LOGINSembari menunggu pukul satu siang, Alda malah menyibukkan diri dengan menyajikan air minum ataupun makanan ringan untuk tamu yang datang. Masih ada satu jam sampai agenda pemakaman. Mobil jenazah sudah terparkir di depan gerbang.
Setiap Alda berpapasan dengan dua wanita paruh baya yang merupakan kerabat jauh dari pihak ibu mertuanya, mereka hanya tersenyum canggung. Barangkali kedua orang itu membicarakannya dengan tamu lain karena keberadaan Alda menjadi pusat perhatian. Selalu ada beberapa pasang mata tertuju padanya. Buah bibir itu memang cepat menjalarnya seperti virus. "Kamu dari mana saja?" tanya Roni yang meraih lengan Alda. Kali ini, mata Roni sedikit membengkak. Alda mengulum senyum. "Aku habis siapin makanan dan minuman buat yang datang." Setidaknya, dengan cara ini, Alda mampu membantu. Dia tidak mungkin menghibur ibu mertuanya dengan berbicara kepadanya. Roni membuang napas pendek. "Kamu belum ketemu Ibu dan Kak Lola." Tidak perlu seseorang yang genius untuk mengetahui kalimat Roni adalah pernyataan bukan pertanyaan. Mungkin seharusnya Alda tidak meninggalkan sisi Roni sedetik pun. "Aku pikir itu bukan ide bagus." Alda tidak akan sakit hati jika ibu mertua dan kakak iparnya enggan berinteraksi dengannya. Alda akan memaklumi. "Justru kamu perlu menunjukkan diri, membuktikan kalau kamu peduli dan mereka salah menilai kamu." Roni menarik napas dalam-dalam. "Tolong, ya?" Sesungguhnya, Alda paham bahwa seberapa banyak dirinya berusaha tidak serta-merta membuat keluarga Roni menyukai dan menerima dirinya. Intinya, dia tidak bisa memaksakan kehendak orang. Alda menahan napas. Dia tidak sampai hati menolak permintaan Roni. Apalagi suaminya pasti tengah berkabung. Alda tidak mau menambah beban pikiran untuk Roni. Pada akhirnya, Alda mengangguk mafhum. Dia mengekori Roni yang menuntunnya menghampiri ibu mertua dan ipar. Berjalan di belakang Roni membuat bisik-bisik di sekitar makin bergaung. Kebanyakan menyuarakan hal yang sama. Mereka membicarakan sosok perempuan yang membuat hubungan keluarga ini meregang. "Bu, ini Alda." Roni menggeser tubuhnya agar Alda berhadapan dengan ibunya. Alda merasa sudut bibirnya berkedut. "Bu, saya turut berduka cita. Mohon maaf." Tangan Alda terulur untuk menyalami punggung tangan ibu mertua. Namun, wanita paruh baya itu membuang muka dan menarik tangannya. Seolah-olah tidak ingin bersentuhan ataupun terkontaminasi kehadiran Alda. Seakan dirinya adalah seseorang yang terkutuk dan pembawa sial. "Ya, terima kasih. Tapi, kami nggak perlu duka cita kamu." Ibu Roni berbicara tanpa menjatuhkan pandangan matanya ke Alda barang sekejap. Lola yang duduk di sebelah ibunya, menyikut pelan seakan mengingatkan sang ibu agar tidak mengundang perhatian. Alda sendiri enggan menambahkan bahan omongan di tempat ini. Seharusnya momen ini berjalan penuh hormat. Tidak ada masalah yang menyeruak. Keluarga Roni tengah berkabung, Alda ingin semuanya berjalan lancar. Di sisi lain, Alda memaklumi cara orang berduka. Mungkin ibu mertuanya membutuhkan seseorang sebagai pelampiasan, samsak emosi. Dia pernah berada dalam posisi kehilangan kedua orangtuanya. Ada bagian dalam dirinya yang direnggut seiring tiada ibu dan ayah. Namun, dia tahu agar tidak memukulratakan perasaan