Share

Bab 1 - Memeluk Kevin

Penulis: Zenny Arieffka
last update Terakhir Diperbarui: 2023-10-28 08:46:03

“Apa lagi yang kamu inginkan?” tanya Kevin dengan wajah datarnya. Saat ini, dia sedang menemui Irina, perempuan yang selama ini sudah mengaduk-aduk perasaannya. Apa pun yang diinginkan Irina bisa saja dia lakukan dan dia turuti. Entahlah, Kevin sendiri tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan dirinya.

Irina menggeleng dan perempuan itu mulai menangis. “Max benar-benar meninggalkanku.”

“Biarlah, mungkin itu memang yang terbaik untuk kalian.” Kevin menjawab dengan nada datar.

“Tapi, aku mencintainya, Vin. Apa kamu enggak bisa lihat?” tanya Irina yang saat ini sudah berurai air mata.

“Kamu harus tahu bahwa cinta terkadang tak harus memiliki, bukan?” Kevin masih mencoba untuk membuat Irina mengerti.

“Lalu, bagaimana denganku? Bagaimana dengan anakku ke depannya?” tanya Irina dengan penuh tuntutan. Jujur saja, Irina bingung dan mulai tertekan. Sejak perutnya mulai membesar, Irina menjadi tak percaya diri. Dia diliputi rasa takut jika tubuhnya menjadi tak indah lagi. Bukan tanpa alasan, Irina adalah seorang model papan atas dan kariernya sangat bergantung pada penampilannya.

Dulu sekali, Irina memutuskan terjun di dunia permodelan karena ketidaksengajaan. Saat itu, dia masih menimba ilmu di perguruan tinggi. Tentu saja, semua itu karena bantuan orang tua Kevin. Ibunya sudah meninggal saat itu dan Irina bersyukur karena orang tua Kevin masih mau menyekolahkannya, seperti yang mereka janjikan kepada orang tuanya dulu.

Karena Irina tidak ingin merepotkan orang tua Kevin, ia memutuskan untuk mencari pekerjaan. Dia pernah menjadi penjaga toko dan di sanalah ia mendapat penawaran untuk menjadi model suatu produk. Lagi-lagi, dengan sedikit bantuan dari Kevin, Irina akhirnya menjadi model profesional.

Sejak memiliki pekerjaan tetap, Irina memutuskan untuk tinggal sendiri agar tidak merepotkan keluarga Kevin. Irina bekerja keras hingga dia menjadi model populer. Banyak tawaran iklan dan produk yang didapatnya. Karena itulah, Irina khawatir kerja kerasnya selama ini akan hancur karena tubuhnya tak lagi indah.

“Aku yang akan membiayai kalian.” Kevin akhirnya menjawab ketakutan Irina.

Irina ternganga mendapati pernyataan Kevin tersebut. “Aku sedang tidak mengemis kepadamu, Kevin.”

“Lalu, kamu ingin aku melakukan apa?” tanya Kevin kemudian.

Irina juga bingung. Apa yang dia inginkan dari Kevin? Dia hanya ketakutan, dia hanya tertekan dan khawatir dengan masa depan yang tidak bisa dibayangkan. Irina merasa sendiri saat ini.

Pada saat bersamaan, seseorang datang menghampiri mereka. Seorang perempuan dengan wajah cantik dan lembut.

“Hai, maaf aku telat.” Perempuan itu bahkan tak canggung mengecup pipi Kevin di hadapan Irina, membuatnya memilih untuk mengalihkan pandangan.

Dia adalah Maharani, atau yang biasa dipanggil Rani, tunangan Kevin sejak ia masih sangat muda. Ya, Kevin dan Rani dijodohkan karena keduanya masih memiliki darah biru. Darah biru, yang Irina pahami, adalah hal yang sejak dulu ditekankan oleh mendiang ibunya agar tetap patuh pada batasan.

Meski awalnya canggung, tetapi keduanya menerima dan sama-sama saling mencoba. Irina bisa melihat kedekatan nyata antara keduanya. Kadang, Irina merasa iri, ia merasa cemburu. Karena itulah, tak jarang Irina memamerkan kemesraannya dengan para kekasihnya. Meski begitu, Irina harus tahu diri. Lagi-lagi, statusnya dengan Kevin sama sekali tak sepadan.

