LOGINUntuk menghentikan kebiasaan buruk sang ayah yang suka berganti-ganti pasangan dan begitu royal mengobral hartanya untuk wanita-wanita muda. Hal itu membuat Varisha takut harta peninggalan mendiang ibunya ikut habis, diam-diam Varisha mencari wanita muda yang baik menurutnya untuk menjadi penggoda ayahnya. Apakah rencana Varisha berhasil?
View MoreLangkah wanita paruh baya begitu tergesa menaiki tangga menuju kamar anak gadis sang majikan, tanpa permisi dia membuka pintu kamar dan masuk.
"Non Varisha, bangun," kata wanita itu sedikit mengguncang tubuh anak majikannya yang tertutup selimut. "Non Varisha, bangun! Itu ayahnya Non pulang bareng cewek. Ceweknya seusia Non." Dia adalah Mbok Jum pegawai rumah Varisha, dia sudah sangat lama bekerja di keluarganya. Dari sejak mendiang ibunya masih gadis hingga sekarang Varisha sudah tumbuh menjadi gadis cantik. Usia Varisha kini menginjak 20 tahun, menjadi salah satu mahasiswi di universitas ternama di kota Bandung. "Apa, Mbok? Ayah bawa cewek? Yang bener, Mbok?" gumam Varisha. "Iya, Non. Ceweknya seusia Non Varis," ulang Mbok Jum. "Masa sih Mbok?" Varisha langsung duduk, seketika turun dari ranjangnya. Kemudian dengan langkah tergesa sedikit oleng menuruni tangga. "Non! Pelan-pelan!" Jum linu melihat Varisha turun dengan mata masih setengah terpejam. Varisha mengucek matanya dan membuka paksa kedua matanya. "Mana, Bi? Kok gak ada!" Varisha berdiri di tengah tangga, menatap seluruh ruangan lantai satu rumahnya. Tak ada mahluk hidup di sana. "Udah masuk ke kamar mungkin Non, tadi ayah-nya Non di papah sama itu cewek sepertinya ayahnya Non mabuk deh," sahut Jum, kakinya terlihat begitu hati-hati menuruni anak tangga. "Masa ke kamar sih, Mbok. Simbok salah lihat mungkin," ujar Varisha tidak percaya. Mana mungkin ayahnya berani membawa gadis asing ke kamar-nya. "Mbok beneran lihat kok," kata Jum yakin. Tadi, dia terbangun karena kaget mendengar suara gaduh dari arah dapur. Saat dia cek ternyata sosok perempuan muda muncul bersama tuannya melewati pintu dapur. "Masa sih Mbok?" Varisha menyangkal. Rasanya sulit dipercaya kalau sang ayah melakukan hal menjijikan tersebut. "Lalu kemana mereka?"ujarnya lagi. Telinga keduanya mendengar suara gaduh di salah satu ruangan. Varisha dan Jum perlahan melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga. "Mbok, itu suara mereka." Varisha berbisik, dia berjalan mendekat ke arah sumber suara. Langkah pelan keduanya semakin mendekati suara setengah mengerang berbeda gender yang berasal dari arah kamar tamu. Varisha dan Jum saling berpandangan. "Mereka di sana,"bisik Varisha menatap ke arah Jum, wanita itu mengangguk. Raut kecewa dan sedih seketika menghiasi wajah Varisha. Keyakinannya terpatahkan, nyatanya sang ayah benar-benar membawa wanita asing ke rumahnya. Lalu dirinya dianggap apa di mata sang ayah? "Auh Baby ... jangan nakal ... pelan-pelan, ya seperti itu enak, lebih kencang lagi ...." Varisha dan Jum semakin menajamkan telinganya. Menangkap sayup-sayup suara dari dalam sana. Jum tidak nyaman, suara-suara itu sungguh sangat tidak pantas. "Oh, Baby, lebih cepat lagi ...." Jum lalu berjinjit menangkupkan telapak tangannya di kedua telinga Varisha. Gadis itu menepis tangan Jum. Jum menggamit tangan Varisha agar menjauh. Varisha menggeleng, dia justru semakin mendekat ke arah kamar tamu dan suara laknat itu semakin jelas terdengar. "Om, udah aku udah pegal, masukin aja om, aku capek dan ngantuk ...." "Gak Baby, ayo lanjutkan, ya seperti itu saja, terus ...." Jantung dan hati Varisha panas. Tangannya terangkat ke atas, namun dihalangi oleh Jum, "Non! Jangan ganggu, nanti Tuan marah!" Jum menggelengkan kepalanya. Majikannya beberapa tahun terakhir sepeninggal istrinya berubah menjadi liar dan temperamental. "Mbok mau membiarkan rumah ini jadi tempat mesum, begitu?" Varisha mendelik, dia mencoba berontak. "Enak aja rumah ibuku dipakai buat mesum, aku gak terima Mbok! Meskipun pelakunya adalah ayahku sendiri." "Non, jangan! Biarin dulu aja, nanti Tuan marah! Nanti Mbok dimarahi." Jum menarik tangan Varisha dan menahan tubuh Varisha agar menjauh. "Lepas, Mbok! Aku mau gerebeg Ayah, keterlaluan sekali dia berbuat mesum di rumah ini." Varisha geram. "Jangan, Non,"larang Jum sambil menahan tangan Varisha. Dia membawa Varisha menjauh. Duduk di salah satu ruangan tempat karaoke. "Mbok, apa Itu tiap malam Ayah selalu pulang mabuk, Mbok?" tanya Varisha dengan wajah merah menahan marah. "Enggak sih, Non. Baru dua kali ini Tuan pulang bawa cewek, kata Sapto biasanya di bawanya ke apartemennya," papar Jum, terpaksa dia menceritakan hal gila yang dilakukan oleh tuannya. "Kenapa Mbok baru cerita?" Varisha terpukul, ibunya meninggal Ayahnya malah berubah menjijikan. "Selain tuan tidak mengizinkan simbok juga Takut Non kepikiran, kasihan Non kuliahnya,"kata Jum. "Jadi Ayah sering bareng-bareng cewek gitu, Mbok?" Varisha tampak begitu shock, tidak menyangka kalau ayahnya bisa berbuat segila itu. "Mbok sudah lama mau cerita, tapi Mbok takut,"kata Jum. "Kenapa harus takut Mbok, aku jarang di rumah," kata Varisha sedih. Rupanya keputusannya untuk tinggal di kos bukan keputusan yang baik. "Apa Ayah udah lama berkelakuan begitu, Mbok?" "Entah, Mbok baru tahu beberapa bulan yang lalu,"kata Jum. Varisha bangun dari duduknya dan berlari ke arah kamar tamu, dia tidak rela dan tidak ikhlas mendiang ibunya dikhianati semenjijikan ini. "Non, jangan!" Jum menahan tubuh Varisha. "Lepas Bi! Aku tidak rela rumah ini dipakai mesum!" "Sabar, kita harus main cantik, Non." *** "Heh, bangun!" Seorang pria membangunkan wanita muda yang terkulai di ranjang dengan kakinya. Wanita muda itu tak bergerak. "Bangun!" sentak pria itu kali ini tendangan kakinya lumayan keras mengenai kaki wanita itu. Wanita itu mengangkat kepalanya. Menyibak rambut panjangnya yang menutupi wajahnya. "Rapikan dirimu dan kemasi barang-barangmu!" kata pria yang bernama Adirama, seorang duda beranak satu usia 43 tahun, dia adalah pemilik perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi. Wanita itu kembali menundukkan kepalanya, rasa pening dan lelah tampaknya masih menguasai kepala dan tubuhnya. "Heh, cepat bangun! Sebelum pegawai saya bangun dan melihat kamu!" ketus Adirama. "Sebentar, Om. Aku lelah dan juga ngantuk, boleh aku numpang tidur sebentar?" Wanita muda itu menawar. "Tidak! Ayo cepat keluar!" Kali ini Adirama menarik tangan wanita itu. "Iya, jangan kasar-kasar Om!" Wanita itu bangun dari ranjangnya. Mengenakan bajunya. Adirama membuang muka. "Cepat!" bentak Adirama lagi. "Ini bayaran kamu!" Adirama melemparkan seikat pecahan uang merah di ranjang. Wanita muda itu mengambilnya dengan senang. "Makasih Om, kalau Om butuh teman kencan hubungi aku lagi aja," kata wanita muda itu sambil memasukan uang ke dalam tasnya. "Gak akan! Pelayananmu kurang memuaskan!" Adirama lalu menarik tangan wanita itu, membuka pintu kamar, melongokan kepalanya, memastikan situasi aman. Dia takut Jum memergokinya. Dirasa aman, Adirama menarik kasar wanita muda itu, berjalan cepat melewati pintu dapur. Wanita muda itu terseok-seok mengikuti langkah kaki Adirama. "Pergilah!" Adirama mendorong wanita itu keluar, hampir saja wanita itu oleng. Adirama langsung berbalik masuk ke rumah. Pria matang yang semakin terlihat mempesona kembali mengendap-endap masuk ke dalam rumahnya setelah mengeluarkan wanita muda yang sudah ia kencani. Gerakannya mengendap seperti pencuri, matanya mengawasi seisi rumah. Wajahnya seketika b erubah gugup saat melihat sosok yang mirip dengan mendiang istrinya berdiri di tangga. "V-Varis, kamu ada di rumah, Sayang?"