LOGIN"Mbak Desha bisa lanjut kuliah asalkan Mbak mau kerjasama denganku." "Kerjasama apa?" Desha mengerutkan kening menatap tetangga kamar kosnya. "Em, Mbak Desha mau gak jadi penggoda ayahku?" "Apa?" *** Untuk menghentikan kebiasaan buruk Sang Ayah yang suka berganti-ganti pasangan dan begitu royal mengobral hartanya untuk wanita-wanita muda. Hal itu membuat Varisha takut harta peninggalan mendiang ibunya ikut habis, diam-diam Varisha mencari wanita muda yang baik menurutnya untuk menjadi penggoda ayahnya. Apakah rencana Varisha berhasil?
View MoreLangkah wanita paruh baya begitu tergesa menaiki tangga menuju kamar anak gadis sang majikan, tanpa permisi dia membuka pintu kamar dan masuk.
"Non Varisha, bangun," kata wanita itu sedikit mengguncang tubuh anak majikannya yang tertutup selimut. "Non Varisha, bangun! Itu ayahnya Non pulang bareng cewek. Ceweknya seusia Non." Dia adalah Mbok Jum pegawai rumah Varisha, dia sudah sangat lama bekerja di keluarganya. Dari sejak mendiang ibunya masih gadis hingga sekarang Varisha sudah tumbuh menjadi gadis cantik. Usia Varisha kini menginjak 20 tahun, menjadi salah satu mahasiswi di universitas ternama di kota Bandung. "Apa, Mbok? Ayah bawa cewek? Yang bener, Mbok?" gumam Varisha. "Iya, Non. Ceweknya seusia Non Varis," ulang Mbok Jum. "Masa sih Mbok?" Varisha langsung duduk, seketika turun dari ranjangnya. Kemudian dengan langkah tergesa sedikit oleng menuruni tangga. "Non! Pelan-pelan!" Jum linu melihat Varisha turun dengan mata masih setengah terpejam. Varisha mengucek matanya dan membuka paksa kedua matanya. "Mana, Bi? Kok gak ada!" Varisha berdiri di tengah tangga, menatap seluruh ruangan lantai satu rumahnya. Tak ada mahluk hidup di sana. "Udah masuk ke kamar mungkin Non, tadi ayah-nya Non di papah sama itu cewek sepertinya ayahnya Non mabuk deh," sahut Jum, kakinya terlihat begitu hati-hati menuruni anak tangga. "Masa ke kamar sih, Mbok. Simbok salah lihat mungkin," ujar Varisha tidak percaya. Mana mungkin ayahnya berani membawa gadis asing ke kamar-nya. "Mbok beneran lihat kok," kata Jum yakin. Tadi, dia terbangun karena kaget mendengar suara gaduh dari arah dapur. Saat dia cek ternyata sosok perempuan muda muncul bersama tuannya melewati pintu dapur. "Masa sih Mbok?" Varisha menyangkal. Rasanya sulit dipercaya kalau sang ayah melakukan hal menjijikan tersebut. "Lalu kemana mereka?"ujarnya lagi. Telinga keduanya mendengar suara gaduh di salah satu ruangan. Varisha dan Jum perlahan melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga. "Mbok, itu suara mereka." Varisha berbisik, dia berjalan mendekat ke arah sumber suara. Langkah pelan keduanya semakin mendekati suara setengah mengerang berbeda gender yang berasal dari arah kamar tamu. Varisha dan Jum saling berpandangan. "Mereka di sana,"bisik Varisha menatap ke arah Jum, wanita itu mengangguk. Raut kecewa dan sedih seketika menghiasi wajah Varisha. Keyakinannya terpatahkan, nyatanya sang ayah benar-benar membawa wanita asing ke rumahnya. Lalu dirinya dianggap apa di mata sang ayah? "Auh Baby ... jangan nakal ... pelan-pelan, ya seperti itu enak, lebih kencang lagi ...." Varisha dan Jum semakin menajamkan telinganya. Menangkap sayup-sayup suara dari dalam sana. Jum tidak nyaman, suara-suara itu sungguh sangat tidak pantas. "Oh, Baby, lebih cepat lagi ...." Jum lalu berjinjit menangkupkan telapak tangannya di kedua telinga Varisha. Gadis itu menepis tangan Jum. Jum menggamit tangan Varisha agar menjauh. Varisha menggeleng, dia justru semakin mendekat ke arah kamar tamu dan suara laknat itu semakin jelas terdengar. "Om, udah aku udah pegal, masukin aja om, aku capek dan ngantuk ...." "Gak Baby, ayo lanjutkan, ya seperti itu saja, terus ...." Jantung dan hati Varisha panas. Tangannya terangkat ke atas, namun dihalangi oleh Jum, "Non! Jangan ganggu, nanti Tuan marah!" Jum menggelengkan kepalanya. Majikannya beberapa tahun terakhir sepeninggal istrinya berubah menjadi liar dan temperamental. "Mbok mau membiarkan rumah ini jadi tempat mesum, begitu?" Varisha mendelik, dia mencoba berontak. "Enak aja rumah ibuku dipakai buat mesum, aku gak terima Mbok! Meskipun pelakunya adalah ayahku sendiri." "Non, jangan! Biarin dulu aja, nanti Tuan marah! Nanti Mbok dimarahi." Jum menarik tangan Varisha dan menahan tubuh Varisha agar menjauh. "Lepas, Mbok! Aku mau gerebeg Ayah, keterlaluan sekali dia berbuat mesum di rumah ini." Varisha geram. "Jangan, Non,"larang Jum sambil menahan tangan Varisha. Dia membawa Varisha menjauh. Duduk di salah satu ruangan tempat karaoke. "Mbok, apa Itu tiap malam Ayah selalu pulang mabuk, Mbok?" tanya Varisha dengan wajah merah menahan marah. "Enggak sih, Non. Baru dua kali ini Tuan pulang bawa cewek, kata Sapto biasanya di bawanya ke apartemennya," papar Jum, terpaksa dia menceritakan hal gila yang dilakukan oleh tuannya. "Kenapa Mbok baru cerita?" Varisha terpukul, ibunya meninggal Ayahnya malah berubah menjijikan. "Selain tuan tidak mengizinkan simbok juga Takut Non kepikiran, kasihan Non kuliahnya,"kata Jum. "Jadi Ayah sering bareng-bareng cewek gitu, Mbok?" Varisha tampak begitu shock, tidak menyangka kalau ayahnya bisa berbuat segila itu. "Mbok sudah lama mau cerita, tapi Mbok takut,"kata Jum. "Kenapa harus takut Mbok, aku jarang di rumah," kata Varisha sedih. Rupanya keputusannya untuk tinggal di kos bukan keputusan yang baik. "Apa Ayah udah lama berkelakuan begitu, Mbok?" "Entah, Mbok baru tahu beberapa bulan yang lalu,"kata Jum. Varisha bangun dari duduknya dan berlari ke arah kamar tamu, dia tidak rela dan tidak ikhlas mendiang ibunya dikhianati semenjijikan ini. "Non, jangan!" Jum menahan tubuh Varisha. "Lepas Bi! Aku tidak rela rumah ini dipakai mesum!" "Sabar, kita harus main cantik, Non." *** "Heh, bangun!" Seorang pria membangunkan wanita muda yang terkulai di ranjang dengan kakinya. Wanita muda itu tak bergerak. "Bangun!" sentak pria itu kali ini tendangan kakinya lumayan keras mengenai kaki wanita itu. Wanita itu mengangkat kepalanya. Menyibak rambut panjangnya yang menutupi wajahnya. "Rapikan dirimu dan kemasi barang-barangmu!" kata pria yang bernama Adirama, seorang duda beranak satu usia 43 tahun, dia adalah pemilik perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi. Wanita itu kembali menundukkan kepalanya, rasa pening dan lelah tampaknya masih menguasai kepala dan tubuhnya. "Heh, cepat bangun! Sebelum pegawai saya bangun dan melihat kamu!" ketus Adirama. "Sebentar, Om. Aku lelah dan juga ngantuk, boleh aku numpang tidur sebentar?" Wanita muda itu menawar. "Tidak! Ayo cepat keluar!" Kali ini Adirama menarik tangan wanita itu. "Iya, jangan kasar-kasar Om!" Wanita itu bangun dari ranjangnya. Mengenakan bajunya. Adirama membuang muka. "Cepat!" bentak Adirama lagi. "Ini bayaran kamu!" Adirama melemparkan seikat pecahan uang merah di ranjang. Wanita muda itu mengambilnya dengan senang. "Makasih Om, kalau Om butuh teman kencan hubungi aku lagi aja," kata wanita muda itu sambil memasukan uang ke dalam tasnya. "Gak akan! Pelayananmu kurang memuaskan!" Adirama lalu menarik tangan wanita itu, membuka pintu kamar, melongokan kepalanya, memastikan situasi aman. Dia takut Jum memergokinya. Dirasa aman, Adirama menarik kasar wanita muda itu, berjalan cepat melewati pintu dapur. Wanita muda itu terseok-seok mengikuti langkah kaki Adirama. "Pergilah!" Adirama mendorong wanita itu keluar, hampir saja wanita itu oleng. Adirama langsung berbalik masuk ke rumah. Pria matang yang semakin terlihat mempesona kembali mengendap-endap masuk ke dalam rumahnya setelah mengeluarkan wanita muda yang sudah ia kencani. Gerakannya mengendap seperti pencuri, matanya mengawasi seisi rumah. Wajahnya seketika b erubah gugup saat melihat sosok yang mirip dengan mendiang istrinya berdiri di tangga. "V-Varis, kamu ada di rumah, Sayang?"“Buka pintunya, Yah! Buka!” bentak Varisha histeris. Jemarinya menarik-narik handle dan menekan tombol kunci mobil secara impulsif, namun Adirama terus menguncinya kembali dari panel pengemudi.Rasa terkungkung itu makin membakar emosinya. Tanpa peduli keselamatan, Varisha mulai memukul-mukul kaca jendela dengan kepalan tangannya, menuntut untuk diturunkan detik itu juga.“Varis, please! Tenang dulu!” pangkas Adirama sambil tetap memfokuskan tatapannya ke jalanan dan menekan pedal gas lebih dalam.“Ayah! Aku jijik tahu gak sama Ayah?!” teriak Varisha sambil menoleh tajam.Air matanya semakin mengalir deras membasahi pipi. Padahal, Varisha sudah tahu betul borok kelakuan ayahnya bersama Claudia. Ia bahkan sudah membulatkan tekad dan melapisi hatinya dengan batuan es saat merencanakan pembalasan dendam—memperalat Desha untuk menggoda Adirama dan memoroti hartanya. Namun, menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri sang ayah bersama Claudia dalam satu arena pertikaian… rasanya tetap meng
Langkah Desha mendadak terhenti, terkunci tepat di tempatnya berdiri. Kehadiran Adirama di sana benar-benar di luar dugaannya. Terlebih saat pria paruh baya itu sempat melayangkan tatapan tajam ke arahnya, niat awal Desha untuk maju melerai seketika menguap tanpa sisa.Mau tak mau, Desha mematung di antara kerumunan warga, memaksakan diri bersikap seperti penonton biasa yang menyaksikan aksi saling jambak itu. Ada rasa takut yang membakar benaknya—ia tidak boleh biarkan Adirama curiga bahwa dirinya dan Varisha saling kenal. Padahal, jauh di dalam lubuk hatinya, Desha sangat ingin melompat ke tengah pertikaian dan menarik Varisha dari wanita yang entah siapa lawan mainnya itu.Saat itulah kesadaran mendadak menghantam Desha. Ia mengingat kembali obrolan mereka di telepon beberapa menit lalu. Pantas saja respons Varisha sangat tidak nyambung, bahkan sampai melantur memanggilnya "Cindy". Dengan jemari yang sedikit gemetar, Desha membuka layar ponsel di genggamannya dan membaca sebuah p
Mulut Claudia ternganga. Raut wajahnya seketika berubah pucat pasi, dipenuhi keterkejutan. Dia takut salah dengar. Namun, tidak mungkin dia salah mendengar panggilan tadi. Varisha memanggil Adirama dengan sebutan ayah. “Ya, dia ayahku. Kenapa?” sahut Varisha tegas. Dari sorot matanya terlihat begitu puas. Claudia membeku. Adirama semakin terlihat salah tingkah, “Varis udah, ayo kita kan mau ke—” “Diam, Yah! Aku mau masalah ini jelas dulu, Ayah belum kasih penjelasan kan sama aku? Benar dia pacar Ayah?“ Wajah Adirama panik, tetapi rasanya kepanikan itu sudah tidak ada artinya lagi. Semua yang selama ini dia takutkan akhirnya terjadi. Akhirnya putrinya tahu. Varisha akhirnya tahu bahwa salah satu teman kampusnya menjalin hubungan dengannya. Tapi dia sudah mengakhirinya. Kepala Claudia terasa berat. Ingatannya berputar kembali pada percakapannya dengan Adirama beberapa waktu lalu. Laki-laki itu memang pernah mengatakan bahwa putrinya berkuliah di kampus yang sama de
Adirama pucat pasi melihat Claudia.“Halo, Om,” sapa Claudia, dia makin mendekat ke arah Varisha dan Adirama. Tatapannya tajam ke arah keduanya. Kegugupan Adirama sulit disembunyikan lagi. Sekarang bukan hanya takut Varisha tahu dirinya kepergok berhenti di jalan, yang niatnya mau mengunjungi Desha. Tapi dengan kedatangan Claudia yang baru kemarin dia putuskan—jujur posisinya sekarang sangat membahayakan. Dia takut Varisha tahu kalau Claudia buka mulut dan mengaku pernah menjalin cinta dengannya. Sudah dipastikan Varisha pasti makin benci padanya. Rasanya Adirama ingin menghilang saja dari sana, sungguh apes sekali dirinya pagi ini. Mau mengunjungi Desha terpergok, dia masih bisa cari alasan. Sedangkan bertemu Claudia, dia tidak bisa mengelak lagi. Pelacur kecil itu pasti nekat membongkar semuanya sekarang.Claudia berhenti beberapa langkah di depan mereka, senyumnya masih tergantung manis, namun matanya menatap tajam ke arah Adirama, seakan tahu betapa gelisahnya pria itu saat ini






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews