LOGINAlena Beatrix mati karena pengkhianatan, dibunuh oleh orang yang paling dia percaya. Namun takdir memberinya kesempatan kedua: kembali ke masa lalu dengan ingatan tentang kematiannya. Bertekad mengubah nasib, Alena mulai mengungkap rahasia kelam yang melibatkan ayahnya, organisasi berbahaya, dan sosok misterius di balik semua kehancuran hidupnya. Di tengah permainan penuh kebohongan, dia bertemu Arthur, detektif yang bisa menjadi musuh… atau satu-satunya sekutu yang dia miliki. Tapi saat masa depan perlahan terulang dan pengkhianatan kembali mengintai, satu pertanyaan tersisa, bisakah Alena benar-benar mengubah takdirnya, atau justru semakin dekat dengan kematian yang sama?
View MoreLangit sore memantulkan cahaya keemasan yang hangat namun sendu. Pantulan sinar sore itu mengenai rambut gadis itu yang berwarna dark wine panjang, membuat kilauan yang indah di sana. Angin musim gugur berhembus lembut menerbangkan beberapa anak rambutnya.
Suara daun yang berjatuhan diiringi suara ranting kering, beradu pelan setiap kali tersapu angin. Irama kecil itu terdengar sederhana, seolah alam sedang memainkan melodi yang hanya bisa didengar oleh mereka yang mau diam sejenak. "Sudah musim gugur, apa pekerjaanmu lancar?" suara berat laki-laki itu memecah keheningan yang damai. Gadis itu melihat sekilas ke arahnya, dengan langkah kecil dia memandang langit oranye yang indah. "Tidak ada yang lancar di dunia ini..." ucapnya dengan terkekeh pelan. "Setidaknya cukup baik untuk di jalani, bukan?" "Yaah, mungkin. Masih banyak yang harus kuungkap," gadis itu menatap ke arah laki-laki di sampingnya. "Para pengkhianat itu..." Mereka berdua bertatapan cukup lama, sampai tawa gadis itu memecah keheningan sesaat. "Kau sudah jarang sekali ke gedung," lanjutnya lirih. "Ah, itu... aku sedang sibuk mengurus bisnisku. Jika luang aku akan ke sana," balas laki-laki itu dengan senyum tipis. "Baiklah aku duluan, sampai jumpa," gadis itu melambaikan tangannya sambil berjalan beda arah dengan laki-laki itu. "Lena!" seru laki-laki itu dengan keras. Gadis yang dipanggil Lena itu berbalik, menatap laki-laki itu sambil menaikan alisnya bertanya. "Aku mencintaimu~" lanjutnya dengan tersenyum tipis. Lena yang melihat itu terseyum, "Aku tidak percaya bualanmu!" ucapnya sambil berbalik melanjutkan jalannya. "Aku bersungguh-sungguh!" teriak laki-laki itu lagi. Lena melambaikan tangannya tinggi-tinggi. "Baiklah Marcus, sampai jumpa!" teriak Lena tanpa menghentikan langkahnya. Langkah demi langkah membuat kedua orang itu semakin menjauh. Marcus hanya bisa diam menatap punggung Lena yang terus melangkah pergi, hingga sosoknya perlahan menghilang di balik beberapa bangunan rumah. Suara ponsel berdering memecah keheningan itu, Marcus menatap ponselnya sekilas lalu mengangkatnya. "Ada apa?" suara Marcus mengawali pembicaraan. Dia mengangkat alisnya, "baiklah aku akan kesana," suara telepon tertutup setelah itu Marcus pergi dari sana. Langit perlahan berubah dari jingga keemasan menjadi biru gelap khas malam. Hangatnya senja berganti dengan udara sejuk yang membawa aroma daun-daun kering. Di atas sana, bintang-bintang mulai bermunculan, bertaburan lembut menghiasi langit malam. Lena, gadis itu sedang berdiri di depan rumahnya dengan pakaian lengkap khas musim gugur. Dia beberapa kali merapikan rambutnya dan melihat pantulan wajahnya di ponsel. Suara klakson mobil menghantikan kegiatan Lena. Gadis itu tersenyum saat seorang pria keluar dari mobil itu. "Selamat malam, Tuan Putri~" suara beratnya terdengar lembut di telinga Lena malam itu. "Itu berlebihan Marcus," balasnya dengan tersenyum geli. Marcus tersenyum, dia membukakan pintu mobil untuk Lena. "Silahkan naik, Tuan Putri~" "Terima kasih banyak... Ksatria?" balas Lena dengan bergurau, yang mendapat kekehan dari Marcus. "Tanggung sekali, kenapa tidak Pangerang?" tanya Marcus saat sudah berada di dalam mobil. Lena menatapnya dengan wajah berpikir, "sepertinya kau kurang