"Mas Tresna, tolongin, ini punggungku rasanya mau copot, kayak ada beban berat yang nempel nggak mau lepas dari tadi pagi!"Pintu klinik kayu yang sudah agak miring itu terbuka dengan suara debuman keras. Menampilkan sosok Silvi yang berdiri dengan napas tersenggal-senggal di ambang pintu.Tresna yang sedang melamun memikirkan nasib dompetnya yang makin menipis di usia dua puluh delapan tahun, hampir saja terjungkal dari kursi kayunya karena kaget bukan main.Dia mengusap wajahnya yang kusam. Menatap janda kembang itu dengan pandangan bingung sambil berusaha merapikan kaos oblongnya yang sudah melar di bagian leher.Pikirannya yang tadi penuh dengan bayangan ancaman Pak Kades Aditama tentang penutupan klinik ilegalnya langsung buyar seketika, digantikan oleh pemandangan di depan matanya."Mbak Silvi, kalau masuk itu mbok ya ketok pintu dulu toh, ini klinik pengobatan bukan gerbang tol yang main terobos saja," jawab Tresna dengan nada yang diusahakan tetap tenang meskipun jantungnya su
Last Updated : 2026-01-29 Read more