itu. Pun, Alda tidak mau membayangkan kehilangan Roni. "Bu, jangan begitu." Roni mencoba menengahi. Tangan Alda menggapai pundak Roni. Secara nonverbal, Alda meminta agar suaminya tidak melanjutkan pembicaraan. Jika diteruskan, Alda yakin akan berujung tidak baik. Lagi pula, Alda tidak mau suaminya terpaksa harus memihak kubu. Beberapa petugas datang tepat waktu. Mereka membawa keranda untuk membawa jasad ayah Roni. Mereka akan bersiap-siap memakamkan beliau. "Ron, kamu ikut kita ya. Khusus keluarga inti. Mobil jenazah nggak cukup. Alda bisa sama yang lain," ungkap Lola. Roni mengerutkan kening. Tatapannya beralih ke Alda. "Nggak apa-apa. Kamu ikut Ibu dan Mbak Lola aja, ya." Alda meyakinkan Roni untuk mengantarkan ayahnya kali terakhir. Pasalnya, Roni perlu mendapatkan perpisahan yang tuntas. Alda enggan merenggut lebih banyak waktu Roni dengan keluarganya. "Kamu bisa sama Mas Dito dan anak-anak, Al. Bisa sekalian bantu jaga mereka. Pengasuh belum lama ini berhenti. Mendadak banget sampai nangis-nangis pula minta pulang." Lola menggagaskan sebuah ide. Ide yang menurut Alda sangat buruk. Berada di satu ruangan dengan Dito saja dia tidak mau apalagi berada di satu mobil. Alda membayangkan perasaan terperangkap dan tidak ada jalan keluar. Jangan-jangan pengasuh itu meminta berhenti kerja karena ulah Dito? Alda membuang asumsi tersebut. Dia tidak ingin berpikir macam-macam. "Gimana?" tanya Roni mengembalikan Alda kepada realitas. Alda bisa saja mengiyakan hal ini sebagai cara dirinya mendekatkan diri ke keluarga Roni. Namun, di sisi lain, Alda harus mengorbankan kenyamanannya berada di bawah satu atap mobil dengan Dito. Keponakan Roni pun terasa begitu asing. Seharusnya keraguan dalam diri Alda tercetak jelas pada wajahnya sendiri. "Maaf, aku kayaknya sendiri aja." Alda menolak sehalus mungkin. "Nggak usah minta bantuan dia, Lola. Nggak bisa urus anak-anak." Ibu mertuanya berujar sambil melangkah mengikuti keranda jenazah yang telah diangkat. Kalimat itu seperti tamparan keras bagi Alda. Apakah ibu mertuanya beranggapan bahwa dirinya dan Roni belum punya anak karena Alda terlihat tidak layak menjadi ibu? Seakan-akan di mata ibu mertuanya, Alda tidak ideal menjadi istri Roni dan menjadi seorang ibu. Rahang Roni mengeras. Sekali lagi, Alda menahan agar Roni tidak membalas ucapan ibunya. "Tenang, gue bakal jagain Alda," ucap Dito yang menggandeng satu anaknya dan menggendong anak di satu tangan lainnya. Alda mendapati anak perempuan berusia tujuh tahun yang bergandengan Dito. Roni pernah bercerita nama anak kedua Lola adalah Siska. Sementara balita di gendongannya bernama Chika. Anak sulung yang sibuk dengan ponsel pintarnya berusia sebelas tahun di belakang Dito bernama Miska. Ketiga anak Lola dan Dito itu perempuan semua. "Saya bisa sendiri," ungkap Alda dengan nada tegas. Dia bersikeras menolak pergi bersama Dito. "Gue yang nggak bisa sendiri." Dito mengarahkan Chika agar berpindah ke Alda dengan santainya. Refleks, Alda menggendong balita itu. Wangi minyak telon menyerbak seakan mampu menyihir orang dewasa agar tenang. "Kabar-kabari, ya, Sayang." Roni membubuhkan kecupan sebelum bergabung dengan rombongan keluarga inti. Alda pun terjebak dengan keponakannya dalam dekapan. Chika