“Maaf, aku ngajak Rani ke sini sekalian karena kami ada janji fitting baju pengantin.” Dengan dingin dan datar, Kevin mengucapkan kalimat itu.

“Kalau kamu mau ikut, enggak apa-apa. Ayo, biar aku juga bisa minta saran dari kamu. Kamu, kan, model.” Rani yang memang sudah mengenal Irina memang tak mencurigai apa pun tentang hubungan Irina dan Kevin.

Ya, mereka memang tak memiliki hubungan apa pun. Lagipula, Rani tahu jika Irina masih bersuami, kecuali rahasia besar tentang ayah dari bayi yang dikandung Irina. Namun, membayangkan Kevin dan Rani akan fitting baju pengantin membuat Irina tidak suka. Irina sedang berada dalam gerbang perceraian dengan Max, sedangkan kedua pasangan tengah menata hari indah berdua. Irina merasa bahwa semua ini tidaklah adil untuknya.

Irina memutuskan bangun dari duduknya. “Aku pulang saja kalau begitu.” Ia merasa kesal, tetapi tidak mengerti datang dari manakah kekesalannya ini.

Kevin kemudian ikut bangkit. “Aku anterin.”

“Kamu ada janji dengan Rani. Aku bisa pulang sendiri.” Pada akhirnya, Irina pergi begitu saja meninggalkan Kevin dan Rani.

***

“Ada yang kamu pikirkan?” Pertanyaan Rani membuat Kevin mengalihkan pandangannya ke arah perempuan yang kini sedang mengenakan gaun pengantin di hadapannya.

“Aku dari tadi tanya sama kamu, apa ini bagus? Atau ada yang kurang? Tapi, kamu hanya diam melamun. Ada masalah?” tanya Rani lagi.

Sejujurnya, saat ini Kevin sedang memikirkan Irina, dan tentu saja dia sangat mengkhawatirkan perempuan itu. Irina tampak tertekan tadi, mengingatkan Kevin pada kejadian dua tahun yang lalu setelah Irina menggugurkan bayinya dengan Max dan berakhir dibenci oleh Max. Kini, Kevin khawatir jika Irina akan melakukan hal yang sama, yaitu menggugurkan anaknya lagi.

Dengan spontan, Kevin lalu bangkit. “Kita lanjutkan ini nanti, aku ada urusan,” ucapnya singkat sebelum pergi begitu saja tanpa menghiraukan Rani yang memanggil-manggil namanya.

Mobil Kevin melesat menuju ke sebuah gedung apartemen. Itu adalah tempat Irina tinggal saat ia tidak ingin pulang ke rumah Max. Kevin tahu, kini Irina sedang berada di sana. Sampai di depan pintu apartemen Irina, Kevin mengetuknya berkali-kali, berharap Irina segera membua pintu apartemennya.

Pintu lalu terbuka dan menampilkan Irina dengan mata sembab serta penampilannya yang cukup berantakan. Ini sangat berbeda dengan Irina yang selama ini Kevin kenal.

“Kevin?” tanya Irina dengan nada bingung. Bukankah seharusnya pria ini bersama dengan tunangannya? Kenapa dia ada di sini?

Tanpa basa-basi, Kevin masuk ke dalam apartemen Irina. “Apa yang kamu lakukan di sini sendirian?” tanya Kevin kemudian.

“Aku tidak melakukan apa pun.” Hanya itu jawaban Irina.

“Lihat dirimu! Kamu kacau! Kamu pikir aku bisa melakukan kegiatanku dengan baik saat pikiranku tak pernah lepas darimu?!” Kevin berseru marah kepada Irina. Dia kesal karena Irina selalu memenuhi pikirannya.

“Kamu enggak perlu mikirin aku lagi.”

“Kalau kehidupan kamu baik-baik saja, aku tidak akan memikirkanmu lagi! Lihat, kamu kini seperti orang yang sedang depresi! Kamu pikir, aku bisa meninggalkanmu begitu saja?!” omel Kevin kepada Irina.

Irina tak mampu lagi membendung kesedihannya. Segera ia melemparkan diri pada Kevin dan memeluk erat tubuh pria itu.

