Protokol Senyap: Aletheia

Protokol Senyap: Aletheia

last updateLast Updated : 2026-06-05
By:  qworamoraOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
29Chapters
222views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Alena Beatrix mati karena pengkhianatan, dibunuh oleh orang yang paling dia percaya. Namun takdir memberinya kesempatan kedua: kembali ke masa lalu dengan ingatan tentang kematiannya. Bertekad mengubah nasib, Alena mulai mengungkap rahasia kelam yang melibatkan ayahnya, organisasi berbahaya, dan sosok misterius di balik semua kehancuran hidupnya. Di tengah permainan penuh kebohongan, dia bertemu Arthur, detektif yang bisa menjadi musuh… atau satu-satunya sekutu yang dia miliki. Tapi saat masa depan perlahan terulang dan pengkhianatan kembali mengintai, satu pertanyaan tersisa, bisakah Alena benar-benar mengubah takdirnya, atau justru semakin dekat dengan kematian yang sama?

View More

Chapter 1

Bab 1, Di Antara Senja dan Rahasia

Langit sore memantulkan cahaya keemasan yang hangat namun sendu. Pantulan sinar sore itu mengenai rambut gadis itu yang berwarna dark wine panjang, membuat kilauan yang indah di sana. Angin musim gugur berhembus lembut menerbangkan beberapa anak rambutnya.

Suara daun yang berjatuhan diiringi suara ranting kering, beradu pelan setiap kali tersapu angin. Irama kecil itu terdengar sederhana, seolah alam sedang memainkan melodi yang hanya bisa didengar oleh mereka yang mau diam sejenak.

"Sudah musim gugur, apa pekerjaanmu lancar?" suara berat laki-laki itu memecah keheningan yang damai.

Gadis itu melihat sekilas ke arahnya, dengan langkah kecil dia memandang langit oranye yang indah.

"Tidak ada yang lancar di dunia ini..." ucapnya dengan terkekeh pelan.

"Setidaknya cukup baik untuk di jalani, bukan?"

"Yaah, mungkin. Masih banyak yang harus kuungkap," gadis itu menatap ke arah laki-laki di sampingnya. "Para pengkhianat itu..."

Mereka berdua bertatapan cukup lama, sampai tawa gadis itu memecah keheningan sesaat.

"Kau sudah jarang sekali ke gedung," lanjutnya lirih.

"Ah, itu... aku sedang sibuk mengurus bisnisku. Jika luang aku akan ke sana," balas laki-laki itu dengan senyum tipis.

"Baiklah aku duluan, sampai jumpa," gadis itu melambaikan tangannya sambil berjalan beda arah dengan laki-laki itu.

"Lena!" seru laki-laki itu dengan keras.

Gadis yang dipanggil Lena itu berbalik, menatap laki-laki itu sambil menaikan alisnya bertanya.

"Aku mencintaimu~" lanjutnya dengan tersenyum tipis.

Lena yang melihat itu terseyum, "Aku tidak percaya bualanmu!" ucapnya sambil berbalik melanjutkan jalannya.

"Aku bersungguh-sungguh!" teriak laki-laki itu lagi.

Lena melambaikan tangannya tinggi-tinggi. "Baiklah Marcus, sampai jumpa!" teriak Lena tanpa menghentikan langkahnya.

Langkah demi langkah membuat kedua orang itu semakin menjauh. Marcus hanya bisa diam menatap punggung Lena yang terus melangkah pergi, hingga sosoknya perlahan menghilang di balik beberapa bangunan rumah.

Suara ponsel berdering memecah keheningan itu, Marcus menatap ponselnya sekilas lalu mengangkatnya.

"Ada apa?" suara Marcus mengawali pembicaraan.

Dia mengangkat alisnya, "baiklah aku akan kesana," suara telepon tertutup setelah itu Marcus pergi dari sana.

Langit perlahan berubah dari jingga keemasan menjadi biru gelap khas malam. Hangatnya senja berganti dengan udara sejuk yang membawa aroma daun-daun kering. Di atas sana, bintang-bintang mulai bermunculan, bertaburan lembut menghiasi langit malam.

Lena, gadis itu sedang berdiri di depan rumahnya dengan pakaian lengkap khas musim gugur. Dia beberapa kali merapikan rambutnya dan melihat pantulan wajahnya di ponsel.