cocok..." "Sungguh? Sudah setampan ini? Tidak mungkin..." balas Marcus sambil melihat ke arah Lena, orang yang di tatap hanya tertawa mendengar jawaban Marcus. Marcus menatap arah seatbelt Lena, "kau selalu lupa memasangnya..." ucapnya sambil mencondongkan dirinya ke arah Lena. Mengambil seatbelt dan memasangkannya. Lena yang menatap Marcus dari jarak dekat menahan napasnya, mereka berdua saling menatap di jarak yang dekat. "Kau lucu sekali," lirih Marcus sambil tersenyum. Tidak lama dia mengecup bibir Lena dan mengelus pipi Lena lembut, sebelum kembali duduk di kursi pengemudi. Lena yang mendapat perlakuan itu terdiam membeku, daun telinganya berubah merah membuat Marcus yang melihatnya terkekeh gemas. “Kita berangkat sekarang ya,” ucap Marcus pelan sebelum melajukan mobilnya menyusuri ramainya jalanan kota. Di bawah langit malam, kelap-kelip bintang berpadu dengan cahaya lampu jalan yang temaram, memantul lembut di sepanjang trotoar. Suasana itu menghadirkan kesan hangat dan romantis bagi pasangan-pasangan yang berjalan santai di tepi jalan maupun yang menikmati perjalanan malam menggunakan kendaraan. Setelah beberapa jam mereka mengendarai mobil, akhirnya mereka sampai di depan gedung besar di tengah kota. "Silahkan, Tuan Putri~" ucap Marcus yang membukakan pintu mobil untuk Lena. "Aku bisa sendiri, ayo cepat Jace sudah menunggu..." ucap Lena cepat, berjalan mendahului Marcus masuk ke dalam gedung. Marcus yang melihat itu tersenyum, lalu berlari kecil untuk menyeimbangkan langkah Lena dengannya. Mereka berdua masuk ke dalam lift, Lena kemudian menekan tombol rahasia yang akan membawa mereka ke salah satu lantai rahasia yang hanya Lena dan rekannya tau. Lift berdenting menandakan mereka telah sampai di lantai tujuan. Sekeluarnya Lena dan Marcus dari lift ada seorang pria bertato di sepanjang lengan kanannya dan membawa laptop, sedang menunggu mereka. "Kau sudah lama, Jace?" tanya Lena menghampiri rekan kepercayaannya. "Tidak," balasnya singkat sambil menggeleng. "Ada hal penting apa?" lanjut Lena. "Tidak ada, hanya..." ucap Jace menggantung sambil melirik ke arah Marcus yang juga menatapnya. "Sengaja agar membuat kalian datang kemari." "Yang benar saja, aku kira ada hal penting yang sudah kau temukan..." Lena berbicara sambil melangkahkan kakinya menuju ruangan pribadinya, menyisahkan Jace dan Marcus di sana. Mereka berdua saling tatap dengan Jace yang menatap Marcus dingin. "Kau datang kemari hanya karena ada yang kau butuhkan, bukan?" tebak Jace menatapnya tajam. Marcus tertawa pelan, dia menatap Jace dari atas sampai bawah. Dia mencondongkan tubuhnya ke arah Jace tepat di samping telinga pria itu. "Sst, kau terlalu amatir untuk ini, Jace..." "Sial," geram Jace tertahan.Arthur menatap Lena sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada."Kau tahu?""Itu bukan jawabannya.""Itu jawabannya, kau sudah tahu.""Alasannya?""Pusat—""Pakai istilah..." potong Nyra dan Lena bersamaan."Badai utara," lanjut Nyra memberi tahu.Arthur mengangguk pelan. "Badai utara sangat kencang sehingga menghempaskan semua benda yang ada di hadapannya."Lena mengangguk paham. "Aku tidak suka badai, menyebalkan..." gumamnya."Lalu, kenapa sekolahku tidak?" lanjut Lena penasaran."Badai mengira daratan lemah."Lena menatap Nyra, sedangkan yang ditatap mengangguk paham."Begitu ya...""Baiklah, selagi tuan detektif di sini... kita bersantai saja dulu," lanjut Lena menatap Arthur dengan senyum manis."Bukan kah akan mencurigakan jika tidak seperti ini?" ucap Lena pelan hampir seperti berbisik, tidak lupa senyum manisnya yang belum hilang."Tidak ada pilihan lain..." ucap Arthur menghela napas dan pergi ke kasir memesan sesuatu.Nyra yang melihat Arthur pergi langsung menatap L