“Mau nggak, Des?” Desha kembali tergagap. Ia menatap Budhe Tati dengan ekspresi tak percaya. “Apa sih, Budhe? Kenapa aku malah ditawarin Mas Sobri? Aku sama sekali nggak kepikiran buat nikah. Yang benar saja, lah.” “Des, Sobri itu sudah lama naksir sama kamu.” Budhe Tati menghela napas pelan. “Tapi selama ini Budhe selalu bilang sama dia kalau kamu sedang fokus kuliah. Maaf ya akhirnya tadi Budhe cerita kalau kamu sedang kesulitan biaya kuliah, dia dengan senang hati langsung menawarkan diri untuk membantu.” Desha terdiam. Untuk beberapa saat, ia hanya menunduk. Ada rasa bingung sekaligus galau yang memenuhi pikirannya. Kalau dibandingkan dengan kerja samanya bersama Varisha, tawaran Sobri memang terdengar jauh lebih mudah. Ia tidak perlu menjadi wanita penggoda. Tidak perlu mendekati pria yang sama sekali tidak memiliki hubungan dengannya. Tidak perlu menjalankan rencana yang sejak awal membuat hati kecilnya terus dihantui rasa takut dan menyesal dikemudian hari. Namun, Desha
Budhe Tati masih berdiri di depan pintu, matanya menatap ke arah lorong kontrakan tempat Adirama tadi pergi. Sosok pria itu sudah tidak terlihat lagi, tetapi entah kenapa pikirannya masih tertinggal pada percakapan mereka. Sementara itu, Desha hanya bisa menggaruk kepalanya. Andai Budhe tahu kalau pria tadi ternyata suka bermain dengan banyak perempuan, kira-kira apa tanggapannya? Desha menelan ludah. Apalagi jika Budhe sampai tahu bahwa pria yang baru saja datang itu kelak akan menjadi targetnya. Pria yang harus ia dekati dan goda sesuai kesepakatannya bersama Varisha. Yang lebih membuat Desha merasa tidak nyaman, Adirama juga akan menjadi sumber uang yang ia dapatkan dari rencana tersebut. Ia akan dibayar karena menjalankan tugas untuk mendekati pria itu. Semakin memikirkannya, kepala Desha semakin terasa berat. Kalau Budhe tahu semua ini, apa dia akan kecewa? Desha menunduk. Ada rasa bersalah yang perlahan menyelinap di dalam hatinya. Apa aku sama saja seperti per
Adirama menyampaikan keinginannya dengan serius. Desha yang berdiri di belakang Budhe Tati hanya bisa menahan salah tingkah. Berbeda dengan Desha yang masih merasa canggung, Budhe Tati sama sekali tidak terlihat kikuk. Puluhan tahun menjadi penjual jamu gendong membuatnya sudah terbiasa menghadapi berbagai macam pelanggan. Ribuan kali ia mendengar keluhan, permintaan, bahkan pertanyaan aneh dari para pelanggannya. Jadi, ketika Adirama menanyakan jamu untuk stamina pria, Budhe Tati bisa langsung menjawab dengan santai. “Waduh, Pak, mohon maaf banget. Kalau ramuan cair dalam botol khusus stamina pria kebetulan sedang nggak ada. Tadi botolnya pecah waktu insiden,” jelas Budhe Tati. “Tapi kalau Pak Adirama mau, saya masih punya stok jamu serbuk sachetan. Khasiatnya hampir sama. Nanti saya seduh langsung pakai air panas, terus saya campur madu murni dan kuning telur ayam kampung. Mau saya racikkan sekarang, Pak? Diminum selagi hangat, biar badan terasa lebih segar.” Adirama tampak b
Mata Desha yang masih sepet langsung membelalak ketika melihat sosok pria berdiri tepat di depan pintu. Di tangan pria itu terdapat bakul butut miliknya. “Om?” ulang Desha. Ia benar-benar tidak menyangka ayah Varisha tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya. “Kamu kenapa nggak jawab telepon saya?” tanya pria itu dengan wajah tanpa senyum. Nada suaranya terdengar kesal. Tanpa banyak basa-basi, ia bahkan melemparkan bakul tersebut ke arah Desha. Refleks Desha menangkapnya. Ia gelagapan sambil mengucek salah satu matanya. Rupanya ia benar-benar tidak mendengar suara ponselnya berdering karena tadi tertidur pulas. “Maaf, Om. Aku nggak dengar. Aku lagi tidur,” jawab Desha dengan nada bersalah. “Ck! Tidur kamu kayak bangkai, kah? Saya telepon berkali-kali, sama sekali nggak dijawab,” gerutu Adirama. “Iya, Om. Maaf.” Desha menunduk sebentar, lalu kembali menatap pria itu. “Tadi Om bilang bakulnya mau diantar pakai Gojek. Tapi kenapa malah Om sendiri yang datang?” Pandangannya beralih






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews