بيت / Romansa / Pura-Pura Cerai / 1. Kabar Duka

مشاركة

Pura-Pura Cerai
Pura-Pura Cerai
مؤلف: AR Disza

1. Kabar Duka

مؤلف: AR Disza
last update تاريخ النشر: 2026-09-18 19:40:12

Sepasang mata Alda terpaku pada benda di tangannya. Dia berharap melihat satu garis lainnya meski hanya bayangan tipis. Sayangnya, sekian menit berlalu, hanya ada satu garis. Tidak ada yang berubah. Hasil pagi ini masih sama dengan hasil sudah-sudah. Alat tes kehamilan menunjukkan negatif.

Seolah-olah ada tangan imajiner yang meremukkan jantungnya, Alda merasa begitu sesak. Sudah tiga tahun. Namun, Alda belum bisa memberikan buah hati untuk keluarga kecil mereka.

Apa yang salah?

Apa ada duri di dalam rahimnya hingga tidak ada janin yang melekat?

Segala pertanyaan berlalu-lalang dalam benak Alda. Hanya saja ada satu pertanyaan yang membuat bulu kuduknya meremang. Apakah Roni menyesali menikahi dirinya? Apakah ini hukuman untuknya karena menikah tanpa restu orangtua Roni?

Alda menggelengkan kepalanya cepat agar pikiran itu enyah. Lalu, dia membuang alat tes kehamilan itu ke tempat sampah. Betapa dia berharap rasa kalutnya ikut terbuang. Tangan Alda meraih kenop pintu kamar mandi.

Pandangannya kini tertuju pada Roni yang berjalan mondar-mandir di kamar mereka. Pagi-pagi seperti ini, Roni sudah sibuk dengan panggilan telepon.

"Pokoknya, dia harus ketemu bagaimanapun caranya!" seru Roni yang akhir-akhir ini sibuk dengan sambungan telepon. Entah dengan pihak kepolisian ataupun kenalan bisnis lainnya. Tidak berselang lama, Roni memutus teleponnya.

Rekan bisnisnya, Jefri, menghilang dan membawa serta uang Roni. Uang yang seharusnya bisa mengamankan masa depan mereka. Uang yang awalnya untuk program hamil mereka. Alda tidak ingin menyalahkan Roni. Pasalnya, Roni yakin pendapatan dari bisnis akan berkali lipat dan uang untuk program hamil mereka kembali. Nyatanya, tidak.

Dari segala kerunyaman yang ada, Alda berharap dapat membawa kabar suka. Kabar bahwa alasannya belum datang bulan adalah dirinya hamil. Bagaimanapun Alda ingin pernikahan mereka bahagia. Memang tidak dapat dipungkiri dalam setiap pernikahan pasti memiliki suka dan duka. Yang terpenting dari itu semua adalah mereka yang memilih bertahan dan berjuang untuk pernikahan.

"Sayang," panggil Alda seraya melangkah menghampiri suaminya. Tangannya terulur agar meraih punggung Roni lalu membelainya lembut. Jika Alda belum bisa memberikan kehadiran buah hati, setidaknya dia bisa memberikan kehadirannya. Sepenuhnya. Seutuhnya.

Roni menurunkan ponsel dan menaruhnya di saku celana. Dia melempar senyum getir. "Maaf, ya. Aku malah membuatmu cemas."

Alda menempelkan kening ke pundak bidang Roni. Dia tidak berkata apa pun.

Kemudian Roni melingkarkan lengannya guna mendekap Alda. "Maaf, aku malah membuat kita kehilangan uang banyak. Aku janji akan memperbaiki ini semua. Aku ingin memberikanmu segalanya."

Selama ini, Roni selalu mengerahkan segala usaha untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka. Bagi Alda, itu semua sudah lebih dari cukup. Namun, Alda paham bahwa rencana mereka untuk program hamil memang membutuhkan biaya.

"Bagiku, yang penting, aku nggak kehilangan kamu. nggak kehilangan kita. Dan, untukku, kamu itu segalanya, Sayang." Alda mendongak, tangannya menangkup pipi Roni.

Alda mendapati raut wajah yang terlihat begitu lelah. Dia ingin Roni tahu bahwa dirinya bisa berbagi apa pun dengan Alda. Resah, kesah, bahkan desah.

