LOGINDitinggal mati orang tua, membuat dia memilih untuk hidup damai tanpa gesekan dengan dunia persilatan. Namun sesuatu yang besar telah menunggunya, yaitu kekuatan besar yang diwariskan seorang legenda pada dirinya, yang memaksa dirinya menjadi seorang pewaris elemen terkuat. ikuti kisah selanjutnya.
View More"Hei anak tanpa ayah, pergi kau dari sini!" usir beberapa anak dengan pakaian mewah, pada seorang anak kecil yang masih berusia sepuluh tahun.
Darah anak kecil itu mendidih karena cacian dan hinaan itu. Dia tak bisa untuk diam, tapi dia tak bisa berbuat apapun. Anak kecil itu berbalik dengan wajah yang sendu, matanya berkaca-kaca, karena ucapan yang tak bisa diterima anak sekecil dirinya. Bukkkkkk!! Baru saja dia berbalik, satu tendangan keras hantam punggungnya, tendangan yang membuat tubuh anak kecil itu terjerembab jatuh dengan wajah yang mencium tanah. "Hahaha, dasar bodoh!" teriak anak-anak yang tertawa karena menjatuhkan anak kecil itu. Tidak hanya itu, tanpa peduli akan kondisi anak kurus itu, mereka masih lanjutkan dengan memukuli dan menendang tubuh kurus anak kecil berpakain hijau penuh tambalan. "Ampun! Ampun!" teriak anak kecil itu sambil menutupi wajahnya sendiri. Meksipun sudah menutupinya, tapi beberapa pukulan masih tetap menghancurkan wajahnya. "Tinggalkan dia, dasar tak berguna. Selamanya kau akan jadi sampah!" ucap mereka pada anak kecil itu. Bahkan tanpa sedikitpun rasa kasihan, mereka meludahi tubuh anak kecil itu dan tinggalkan dengan tubuh yang penuh dengan luka. Begitu beberapa anak itu pergi, anak kecil itu menangis terisak-isak, tubuhnya sampai gemetaran karena tangisan yang tak tertahan. "Apa salahku? Kenapa aku tak memiliki ayah?" teriak anak kecil itu. Dia bangkit, dengan menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, anak kecil itu berlari cepat menuju rumahnya, rumah yang lebih layak disebut gubuk. "Aku pulang!" kata anak kecil itu dengan langkah yang tertatih-tatih. "Panji! Apa yang terjadi denganmu?" teriak orang yang ada di dalam rumah kecil itu. "Mereka kembali memukuli diriku, kek!" jawab Panji dengan mata yang berlinangan air mata. Lelaki itu, dia tak lain adalah tabib Sagara, dia juga tak tahu harus bagaimana untuk menghidarkan Panji dari pukulan anak-anak kaya di kota itu. "Kuatkan dirimu, Panji!" kata tabib Sagara dan menarik Panji ke dalam pelukannya. Panji, anak kecil yang dia tolong, ditolong saat melahirkan, tapi sayangnya ayah dan ibunya tewas saat Panji belum berumur satu hari. "Kakek!" jerit Panji. Tangisan anak kecil itu meledak di pelukan tabib Sagara. Dia tak mungkin bertahan, karena bagaimanapun juga dia masih anak kecil yang tak tahu apa-apa. Tabib Sagara hanya bisa memberikan pelukan hangat ke tubuh Panji. Hanya itu yang bisa dia lakukan untuk menenangkan perasaan pilu yang menguasai tubuh Panji. "Bersihkan tubuhmu, setelah itu kakek akan obati lukamu!" kata tabib Sagara setelah merasa keadaan Panji sudah jauh lebih baik. "Baik, kakek!" jawab Panji tanpa sedikitpun bantah perintah dari tabib Sagara. "Hhmmm!" Tabib Sagara hanya bisa menarik napas yang dalam. Dia tak bisa berbuat apa-apa, karena dia pun hanya orang miskin di kota itu. Sejak Panji bersama dengan dirinya, awalnya bukan hanya dia yang merawat Panji, tapi ada nyai Litak yang menjaga Panji. Tapi, nyai Litak meninggal dunia saat Panji masih berusia lima tahun. Hingga sejak saat itu, hanya tabib Sagara yang menjaga dan merawat Panji. Hidup tabib Sagara memang tak jauh dari kata miskin. Dia memang tabib, tapi dia bukan tabib yang terkenal. Bahkan banyak yang anggap dia hanya tabib gadungan. Sehingga itu membuat banyak orang yang memilih untuk tak berobat padanya. Sejak usia sembilan tahun, Panji mulai berkeliaran di kota itu. Kota Melati yang indah. Tapi, sejak