Pusaka Idaman Gadis Desa

Pusaka Idaman Gadis Desa

last updateLast Updated : 2026-01-29
By:  Prince MolinaUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
5Chapters
24views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Impotenku sembuh, waktunya membalas mereka semua! Aku akan menunjukkan kalau aku adalah laki-laki greenflag yang bisa jadi idaman para gadis desa!

View More

Chapter 1

Bab 1

"Mas Tresna, tolongin, ini punggungku rasanya mau copot, kayak ada beban berat yang nempel nggak mau lepas dari tadi pagi!"

Pintu klinik kayu yang sudah agak miring itu terbuka dengan suara debuman keras. Menampilkan sosok Silvi yang berdiri dengan napas tersenggal-senggal di ambang pintu.

Tresna yang sedang melamun memikirkan nasib dompetnya yang makin menipis di usia dua puluh delapan tahun, hampir saja terjungkal dari kursi kayunya karena kaget bukan main.

Dia mengusap wajahnya yang kusam. Menatap janda kembang itu dengan pandangan bingung sambil berusaha merapikan kaos oblongnya yang sudah melar di bagian leher.

Pikirannya yang tadi penuh dengan bayangan ancaman Pak Kades Aditama tentang penutupan klinik ilegalnya langsung buyar seketika, digantikan oleh pemandangan di depan matanya.

"Mbak Silvi, kalau masuk itu mbok ya ketok pintu dulu toh, ini klinik pengobatan bukan gerbang tol yang main terobos saja," jawab Tresna dengan nada yang diusahakan tetap tenang meskipun jantungnya sudah mulai berdegup kencang melihat keringat yang mengalir di leher Silvi.

"Aduh, nggak sempat ketok-ketok lagi, ini sudah darurat banget, Mas Mantri, rasanya kayak masuk angin duduk sampai ke pinggang, panas banget rasanya."

Silvi langsung merangsek masuk dan menutup pintu klinik dengan tumit kakinya. Sebuah gerakan yang membuat Tresna sadar kalau pasiennya yang satu ini sedang tidak ingin diganggu oleh siapa pun dari luar.

Tresna mendesah pelan sambil mengambil botol minyak zaitun campur jahe merah dan sebuah koin logam yang sudah halus pinggirannya dari dalam laci meja praktiknya yang sederhana.

Dia sudah sangat hafal dengan kelakuan warga desa yang selalu mengandalkannya. Tapi tetap saja mengejeknya sebagai perjaka tidak laku hanya karena dia terlalu pilih-pilih soal pasangan hidup.

Di luar sana, orang-orang seperti Pak Karyo atau Didin mungkin sedang asyik membicarakan keburukannya di pos ronda. Menyebutnya mantri cabul yang cuma modal tampang manis tanpa punya surat izin resmi.

"Ya sudah, sini naik ke ranjang periksa, saya lihat dulu seberapa parah masuk anginnya itu sampai Mbak Silvi panik begini."

Silvi tidak banyak bicara lagi. Dia langsung membelakangi Tresna. Dengan gerakan yang sangat berani menyingkap kebaya kutubaru motif bunga yang dikenakannya ke arah atas tanpa ragu.

Tresna sampai harus menahan napas sejenak saat melihat kulit punggung Silvi yang putih mulus. Sangat kontras dengan pemandangan klinik yang kumuh dan plafonnya yang sudah mulai berjamur.

Yang lebih mengejutkan lagi, kaitan bra warna merah menyala yang dikenakan Silvi ternyata sudah dalam kondisi terbuka. Memperlihatkan lengkungan punggung yang sempurna tanpa ada satu pun penghalang.

"Mbak, ini kok branya sudah lepas kaitannya, nanti kalau saya lagi ngerok terus melorot bagaimana, saya nggak mau tanggung jawab lho ya."

"Halah, Mas Tresna ini kok malah protes, kan biar Mas Mantri gampang ngeroknya sampai ke bawah, biar anginnya nggak ada yang nyelip di balik tali bra."

"Ya tapi ya jangan langsung begini, kalau ada yang ngintip dari ventilasi atas bisa geger satu desa Sukamaju ini, Mbak."

"Biarin saja mereka mau ngintip sampai matanya bintitan, yang penting aku sembuh dulu, sudah ayo cepat dikerok Mas, jangan cuma dilihatin saja."

Silvi langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang periksa dengan posisi tengkurap. Tapi dia sengaja mengangkat sedikit pinggulnya sehingga posisi bokongnya nampak lebih menonjol di depan mata Tresna.