Roni melebarkan senyum. Tatapannya jauh lebih teduh. "Dan, mereka bilang kamu cuma memanfaatkan aku. Padahal, kalau kamu memang begitu, kamu sudah pergi dari sisiku sejak lama."

Alda tahu apa yang membuat keluarga Roni enggan menerima dirinya sebagai istri Roni. Alda seorang yatim-piatu. Padahal, Alda sendiri tidak ingin sebatang kara. Seolah-olah Alda dituduh memilih kehidupannya yang terlihat suram. Namun, pada diri Roni, Alda menemukan keluarga. Sebuah rumah yang membuatnya nyaman dan aman.

"Aku di sini, Sayang." Alda membubuhkan kecupan ringan di pipi Roni. "Aku nggak bakal ke mana-mana."

Roni mengeratkan pelukannya. "Dan, aku nggak bakal membiarkan kamu ke mana-mana."

Alda menyadari deru napas Roni yang kian memberat. Dia mampu merasakan hangat napas Roni di lehernya seiring hidung sang suami menelusuri ceruk. Alda selalu menyukai sensasi ini. Bagaimana cara Roni menjelajahi dirinya seperti sebuah peta. Roni yang selalu tampak mendambakan dirinya. Selalu berhasrat untuknya.

Tanpa sadar, Alda meloloskan desah. Bahkan dia menelengkan kepalanya ke sisi, memberi akses lebih leluasa untuk Roni memberikan afeksi.

Alda tidak mempermasalahkan apabila cara ini membuat pikiran Roni yang kusut sedikit terurai. Pelampiasan pun Alda tidak keberatan. Bukankah Alda memang ingin memberikan kehadirannya?

"Sayang..." Suara Alda lambat laun terdengar seperti rintihan. Terutama, dia bisa merasakan jemari Roni seakan merambat di pinggangnya, menyelinap masuk dari balik pakaian. "Bukannya kamu harus pergi kerja?"

Meskipun pertanyaan Alda menyiratkan bahwa mereka seharusnya melanjutkan agenda keseharian, reaksi Alda bertolak belakang. Dia melingkarkan lengan di leher Roni, jarinya memainkan helai rambut di tengkuk pria itu.

Roni terkekeh. "Kerjaan bisa menunggu."

Perkataan Roni memang benar. Alda sendiri tidak bisa menunggu lebih lama dari ini. Kali ini, dia mengarahkan tangannya untuk membuka kancing kemeja Roni. Memulai hari dengan bercinta sama sekali bukan ide yang buruk.

Alda kembali mendongak dan mencumbu bibir Roni. Bukan sekadar kecupan manis, tetapi sesuatu yang lebih menuntut. Lidahnya yang menyelinap lalu mengulum belah bibir bawah Roni. Pun, Roni membalas ciuman itu sama intensnya. Alda selalu senang Roni berhasil membuatnya kepayang. Begitu adiktif.

Terdengar ponsel Roni berdering dari saku celana. Roni menggeram, kesal karena suara itu mengangggu. Alda berpikir yang sama meski ada kemungkinan bahwa itu telepon yang penting. Alda lalu merogoh ponsel Roni untuk mematikan panggilan. Namun, Alda menangkap apa yang tertera di layar ponsel. Tepatnya, siapa yang menelepon Roni. Sebuah nama yang selama tiga tahun tidak pernah terdengar. Lola, kakak perempuan Roni.

Apa hal yang membuat anggota keluarga Roni yang selama ini asing lalu menelepon?

"Sayang, kayaknya yang ini nggak bisa menunggu." Alda mengerjapkan mata. Dia menyerahkan ponsel ke pemiliknya. "Kakakmu yang telepon."

Mata Roni membeliak, sama terkejutnya dengan Alda. Roni melangkah mundur sambil berdeham.

Alda bergeming, tidak dapat dimungkiri bahwa dirinya penasaran.

"Halo, Kak?" sapa Roni, menerima panggilan tersebut. Satu tangannya masih membelai pinggang ramping Alda.

Samar-samar, Alda mendapati suara Lola yang berbicara. Tidak jelas apa yang dibicarakan, tetapi Alda yakin hal itu begitu mendesak. Terutama, Alda mengamati perubahan wajah Roni. Tiba-tiba warna meninggalkan wajah pria itu sehingga pucat pasi.

Roni membisu. Sambungan terputus, tetapi Roni masih mengarahkan ponsel ke telinganya.

"Sayang?" panggil Alda. "Kenapa? Ada apa?"

Roni masih mematung. Apa pun kabar yang dibawa Lola adalah sesuatu yang mengguncang. Roni begitu syok.

"Sayang?" Alda memanggil sekali lagi.

Kali ini, Roni menoleh ke arah Alda. Tatapan matanya masih kosong. Sama sekali tidak fokus.

"Tadi Mbak Lola bilang apa?" Alda bertanya tanpa terdengar menyudutkan. Murni merasa cemas.

"Ayahku... ayahku meninggal." Roni menyuarakan kabar duka.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Pura-Pura Cerai   6. Intrik Emosi

    Ada pepatah yang diketahui Alda: jangan berjanji saat bahagia dan jangan mengambil keputusan saat marah. Pasalnya, seseorang yang dilahap emosi hanya akan mencari cara untuk membalas menyakiti layaknya api yang menjalar dan membakar apa pun yang terlihat. Dan, Alda berharap Roni tidak bereaksi sesuai emosi. Atmosfer di hadapan Alda begitu berat. Suasananya mencekam. Bahkan, Alda berulang kali menahan napas. Tatapannya tertuju ke Roni yang mematung dengan kepala tertunduk. Raut wajah suaminya tampak tidak fokus. Di mata Alda, yang dialami oleh Roni seperti bentuk penekanan emosional. Roni baru kehilangan ayahnya lalu mendapati wasiat dari mendiang ayahnya yang merupakan tuntutan besar. Hal ini bisa dikatakan sebagai eksploitasi emosi. Alda menyadari bahwa pikiran Roni terlalu bising untuk memutuskan sesuatu pada saat itu juga. Roni terlalu rentan dan serba salah. "Apa ada batas waktunya?" tanya Alda, nada bicaranya netral. "Maksud saya, apa Roni diberi batas waktu?" Yang pali

  • Pura-Pura Cerai   5. Ultimatum Terakhir

    Dengan saksama, Alda mengedarkan pandangannya berkeliling di kamar Roni. Kata Roni, kamarnya di rumah ini dibiarkan seperti semula dan tidak ada yang berubah. Seakan penghuni rumah ini bertaruh bahwa Roni pasti akan kembali kapan pun. Tatapan Alda kini terjatuh ke Roni yang baru saja selesai membersihkan diri. Secara sigap, Roni memilih pakaian yang terlipat rapi di lemari. Pria itu mengganti pakaian yang sebelumnya terkena tanah. Namun, mengubah raut wajah tidak semudah berganti pakaian. Sepanjang jalan Roni terdiam dan hanya mengepalkan tangan kuat-kuat. Mereka menggunakan taksi online untuk kembali ke rumah orangtua Roni. Alda sendiri lebih nyaman seperti ini ketimbang menumpang di mobil Dito atau kerabat yang lain. "Aku nggak ngerti. Kenapa nggak nunggu minggu depan? Atau, sekalian bulan depan?" Roni masih tidak habis pikir ibunya mengadakan pertemuan dengan notaris secepat ini. Alda berusaha mencari sudut pandang lain yang netral. Sesuatu yang terkesan logis untuk diden

  • Pura-Pura Cerai   4. Menduga yang Tak Terduga

    Satu detik pun Alda tidak menurunkan kewaspadaannya. Seakan dirinya adalah mangsa yang menyadari perangkap di depan mata. Perasaan dihantui menggelayut dalam diri Alda. Prinsip Alda: kalau terpaksa harus berinteraksi dengan Dito, cukup sekadarnya saja. Tanpa banyak berbicara, Alda memilih duduk di kursi belakang bersama Chika di car seat dan Siska di sisi kanan. Sementara Miska dan Dito duduk di bangku depan. Untung saja, Miska sudah lebih dulu duduk di sana sehingga Alda tidak terpaksa duduk persis di sebelah Dito. Meskipun tidak ada percakapan yang terjadi antara dirinya dengan Dito, Alda tetap merasa risi. Dia bisa merasakan tatapan Dito dari kaca spion tengah. Alda mengalihkan pandangan matanya ke arah lain.Perjalanan yang seharusnya singkat terasa begitu jauh. Bahkan lagu yang berputar dari radio tidak berhasil membuat rasa diawasi itu hilang. "Tante, kok, aku baru lihat Tante?" Siska, anak tengah Lola, bertanya. Anak itu mengamatinya polos. Murni penasaran. Bagi Alda

  • Pura-Pura Cerai   3. Bukan Reuni Keluarga

    Sembari menunggu pukul satu siang, Alda malah menyibukkan diri dengan menyajikan air minum ataupun makanan ringan untuk tamu yang datang. Masih ada satu jam sampai agenda pemakaman. Mobil jenazah sudah terparkir di depan gerbang. Setiap Alda berpapasan dengan dua wanita paruh baya yang merupakan kerabat jauh dari pihak ibu mertuanya, mereka hanya tersenyum canggung. Barangkali kedua orang itu membicarakannya dengan tamu lain karena keberadaan Alda menjadi pusat perhatian. Selalu ada beberapa pasang mata tertuju padanya. Buah bibir itu memang cepat menjalarnya seperti virus. "Kamu dari mana saja?" tanya Roni yang meraih lengan Alda. Kali ini, mata Roni sedikit membengkak. Alda mengulum senyum. "Aku habis siapin makanan dan minuman buat yang datang." Setidaknya, dengan cara ini, Alda mampu membantu. Dia tidak mungkin menghibur ibu mertuanya dengan berbicara kepadanya. Roni membuang napas pendek. "Kamu belum ketemu Ibu dan Kak Lola." Tidak perlu seseorang yang genius untuk me

  • Pura-Pura Cerai   2. Keluarga Roni

    Kapan terakhir kali Alda menginjakkan kaki di rumah keluarga Roni ini? Tentu saja, Alda mampu mengingatnya dengan jelas. Persisnya tiga tahun dua bulan yang lalu. Namun, Alda merasa seperti baru kemarin. Pada saat itu, Roni membawanya ke sini untuk dikenalkan serta meminta restu bahwa hubungan mereka serius. Roni yang ingin membawa hubungannya dengan Alda ke jenjang selanjutnya. Sambutan yang didapatkan Alda kurang hangat. Dibandingkan perkenalan keluarga, Alda merasa lebih mirip wawancara kerja. Latar belakang Alda. Contohnya, seperti siapa keluarga, di mana saja Alda mengemban pendidikan, apa pekerjaan Alda. Bahkan Alda masih mengingat raut wajah yang mendadak dingin dan sinis saat Alda berkata kedua orangtua meninggal semenjak dia kecil. Tidak ada kata yang lebih halus untuk mengemas komentar ayahnya Roni: asal-usul Alda seperti tidak jelas. Tidak heran apabila Alda gemetar berdiri di depan rumah dengan pagar tembok yang menjulang tinggi. Seakan penghuni rumah itu sengaja me

  • Pura-Pura Cerai   1. Kabar Duka

    Sepasang mata Alda terpaku pada benda di tangannya. Dia berharap melihat satu garis lainnya meski hanya bayangan tipis. Sayangnya, sekian menit berlalu, hanya ada satu garis. Tidak ada yang berubah. Hasil pagi ini masih sama dengan hasil sudah-sudah. Alat tes kehamilan menunjukkan negatif. Seolah-olah ada tangan imajiner yang meremukkan jantungnya, Alda merasa begitu sesak. Sudah tiga tahun. Namun, Alda belum bisa memberikan buah hati untuk keluarga kecil mereka. Apa yang salah? Apa ada duri di dalam rahimnya hingga tidak ada janin yang melekat? Segala pertanyaan berlalu-lalang dalam benak Alda. Hanya saja ada satu pertanyaan yang membuat bulu kuduknya meremang. Apakah Roni menyesali menikahi dirinya? Apakah ini hukuman untuknya karena menikah tanpa restu orangtua Roni? Alda menggelengkan kepalanya cepat agar pikiran itu enyah. Lalu, dia membuang alat tes kehamilan itu ke tempat sampah. Betapa dia berharap rasa kalutnya ikut terbuang. Tangan Alda meraih kenop pintu kamar

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status