Pusaka Idaman Gadis Desa

Pusaka Idaman Gadis Desa

last updateLast Updated : 2026-03-16
By:  Prince MolinaUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
89Chapters
4.4Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Impotenku sembuh, waktunya membalas mereka semua! Aku akan menunjukkan kalau aku adalah laki-laki greenflag yang bisa jadi idaman para gadis desa!

View More

Chapter 1

Bab 1

"Mas Tresna, tolongin! Punggungku rasanya mau copot, kayak ada beban berat yang nempel nggak mau lepas dari tadi pagi!"

Pintu klinik kayu yang sudah miring itu terbuka dengan suara debuman keras. Di ambang pintu, Silvi berdiri dengan napas yang masih tersengal.

Guncangan itu nyaris membuat Tresna terjungkal dari kursi. Padahal, pria dua puluh delapan tahun itu baru saja asyik melamunkan nasib dompetnya yang makin tipis.

Sambil mengusap wajah kusam, Tresna menatap sang janda kembang dengan bingung. Ia refleks merapikan kaos oblongnya yang sudah melar di bagian leher.

Seketika, bayangan ancaman Pak Kades Aditama soal penutupan klinik ilegalnya buyar. Pemandangan di depannya jauh lebih menyita perhatian.

"Mbak Silvi, kalau masuk itu mbok ya ketok pintu dulu, toh. Ini klinik pengobatan, bukan gerbang tol yang main terobos aja," keluh Tresna.

Ia berusaha mengatur nada bicara agar tetap tenang. Meski begitu, jantungnya tidak bisa bohong. Detaknya makin kencang saat melihat bulir keringat yang mengalir pelan di leher Silvi.

"Aduh, nggak sempet ketok-ketok lagi! Ini udah darurat banget, Mas Tresna. Rasanya kayak masuk angin duduk sampe ke pinggang, panas banget!"

Silvi merangsek masuk, lalu menendang pintu klinik dengan tumitnya sampai tertutup rapat. Gerakan itu cukup jadi kode bagi Tresna, pasiennya yang satu ini tidak mau diganggu siapa pun dari luar.

Tresna mendesah pelan. Dari dalam laci meja praktik, ia mengambil botol minyak zaitun campuran jahe merah dan sekeping koin logam yang pinggirannya sudah halus.

Ia sudah hafal di luar kepala kelakuan warga desa. Mereka selalu mengandalkannya saat butuh, tapi tetap saja rajin mengejeknya sebagai perjaka yang tidak laku hanya karena Tresna terlalu pilih-pilih soal pasangan.

Di luar sana, orang-orang seperti Pak Karyo atau Didin mungkin sedang asyik bergosip di pos ronda. Menyebutnya sebagai mantri cabul yang hanya modal tampang manis tanpa surat izin resmi.

"Ya udah, sini naik ke ranjang periksa. Saya liat dulu seberapa parah masuk anginnya, sampe Mbak Silvi sepanik ini."

Silvi tidak banyak bicara lagi. Dia langsung membelakangi Tresna, lalu dengan gerakan berani menyingkap kebaya kutubaru motif bunganya ke atas. Tanpa ragu sama sekali.

Tresna spontan menahan napas. Punggung Silvi yang putih mulus itu kelihatan kontras banget sama plafon klinik yang jamuran dan dinding kusam di sekitarnya.

Pemandangan berikutnya makin bikin Tresna melongo di mana kaitan bra merah menyala yang dipakai Silvi ternyata sudah lepas. Garis punggung itu terpampang nyata tanpa penghalang apa pun.

"Mbak, ini kok... branya udah lepas kaitannya? Nanti kalau pas lagi dikerok terus melorot gimana? Saya nggak mau tanggung jawab, lho, ya!"

"Halah, Mas Tresna ini kok malah protes. Kan, biar Mas Tresna gampang ngeroknya sampe bawah. Biar anginnya nggak ada yang nyelip di balik tali bra."

"Ya tapi jangan langsung begini juga. Kalau ada yang ngintip dari ventilasi atas, bisa geger satu Desa Sukamaju ini, Mbak!"

"Biarin aja mereka mau ngintip sampe matanya bintitan! Yang penting aku sembuh dulu. Udah, ayo cepet dikerok, Mas. Jangan cuma diliatin aja!"

