INICIAR SESIÓN"Jalur timur tertutup," ucap Dex cepat. "Ada unit datang."
Dari ujung lorong, beberapa penjaga kapal bersenjata mulai muncul, memblokir jalan keluar mereka. "Bawa mereka terus," kata Nyra tegas. "Aku dan Dex tahan mereka." Felix mengangguk singkat. "Lim, bantu aku." Dua kelompok langsung terbagi. Felix dan Lim mengawal para tahanan menuju jalur servis yang sudah mereka siapkan sebelumnya, jalur darurat yang mengarah ke bagian bawah kapal, tempat kapal kecil hasil sabotase mereka sudah menunggu. Sementara itu, Dex dan Nyra melangkah maju. "Tiga puluh detik sebelum mereka mengunci seluruh sistem," bisik Dex. "Cukup," jawab Nyra dingin. Dalam sekejap, Dex melemparkan gangguan sinyal kecil ke panel di dinding, membuat sebagian lampu lorong mati dan sistem keamanan terganggu. Nyra memanfaatkan momen itu untuk bergerak cepat, melumpuhkan satu penjaga yang dekat dengannya tanpa suara. Namun jumlah mereka lebih banyak. "Lima orang di depan. Tiga dari belakang," ucap Dex cepat. "Fokus buka jalan," balas Nyra. Pertarungan singkat terjadi di lorong sempit itu, cukup kacau untuk mengulur waktu. Dex menahan sistem agar tidak mengunci jalur, sementara Nyra bergerak presisi, menepis dan melumpuhkan penjaga satu per satu tanpa memberi celah. Di sisi lain, Felix dan Lim berhasil mencapai jalur servis. "Kapal kecil sudah terlihat," ucap Felix lega. Namun saat mereka hampir tiba— DUA penjaga muncul dari samping, memblokir jalan. "Masih ada yang tersisa…" geram Lim. Tanpa banyak bicara, Felix maju lebih dulu, menahan satu penjaga, sementara Lim mengambil sisi lain. Tahanan tetap mereka lindungi di tengah, tidak boleh sampai jatuh lagi ke tangan musuh. Di lorong utama, Dex akhirnya berhasil membuka jalur terakhir. "Sekarang!" teriak Dex di earpiece. Nyra segera menarik mundur, menghantam panel terakhir untuk memutus akses alarm total di bagian itu. Mereka berlari menyusul Felix dan Lim. Satu per satu mereka akhirnya berkumpul kembali di jalur servis. Namun suara sirene semakin keras. "Cepat naik," perintah Nyra. Mereka mengangkat para tahanan ke kapal kecil yang sudah disiapkan, meski kesulitan, karena satu sistem pengunci otomatis sempat aktif kembali, hampir menahan mereka di tempat. Dex dengan cepat meretas ulang secara manual. "Sedikit lagi… sedikit lagi…" Klik. Mesin kapal kecil akhirnya menyala. Di belakang mereka, beberapa penjaga terakhir muncul di ujung jalur. "Pergi!" teriak Lim. Felix langsung mendorong tuas kendali. Kapal kecil itu bergerak meninggalkan kapal pesiar utama, tepat saat Dex dan Nyra melompat masuk di detik terakhir. Sebuah tembakan terdengar, mengenai sisi kapal—namun tidak cukup untuk menghentikan laju mereka. Kapal kecil itu melesat ke gelapnya laut malam musim gugur, meninggalkan kapal pesiar yang kini mulai kacau di belakang mereka. Di tengah napas yang belum stabil, Nyra menatap ke belakang sebentar. "Belum selesai," katanya pelan. Nyra menatap ke arah kapal pesiar yang masih tersisa Lena dan Jace. "Mereka masih di sana," lirihnya. Tepat di saat itu earpiece mereka berbunyi, suara Lena terdengar. "Kerja bagus, jaga diri kalian baik-baik!" Mereka semua berteriak mencoba memanggil Lena. "Nona Aletheia!" "Nona! apa yang terjadi?" teriak Dex. Suara kembang api memecah keheningan di laut malam, Nyra yang melihat itu entah kenapa meneteskan air matanya. Beberapa menit sebelumnya. Tepat berada di deck atas, di mana Lena dan Jace berada. "Marcus?" gumam Lena, suaranya nyaris tak terdengar. Di ujung deck yang