Tresna berusaha menjaga profesionalitasnya sebagai mantri. Meskipun tangannya sedikit gemetar saat mulai mengoleskan minyak hangat ke permukaan kulit Silvi yang terasa sangat lembut dan kenyal.

Saat koin logam itu mulai menyentuh kulit dan ditarik perlahan menciptakan garis merah, Silvi justru mengeluarkan suara yang sama sekali tidak terdengar seperti orang yang sedang menahan sakit.

"Aaaah... hmmm... enak banget Mas Tresna... ya di situ, agak ditekan lagi sedikit biar mantap rasanya."

"Mbak Silvi, suaranya tolong dikontrol sedikit, ini saya lagi ngerok bukan lagi ngapa-ngapain, nanti kalau orang lewat dengar bisa salah paham."

"Lho, kan aku memang lagi keenakan karena tangan Mas Mantri itu ajaib banget, nggak usah dengerin omongan orang luar yang sirik sama kita."

Tresna hanya bisa menggelengkan kepala sambil terus menggerakkan tangannya. Namun fokusnya makin lama makin terganggu karena Silvi mulai menggeliat seperti kucing yang sedang mencari perhatian.

Setiap kali Tresna mengarahkan koin ke area pinggang bawah, Silvi dengan sengaja menggerakkan pinggulnya ke kanan dan ke kiri. Mengikuti irama tangan sang mantri desa dengan sangat gemulai.

Karena jarak antara ranjang periksa dan posisi berdiri Tresna sangat sempit, bokong padat milik Silvi berulang kali menyenggol area selangkangan Tresna dengan tekanan yang tidak main-main.

Tresna yang selama ini dikenal sebagai perjaka gendeng sebenarnya adalah pria normal dengan hormon yang sangat sehat. Apalagi dia jarang mendapatkan sentuhan sedekat ini dari seorang wanita secantik Silvi.

Si Gatot, pusaka kebanggaan Tresna yang selama ini dia sembunyikan dengan rapat, langsung bereaksi keras menerima stimulasi dari gerakan-gerakan nakal janda kembang di depannya itu.

Celana kain tipis yang dipakai Tresna tidak mampu menyembunyikan ketegangan yang terjadi. Hingga nampak sebuah tonjolan besar yang sangat jelas terpampang tepat di samping lengan Silvi.

Silvi yang merasakan ada sesuatu yang keras dan panas menyundul lengannya saat dia sedang asyik menggoyangkan pinggul, bukannya menjauh, dia malah menghentikan gerakannya sejenak. Dia melirik ke belakang dengan sudut mata yang berkilat penuh kemenangan. 

Melihat wajah Tresna yang sudah memerah padam dan keringat sebesar biji jagung mulai membasahi dahi sang mantri. Silvi sedikit mengangkat tubuhnya, menyandarkan dagu di atas kedua tangannya sambil menatap langsung ke arah harta karun Tresna yang nampak ingin menembus kain celananya.

"Mas Mantri kok diam saja, itu tangannya berhenti kenapa, apa minyaknya sudah habis atau tangannya sudah pegal?"

"Ini... anu Mbak... saya cuma mau ambil napas sebentar, udaranya panas sekali ya di dalam sini."

"Panas karena cuaca atau panas karena lihat yang merah-merah di depan mata nih, jangan-jangan Mas Mantri lagi mikir yang macem-macem ya?"

Tresna hanya bisa mematung dengan koin yang masih menempel di punggung Silvi. Dia merasa benar-benar terpojok oleh situasi yang dia buat sendiri karena terlalu lama menjomblo.

Silvi terkekeh pelan, suara tawanya terdengar sangat menggoda dan penuh dengan nada provokasi, membuat nyali Tresna yang biasanya tinggi saat menghadapi preman pasar langsung menciut seketika.

Dia mendekatkan wajahnya ke arah telinga Tresna, membiarkan aroma parfum melati yang bercampur dengan aroma keringatnya yang khas merasuki indra penciuman Tresna hingga kepalanya terasa berputar. Bibirnya yang merah merona itu bergerak pelan, membisikkan kata-kata yang membuat seluruh bulu kuduk Tresna berdiri tegak karena sensasi yang sangat luar biasa dahsyat.

"Pak Mantri kok bawa pentungan, Pak Mantri mau mukul saya pakai pentungan itu, nanti kalau saya keenakan dipukul gimana?"

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
5 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status