LOGINDijuluki perjaka gendeng, aku sebenarnya tampan dan perkasa, tapi jadi musuh bersama para lelaki di desa itu. Bagaimana tidak, tempat praktikku selalu jadi incaran para gadis karena memang obat yang aku ramu itu manjur. Di luar, aku dikenal sebagai ahli pengobatan medis dan herbal, namun di balik pintu praktikku, aku adalah tempat para wanita menumpahkan keluh kesah rumah tangga dan kadang, hasrat mereka juga. Dari tiap wanita, aku kemudian menjelma jadi seorang pahlawan di desa, bahkan bisa menjadi penyelamat desa dari segala ancaman korupsi kades dan konglomerat. Semua wanita di desa yang awalnya menghinaku, berubah jadi memperebutkanku.
View MoreTante Arum tak menjawab. Langkah kakinya yang tenang terus mendekati tempat Clara dan Wira berada. Mengikuti arah napas dan isakan kecil balita itu, Tante Arum meraba pelan rumput pekarangan lalu berlutut tepat di depan Wira."Sini, Nak," bisik Tante Arum lembut.Dari saku kebayanya, Tante Arum mengeluarkan batu hitam kecil yang tadi sempat dia gunakan. Batu itu kini tak lagi panas, melainkan memancarkan hawa sejuk yang aneh. Jemari Tante Arum meraba perlahan, menemukan dahi Wira yang basah oleh keringat dingin, lalu menempelkan batu hitam itu tepat di tengahnya."Tante... Itu buat apa?" tanya Clara panik, menahan napas seraya memegang bahu anaknya."Tahan sebentar, Clara. Demamnya bukan hanya karena demam biasa," sahut Tante Arum tenang. "Hawa panas sudah menyumbat dadanya."Wira yang tadinya terengah-engah mendadak tenang. Napas bocah empat tahun itu pelan-pelan makin teratur. Rasa hangat dan sesak di dadanya mendadak hilang begitu dahi kecilnya tersentuh batu sejuk itu."Ibu..." bi
"Tolong! Maling! Cegat mereka!" jerit Silvi dari samping amben, meringis menahan sakit di kakinya yang terkilir saat mencoba berdiri.Namun tiga penyusup itu tak memedulikan teriakan Silvi. Mereka melompati pagar besi pekarangan dan menghilang di balik pekatnya malam desa.Fwooosh!Lidah api yang tadi menyambar jerami kering kini kian tak terkendali. Kobaran api menyambar dinding kayu bagian samping rumah joglo dengan cepat dan memancarkan asap hitam tebal ke udara. Suara kayu jati tua yang mulai terbakar berderak nyaring, membawa hawa panas yang menyengat hingga ke teras."Gusti! Apinya membesar! Linda, apinya nyamber!" teriak Silvi panik, matanya membelalak menatap kobaran merah di samping rumah."Ambil air!" seru Linda dari pintu depan. Sambil menahan bahunya yang terkilir, Linda berlari pincang menuju gentong tanah liat di sudut teras. Dia mengambil air menggunakan ember plastik tua.Tanpa memedulikan rasa nyeri di kakinya, Silvi ikut menyeret tubuhnya ke dekat gentong. Tangannya
"Lepasin! Jangan sentuh anakku!" teriak Clara dari lantai dengan suara parau.Sambil merangkak cepat di atas lantai berdebu, Clara langsung memeluk erat kaki kanan penyusup itu. Dia menahan kaki si penyusup sekuat tenaga agar tidak bisa melangkah mendekati kasur."Lepas, Bangsat!" bentak si penyusup gusar.Pria itu mengibaskan kakinya kasar, tapi Clara makin meremas pergelangan kakinya. Langkah pria itu tertahan, jarinya batal menyambar baju Wira."Lepas nggak?!" teriak pria itu seraya menghentakkan kakinya."Nggak bakal!" seru Clara histeris, terus mengunci kaki pria itu.Wira yang melihat ibunya diseret di lantai mendadak berhenti menangis. Matanya yang sembap menatap Clara yang sedang ditahan pria itu. Meski badannya masih lemas dan sempoyongan bekas demam, anak balita itu memaksakan diri bangun."Lepasin Ibu! Jangan nakal!" teriak Wira dengan suara serak.Dengan kaki gemetaran, Wira berdiri di atas kasur sambil memegangi pinggiran dipan. Tangan mungilnya mengepal, lalu memukul-muk
Suasana pekarangan rumah joglo terasa makin mencekam saat hari berganti gelap. Suara hentakan sepatu lars yang berat di atas pecahkan ubin teras terdengar jelas, mendekat dengan cepat ke arah mereka."Linda! Mereka makin dekat! Gimana ini?!" bisik Silvi panik dengan napas terengah-engah."Kalian di dalam aja! Amankan berkasnya!" potong Linda cepat, langsung melangkah keluar kamar menuju teras."Tapi mereka bertiga!" seru Silvi menyusul dari belakang."Aku tahu. Tapi kita nggak boleh biarin mereka masuk!" jawab Linda tegas, matanya tertuju pada tiga pria berbadan tegap di pekarangan.Silvi tak mau tinggal diam. Ia berlari ke teras depan sambil menengok kanan-kiri, mencari apa saja yang bisa dipakai melipat lawan. Tangannya refleks menyambar tampah bambu bekas jemuran kerupuk di samping amben."Pergi kalian! Nggak usah macam-macam di sini!" teriak Silvi sambil mengangkat tampah tinggi-tinggi."Silvi, awas!" seru Linda dari tangga teras.Tanpa pikir panjang, Silvi melempar tampah itu sek
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews