bodohnya Lena tidak bisa melawan gerakan tangannya. Di dalam air yang dingin, kesadaran Lena perlahan memudar. Dalam tujuh menit terakhirnya, potongan-potongan kenangan muncul silih berganti—senyum kecil di tengah musim gugur, suara tawa yang pernah dia percayai, dan janji-janji yang kini terasa jauh. "Apakah aku akan gugur, seperti musim gugur ini?" batin Lena, "Maafkan aku, Ayah... Ibu..." "Aku harus… mengubahnya…" bisiknya lirih, nyaris tak terdengar oleh dirinya sendiri. Di atas permukaan, Jace berlutut lemah setelah menghabisi beberapa penjaga terakhir. Matanya membelalak saat mendengar suara tembakan itu, lalu suara sesuatu jatuh ke laut. "Lena!!!" teriaknya, suaranya pecah, namun tenggelam oleh dentuman kembang api yang terus meledak di langit malam. Di dalam air, Lena membuka matanya setengah sadar. Samar-samar dia melihat sosok yang mendekat di antara riak gelap, lalu kilatan cahaya seperti arloji di tangan seseorang itu—sebelum semuanya perlahan menghilang dalam kegelapan laut. • Earpiece di telinganya mengeluarkan suara statis. "Bzzzt—krrt— Lena— kau dengar— kzzzt—" • Suara hujan terdengar samar di luar jendela. Lena membuka matanya perlahan dengan napas tersengal, seolah baru saja ditarik keluar dari dasar laut. Dadanya naik turun cepat. Tubuhnya gemetar hebat. Gelap. Lena meraba sekitar, selimut? Bukan laut. Bukan kapal pesiar. Langit-langit kamar berwarna putih menyambut pandangannya. Lena membeku. Dia langsung bangkit duduk sambil memegang lehernya sendiri, napasnya kacau. Bayangan air dingin, suara tembakan, dan wajah Marcus masih terasa begitu nyata di kepalanya. "Apa…?" Matanya bergerak cepat ke seluruh ruangan. "Apa yang terjadi...?" Kamar? Meja belajar kecil di dekat jendela. Poster lama di dinding. Boneka kelinci yang sudah lama dia simpan. Ini kamarnya! Kamar lamanya. Tangannya bergetar saat meraih ponsel di samping bantal. Layar menyala terang menampilkan tanggal yang membuat darahnya seakan berhenti mengalir. 17 Oktober 2022 Lena membelalak. "Tidak mungkin..." Tubuhnya melemas pelan. Dia… kembali? "I-ini bukan oktober 2027? apa ponselku bermasalah?" Dia langsung turun dari tempat tidur dengan langkah goyah lalu berdiri di depan cermin. Wajah muda berusia tujuh belas tahun menatap balik ke arahnya. Lena menyentuh pantulan wajahnya perlahan, masih sulit mempercayainya. Dia kembali. Kembali Ke masa saat dirinya masih menjadi siswi SMA. "Ini awal mula aku sudah membentuk organisasi..." gumam Lena sambil melihat pantulannya di cermin. Suara alarm jam tidurnya tiba-tiba berbunyi nyaring dari ponselnya. Lena tersentak kecil. Nada alarm itu... Sudah lama sekali dia tidak mendengarnya. "Jika ini benar, kenapa aku tidak kembali saat Ayah dan Ibu masih ada..." Pandangannya menelusuri kamar itu, kosong. Tapi bukan barang, tidak ada seseorang spesial di hidupnya. Rumah itu memang selalu sunyi sejak lama. Lena hidup sendiri sejak bertahun-tahun lalu, terbiasa pulang ke rumah kosong dan menjalani semuanya tanpa siapa-siapa. Karena itu dulu, saat Marcus datang dengan perhatian dan senyum hangatnya... Lena mempercayainya terlalu mudah. Mata Lena perlahan berubah dingin. "Tidak kali ini." Dia duduk di kursi belajarnya lalu membuka sebuah notebook. Dengan cepat dia mulai menulis semua hal yang masih diingatnya. 