Suara klakson mobil menghantikan kegiatan Lena. Gadis itu tersenyum saat seorang pria keluar dari mobil itu.

"Selamat malam, Tuan Putri~" suara beratnya terdengar lembut di telinga Lena malam itu.

"Itu berlebihan Marcus," balasnya dengan tersenyum geli.

Marcus tersenyum, dia membukakan pintu mobil untuk Lena.

"Silahkan naik, Tuan Putri~"

"Terima kasih banyak... Ksatria?" balas Lena dengan bergurau, yang mendapat kekehan dari Marcus.

"Tanggung sekali, kenapa tidak Pangerang?" tanya Marcus saat sudah berada di dalam mobil.

Lena menatapnya dengan wajah berpikir, "sepertinya kau kurang cocok..."

"Sungguh? Sudah setampan ini? Tidak mungkin..." balas Marcus sambil melihat ke arah Lena, orang yang di tatap hanya tertawa mendengar jawaban Marcus.

Marcus menatap arah seatbelt Lena, "kau selalu lupa memasangnya..." ucapnya sambil mencondongkan dirinya ke arah Lena. Mengambil seatbelt dan memasangkannya.

Lena yang menatap Marcus dari jarak dekat menahan napasnya, mereka berdua saling menatap di jarak yang dekat.

"Kau lucu sekali," lirih Marcus sambil tersenyum. Tidak lama dia mengecup bibir Lena dan mengelus pipi Lena lembut, sebelum kembali duduk di kursi pengemudi.

Lena yang mendapat perlakuan itu terdiam membeku, daun telinganya berubah merah membuat Marcus yang melihatnya terkekeh gemas.

“Kita berangkat sekarang ya,” ucap Marcus pelan sebelum melajukan mobilnya menyusuri ramainya jalanan kota. Di bawah langit malam, kelap-kelip bintang berpadu dengan cahaya lampu jalan yang temaram, memantul lembut di sepanjang trotoar.

Suasana itu menghadirkan kesan hangat dan romantis bagi pasangan-pasangan yang berjalan santai di tepi jalan maupun yang menikmati perjalanan malam menggunakan kendaraan.

Setelah beberapa jam mereka mengendarai mobil, akhirnya mereka sampai di depan gedung besar di tengah kota.

"Silahkan, Tuan Putri~" ucap Marcus yang membukakan pintu mobil untuk Lena.

"Aku bisa sendiri, ayo cepat Jace sudah menunggu..." ucap Lena cepat, berjalan mendahului Marcus masuk ke dalam gedung.

Marcus yang melihat itu tersenyum, lalu berlari kecil untuk menyeimbangkan langkah Lena dengannya.

Mereka berdua masuk ke dalam lift, Lena kemudian menekan tombol rahasia yang akan membawa mereka ke salah satu lantai rahasia yang hanya Lena dan rekannya tau.

Lift berdenting menandakan mereka telah sampai di lantai tujuan. Sekeluarnya Lena dan Marcus dari lift ada seorang pria bertato di sepanjang lengan kanannya dan membawa laptop, sedang menunggu mereka.

"Kau sudah lama, Jace?" tanya Lena menghampiri rekan kepercayaannya.

"Tidak," balasnya singkat sambil menggeleng.

"Ada hal penting apa?" lanjut Lena.

"Tidak ada, hanya..." ucap Jace menggantung sambil melirik ke arah Marcus yang juga menatapnya. "Sengaja agar membuat kalian datang kemari."

"Yang benar saja, aku kira ada hal penting yang sudah kau temukan..." Lena berbicara sambil melangkahkan kakinya menuju ruangan pribadinya, menyisahkan Jace dan Marcus di sana.

Mereka berdua saling tatap dengan Jace yang menatap Marcus dingin. "Kau datang kemari hanya karena ada yang kau butuhkan, bukan?" tebak Jace menatapnya tajam.

Marcus tertawa pelan, dia menatap Jace dari atas sampai bawah. Dia mencondongkan tubuhnya ke arah Jace tepat di samping telinga pria itu. "Sst, kau terlalu amatir untuk ini, Jace..."

"Sial," geram Jace tertahan.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
29 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status