“Maka jangan pergi meninggalkanku. Aku ingin kamu tetap berada di sini, menemaniku….”

Irina butuh dipeluk. Ia butuh seseorang untuk berada di sisinya dan Irina tahu, Kevin yang mampu menemaninya menghadapi semua permasalahannya saat ini.

-TBC-

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pujaan Hati Sang Tuan Muda   EPILOG

    EpilogKevin menuju baru selesai mengganti pakiannya, dia turun ke meja makan, berharap bertemu dengan Irina yang mungkin kini sedang menyiapkan sarapan dengan mamanya dan juga para pelayan rumahnya.Ya, setelah melahirkan, Irina memang diminta untuk tinggal di rumah orang tua Kevin saja. Tentu saja yang meminta hal itu adalah Dewi. Alasannya adalah, agar ada yang membantu Irina merawat Sean. Padahal, diam-diam Kevinmemperhatikan, jika ibunya itu juga mulai perhatian dengan Irina.Kini, Sean sudah hampir berumur satu tahun, dan selama itu, hubungan keluarga mereka menjadi lebih dekat dan semakin harmonis.Ketika Kevin sampai di area meja makan, dia hanya mendapati para pelayan sibuk di dapur, sedangkan ibunya sibuk dengan Sean. Lalu dimana Irina?“Ma, Irina mana? Kok Sean sama Mama?”“Tadi Mama sudah bilang sama Irina, nggak usah ikut ke dapur. Masih saja ngeyel. Tuh sekarang lagi muntah-muntah di kamar mandi karena bau bawang.”Segera Kevin menyusul Irina di kamar mandi, dan benar saj

  • Pujaan Hati Sang Tuan Muda   Bab 31 - Pengakuan Dan Restu

    Bab 31 – Pengakuan & RestuSetelah melakukan satu sesi panas di bar dapur, Kevin akhirnya memutuskan memesan makan malam untuk dirinya dan Irina. Keduanya kembali membersihkan diri sebelum kemudian makan malam bersama dengan saling menggoda. Setelah makan malam bersama, Kevin dan Irina kini sudah beristirahat di ranjang Kevin dengan posisi saling memeluk satu sama lain. Kevin bahkan tak berhenti mengusap lembut perut Irina yang di dalamnya terdapat buah hatinya.“Aku melihatmu dengan Maharani tadi siang.” Irina akhirnya membuka suaranya. Kevin menghentikan pergerakannya seketika. “Di mana?”“Di kafe yang letaknya tak jauh dari kantor kamu.”“Ngapain kamu ke sana?” tanya Kevin lagi.“Aku kangen kamu. Jadi, rencananya aku mau datang jenguk kamu dan bawain kopi. Tapi… aku lihat kamu sama Rani yang terlihat…” Irina menggantung kalimatnya.“Terlihat bagaimana?” tanya Kevin lagi.“Kevin, kalau kamu—”“Aku memang mengajak ketemuan Rani.” Kevin memotong kalimat Irina. “Tapi untuk mengatakan

  • Pujaan Hati Sang Tuan Muda   Bab 30 - Pernyataan Cinta

    Bab 30 – Pernyataan CintaRupanya, Kevin tidak membawa Irina pulang ke rumahnya, melainkan ke apartmen Kevin yang letaknya memang tak jauh dari kafe tempat Irina menunggu tadi. Irina sebenarnya ingin bertanya pada Kevin, kenapa Kevin membawanya ke sana, tapi Kevin tampak tak ingin membuka suara dan hanya fokus dengan jalanan di hadapannya.Saat mobil Kevin sudah terparkir di basement, Kevin segera keluar, lalu tanpa diduga, ketika Irina juga keluar dari mobil, Kevin segera menggendong Irina kembali, membuat Irina terpekik lagi karena ulah Kevin.“Kevin, aku bisa jalan sendiri,” ucap Irina, tapi Kevin tak mengindahkan ucapan Irina dan malam fokus berjalan menuju unit apartmennya.Sampai di dalam apartmen Kevin, Irina masih belum juga diturunkan. Dia baru diturunkan di dalam kamar mandi oleh Kevin. “Mandilah, air hujan bisa mmebuatmu sakit. Ada handuk dan kimono di sini.” Kevin menunjuk ke sebuah lemari kecil di dalam kamar mandi. Kemudian, Kevin membalikkan tubuhnya dan akan pergi. Na