diterpa angin malam, Marcus berdiri bersama seorang perempuan. Marcus menunduk sedikit, tangannya menyentuh sisi wajah perempuan itu dengan gerakan lembut. Sedangkan tangan satunya, menahan pinggang perempuan itu agar lebih dekat dengannya. Dia kemudian merapat, hingga jarak di antara mereka benar-benar hilang, dan dalam hening malam itu, dia mencium perempuan tersebut tanpa ragu. Tautan yang sangat akrab dan dalam itu membuat dia tidak bergeming, seolah waktu di sekitar mereka berhenti hanya untuk mereka berdua. Lena membeku di tempatnya. Pandangannya tetap tertuju ke arah mereka, dia tidak perlu melihat lebih lama untuk memahami semuanya. "Menjijikan!" ucap Lena sambil melangkah perlahan. Marcus yang mendengar suara langkah meliriknya sekilas, dia tersenyum sinis. Mencium perempuan di depannya sesaat sebelum tautan mereka dia lepas. "Sepertinya aku ada urusan..." ucapnya mengelus pipi perempuan itu. "Kau pergi dulu ya," ucap Marcus pada perempuan itu, lalu mengecup bibirnya sekilas. Perempuan itu menatap sinis ke arah Lena sebelum pergi dari tempat itu. Lena yang melihat semuanya, tertawa sinis. "Wah! haha!" Dia melangkahkan kakinya mendekat ke arah Marcus sambil sesekali menyugar rambutnya kasar. Saat sudah di depan Marcus, Lena menatap tajam pria itu. "Pengkhianat!" lirih Lena. Marcus tersenyum, "Sayang, kau jauh jauh datang kesini—" Lena menepis tangan Marcus yang hendak menyentuh pipinya. "Jauh kan tangan kotormu itu dari wajahku yang indah ini!" "Dan jangan sekali-kali kau memanggilku dengan sebutan menjijikan itu!" lanjutnya penuh penekanan. "Kau kasar sekali," ucap Marcus dengan terkekeh. "Tapi tidak apa, aku sudah merasakan bibir—" "Sialan!" ucap Lena cepat sambil memukul wajah Marcus hingga tersungkur. "Kau, pengkhianat... melihat wajahmu saja membuatku mual! Jangan pernah menampakkan dirimu di hadapanku lagi!" seru Lena menarik kerah baju Marcus yang terbaring jatuh. "Benarkah?" tantang Marcus tajam. "Karena aku akan membunuhmu!" lanjut Lena dingin. "Sebelum itu aku akan membunuhmu, sayang~" ucap Marcus yang sudah mengirimkan beberapa penjaga untuk membantunya. Suara langkah kaki terdengar menuju deck tempatnya, tidak lama ada belasan penjaga yang sudah mengepungnya. "Pecundang, kau meminta bantuan? cih!" tawa remeh Lena terdengar setelah mengucapkan itu. "Payah sekali!" lanjutnya yang membuat Marcus terpancing amarah. "Aku tidak akan segan-segan melukaimu!" ucap Marcus dingin. "Tidak perlu segan, kau sudah melukaiku sebelum ini!" ucap Lena setelah itu memukul Marcus kembali membuat pelipis laki-laki itu berdarah. Pertarungan itu berlangsung cepat dan kacau. Di sisi lain, Jace berusaha menahan beberapa penjaga yang terus mendesak, tubuhnya mulai melemah, namun dia berusaha agar Lena tidak melawan sendirian. Tidak berselang lama, ada dua orang tim yang Jace mintai bantuan untuk membantu mereka. "Jace, maaf terlambat!" teriak mereka lalu mulai membantu melumpuhkan penjaga. Dengan muduh Lena fokus melumpuhkan Marcus, tapi dia tidak bisa menggunakan senjata. Akan sangat berbahaya jika orang di kapal pesiar mendengar suara tembakan. Lena tersungkur sekali akibat pukulan Marcus. "Kau payah, selama kita bertarung kau baru sekali mengenaiku!" ucap Lena tertawa remeh. "Aku akan membuatmu tidak bisa berbicara seperti itu lagi!" ucapnya dengan tajam, Marcus melihat ke arah jam tangannya. "Tepat, satu menit lagi!"Arthur menatap Lena sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada."Kau tahu?""Itu bukan jawabannya.""Itu