2027 Marcus akan mengkhianatiku. Akan ada kejadian di kapal pesiar. Ada seseorang bekerja sama dengannya. Jace mencoba menyelamatkanku. Seseorang dengan arloji perak muncul sebelum aku kehilangan kesadaran. Barang bukti yang Ayah tinggalkan Ujung pena Lena berhenti. Arloji. Kilatan cahaya itu masih jelas di ingatannya. Samar, tapi nyata. Itu bukan Marcus. "Tentu saja itu bukan, Marcus!" balasnya pada diri sendiri. Bukan juga Jace atau rekan yang lain. Seseorang datang mendekatinya di dalam laut malam itu. Siapa dia? Lena menggenggam penanya erat. Kalau dia benar-benar diberi kesempatan kedua... Maka dia akan menggunakan semuanya. Dia akan mengubah takdirnya sendiri sebelum Marcus menghancurkan hidupnya lagi. Hujan di luar semakin deras. Lena menatap seragam sekolahnya yang tergantung diam di kursi. Besok... Dia akan bertemu Marcus untuk pertama kalinya lagi. "Tunggu sebentar, saat ini aku baru menyelamatkan Jace! Iya, dia anggota baru..." gumam Lena mondar-mandir di dalam kamar. "Itu tepat kemarin? jika aku meminta menyelidiki peninggalan Ayah padanya akan terlalu cepat..." lanjutnya, lalu dia duduk di window seat sambil memandangi hujan. "Aku masih mengingat peninggalan itu, dan tempat brankas yang ayah sembunyikan," gumamnya sambil memeluk bantalnya. "Aku akan memikirkan semuanya besok. Sekarang aku harus tidur dan isi energi dulu... karena besok aku bertemu dengan hantu red flag yang sangat menyeramkan itu! Monster itu sangat menguras energi." Lena menarik selimut sampai dagunya sambil terus mengomel pelan, mencoba menenangkan pikirannya sendiri. Namun tepat saat dia hendak memejamkan mata— Ponselnya bergetar. Bzzzzt. Lena mengerutkan kening. Tidak ada yang biasanya menghubunginya malam-malam seperti ini. "Ini bukan ponsel sekali pakai..." gumamnya. Layar ponsel menyala. Nomor Tidak Dikenal. Dengan ragu, Lena membuka pesan itu. "Kalau kali ini kau ingin hidup… jangan percaya Marcus."Arthur menatap Lena sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada."Kau tahu?""Itu bukan jawabannya.""Itu jawabannya, kau sudah tahu.""Alasannya?""Pusat—""Pakai istilah..." potong Nyra dan Lena bersamaan."Badai utara," lanjut Nyra memberi tahu.Arthur mengangguk pelan. "Badai utara sangat kencang sehingga menghempaskan semua benda yang ada di hadapannya."Lena mengangguk paham. "Aku tidak suka badai, menyebalkan..." gumamnya."Lalu, kenapa sekolahku tidak?" lanjut Lena penasaran."Badai mengira daratan lemah."Lena menatap Nyra, sedangkan yang ditatap mengangguk paham."Begitu ya...""Baiklah, selagi tuan detektif di sini... kita bersantai saja dulu," lanjut Lena menatap Arthur dengan senyum manis."Bukan kah akan mencurigakan jika tidak seperti ini?" ucap Lena pelan hampir seperti berbisik, tidak lupa senyum manisnya yang belum hilang."Tidak ada pilihan lain..." ucap Arthur menghela napas dan pergi ke kasir memesan sesuatu.Nyra yang melihat Arthur pergi langsung menatap L
Dia mengangkat kepala.Seorang guru berdiri di ambang pintu."Ya?""Tolong ikut saya sebentar."Beberapa siswa langsung menoleh penasaran.Nyra bahkan berhenti memasukkan buku ke tasnya."Kenapa?""Tidak tahu."Guru itu hanya memberi isyarat agar Lena mengikutinya.Lena berdiri lalu berjalan keluar kelas.Sepanjang perjalanan menuju gedung administrasi, dia mencoba menebak-nebak alasan pemanggilan tersebut.Nilainya baik.Tidak membuat masalah.Setidaknya tidak ada yang berhasil membuktikan sebaliknya. Jadi, seharusnya tidak ada alasan khusus.Mereka berhenti di depan sebuah ruangan kecil.Guru itu mengetuk pintu."Silakan masuk."Lena mengangguk pelan lalu membuka pintu.Ruangan itu ternyata sudah berisi beberapa orang.Wakil kepala akademi.Dua staf administrasi.Dan seorang wanita yang belum pernah dia lihat sebelumnya.Semua mata langsung tertuju padanya."Oh."Lena berkedip."Apakah saya sedang dalam masalah?"Salah satu staf hampir tersedak mendengarnya.Wanita asing itu justru
Tiga hari kemudian.Pagi di Aethelgard I—sekolah Lena—berjalan seperti biasa.Suara bel pertama baru saja berhenti ketika para siswa mulai memenuhi koridor utama. Beberapa berlari menuju kelas, sebagian lagi masih mengobrol santai sebelum pelajaran dimulai.Namun suasana itu tidak bertahan lama.Karena lima menit kemudian—seluruh layar informasi akademi menyala bersamaan."Hah?""Ada apa?"Para siswa langsung menoleh.Biasanya layar-layar itu hanya digunakan untuk jadwal ujian atau pengumuman penting akademi.Tapi kali ini yang muncul adalah lambang resmi Otoritas Kota Aethelgard.Ruangan kelas Lena langsung menjadi ramai.Bahkan guru yang baru masuk pun menghentikan langkahnya.Layar besar di depan kelas menampilkan seorang wanita berpakaian formal."Pengumuman resmi dari Dewan Otoritas Kota."Suasana kelas mendadak hening."Sebagai bagian dari perayaan Hari Persatuan Kota, Otoritas Aethelgard akan menyelenggarakan Gala Persatuan tahunan di Grand Hall Pusat."Beberapa siswa langsung
Hujan turun pelan membasahi jendela kantor investigasi.Langit Aethelgard tampak lebih gelap dibanding biasanya, sementara cahaya lampu gedung memantul samar di jalanan basah kota. Suasana kantor juga tidak jauh berbeda—sunyi, berat, dan dipenuhi rasa lelah setelah hampir semalaman menyelidiki kasus auditor.Sesekali kilat tipis menyambar di balik gedung-gedung tinggi kota, memantulkan cahaya pucat ke ruangan investigasi yang hampir kosong. Beberapa petugas lain sudah pulang sejak satu jam lalu, meninggalkan meja-meja kerja yang masih dipenuhi dokumen dan layar data yang belum dimatikan.Arthur masih duduk di depan layar hologram utama.Puluhan data melayang di hadapannya. Nama siswa. Log akses. Waktu kematian. Rekaman kamera yang sempat mati tujuh menit.Dan semakin lama dia melihat semuanya—semakin jelas ada sesuatu yang tidak masuk akal.Tatapan Arthur perlahan berubah tajam.Suara hujan di luar terdengar makin berat, memenuhi keheningan ruangan bersama dengung mesin hologram yang
Pagi di kantor investigasi terasa lebih sunyi dari biasanya. Suara ketikan keyboard dan dengung layar hologram memenuhi ruangan redup yang masih dipenuhi aroma kopi pahit sejak beberapa jam lalu. Beberapa petugas terlihat sibuk memeriksa ulang data kasus auditor, sementara sebagian lain memeriksa kasus yang berbeda. Arthur berdiri di depan layar utama tanpa bergerak. Tatapannya tertuju pada satu nama besar yang terus muncul sejak tadi. AKADEMI AETHELGARD II. Luke mendekat sambil membawa tablet data baru. "Aku sudah coba akses riwayat database sekolah itu." Dia menghela napas pelan. "Dan hasilnya aneh." Arthur melirik sekilas. "Seberapa aneh?" "Beberapa file siswa hilang." "Hilang?" "Bukan terhapus biasa..." Luke memperbesar tampilan layar. "Seolah identitas mereka tidak pernah ada sejak awal." Arthur terdiam. Data digital di kota Aethelgard hampir mustahil hilang total. Semua aktivitas tersimpan otomatis di server pusat kota. Bahkan catatan pelanggaran kecil pun bisa berta
Nyra menatap Lena beberapa detik sebelum akhirnya menyandarkan tubuh ke sofa."Aku serius," katanya sambil menunjuk layar ponsel Lena dengan kaleng minumannya. "Kasus seperti ini mulai terlalu sering muncul."Lena tidak langsung menjawab.Tatapannya justru tertuju ke jendela kamar yang memperlihatkan langit pagi Aethelgard. Cerah. Tenang. "Orang yang bekerja bersih seperti ini biasanya bukan amatir," ucap Lena pelan.Nyra menaikkan alis. "Kau terdengar seperti mengenal mereka.""Tidak." Lena tersenyum kecil. "Tapi pola tetaplah pola."Suasana hening beberapa saat. Hanya suara kendaraan samar dari luar apartemen dan bunyi pendingin ruangan yang terdengar pelan memenuhi kamar.Lalu—Bzzt.Ponsel Nyra tiba-tiba bergetar cukup keras di atas meja.Dia melirik layar sebentar, lalu ekspresinya langsung berubah."…Hm?""Apa?" tanya Lena malas.Nyra tidak langsung menjawab. Dia membaca pesan itu sekali lagi seolah memastikan dirinya tidak salah baca."Markas mengirim update."Lena kini mulai