Dia mengangkat kepala.Seorang guru berdiri di ambang pintu."Ya?""Tolong ikut saya sebentar."Beberapa siswa langsung menoleh penasaran.Nyra bahkan berhenti memasukkan buku ke tasnya."Kenapa?""Tidak tahu."Guru itu hanya memberi isyarat agar Lena mengikutinya.Lena berdiri lalu berjalan keluar kelas.Sepanjang perjalanan menuju gedung administrasi, dia mencoba menebak-nebak alasan pemanggilan tersebut.Nilainya baik.Tidak membuat masalah.Setidaknya tidak ada yang berhasil membuktikan sebaliknya. Jadi, seharusnya tidak ada alasan khusus.Mereka berhenti di depan sebuah ruangan kecil.Guru itu mengetuk pintu."Silakan masuk."Lena mengangguk pelan lalu membuka pintu.Ruangan itu ternyata sudah berisi beberapa orang.Wakil kepala akademi.Dua staf administrasi.Dan seorang wanita yang belum pernah dia lihat sebelumnya.Semua mata langsung tertuju padanya."Oh."Lena berkedip."Apakah saya sedang dalam masalah?"Salah satu staf hampir tersedak mendengarnya.Wanita asing itu justru
Tiga hari kemudian.Pagi di Aethelgard I—sekolah Lena—berjalan seperti biasa.Suara bel pertama baru saja berhenti ketika para siswa mulai memenuhi koridor utama. Beberapa berlari menuju kelas, sebagian lagi masih mengobrol santai sebelum pelajaran dimulai.Namun suasana itu tidak bertahan lama.Karena lima menit kemudian—seluruh layar informasi akademi menyala bersamaan."Hah?""Ada apa?"Para siswa langsung menoleh.Biasanya layar-layar itu hanya digunakan untuk jadwal ujian atau pengumuman penting akademi.Tapi kali ini yang muncul adalah lambang resmi Otoritas Kota Aethelgard.Ruangan kelas Lena langsung menjadi ramai.Bahkan guru yang baru masuk pun menghentikan langkahnya.Layar besar di depan kelas menampilkan seorang wanita berpakaian formal."Pengumuman resmi dari Dewan Otoritas Kota."Suasana kelas mendadak hening."Sebagai bagian dari perayaan Hari Persatuan Kota, Otoritas Aethelgard akan menyelenggarakan Gala Persatuan tahunan di Grand Hall Pusat."Beberapa siswa langsung
Hujan turun pelan membasahi jendela kantor investigasi.Langit Aethelgard tampak lebih gelap dibanding biasanya, sementara cahaya lampu gedung memantul samar di jalanan basah kota. Suasana kantor juga tidak jauh berbeda—sunyi, berat, dan dipenuhi rasa lelah setelah hampir semalaman menyelidiki kasus auditor.Sesekali kilat tipis menyambar di balik gedung-gedung tinggi kota, memantulkan cahaya pucat ke ruangan investigasi yang hampir kosong. Beberapa petugas lain sudah pulang sejak satu jam lalu, meninggalkan meja-meja kerja yang masih dipenuhi dokumen dan layar data yang belum dimatikan.Arthur masih duduk di depan layar hologram utama.Puluhan data melayang di hadapannya. Nama siswa. Log akses. Waktu kematian. Rekaman kamera yang sempat mati tujuh menit.Dan semakin lama dia melihat semuanya—semakin jelas ada sesuatu yang tidak masuk akal.Tatapan Arthur perlahan berubah tajam.Suara hujan di luar terdengar makin berat, memenuhi keheningan ruangan bersama dengung mesin hologram yang
"Apa kau akan kembali ke markas, Lim?"Lim menggeleng pelan, "Tidak, aku harus menemanimu.""Pengawasan di sini sudah ketat, banyak pengawal," ucap Lena meminum teh yang di bawakan Lim. "Aku takut terjadi seperti waktu lalu, mereka pasti mengambil kesempatan di mana pun.""Baiklah, sebentar lagi m
Suara tembakan menggema pelan di area latihan bawah tanah markas. Jace berdiri kaku sambil menggenggam pistol di tangannya. Alisnya sedikit berkerut saat melihat hasil tembakannya yang meleset cukup jauh dari titik tengah target. "Peganganmu terlalu tegang," ucap Lena tenang sambil berdiri di sam
Masa Lalu tahun 2015—Lena berumur 10 tahun Musim dingin malam itu terasa menggigit. Hujan turun tipis membasahi halaman belakang rumah keluarga Lena. Lampu taman memantulkan cahaya kekuningan di atas rumput basah, sementara angin malam meniup pelan daun-daun yang mulai gugur. Di tengah lapangan
Pagi musim gugur terasa dingin dan tenang. Cahaya matahari jatuh lembut di antara daun-daun kecokelatan yang perlahan gugur tertiup angin, sementara sisa hujan semalam masih meninggalkan aroma tanah basah di udara. Suara jam alarm digital berbunyi. Lena membuka matanya pelan. Untuk beberapa detik












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.