saat itu, di hari pertama, Panji juga sudah merasakan perundungan dari anak-anak seusianya. Hal itu karena hidup Panji yang miskin, yatim piatu, dan tak memiliki pendukung. Itu semakin membuat Panji tak bisa lepas dari perundungan yang dia dapatkan dari anak-anak orang kaya di kota Melati itu. Begitu selesai bersihkan tubuhnya, Panji mendekat ke arah tabib Sagara. "Lukamu tak terlalu parah, dalam satu atau dua hari ini, lukamu akan menghilang!" kata tabib Sagara sambil mengoleskan salep ke luka Panji. "Aduh, kakek, ini sangat perih!" teriak Panji. "Jangan cengeng, apa kau ingin luka ini bengkak dan kau demam?" "Tidak, kakek. Tapi ini memang sangat sakit!" teriak Panji. "Kau adalah pemuda yang kuat, jangan anggap luka ini akan membuat kau kesakitan! Ingat, tidak ada rasa sakit!" bentak tabib Sagara. Panji sampai mengigit kuat giginya sendiri hanya karena tak mampu menahan rasa perih karena obat tabib sagara. "Jika kau bertemu lagi dengan mereka, sebaiknya kau lari, Panji!" "Aku sudah berusaha kakek, tapi mereka jauh lebih cepat dari Panji. Aku juga bingung kenapa mereka lebih cepat dari pada Panji?" Tabib Sagara tak menjawab, dia tahu, kalau anak-anak yang mengganggu Panji adalah murid sebuah perguruan, sudah jelas mereka jauh lebih cepat dari pada Panji. "Kakek, jika mereka masih melakukan itu, Panji akan melawan mereka!" "Jangan!" bentak tabib Sagara dengan suara keras. "Kenapa kakek? Panji tak ingin diam saja. Mereka juga harus merasakan rasa sakit Panji!" "Itu hanya akan membahayakan hidupmu, Panji. Apakah kau tak sadar kalau mereka orang-orang kaya di kota ini. Jika kau lakukan itu, bukan hanya dirimu, tapi kakek juga akan menderita!" Panji tak bisa lagi menjawab, dia hanya bisa menahan diri. Tapi sampai kapan dia akan diam untuk tak melawan. "Kakek, kemana ayah, Panji?" tanya bocah polos itu tiba-tiba. Amarah di wajah tabib Sagara hilang seketika, dia menatap Panji, dan tak tahu harus jawab apa. Pertanyaan itu sudah berkali-kali Panji tanyakan, tapi hingga saat ini, tabib Sagara tak pernah menjawab pertanyaan itu. "Kenapa kakek diam?" tanya Panji. "Belum saatnya kau tahu tentang ayahmu, Panji!" kata tabib sagara. "Kenapa kakek? Sampai kapan?" "Tunggu saat usiamu sudah matang, baru kakek beritahu siapa ayahmu!" jawab tabib Sagara. Tabib itu sudah tahu siapa ayah Panji, dan selama ini dia menutupi siapa identitas ayah Panji, karena dia sadari satu hal. Ayah Panji bukan dari golongan yang lurus, dan jika Panji tahu tentang hal itu, pasti anak kecil itu akan lebih tertekan lagi. "Kapan kakek, kapan?" desak Panji pada tabib Sagara. "Tunggu saja, pasti akan kakek katakan!" "Tapi Panji ingin tahu kakek, Panji sangat ingin tahu!" kata anak kecil itu. Tabib Sagara hanya menunduk, rasanya berat untuk menceritakan semuanya pada Panji. Sesuatu yang sudah disembunyikannya cukup lama. Ayah Panji sebenarnya sudah tewas dibunuh oleh seseorang, namun tabib itu memilih untuk menutupinya sampai Panji pantas untuk mengetahui cerita yang sebenarnya. Brakkkkkkk! Saat kebingungan melanda tabib Sagara, pintu gubuk mereka di dorong, dan dua orang masuk ke dalam rumah itu. "Apakah kau seorang tabib?" tanya salah satu dari dua orang itu. "Iya, aku dulu seorang tabib!" jawab tabib Sagara. "Tolong bantu saudaraku ini, dia keracunan!" "Racun? Apakah itu racun yang berat?" tanya tabib Sagara. "Periksa saja bodoh! Jangan banyak tanya. Jika aku tahu, aku tak akan akan bawa dia padamu!" bentak orang yang baru datang itu. "Ba ... Baik!"Tiga hari berlalu, dan ketua Lu Ba sendiri yang datang ke sekte matahari, dan mendatangi ketua sekte itu, ketua Su Yu.Ketua Su Yu sungguh pucat karena kedatangan ketua sekte gunung iblis itu, dan rasa takut kini menyelimuti seluruh tubuhnya. Bukkk!Ketua Su Yu berlutut pada