jawabannya, kau sudah tahu.""Alasannya?""Pusat—""Pakai istilah..." potong Nyra dan Lena bersamaan."Badai utara," lanjut Nyra memberi tahu.Arthur mengangguk pelan. "Badai utara sangat kencang sehingga menghempaskan semua benda yang ada di hadapannya."Lena mengangguk paham. "Aku tidak suka badai, menyebalkan..." gumamnya."Lalu, kenapa sekolahku tidak?" lanjut Lena penasaran."Badai mengira daratan lemah."Lena menatap Nyra, sedangkan yang ditatap mengangguk paham."Begitu ya...""Baiklah, selagi tuan detektif di sini... kita bersantai saja dulu," lanjut Lena menatap Arthur dengan senyum manis."Bukan kah akan mencurigakan jika tidak seperti ini?" ucap Lena pelan hampir seperti berbisik, tidak lupa senyum manisnya yang belum hilang."Tidak ada pilihan lain..." ucap Arthur menghela napas dan pergi ke kasir memesan sesuatu.Nyra yang melihat Arthur pergi langsung menatap L
Dia mengangkat kepala.Seorang guru berdiri di ambang pintu."Ya?""Tolong ikut saya sebentar."Beberapa siswa langsung menoleh penasaran.Nyra bahkan berhenti memasukkan buku ke tasnya."Kenapa?""Tidak tahu."Guru itu hanya memberi isyarat agar Lena mengikutinya.Lena berdiri lalu berjalan keluar kelas.Sepanjang perjalanan menuju gedung administrasi, dia mencoba menebak-nebak alasan pemanggilan tersebut.Nilainya baik.Tidak membuat masalah.Setidaknya tidak ada yang berhasil membuktikan sebaliknya. Jadi, seharusnya tidak ada alasan khusus.Mereka berhenti di depan sebuah ruangan kecil.Guru itu mengetuk pintu."Silakan masuk."Lena mengangguk pelan lalu membuka pintu.Ruangan itu ternyata sudah berisi beberapa orang.Wakil kepala akademi.Dua staf administrasi.Dan seorang wanita yang belum pernah dia lihat sebelumnya.Semua mata langsung tertuju padanya."Oh."Lena berkedip."Apakah saya sedang dalam masalah?"Salah satu staf hampir tersedak mendengarnya.Wanita asing itu justru
Tiga hari kemudian.Pagi di Aethelgard I—sekolah Lena—berjalan seperti biasa.Suara bel pertama baru saja berhenti ketika para siswa mulai memenuhi koridor utama. Beberapa berlari menuju kelas, sebagian lagi masih mengobrol santai sebelum pelajaran dimulai.Namun suasana itu tidak bertahan lama.Karena lima menit kemudian—seluruh layar informasi akademi menyala bersamaan."Hah?""Ada apa?"Para siswa langsung menoleh.Biasanya layar-layar itu hanya digunakan untuk jadwal ujian atau pengumuman penting akademi.Tapi kali ini yang muncul adalah lambang resmi Otoritas Kota Aethelgard.Ruangan kelas Lena langsung menjadi ramai.Bahkan guru yang baru masuk pun menghentikan langkahnya.Layar besar di depan kelas menampilkan seorang wanita berpakaian formal."Pengumuman resmi dari Dewan Otoritas Kota."Suasana kelas mendadak hening."Sebagai bagian dari perayaan Hari Persatuan Kota, Otoritas Aethelgard akan menyelenggarakan Gala Persatuan tahunan di Grand Hall Pusat."Beberapa siswa langsung
Hujan turun pelan membasahi jendela kantor investigasi.Langit Aethelgard tampak lebih gelap dibanding biasanya, sementara cahaya lampu gedung memantul samar di jalanan basah kota. Suasana kantor juga tidak jauh berbeda—sunyi, berat, dan dipenuhi rasa lelah setelah hampir semalaman menyelidiki kasus auditor.Sesekali kilat tipis menyambar di balik gedung-gedung tinggi kota, memantulkan cahaya pucat ke ruangan investigasi yang hampir kosong. Beberapa petugas lain sudah pulang sejak satu jam lalu, meninggalkan meja-meja kerja yang masih dipenuhi dokumen dan layar data yang belum dimatikan.Arthur masih duduk di depan layar hologram utama.Puluhan data melayang di hadapannya. Nama siswa. Log akses. Waktu kematian. Rekaman kamera yang sempat mati tujuh menit.Dan semakin lama dia melihat semuanya—semakin jelas ada sesuatu yang tidak masuk akal.Tatapan Arthur perlahan berubah tajam.Suara hujan di luar terdengar makin berat, memenuhi keheningan ruangan bersama dengung mesin hologram yang