mengelus-ngelus pipi Alda dengan lembut, seolah-olah tengah meluluhkan hati Alda. Usaha Chika berhasil. Dari sudut mata, Alda melirik Dito. Mungkin kehadiran ketiga anaknya tidak akan membuat pria itu bertindak atau mengatakan hal yang macam-macam. "Lo cantik gendong anak kayak gitu," kata Dito dengan suara yang pelan. Tangannya terulur ke arah Chika. Namun, punggung tangan Dito sengaja bersinggungan dengan sisi wajah Alda. Alda terperanjat. Dia segera melangkah mundur. Bisa-bisanya pria tidak waras ini berlaku demikian di depan anak-anaknya?Ada pepatah yang diketahui Alda: jangan berjanji saat bahagia dan jangan mengambil keputusan saat marah. Pasalnya, seseorang yang dilahap emosi hanya akan mencari cara untuk membalas menyakiti layaknya api yang menjalar dan membakar apa pun yang terlihat. Dan, Alda berharap Roni tidak bereaksi sesuai emosi. Atmosfer di hadapan Alda begitu berat. Suasananya mencekam. Bahkan, Alda berulang kali menahan napas. Tatapannya tertuju ke Roni yang mematung dengan kepala tertunduk. Raut wajah suaminya tampak tidak fokus. Di mata Alda, yang dialami oleh Roni seperti bentuk penekanan emosional. Roni baru kehilangan ayahnya lalu mendapati wasiat dari mendiang ayahnya yang merupakan tuntutan besar. Hal ini bisa dikatakan sebagai eksploitasi emosi. Alda menyadari bahwa pikiran Roni terlalu bising untuk memutuskan sesuatu pada saat itu juga. Roni terlalu rentan dan serba salah. "Apa ada batas waktunya?" tanya Alda, nada bicaranya netral. "Maksud saya, apa Roni diberi batas waktu?" Yang pali
Dengan saksama, Alda mengedarkan pandangannya berkeliling di kamar Roni. Kata Roni, kamarnya di rumah ini dibiarkan seperti semula dan tidak ada yang berubah. Seakan penghuni rumah ini bertaruh bahwa Roni pasti akan kembali kapan pun. Tatapan Alda kini terjatuh ke Roni yang baru saja selesai membersihkan diri. Secara sigap, Roni memilih pakaian yang terlipat rapi di lemari. Pria itu mengganti pakaian yang sebelumnya terkena tanah. Namun, mengubah raut wajah tidak semudah berganti pakaian. Sepanjang jalan Roni terdiam dan hanya mengepalkan tangan kuat-kuat. Mereka menggunakan taksi online untuk kembali ke rumah orangtua Roni. Alda sendiri lebih nyaman seperti ini ketimbang menumpang di mobil Dito atau kerabat yang lain. "Aku nggak ngerti. Kenapa nggak nunggu minggu depan? Atau, sekalian bulan depan?" Roni masih tidak habis pikir ibunya mengadakan pertemuan dengan notaris secepat ini. Alda berusaha mencari sudut pandang lain yang netral. Sesuatu yang terkesan logis untuk diden
Satu detik pun Alda tidak menurunkan kewaspadaannya. Seakan dirinya adalah mangsa yang menyadari perangkap di depan mata. Perasaan dihantui menggelayut dalam diri Alda. Prinsip Alda: kalau terpaksa harus berinteraksi dengan Dito, cukup sekadarnya saja. Tanpa banyak berbicara, Alda memilih duduk di kursi belakang bersama Chika di car seat dan Siska di sisi kanan. Sementara Miska dan Dito duduk di bangku depan. Untung saja, Miska sudah lebih dulu duduk di sana sehingga Alda tidak terpaksa duduk persis di sebelah Dito. Meskipun tidak ada percakapan yang terjadi antara dirinya dengan Dito, Alda tetap merasa risi. Dia bisa merasakan tatapan Dito dari kaca spion tengah. Alda mengalihkan pandangan matanya ke arah lain.Perjalanan yang seharusnya singkat terasa begitu jauh. Bahkan lagu yang berputar dari radio tidak berhasil membuat rasa diawasi itu hilang. "Tante, kok, aku baru lihat Tante?" Siska, anak tengah Lola, bertanya. Anak itu mengamatinya polos. Murni penasaran. Bagi Alda
