INICIAR SESIÓNKapan terakhir kali Alda menginjakkan kaki di rumah keluarga Roni ini?
Tentu saja, Alda mampu mengingatnya dengan jelas. Persisnya tiga tahun dua bulan yang lalu. Namun, Alda merasa seperti baru kemarin. Pada saat itu, Roni membawanya ke sini untuk dikenalkan serta meminta restu bahwa hubungan mereka serius. Roni yang ingin membawa hubungannya dengan Alda ke jenjang selanjutnya. Sambutan yang didapatkan Alda kurang hangat. Dibandingkan perkenalan keluarga, Alda merasa lebih mirip wawancara kerja. Latar belakang Alda. Contohnya, seperti siapa keluarga, di mana saja Alda mengemban pendidikan, apa pekerjaan Alda. Bahkan Alda masih mengingat raut wajah yang mendadak dingin dan sinis saat Alda berkata kedua orangtua meninggal semenjak dia kecil. Tidak ada kata yang lebih halus untuk mengemas komentar ayahnya Roni: asal-usul Alda seperti tidak jelas. Tidak heran apabila Alda gemetar berdiri di depan rumah dengan pagar tembok yang menjulang tinggi. Seakan penghuni rumah itu sengaja membatasi orang luar. Perbedaannya terdapat tenda dan rangkaian bunga belasungkawa yang berjejer memenuhi sepanjang jalan dekat rumah keluarga. "Sayang, kayaknya lebih baik aku nggak usah masuk. " Alda berbisik sambil menggenggam tangan kiri Roni. Dia tidak ingin membuat suasana lebih muram dari ini. Lebih baik dia menunggu luar ketimbang dilihat sebagai penyusup. Roni menoleh ke arah Alda. Mata Roni terlihat memerah dan berkaca-kaca. Walaupun hubungan dengan ayahnya menjauh selama tiga tahun ini, tetap saja mereka ayah dan anak laki-laki yang dipenuhi memori bersama. Alda pernah dengar darah itu sangat pekat ikatannya. Sementara Alda adalah keluarga yang dipilih Roni. "Jangan. Kita tetap harus bersama. Kamu itu istriku." Roni menuntun Alda untuk melangkah masuk. Langkah kaki Alda terasa berat. Dia tidak ingin kedatangannya membawa duka lainnya. Seperti dia adalah biang masalah yang membuat Roni tidak hadir pada saat-saat terakhir ayahnya. Bahkan kedatangan bunga turut berduka tiba lebih dulu dari Roni. Apakah Alda benar-benar merusak Roni dengan keluarganya? "Tapi...." Sebelum Alda sempat menyelesaikan kalimatnya, Roni sudah berjalan lebih dulu. Beberapa tamu dan kerabat lainnya telah berdatangan. Pintu rumah yang sebelumnya tertutup rapat untuk Alda kini terbuka lebar-lebar. Bahkan orang yang lewat pun mampu melihat ke isi rumah. Perabotan yang biasanya membuat tamu merasa ciut karena mewah itu digeser ke sudut ruangan agar membuat ruangan lebih lowong untuk menggelar karpet. Tangisan histeris tertangkap telinga Alda. Raungan menyayat yang membuat hati Alda semakin mencelus. Alda melihat ibu mertuanya di dekat jasad yang telah dibalut kafan dan dirapikan. Di sekelilingnya tampak orang mengaji. Alda juga melihat Lola yang memeluk erat ibunya demi menguatkan. Roni melepas genggaman tangan lalu bergegas menghampiri ibunya dan Lola. Ketiganya pun berpelukan. Alda berharap bukan seperti ini reuni Roni dan keluarganya. Yang diketahui Alda bahwa keluarga dapat berkumpul di antara kabar suka seperti kelahiran dan pernikahan. Selain itu, sayangnya, yang dialami Roni: kabar duka. "Pak, bangun, Pak! Ini Roni sudah datang, Pak!" seru ibu Roni. Mendengar seruan itu membuat dada alda terasa sesak. Alda memilih untuk menepi di sudut ruangan. Dia tidak sanggup membawa dirinya ke hadapan ibu mertua maupun kakak iparnya. Alda duduk bersimpuh dan turut melantunkan doa-doa. "Gue kira lo nggak bakal datang. Berani juga ya." Seorang pria duduk tepat di sisinya. Alda mengangkat wajah dan mendapati Dito, suami Lola, menyeringai ke arahnya. Bagaimana bisa Alda lupa memperhitungkan orang di hadapannya ini? Dito yang bersikap bersahabat, tetapi ucapannya menyengat. Alda selalu merasa risi karena cara Dito ingin mengakrabkan diri. Alda memilih membuang muka. Dia enggan menggubris interaksi Dito ini. "Gue lihat lo belum bawa anak nih. Kenapa? Memang mau childfree? Atau, lo ada masalah? Mungkin Roni yang ada masalah? Mau gue bantu?" Dito masih saja mengusik meski Alda mendiamkan pria itu. Perut Alda terasa mulas mendengar perkataan penuh ambigu dan manipulatif. Semua itu membuatnya jijik. Dibandingkan ibu mertua dan Lola yang terlihat terang-terangan tidak menyukai Alda, bagi Alda lebih berbahaya orang-orang seperti Dito. Mereka yang tampak seperti kawan ternyata lawan. "Lihat, buktinya gue bisa kasih Lola itu tiga anak. Kayaknya Roni yang nggak jago." Dito masih saja menyerocos tanpa henti. Alda geram. Dia tidak peduli jika dirinya yang menjadi target dari omongan usil. Namun, dia tidak bisa tinggal dia jika Roni dihina ataupun diremehkan. Hanya saja Alda tidak ingin melakukan konfrontasi yang akan menarik segala atensi. Rasanya tidak etis dan tidak sopan. Lantas Alda hanya memelototi Dito, bangkit berdiri dan beranjak dari sana. Dengan hati-hati, Alda melangkah menuju luar rumah. Tatapannya sempat terlintas ke arah Roni yang masih menenangkan ibunya dan Lola. Alda lebih baik membaur dengan tamu lain di tenda luar. Setidaknya, dia bisa memberikan spasi untuk Roni dan jauh dari jangkauan Dito. Sayangnya, di tenda pun tidak lebih baik. Alda mendengar dirinya menjadi bahan gunjingan tanpa disengaja. Matanya melirik ke sebelah. Kedua wanita paruh baya yang mengenakan pakaian serba hitam tetapi dipenuhi perhiasan, seolah-olah tidak melewatkan momen ini sebagai ajang pamer. Alda meneguk ludah. Diam-diam mendengarkan pembicaraan di sebelahnya. "Kasihan banget. Anak laki-lakinya baru ketemu lagi pas bapaknya meninggal." Suaranya terlalu keras untuk dianggap berbisik. "Gara-gara malah nikah sama perempuan nggak jelas yang ditolak Bapak dan Ibu kan?" Salah satunya kembali mengulik. Alda tidak tahu apakah mereka sengaja atau tidak berbicara seperti ini. Bisa saja mereka tahu perempuan yang tidak jelas itu duduk di samping mereka. Bisa juga mereka memang tidak bisa mengatupkan mulut rapat-rapat. "Kira-kira Si Roni nyesal nggak ya?" Ibu-ibu itu cekikikan. Alda tidak habis pikir terhadap orang-orang yang tidak punya empati seperti ini. Bergunjing di acara pemakaman seperti ini. Pertanyaan itu lucunya juga ditanyakan Alda kepada dirinya sendiri. Bagaimana kalau Roni menyesali pernikahan mereka? Sejauh ini, mereka belum dikaruniai anak. Bisnis mereka gagal. Kalau diamati secara saksama, justru Alda belum memberikan kebahagiaan yang layak untuk Roni. Bagaimanapun Roni pantas mendapatkan yang terbaik. "Bu," panggil Alda dengan suara parau. "Maaf, tapi rasanya lebih baik kita mengirimkan doa daripada malah bergosip." Alda melebarkan senyum ramah. Tatapannya lurus ke lawan bicaranya. Kedua wanita itu salah tingkah. Mereka saling menatap satu sama lain, terlihat saling