Tanpa aba-aba, Silvi langsung tengkurap di atas ranjang periksa. Dia sengaja sedikit mengangkat pinggul, membuat lekuk tubuhnya terpampang jelas tepat di depan mata Tresna.

Sambil berusaha menjaga profesionalitas, Tresna mulai bergerak. Tangannya sedikit gemetar saat mengoleskan minyak hangat ke punggung Silvi yang terasa lembut.

Begitu koin logam menyentuh kulit dan ditarik perlahan hingga menciptakan garis merah, Silvi justru mengeluarkan suara yang sama sekali tidak terdengar seperti orang sakit.

"Aaaah... hmmm... enak banget, Mas Tresna... ya, di situ. Agak ditekan lagi dikit biar mantap!"

"Mbak Silvi, suaranya tolong dikontrol! Ini saya lagi ngerok, bukan lagi ngapa-ngapain. Kalau orang lewat denger, bisa salah paham!"

"Lho, kan aku emang lagi keenakan. Tangan Mas Tresna ini ajaib banget, nggak usah dengerin omongan orang luar yang sirik sama kita."

Tresna cuma bisa geleng-geleng kepala. Namun, fokusnya makin buyar karena Silvi mulai menggeliat, persis kucing yang lagi cari perhatian.

Tiap kali koin itu mengarah ke pinggang bawah, Silvi sengaja menggerakkan pinggulnya ke kanan dan kiri, mengikuti irama tangan sang mantri dengan gemulai. Karena jarak ranjang dan posisi berdirinya sangat sempit, mau tidak mau bokong padat itu berulang kali menyenggol area sensitif Tresna. Tekanannya pun tidak main-main.

Sebenarnya, meskipun dijuluki perjaka gendeng, Tresna tetaplah pria normal dengan hormon sehat. Apalagi, dia jarang dapet sentuhan sedekat ini dari wanita secantik Silvi.

Seketika, Si Gatot atau pusaka kebanggaan yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat, langsung bereaksi keras. Stimulasi dari gerakan nakal si janda kembang benar-benar tidak bisa diajak kompromi.

Celana kain tipis yang dipakai Tresna gagal menyembunyikan ketegangan itu. Sebuah tonjolan besar terpampang nyata, tepat di samping lengan Silvi.

Silvi yang merasakan ada sesuatu yang keras dan panas menyundul lengannya, bukannya menjauh, malah sengaja menghentikan gerakan. Ia melirik ke belakang dengan sudut mata yang berkilat penuh kemenangan.

Melihat wajah Tresna yang merah padam dengan keringat sebesar biji jagung di dahi, Silvi sedikit mengangkat tubuh. Ia menyandarkan dagu di atas kedua tangan, sambil menatap langsung ke arah harta karun yang tampak ingin menembus celana sang mantri.

"Mas Tresna kok diem aja? Itu tangannya berhenti kenapa? Apa minyaknya udah habis, atau tangannya udah pegel?"

"Ini... anu, Mbak... saya cuma mau ambil napas sebentar. Udaranya panas banget ya di dalam sini," jawab Tresna gugup.

"Panas karena cuaca, atau panas karena liat yang merah-merah di depan mata? Jangan-jangan Mas Tresna lagi mikir yang macem-macem, ya?"

Tresna mematung. Koin logam itu masih menempel di punggung Silvi, tapi pikirannya sudah lari ke mana-mana. Ia merasa terpojok oleh situasi yang ia buat sendiri, efek samping terlalu lama menjomblo.

Silvi terkekeh. Suara tawanya terdengar menggoda sekaligus memprovokasi, membuat nyali Tresna yang biasanya tinggi saat menghadapi preman pasar langsung menciut.

Si janda kembang itu mendekatkan wajah ke telinga Tresna. Aroma parfum melati yang bercampur keringat khas merasuki indra penciuman hingga kepala Tresna terasa berputar. Bibir merah merona itu bergerak pelan, membisikkan kata-kata yang membuat seluruh bulu kuduk Tresna berdiri tegak.

"Mas Tresna kok bawa pentungan? Mas Tresna mau mukul aku pakai pentungan itu? Nanti kalau aku keenakan dipukul... gimana?"

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
89 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status