Sembari menunggu pukul satu siang, Alda malah menyibukkan diri dengan menyajikan air minum ataupun makanan ringan untuk tamu yang datang. Masih ada satu jam sampai agenda pemakaman. Mobil jenazah sudah terparkir di depan gerbang. Setiap Alda berpapasan dengan dua wanita paruh baya yang merupakan kerabat jauh dari pihak ibu mertuanya, mereka hanya tersenyum canggung. Barangkali kedua orang itu membicarakannya dengan tamu lain karena keberadaan Alda menjadi pusat perhatian. Selalu ada beberapa pasang mata tertuju padanya. Buah bibir itu memang cepat menjalarnya seperti virus. "Kamu dari mana saja?" tanya Roni yang meraih lengan Alda. Kali ini, mata Roni sedikit membengkak. Alda mengulum senyum. "Aku habis siapin makanan dan minuman buat yang datang." Setidaknya, dengan cara ini, Alda mampu membantu. Dia tidak mungkin menghibur ibu mertuanya dengan berbicara kepadanya. Roni membuang napas pendek. "Kamu belum ketemu Ibu dan Kak Lola." Tidak perlu seseorang yang genius untuk me
Kapan terakhir kali Alda menginjakkan kaki di rumah keluarga Roni ini? Tentu saja, Alda mampu mengingatnya dengan jelas. Persisnya tiga tahun dua bulan yang lalu. Namun, Alda merasa seperti baru kemarin. Pada saat itu, Roni membawanya ke sini untuk dikenalkan serta meminta restu bahwa hubungan mereka serius. Roni yang ingin membawa hubungannya dengan Alda ke jenjang selanjutnya. Sambutan yang didapatkan Alda kurang hangat. Dibandingkan perkenalan keluarga, Alda merasa lebih mirip wawancara kerja. Latar belakang Alda. Contohnya, seperti siapa keluarga, di mana saja Alda mengemban pendidikan, apa pekerjaan Alda. Bahkan Alda masih mengingat raut wajah yang mendadak dingin dan sinis saat Alda berkata kedua orangtua meninggal semenjak dia kecil. Tidak ada kata yang lebih halus untuk mengemas komentar ayahnya Roni: asal-usul Alda seperti tidak jelas. Tidak heran apabila Alda gemetar berdiri di depan rumah dengan pagar tembok yang menjulang tinggi. Seakan penghuni rumah itu sengaja me
Sepasang mata Alda terpaku pada benda di tangannya. Dia berharap melihat satu garis lainnya meski hanya bayangan tipis. Sayangnya, sekian menit berlalu, hanya ada satu garis. Tidak ada yang berubah. Hasil pagi ini masih sama dengan hasil sudah-sudah. Alat tes kehamilan menunjukkan negatif. Seolah-olah ada tangan imajiner yang meremukkan jantungnya, Alda merasa begitu sesak. Sudah tiga tahun. Namun, Alda belum bisa memberikan buah hati untuk keluarga kecil mereka. Apa yang salah? Apa ada duri di dalam rahimnya hingga tidak ada janin yang melekat? Segala pertanyaan berlalu-lalang dalam benak Alda. Hanya saja ada satu pertanyaan yang membuat bulu kuduknya meremang. Apakah Roni menyesali menikahi dirinya? Apakah ini hukuman untuknya karena menikah tanpa restu orangtua Roni? Alda menggelengkan kepalanya cepat agar pikiran itu enyah. Lalu, dia membuang alat tes kehamilan itu ke tempat sampah. Betapa dia berharap rasa kalutnya ikut terbuang. Tangan Alda meraih kenop pintu kamar