menyalahkan. "Oh, iya, Mbak." Salah satunya bersuara. "Mbak sensi banget. Memangnya Mbak ini istrinya Roni?" Barangkali wanita itu bergurau demi mencairkan suasana. Sayangnya, candaan itu memang kenyataan. Alda sama sekali tidak menunduk. Dia mengangkat wajahnya tinggi. "Iya. Saya istri Roni." Alda mengarahkan telapak tangan untuk berjabat. "Mari kenalan biar saya ini menjadi jelas." Kedua wanita itu terlihat pucat. Mungkin tidak seharusnya Alda sekadar menghindar. Dia harus menghadapai segalanya demi berkomitmen dengan pilihannya tetap menikah tanpa restu. Termasuk dirinya seharusnya menegur Dito. Mungkin seharusnya Alda menerima semua ini sebagai balasan membuat Roni kehilangan waktu dengan ayahnya.Ada pepatah yang diketahui Alda: jangan berjanji saat bahagia dan jangan mengambil keputusan saat marah. Pasalnya, seseorang yang dilahap emosi hanya akan mencari cara untuk membalas menyakiti layaknya api yang menjalar dan membakar apa pun yang terlihat. Dan, Alda berharap Roni tidak bereaksi sesuai emosi. Atmosfer di hadapan Alda begitu berat. Suasananya mencekam. Bahkan, Alda berulang kali menahan napas. Tatapannya tertuju ke Roni yang mematung dengan kepala tertunduk. Raut wajah suaminya tampak tidak fokus. Di mata Alda, yang dialami oleh Roni seperti bentuk penekanan emosional. Roni baru kehilangan ayahnya lalu mendapati wasiat dari mendiang ayahnya yang merupakan tuntutan besar. Hal ini bisa dikatakan sebagai eksploitasi emosi. Alda menyadari bahwa pikiran Roni terlalu bising untuk memutuskan sesuatu pada saat itu juga. Roni terlalu rentan dan serba salah. "Apa ada batas waktunya?" tanya Alda, nada bicaranya netral. "Maksud saya, apa Roni diberi batas waktu?" Yang pali
Dengan saksama, Alda mengedarkan pandangannya berkeliling di kamar Roni. Kata Roni, kamarnya di rumah ini dibiarkan seperti semula dan tidak ada yang berubah. Seakan penghuni rumah ini bertaruh bahwa Roni pasti akan kembali kapan pun. Tatapan Alda kini terjatuh ke Roni yang baru saja selesai membersihkan diri. Secara sigap, Roni memilih pakaian yang terlipat rapi di lemari. Pria itu mengganti pakaian yang sebelumnya terkena tanah. Namun, mengubah raut wajah tidak semudah berganti pakaian. Sepanjang jalan Roni terdiam dan hanya mengepalkan tangan kuat-kuat. Mereka menggunakan taksi online untuk kembali ke rumah orangtua Roni. Alda sendiri lebih nyaman seperti ini ketimbang menumpang di mobil Dito atau kerabat yang lain. "Aku nggak ngerti. Kenapa nggak nunggu minggu depan? Atau, sekalian bulan depan?" Roni masih tidak habis pikir ibunya mengadakan pertemuan dengan notaris secepat ini. Alda berusaha mencari sudut pandang lain yang netral. Sesuatu yang terkesan logis untuk diden
Satu detik pun Alda tidak menurunkan kewaspadaannya. Seakan dirinya adalah mangsa yang menyadari perangkap di depan mata. Perasaan dihantui menggelayut dalam diri Alda. Prinsip Alda: kalau terpaksa harus berinteraksi dengan Dito, cukup sekadarnya saja. Tanpa banyak berbicara, Alda memilih duduk di kursi belakang bersama Chika di car seat dan Siska di sisi kanan. Sementara Miska dan Dito duduk di bangku depan. Untung saja, Miska sudah lebih dulu duduk di sana sehingga Alda tidak terpaksa duduk persis di sebelah Dito. Meskipun tidak ada percakapan yang terjadi antara dirinya dengan Dito, Alda tetap merasa risi. Dia bisa merasakan tatapan Dito dari kaca spion tengah. Alda mengalihkan pandangan matanya ke arah lain.Perjalanan yang seharusnya singkat terasa begitu jauh. Bahkan lagu yang berputar dari radio tidak berhasil membuat rasa diawasi itu hilang. "Tante, kok, aku baru lihat Tante?" Siska, anak tengah Lola, bertanya. Anak itu mengamatinya polos. Murni penasaran. Bagi Alda
Sembari menunggu pukul satu siang, Alda malah menyibukkan diri dengan menyajikan air minum ataupun makanan ringan untuk tamu yang datang. Masih ada satu jam sampai agenda pemakaman. Mobil jenazah sudah terparkir di depan gerbang. Setiap Alda berpapasan dengan dua wanita paruh baya yang merupakan kerabat jauh dari pihak ibu mertuanya, mereka hanya tersenyum canggung. Barangkali kedua orang itu membicarakannya dengan tamu lain karena keberadaan Alda menjadi pusat perhatian. Selalu ada beberapa pasang mata tertuju padanya. Buah bibir itu memang cepat menjalarnya seperti virus. "Kamu dari mana saja?" tanya Roni yang meraih lengan Alda. Kali ini, mata Roni sedikit membengkak. Alda mengulum senyum. "Aku habis siapin makanan dan minuman buat yang datang." Setidaknya, dengan cara ini, Alda mampu membantu. Dia tidak mungkin menghibur ibu mertuanya dengan berbicara kepadanya. Roni membuang napas pendek. "Kamu belum ketemu Ibu dan Kak Lola." Tidak perlu seseorang yang genius untuk me
Kapan terakhir kali Alda menginjakkan kaki di rumah keluarga Roni ini? Tentu saja, Alda mampu mengingatnya dengan jelas. Persisnya tiga tahun dua bulan yang lalu. Namun, Alda merasa seperti baru kemarin. Pada saat itu, Roni membawanya ke sini untuk dikenalkan serta meminta restu bahwa hubungan mereka serius. Roni yang ingin membawa hubungannya dengan Alda ke jenjang selanjutnya. Sambutan yang didapatkan Alda kurang hangat. Dibandingkan perkenalan keluarga, Alda merasa lebih mirip wawancara kerja. Latar belakang Alda. Contohnya, seperti siapa keluarga, di mana saja Alda mengemban pendidikan, apa pekerjaan Alda. Bahkan Alda masih mengingat raut wajah yang mendadak dingin dan sinis saat Alda berkata kedua orangtua meninggal semenjak dia kecil. Tidak ada kata yang lebih halus untuk mengemas komentar ayahnya Roni: asal-usul Alda seperti tidak jelas. Tidak heran apabila Alda gemetar berdiri di depan rumah dengan pagar tembok yang menjulang tinggi. Seakan penghuni rumah itu sengaja me
Sepasang mata Alda terpaku pada benda di tangannya. Dia berharap melihat satu garis lainnya meski hanya bayangan tipis. Sayangnya, sekian menit berlalu, hanya ada satu garis. Tidak ada yang berubah. Hasil pagi ini masih sama dengan hasil sudah-sudah. Alat tes kehamilan menunjukkan negatif. Seolah-olah ada tangan imajiner yang meremukkan jantungnya, Alda merasa begitu sesak. Sudah tiga tahun. Namun, Alda belum bisa memberikan buah hati untuk keluarga kecil mereka. Apa yang salah? Apa ada duri di dalam rahimnya hingga tidak ada janin yang melekat? Segala pertanyaan berlalu-lalang dalam benak Alda. Hanya saja ada satu pertanyaan yang membuat bulu kuduknya meremang. Apakah Roni menyesali menikahi dirinya? Apakah ini hukuman untuknya karena menikah tanpa restu orangtua Roni? Alda menggelengkan kepalanya cepat agar pikiran itu enyah. Lalu, dia membuang alat tes kehamilan itu ke tempat sampah. Betapa dia berharap rasa kalutnya ikut terbuang. Tangan Alda meraih kenop pintu kamar







