MasukDeru mesin SUV hitam rampasan itu meraung keras, membelah kesunyian aspal perkotaan yang melompong di bawah temaram lampu jalan. Tresna menginjak pedal gas sedalam mungkin, memacu jarum speedometer hingga menyentuh angka yang nyaris membuat ban mobil kehilangan traksi sepenuhnya.Fokusnya terkunci pada jalanan yang membentang lurus menuju arah utara kota. Kawasan industri tua itu kini mulai ditinggalkan oleh para penghuninya, menyisakan reruntuhan beton yang membisu.Sesekali mata tajamnya melirik spion tengah dan samping dengan tingkat kewaspadaan yang sangat tinggi. Dia harus memastikan tidak ada sorot lampu kendaraan musuh yang membuntuti atau menyadari pergerakannya menuju jantung pertahanan sindikat.Amarah yang sedari tadi mendidih membuat genggamannya pada kemudi terasa begitu kencang. Seolah-olah dia ingin meremukkan kulit setir yang terasa dingin di bawah jemarinya yang menegang.Setiap tikungan tajam diterjangnya dengan teknik mengemudi yang kasar namun penuh perhitungan. Ra
"Mas... aku pikir kamu... makasih sudah selamat!" isak Clara di dada bidang Tresna."Udah, nggak usah nangis. Kita belum benar-benar aman. Sekarang kamu turun, ajak Silvi, Linda, sama Tante Arum!" perintah Tresna dengan tegas.Tresna menggandeng tangan Clara, membimbingnya menuruni tangga menuju lantai bawah dengan sangat waspada. Di sana, Silvi dan Linda sudah menunggu dengan wajah yang sama pucatnya, sementara Tante Arum tampak sangat lemas di kursi ruang makan. Tanpa banyak penjelasan, Tresna mengarahkan mereka menuju ke sebuah pintu tersembunyi di balik rak buku ruang perpustakaan."Mas... kita mau ke mana? Ini pintu apa?" tanya Linda dengan suara gemetar."Ini ruang bawah tanah rahasia, Mbak. Mas Tresna benar, kalian harus masuk ke sana," sela Clara sambil membuka p
Lantai dapur yang dingin kini menjadi saksi bisu betapa hinanya seorang tentara bayaran di hadapan amarah sang mantri desa. Tresna menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang masih memompa kencang akibat sisa pertarungan di ruang tengah.Dia tidak butuh waktu lama untuk memikirkan cara paling efisien guna memeras informasi dari mulut pria bermasker yang kini sudah gemetar hebat di bawah kakinya itu. Kemarahan yang sempat terdistraksi oleh gairah bersama Clara tadi, kini telah sepenuhnya berubah menjadi insting predator yang haus akan jawaban.Tresna melangkah cepat menuju kulkas dua pintu yang berdiri angkuh di sudut dapur, lalu menyambar sebuah gelas besar berisi air dingin. Tanpa banyak bicara, dia menyiramkan air tersebut langsung ke wajah pasukan elit mafia itu untuk mengembalikan kesadarannya secara paksa.BYAARRRR!"Uhuk! Uhuk! Aduh... dingin!" raung pria itu sambil tersedak. Matanya yang merah karena uap panas kini terbelalak lebar, mencoba menangkap bayan
Dengan gerakan seperti hantu di tengah kabut, dia melesat maju dengan sisa tenaga yang dipicu oleh adrenalin murni. Dia tidak butuh mata untuk melihat, karena instingnya sebagai petarung sudah mengunci target-targetnya dengan sangat akurat.BUGH! BUGH!Tresna meninju perut dua pasukan mafia tersebut secara bergantian dengan kekuatan yang sanggup mematahkan tulang rusuk manusia biasa. Pukulan itu mendarat tepat di hulu hati mereka, membuat keduanya langsung tumbang ke lantai keramik sambil memegangi perut dengan wajah yang membiru.Mereka bahkan nggak sempat menarik pelatuk senjata masing-masing karena rasa sakit yang jauh lebih mendominasi daripada tugas mereka sebagai pembunuh. Di dalam kepulan uap yang menyesakkan itu, sang mantri kampung kembali mengambil alih kendali atas nyawanya sendiri.
Tubuh kekar Tresna menghantam dinding marmer ruang tamu dengan suara dentuman yang sangat keras, seolah-olah seluruh tulang punggungnya baru saja dipaksa beradu dengan beton padat. Rasa nyeri yang luar biasa langsung menjalar dari saraf tulang belakang hingga ke ujung kepala, membuat pandangannya sempat memutih selama beberapa detik.Napasnya menjadi sesak seketika, laksana ada sebongkah batu besar yang menindih rongga dadanya hingga dia kesulitan hanya untuk sekadar menghirup oksigen. Tidak ada lagi sisa kenyamanan dari kasur empuk Clara yang dia rasakan tadi, kini yang ada hanyalah lantai dingin dan aroma mesiu yang mencekik."Uhukk! Bajingan... keras juga tendanganmu," umpat Tresna sambil terbatuk. Darah segar mulai merembes dari sela bibirnya yang pecah, memberikan rasa amis yang semakin pekat di mulutnya.Belum sempat dia mengumpulkan kembali kesadarannya, dua pasukan elit lainnya segera melangkah maju dengan gerakan taktis yang sangat rapi. Mereka tidak memberikan ruang sedikit
"Aku harus turun, Clar. Linda, Silvi sama Tante Arum nggak punya pertahanan kalau mereka masuk. Kamu diam di sini, jangan keluar sampai aku yang panggil, paham?!" perintah Tresna dengan nada yang tidak bisa dibantah.Tanpa menunggu jawaban lagi, Tresna segera berbalik dan mencari senjata apa pun yang bisa dia gunakan untuk melawan senapan serbu di bawah sana. Matanya tertuju pada rak jemuran handuk yang terbuat dari pipa besi padat di pojok kamar mandi utama.Dengan satu tarikan kuat, dia mengambil sebuah tiang besi dari rak jemuran handuk tersebut. Tresna menimbangnya sebentar di tangan untuk memastikan keseimbangan beban senjata daruratnya itu."Cuma ada ini ternyata. Oke, ayo kita main," bisik Tresna pada dirinya sendiri. Aura membunuhnya kini sudah meluap sepenuhnya, siap meledak di tengah kekacauan yang sedang terjadi.Dia melangkah keluar dari kamar utama dengan langkah yang sangat ringan namun pasti, laksana seekor macan tutul yang sedang mengincar mangsa. Tresna berjalan menur