  • Pujaan Hati Sang Tuan Muda   Bab 29 - Jatuh Cinta

    Bab 29 – Jatuh CintaIrina memutuskan tidak turun dari mobilnya, dan memilih untuk membatalkan niatnya bertemu dengan Kevin. Irina akhirnya mengingat janjinya pada Maharani, bahwa dia akan menjanjikan perpisahan dengan Kevin. Mungkin saat ini, Maharani dan Kevin sedang mencoba memperbaiki hubungan mereka. Seharusnya Irina bisa tenang, karena setelah berpisah dengannya nanti, kehidupan Kevin akan kembali normal. Namun nyatanya, Irina merasakan dadanya sesak karena sebuah perasaan yang cukup dia mengerti saat ini. Rasa cemburu.“Pak, kita ke mall terdekat saja ya, Pak,” ucap Irina pada sang sopir.“Baik, Bu.” Irina kembali mengusap lembut perutnya, mencoba menghibur dirinya sendiri dengan bayi yang dikandungnya. “Kita tunda dulu bertemu Papa. Kita akan belanja baju-baju kamu, ya…” bisik Irina pelan pada bayinya.Irina sadar, dia tak bisa memberi Kevin apapun karena pria itu sudah memiliki segalanya, dia hanya bisa memberikan pria itu kebebasan saat ini, meskipun dalam hatinya yang pali

  • Pujaan Hati Sang Tuan Muda   Bab 28 - Pisah Rumah

    Bab 28 – Pisah Rumah Setelah sesi panas dan sesi sedih di atas ranjang, keduanya memutuskan untuk membersihkan diri. Mengganti pakaian mereka dengan pakaian santai, kemudian menuju ke ruang makan untuk menyantap hidangan makan malam.Makan malam kali ini terasa hening, namun tak tegang atau dingin seperti biasanya. Keheningan terjadi lebih karena keduanya tak tahu harus membahas atau berbicara tentang apalagi. Mereka tadi sudah memutuskan jika akan berpisah setelah bayinya lahir. Itu adalah keinginan Irina, dan Kevin mengiyakan keinginan perempuan itu.Kevin memeng berada pada titik tak mampu menolak keinginan Irina. Kadang, Kevin merasa kesal, kenapa dia bisa memiliki perasaan sedalam ini pada perempuan itu? Hingga dia tak mampu menolak apapun yang diinginkan perempuan tersebut.“Uuum, begini, karena kita sudah sepakat, apa… nggak sebaiknya kita…” Irina ragu melanjutkan kalimatnya. “Tinggal secara terpisah maksudmu?” tanya Kevin seakan melanjutkan kalimat Irina.“Uuum… aku hanya me

  • Pujaan Hati Sang Tuan Muda   Bab 27 - Berpisah Baik-baik

    Bab 27 – Berpisah Baik-baikKevin baru menghentikan aksinya saat dirasa napas Irina mulai terputus-putus. Lalu, keduanya baru sadar jika kini mereka tak hanya berdua di area dapur. Mereka menolehkan kepala ke arah jalan masuk ke area dapur, dan mendapati ibu Kevin berada di sana dengan beberapa tamunya dan juga Maharani yang masih menatap mereka dengan wajah ternganga masing-masing.Irina segera melepaskan diri dari Kevin kemudian sedikit menjaga jarak, hal itu membuat Kevin menatap ke arah Irina seketika. Dia kesal dengan sikap Irina, kemudian Kevin kembali menatap ibunya dan juga para tamu sang ibu yang tampak masih terdiam di tempatnya berdiri.“Ada masalah?” tanya Kevin dengan santainya.“Vin, apa yang kamu lakukan?”“Apa yang kulakukan bagaimana, Ma? Aku sedang mencium istriku. Apa salah?”“Kevin!” Dewi tampak kesal dengan pengakuan terang-terangan yang dilakukan oleh Kevin di hadapan para teman-temanya.“Ma, Mama nggak seharusnya ngelakuin ini. Irina sedang mengandung anakku, cu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status