ketua Lu Ba. Dan ia semakin menunjukkan rasa takut yang sangat dalam."Maafkan aku ketua Lu Ba! Aku sudah menangkap orang itu, namun ia melarikan diri!" kata ketua Su Yu."Jadi kau akui kalau anggota sekte ini yang membunuh sahabatku, Son An?" kata ketua Lu Ba dengan tekanan yang sangat kuat.Ketua Su Yu mencoba menahan kuatnya tekanan dari tetua Lu Ba, namun ia tak mampu bertahan, dan hanya bisa menundukkan kepalanya."Bukan anggota sekte ini yang membunuh ia ketua, dia hanya orang lain yang secara tak langsung ikut dengan salah satu anggota sekte ini, ketua!" kata ketua Su Yu."Aku tak perduli siapa yang membunuh Son An, aku hanya ingin tahu dimana dia?" bentak ketua Lu Ba. "Saat ini ia ada sedang menuju ke ko
Ketua Su Yu dan Bao Yu meninggalkan Panji Sanjaya yang sudah berada di bawah penjara bawah tanah sekte matahari. Ia akan dijadikan korban untuk selamatkan sekte Matahari, dan Panji jelas tak akan diam saja. Di bawah tanah, di belakang sekte matahari, Panji Sanjaya masih mencoba untuk lepas dari ikatan totokan ketua Su Yu yang memang sangat kuat. "Kekuatan orang-orang di negeri ini memang sangat tinggi. Aku bahkan tak sebanding dengan mereka!" kata Panji Sanjaya.Panji berusaha keras untuk lepas dari totokan itu, dengan cara alirkan tenaga dalam ke seluruh tubuhnya. Namun nyatanya, totokan itu sangat kuat hingga Panji tak mampu lepaskan totokan itu. "Apa yang harus aku lakukan?" tanya Panji Sanjaya dalam keadaan bingung. "Apa kau butuh bantuan?" teriak satu suara dari cincin ruang yang ada di tangan kiri Panji."Lisara, kau tahu apa yang terjadi padaku?" tanya Panji Sanjaya."Jelas aku tahu! Aku tak akan terkurung di dalam cincin ruang seperti ini. Aku bisa bebas sesukaku!" kata L
Wajah ketua Su Yu, pucat bukan main karena perkataan putrinya, Bao Yu. Dan ia hanya bisa melihat ke arah Panji yang hanya menundukkan kepalanya."Tapi ia melalukan itu karena membela Bao Yu, ayah!" kata gadis itu."Membela dirimu?" "Iya, ayah!" kata Bao Yu.Setelah itu Bao Yu menceritakan semua yang terjadi selama di perjalanan, bagaimana mereka dihadang selama di perjalanan, hingga mereka bertemu dengan Son An."Jadi dia inginkan dirimu?""Iya ayah! Bahkan ia sempat melukai Bao!" kata Bao Yu."Hhmmm! Masalah ini akan besar, dan mungkin saja akan memberikan kekacauan di sekte ini!" kata ketua Su Yu. "Jadi apa yang harus kita lakukan ayah?" tanya Bao Yu."Untuk saat ini kita lihat dulu apa yang terjadi selanjutnya. Kau bawa dia istirahat, Bao Yu! Kalian pasti sudah sangat lelah!" kata ketua Su Yu."Iya, ayah!" kata Bao Yu. Setelah itu, Bao Yu dan Panji masuk ke dalam sebuah rumah yang tak menyatu dengan bangunan sekte matahari."Kau bisa istirahat di dalam kamar itu, Panji! Kau bisa
Son An mundur saat mendengar ucapan Panji yang akan membunuhnya, karena ia bisa saja jadi masalah bagi Panji Sanjaya. "Kau tidak mungkin melakukan itu padaku!" katanya sambil mundur ke belakang."Kenapa tidak? Memangnya apa yang aku takuti?" kata Panji Sanjaya."Aku Son An, pendekar yang memiliki nama di dunia persilatan! Kau tidak bisa lakukan itu padaku!" teriak Son An."Kau salah. Aku terpaksa lakukan itu karena kau bisa jadi masalah bagiku!" kata Panji Sanjaya. Whusssssssss!!Panji Sanjaya maju ke arah Son An, dan menyerang Pendekar di negeri Tiongkok itu dengan serangan yang ganas dan mematikan. Son An mencoba untuk mundur dan menghindar dari tiap serangan Panji. Dia gunakan ilmu meringankan tubuh yang ia miliki. Namun, kemampuan Panji ada di atasnya, hingga ia tak mampu bertahan terlalu lama. Plakkk!Satu tapak petir Panji Sanjaya masuk ke bagian dada Son An, dan itu mendorong pendekar negeri Tiongkok itu hingga dua tombak jauhnya. Namun, Son An masih mampu bangkit, dan in






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews