Pusaka Idaman Gadis Desa
Dijuluki perjaka gendeng, aku sebenarnya tampan dan perkasa, tapi jadi musuh bersama para lelaki di desa itu. Bagaimana tidak, tempat praktikku selalu jadi incaran para gadis karena memang obat yang aku ramu itu manjur. Di luar, aku dikenal sebagai ahli pengobatan medis dan herbal, namun di balik pintu praktikku, aku adalah tempat para wanita menumpahkan keluh kesah rumah tangga dan kadang, hasrat mereka juga.
Dari tiap wanita, aku kemudian menjelma jadi seorang pahlawan di desa, bahkan bisa menjadi penyelamat desa dari segala ancaman korupsi kades dan konglomerat. Semua wanita di desa yang awalnya menghinaku, berubah jadi memperebutkanku.
Baca
Chapter: EXTRA CHAPTER 7"Tolong! Maling! Cegat mereka!" jerit Silvi dari samping amben, meringis menahan sakit di kakinya yang terkilir saat mencoba berdiri.Namun tiga penyusup itu tak memedulikan teriakan Silvi. Mereka melompati pagar besi pekarangan dan menghilang di balik pekatnya malam desa.Fwooosh!Lidah api yang tadi menyambar jerami kering kini kian tak terkendali. Kobaran api menyambar dinding kayu bagian samping rumah joglo dengan cepat dan memancarkan asap hitam tebal ke udara. Suara kayu jati tua yang mulai terbakar berderak nyaring, membawa hawa panas yang menyengat hingga ke teras."Gusti! Apinya membesar! Linda, apinya nyamber!" teriak Silvi panik, matanya membelalak menatap kobaran merah di samping rumah."Ambil air!" seru Linda dari pintu depan. Sambil menahan bahunya yang terkilir, Linda berlari pincang menuju gentong tanah liat di sudut teras. Dia mengambil air menggunakan ember plastik tua.Tanpa memedulikan rasa nyeri di kakinya, Silvi ikut menyeret tubuhnya ke dekat gentong. Tangannya
Terakhir Diperbarui: 2026-07-30
Chapter: EXTRA CHAPTER 6"Lepasin! Jangan sentuh anakku!" teriak Clara dari lantai dengan suara parau.Sambil merangkak cepat di atas lantai berdebu, Clara langsung memeluk erat kaki kanan penyusup itu. Dia menahan kaki si penyusup sekuat tenaga agar tidak bisa melangkah mendekati kasur."Lepas, Bangsat!" bentak si penyusup gusar.Pria itu mengibaskan kakinya kasar, tapi Clara makin meremas pergelangan kakinya. Langkah pria itu tertahan, jarinya batal menyambar baju Wira."Lepas nggak?!" teriak pria itu seraya menghentakkan kakinya."Nggak bakal!" seru Clara histeris, terus mengunci kaki pria itu.Wira yang melihat ibunya diseret di lantai mendadak berhenti menangis. Matanya yang sembap menatap Clara yang sedang ditahan pria itu. Meski badannya masih lemas dan sempoyongan bekas demam, anak balita itu memaksakan diri bangun."Lepasin Ibu! Jangan nakal!" teriak Wira dengan suara serak.Dengan kaki gemetaran, Wira berdiri di atas kasur sambil memegangi pinggiran dipan. Tangan mungilnya mengepal, lalu memukul-muk
Terakhir Diperbarui: 2026-07-29
Chapter: EXTRA CHAPTER 5Suasana pekarangan rumah joglo terasa makin mencekam saat hari berganti gelap. Suara hentakan sepatu lars yang berat di atas pecahkan ubin teras terdengar jelas, mendekat dengan cepat ke arah mereka."Linda! Mereka makin dekat! Gimana ini?!" bisik Silvi panik dengan napas terengah-engah."Kalian di dalam aja! Amankan berkasnya!" potong Linda cepat, langsung melangkah keluar kamar menuju teras."Tapi mereka bertiga!" seru Silvi menyusul dari belakang."Aku tahu. Tapi kita nggak boleh biarin mereka masuk!" jawab Linda tegas, matanya tertuju pada tiga pria berbadan tegap di pekarangan.Silvi tak mau tinggal diam. Ia berlari ke teras depan sambil menengok kanan-kiri, mencari apa saja yang bisa dipakai melipat lawan. Tangannya refleks menyambar tampah bambu bekas jemuran kerupuk di samping amben."Pergi kalian! Nggak usah macam-macam di sini!" teriak Silvi sambil mengangkat tampah tinggi-tinggi."Silvi, awas!" seru Linda dari tangga teras.Tanpa pikir panjang, Silvi melempar tampah itu sek
Terakhir Diperbarui: 2026-07-28
Chapter: EXTRA CHAPTER 4Keheningan seketika menyelimuti kamar tengah rumah joglo saat deru tangis Wira perlahan mereda. Tangan mungilnya yang memar terkulai lemas di atas kasur, matanya yang bening menatap lurus ke arah celah di balik lemari kayu jati yang telah bergeser."Clara, coba kamu lihat ke balik lemari itu," seru Linda menahan napasnya. Kedua tangannya masih menempel ketat di daun pintu kamar demi menahan sisa getaran dari arah teras. "Sesuatu yang diomongin Wira pasti ada di sana!"Clara tidak membuang waktu. Dengan langkah bergetar, dokter itu melangkah mendekati sudut kamar. Debu semen putih berterbangan menutupi lantai kayu di sekitar celah tersebut."Hati-hati! Siapa tahu ada pecahan bata atau hewan berbisa di dalamnya!" peringat Silvi setengah berbisik, matanya ikut melirik waspada ke sudut ruangan."Iya, Sil," jawab Clara pelan.Clara berlutut di atas lantai kayu yang kotor oleh serpihan semen. Dia menyipitkan mata, mengamati rongga rahasia berukuran satu jengkal yang tersembunyi di balik sus
Terakhir Diperbarui: 2026-07-27
Chapter: EXTRA CHAPTER 3Suara gemuruh nyaring mendadak muncul dari dalam bumi, persis di bawah pijakan kaki mereka. Meja teras bergetar hebat hingga cangkir teh yang tersisa bergoyang keras dan jatuh berdenting ke ubin."Awas!" teriak Linda refleks merangkul bahu Silvi dan Tante Arum.Ubin teras berwarna abu-abu yang berada tepat di bawah amben bambu mendadak terbelah. Retakan panjang merambat cepat sepanjang satu meter, memperlihatkan celah hitam di balik ubin yang pecah.Dari balik retakan tanah tersebut, kepulan asap tipis berwarna keabu-abuan keluar perlahan. Aroma sengatan belerang yang sangat tajam dan hawa panas mendadak menyeruak memenuhi teras rumah joglo, membuat mereka semua terbatuk-batuk."Asap apa ini?!" jerit Silvi sambil menutupi hidung dan mulutnya pakai keliman baju. "Baunya aneh banget! Panas!""Asap belerang..." bisik Linda dengan mata terbelalak menatap ubin yang terbelah.Clara memeluk erat tubuh Wira yang makin kejang di dalam dekapannya. "Linda! Silvi! Asapnya makin tebal!""Jangan di
Terakhir Diperbarui: 2026-07-26
Chapter: EXTRA CHAPTER 2Hawa asing yang berembus dari kain hitam tua itu terasa makin menusuk kulit. Udara sore mendadak berhenti bertiup, meninggalkan keheningan tegang yang mencekam pekarangan rumah joglo."Bawa ke teras, Lin! Cepat!" seru Clara panik sambil menopang tubuh Wira yang mendadak terkulai lemas di pelukannya.Linda tidak menjawab. Dengan langkah cepat dan raut wajah membatu, dia membawa gulungan kain hitam berbau minyak tanah itu menuju teras rumah.Silvi mengekor tergesa-gesa dari belakang, matanya tak lepas menatap ikatan benang serat pohon yang membelit kain kusam tersebut."Biar aku bantu gendong Wira," panggil Silvi terengah-engah, berlutut untuk menopang kaki mungil Wira."Nggak usah, Sil! Aku masih sanggup. Tolong bersihkan meja teras dulu!" potong Clara cepat.Clara menggendong anaknya naik ke anak tangga teras. Suhu tubuh Wira meningkat sangat cepat, rasa panas menyengat kini menembus pakaian tipis yang dikenakan dokter itu."Sakit, Ibu... Panas..." bisik Wira serak. Bibir mungilnya ya
Terakhir Diperbarui: 2026-07-25
Ojol Simpanan Artis Cantik
"Kipli, mulai malam ini, kamu resmi jadi pengawal pribadiku. Tugasmu menjagaku dua puluh empat jam... termasuk di dalam kamar."
Menjadi pelindung Diva Prameswari, ratu film dewasa yang paling digilai sejagat raya, jelas impian semua pria. Tapi statusku yang cuma ojol dekil Bekasi, membuatku dihina dan direndahkan oleh orang-orang studio.
Mereka tidak tahu saja, di balik jaket apekku, aku punya kekuatan rahasia yang tidak masuk akal.
Ketika mantan pacarku memamerkan kekasih barunya yang kaya, aku justru melangkah masuk ke surga dunia yang penuh dendam. Dua pelayan seksi Diva pun mulai ikut memohon untuk menjamahnya. Sampai akhirnya, sang Diva sendiri yang berlutut di depanku dan berbisik, "Malam ini, pintunya jangan dikunci ya, Sayang..."
Baca
Chapter: BAB 177Aku merangkulnya pelan, lalu mengecup keningnya yang masih basah oleh peluh. Ciska memejamkan mata, menghembuskan napas panjang yang terasa begitu lega."Makasih ya, Kipli..." bisik Ciska lirih, suaranya terdengar sangat lembut dan serak. "Aku ngerasa lebih tenang sekarang..."tangannya yang gemetar perlahan meraih jariku, menggenggamnya erat di atas dadanya."Soal laporan keuangan dan dana eksperimen itu..." Ciska menatap mataku dengan raut wajah yang kini tampak mantap. "Aku nggak akan biarkan Diva atau Pihak Atas pakai data itu buat nyakitin kamu lagi."Aku menyunggingkan senyum tipis sambil membelai pipinya. "Memangnya Mbak Ciska mau ngapain?""Aku yang pegang semua catatannya, Kipli," jawab Ciska pelan tapi tegas. "Mulai sekarang, biar aku yang atur laporannya. Aku bakal pastikan angka-angkanya kelihatan aman di mata Diva, supaya dia nggak curiga apa-apa."Aku menatapnya lekat-lekat, lalu mengusap pelan rambut panjangnya yang agak acak-acakan. "Mbak Ciska yakin nggak apa-apa?"Ci
Terakhir Diperbarui: 2026-07-30
Chapter: BAB 176Ciska menutupi wajahnya, bahunya berguncang hebat."Setiap kali aku ngeliat kamu tersenyum polos... setiap kali kamu bersikap manis ke kita semua di sini... hatiku kayak diiris-iris!" lanjut Ciska terputus-putus."Pasca-kejadian di meja kerja kemarin... aku sadar kalau aku udah nggak bisa bohongi perasaanku lagi. Makin aku berusaha profesional, makin aku jatuh cinta sama kamu... dan aku ngerasa kotor banget udah ikut manfaatin kamu!"Ciska melepaskan cengkeramannya di kemejaku, lalu menyapu air matanya kasar pakai lengan kemeja putihnya yang rapi. Napasnya terengah-engah, matanya memancarkan keputusasaan dan kepasrahan yang begitu dalam."Aku nggak peduli lagi sama perintah Diva... aku nggak peduli lagi sama ancaman Pihak Atas..." bisik Ciska terbata-bata, menatapku dengan mata yang penuh permohonan. "Aku cuma takut kamu benci sama aku, Kipli. Kalau kamu mau marah... marahi aku. Tapi tolong, jangan jauhi aku..."Aku menatap lurus ke dalam matanya yang basah. Dengan perlahan, jemariku
Terakhir Diperbarui: 2026-07-30
Chapter: BAB 175Pintu besi ruang latihan terbuka pelan. Aku melangkah keluar bareng Meyden yang berjalan sedikit lambat di sampingku. Kemejaku yang agak kusut dan kaus tank-top Meyden yang sedikit berantakan jadi tanda jelas dari apa yang baru saja terjadi di atas matras tadi."Kipli..." panggil Meyden pelan sambil menyenggol lenganku pakai sikunya pas kami jalan menyusuri lorong. "Nanti kalau Mbak Diva nanya, aku bilang aja tes fisikmu biasa aja. Nggak ada hal aneh yang keluar."Aku menyunggingkan senyum tipis, lalu menepuk pelan pundaknya. "Makasih ya, Meyden."Meyden cuma terkekeh pelan sambil menatap lurus ke depan. "Tenang aja, sekarang kan aku udah di pihakmu."Tiga hari berlalu sejak sore di ruang latihan itu. Meyden menjalankan perannya dengan sangat rapi. Di depan Diva, dia tetap berakting sebagai pengawal yang dingin dan sigap. Tapi tiap kali Diva tak memperhatikan, tatapan mata tajamnya berubah hangat.Namun, di saat situasi dengan Meyden sudah sepenuhnya aman, sesuatu yang besar mulai ber
Terakhir Diperbarui: 2026-07-29
Chapter: BAB 174Tubuh Meyden di bawah kuncianku bergetar halus. Otot-ototnya menegang kencang, berusaha keras mencari celah buat melepaskan diri. Tapi tiap kali pinggulnya terangkat hendak membalikkan posisi, tindihan tubuhku justru makin mengunci pergerakannya di atas matras tebal."Lepas... Kipli, lepas..." rintih Meyden dengan suara serak. Peluh tipis berkilauan di dahinya yang hangat.Bukannya melonggarkan cengkeraman, aku malah makin merapatkan tubuhku. Dadaku menekan dadanya yang kembang-kempis memburu, sementara pandanganku terkunci lurus ke matanya yang mulai panik.Aroma musk dan vanila rempah dari kulitnya kian pekat menusuk hidung."Kenapa harus lepas, Mbak Meyden?" bisikku pelan tepat di depan wajahnya, hingga ujung hidung kami nyaris bersentuhan. "Bukannya Mbak sendiri yang bilang... di ruangan ini hukumnya cuma satu? Siapa yang paling kuat, dia yang megang kendali."Meyden memalingkan wajah ke samping, tak berani menatap mataku. Rahangnya mengeras, mencoba menahan rasa gengsi yang tersi
Terakhir Diperbarui: 2026-07-28
Chapter: BAB 173Tanpa membuang waktu, Meyden merendahkan posisinya. Tubuhnya membongkok dalam posisi pertarungan jarak dekat, memperlihatkan lekuk pinggul padatnya yang sengaja dibiarkan memancing perhatianku."Pasang kuda-kudamu yang bener," godanya sambil memiringkan kepala, matanya yang tajam menatapku nakal. "Aku mau liat, prinsip nggak mau mukul cewekmu itu bisa bertahan sampai kapan pas aku pepet...""M-Mbak... tolong jangan..." cicitku canggung sambil melangkah mundur perlahan. Aku sengaja mengarahkan kakiku ke sudut matras seolah terdesak dan tak punya jalan keluar.Srett!Tanpa peringatan verbal, Meyden melesat maju. Kaki kanannya mengayun tinggi, melancarkan high kick tajam yang membidik leher kiriku. Gerakannya begitu indah dan cepat, memperlihatkan paha mulusnya yang berotot kencang di balik celana training.Refleks kagetku bekerja cepat. Aku buru-buru merunduk sambil memejamkan mata seolah ketakutan setengah mati, membuat ayunan kaki keras Meyden meleset tipis dan cuma menyapu angin koso
Terakhir Diperbarui: 2026-07-27
Chapter: BAB 172Aku merebahkan tubuh Sora secara perlahan di atas kasur empuknya. Usai menyelimutinya hingga sebatas dada, aku membiarkan gadis itu beristirahat tenang.Sebelum melangkah pergi, aku menyempatkan diri memeriksa layar monitor utama sekali lagi. Setelah memastikan data energiku di dalam sistem terpasang dengan nilai yang lemah, aku keluar kamar tanpa menimbulkan suara.Baru saja aku melintasi lorong lantai dua menuju tangga, derap langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari arah ruang tengah. Langkah itu berbunyi cepat dan kencang, menandakan suasana di bawah sedang tidak baik-baik saja.Diva berdiri di dekat sudut tangga. Dia menatap layar tablet di tangannya dengan alis menyatu, raut wajahnya yang biasa tenang kini tampak penuh dengan kecurigaan.Di sampingnya, Ciska berdiri dengan wajah yang tak kalah cemas. Matanya melirik gelisah ke arah lorong atas, seolah menantikan sesuatu yang buruk terjadi."Nggak masuk akal..." gumam Diva dingin, jemarinya terus mengusap layar tablet dengan gerak
Terakhir Diperbarui: 2026-07-27