MasukJalur itu menanjak tajam dan berkelok. Hawa di dalam lorong terasa pengap, membuat perjalanan merangkak itu terasa sangat menyiksa. Keringat membasahi pakaian mereka, menempel di kulit seperti lapisan kedua yang lembap dan tidak nyaman. Sesekali, Celia merintih pelan karena lutut atau sikunya terbentur bebatuan keras yang menonjol di dinding terowongan. Namun, gadis itu memaksa dirinya untuk terus mengikuti pergerakan Aaron, meskipun napasnya semakin tersengal.Di beberapa titik, Aaron harus berhenti dan menunggu Celia menyusul. Lorong itu terlalu sempit untuk mereka berdua bergerak bersamaan, dan setiap kali Celia tertinggal, Aaron bisa mendengar desahan frustrasi yang keluar dari balik cadarnya. Ia hampir tersenyum mendengarnya—gadis yang begitu angkuh dan misterius di luar, kini merangkak di belakangnya dengan pakaian kotor dan rambut berantakan.Setidaknya aku tidak sendiri dalam penderitaan ini, pikir Aaron sambil terus merangkak maju.Hingga akhirnya, embusan angin segar menyapu
Melihat reaksi Celia, Aaron hampir tertawa. Tetapi mengetahui bawah gadis itu benar-benar takut, Aaron menahan perasaan lucu itu sekuat tenaga. "Kamu harus percaya padaku, Nona. Jika kita tidak bekerjasama, aku takut salah satu dari kita akan terluka di tempat ini," kilah Aaron. Celia mendengus, tetapi dia tidak membuat gerakan lagi untuk menyentuh peti itu, seolah-olah memberi jalan bagi Aaron untuk membukanya. "Mundur Nona," ucap Aaron sambil berjongkok di depan peti. "Aku akan membukanya. Jika terjadi sesuatu dan yang keluar dari dalamnya adalah makhluk berbahaya, larilah secepat mungkin." Mendengar itu, ekspresi Celia semakin cemas. "T-tunggu..., jika kamu tidak yakin apa isi di dalamnya, lebih baik jangan dibuka dulu. Kita akan membuat persiap..." Belum selesai Celia berkata, Aaron telah menarik titip peti tersebut dan mengangkatnya. Clang. Terdengar suara kayu beradu, dan begitu Aaron mendorong tutup peti tersebut ke samping, kedua orang tersebut langsung mengernyitkan
Aaron dan Celia semakin panik ketika mendengar hentakan langkah kaki mengguncang gua. Suara raungan kemarahan terus terdengar dan semakin mendekat. "Tampaknya kita harus bertarung melawan beruang itu," ucap Aaron meminta pendapat Celia. "Itu monster rank empat tingkat awal, sama kuatnya dengan Mortal Bumi. Kita tidak akan bisa melawannya," balas Celia menggelengkan kepalanya. Melihat ekspresinya, seperti ia telah melupakan semua yang terjadi sebelumnya. "Lalu, kamu punya ide?" tanya Aaron. Celia mematung, ia tidak menemukan rencana apa pun. Namun, saat ia memperhatikan sekeliling, tiba-tiba wajahnya mengernyit ketika melihat sesuatu di sisi air terjun. Aaron yang juga sedang memandang ke sana, langsung berseru, "Ada lubang di balik air terjun. Cepat ke sana!" Sebelum Celia menjawab, ia langsung melompat ke dalam kolam. Celia buru-buru mengikutinya, dan menyusul Aaron berenang menuju air terjun. Sesampai di air terjun, Aaron mengulurkan tangannya. Celia sedikit ragu ketika
Begitu perasaan asing bergejolak di tubuhnya, Aaron menjadi gugup. Sementara di depannya Celia tampak kebingungan, wajahnya merona merah dan napasnya sedikit lebih intens. Ia menatap kepada Aaron. "A-apa yang terjadi?" tanyanya dengan suara lirih, hampir seperti desahan. Mendengar suara tersebut, tubuh Aaron merinding. "A-Afrodisiak ..." Mata Celia membelalak lebar, seketika ia mengetahui apa yang terjadi dengan tubuhnya. Perasaan panas dari bawah perutnya, dan tiba-tiba saja ia menjadi sangat sensitif. Ia tidak tahu jika bunga itu sebenarnya adalah Afrosisiak, yang dapat memicu rangsangan di dalam tubuh. "Cepat pergi dari pohon itu!" sergah Aaron menarik lengan gadis itu sambil mempertahankan kewarasannya. Namun, begitu tangannya menyentuh lengan Celia, seolah-olah tubuhnya tersengat aliran listrik dan menegang seketika. Demikian juga Celia yang merasakan hal yang sama, memekik tertahan dan tubuhnya terhuyung. Sebelum ia terjatuh, Aaron menyambut tubuh gadis itu. Tetapi sentuhan
Melihat ada bagian lain di dalam ruangan, Aaron menoleh kepada Celia. "Kita harus pindah ke dalam. Jika nanti beruang buas itu datang ke sini, aku takut dia akan membunuh kita berdua," ucap Aaron. Celia tampak bimbang, tetapi mengingat beruang itu memiliki kekuatan setingkat Mortal Jiwa puncak, atau bisa jadi Mortal Bumi, ia hanya mengangguk. Beruang Batu bulan itu bukan lawannya, bahkan jika dia tidak mengalami kecelakaan, tetap saja ia tidak percaya diri menghadapinya. Namun, ketika mencoba berdiri, tubuhnya terasa lemah. Wajahnya memerah ketika membayangkan bahwa ia akan memerlukan bantuan anak muda itu lagi untuk beranjak. Aaron mengetahui pikiran Celia, tetapi saat ini keselamatan mereka lebih penting. Tidak bertanya terlebih dahulu, ia bergerak mendekati gadis itu dan berjongkok, lalu meraih tubuhnya untuk membopongnya sekali lagi."Apa yang akan kau lakukan?" tanya gadis itu dengan panik. Aaron mengabaikan pertanyaan gadis itu, dan mengangkat tubuhnya. "Jangan banyak berger
Jantung Aaron berdegup, ia tidak memiliki banyak waktu dan harus segera pergi dari gua ini. Sebentar lagi Beruang Batu Bulan itu akan sadar dan kembali pulang. Dan setelah mengetahui buah yang dijaganya menghilang, tempat ini akan menjadi kerusuhan. Aaron memandangi wajah gadis itu, sebagiannya tertutup kain tipis. Namun, dari jarak sedekat ini, ia dapat melihat melalui penutup itu yang sedikit transparan. Wajahnya sangat cantik, bahkan melebihi Yue dan Maye. Mengabaikan pemikiran itu, Aaron terus menggesa langkahnya keluar dari gua. Sangat beruntung beruang besar itu belum kembali, tetapi ia harus pergi sejauh mungkin, dan tidak membiarkan dirinya ditemukan. Setelah berjalan cukup jauh, Aaron melihat sebuah celah yang tersembunyi di dasar tebing. Tidak pikir panjang, ia langsung membawa Celia ke celah tersebut. Celah itu sempit di bagian pintu masuknya, tetapi di dalam ternyata cukup luas, dengan langit-langit yang runcing ke atas, lantainya cukup rata dan terlihat nyaman.