Pagi di kantor investigasi terasa lebih sunyi dari biasanya. Suara ketikan keyboard dan dengung layar hologram memenuhi ruangan redup yang masih dipenuhi aroma kopi pahit sejak beberapa jam lalu. Beberapa petugas terlihat sibuk memeriksa ulang data kasus auditor, sementara sebagian lain memeriksa kasus yang berbeda. Arthur berdiri di depan layar utama tanpa bergerak. Tatapannya tertuju pada satu nama besar yang terus muncul sejak tadi. AKADEMI AETHELGARD II. Luke mendekat sambil membawa tablet data baru. "Aku sudah coba akses riwayat database sekolah itu." Dia menghela napas pelan. "Dan hasilnya aneh." Arthur melirik sekilas. "Seberapa aneh?" "Beberapa file siswa hilang." "Hilang?" "Bukan terhapus biasa..." Luke memperbesar tampilan layar. "Seolah identitas mereka tidak pernah ada sejak awal." Arthur terdiam. Data digital di kota Aethelgard hampir mustahil hilang total. Semua aktivitas tersimpan otomatis di server pusat kota. Bahkan catatan pelanggaran kecil pun bisa berta
Nyra menatap Lena beberapa detik sebelum akhirnya menyandarkan tubuh ke sofa."Aku serius," katanya sambil menunjuk layar ponsel Lena dengan kaleng minumannya. "Kasus seperti ini mulai terlalu sering muncul."Lena tidak langsung menjawab.Tatapannya justru tertuju ke jendela kamar yang memperlihatkan langit pagi Aethelgard. Cerah. Tenang. "Orang yang bekerja bersih seperti ini biasanya bukan amatir," ucap Lena pelan.Nyra menaikkan alis. "Kau terdengar seperti mengenal mereka.""Tidak." Lena tersenyum kecil. "Tapi pola tetaplah pola."Suasana hening beberapa saat. Hanya suara kendaraan samar dari luar apartemen dan bunyi pendingin ruangan yang terdengar pelan memenuhi kamar.Lalu—Bzzt.Ponsel Nyra tiba-tiba bergetar cukup keras di atas meja.Dia melirik layar sebentar, lalu ekspresinya langsung berubah."…Hm?""Apa?" tanya Lena malas.Nyra tidak langsung menjawab. Dia membaca pesan itu sekali lagi seolah memastikan dirinya tidak salah baca."Markas mengirim update."Lena kini mulai
Suara tembakan menggema pelan di area latihan bawah tanah markas. Jace berdiri kaku sambil menggenggam pistol di tangannya. Alisnya sedikit berkerut saat melihat hasil tembakannya yang meleset cukup jauh dari titik tengah target. "Peganganmu terlalu tegang," ucap Lena tenang sambil berdiri di sam
Masa Lalu tahun 2015—Lena berumur 10 tahun Musim dingin malam itu terasa menggigit. Hujan turun tipis membasahi halaman belakang rumah keluarga Lena. Lampu taman memantulkan cahaya kekuningan di atas rumput basah, sementara angin malam meniup pelan daun-daun yang mulai gugur. Di tengah lapangan
Pagi musim gugur terasa dingin dan tenang. Cahaya matahari jatuh lembut di antara daun-daun kecokelatan yang perlahan gugur tertiup angin, sementara sisa hujan semalam masih meninggalkan aroma tanah basah di udara. Suara jam alarm digital berbunyi. Lena membuka matanya pelan. Untuk beberapa detik
Marcus berusaha berdiri dengan napas tersenggal, dia mencondongkan senjata yang dia simpan mengarahkannya pada Lena.Laki-laki itu tertawa.Lena yang melihat itu juga mengeluarkan senjatanya, dia mengarahkan senjata tersebut ke arah Marcus."Kau tidak akan bisa menarik pelatuk tersebut, Lena~" tant







