MasukAzka mengemudikan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, bersyukurlah Azka karena jalanan masih cukup sepi, karena memang masih pagi, jika tidak, sudah dipastikan Azka menerima umpatan dari para pengendara di jalanan.Setelah memarkirkan mobilnya dengan asal di depan tempat kos Dira, Azka segera turun dari mobilnya dan berjalan setengah berlari ke arah kamar gadis itu, lalu menggedor pintunya dengan keras.“Ra, buka pintunya, Daffa di rumah sakit!”“Dira! Kamu didalam, kan?”“Ra, buka pintunya! Daffa cariin kamu dari semalam, buka pintunya, Ra!”Mungkin karena kegaduhan yang Azka perbuat, penghuni kamar kos di sebelah kamar Dira mulai membuka pintu kamarnya.“Pak Azka, ya?”Merasa namanya dipanggil, Azka menolehkan kepalanya kepada gadis yang Azka perkirakan usianya sama dengan Dira.“Iya, kenapa?”“Sebentar-” gadis itu kembali masuk ke dalam kamarnya dan tidak berapa lama kemudian, gadis itu keluar dengan membawa kunci.“Ini kunci kamarnya Dira, disuruh kasih ke Pak Azka.” Azka
Sepanjang perjalanan, hanya diam yang mengisi keheningan didalam mobil yang ditumpangi oleh Azka dan Dira. Dira memalingkan wajahnya ke arah jendela disampingnya, enggan melihat ke arah Azka. Sementara Azka sedari tadi ingin mengajak Dira bicara, namun Azka menahannya karena merasa jika suasana saat ini kurang pas.Sesampainya di depan tempat kos Dira, gadis itu baru saja akan keluar dari mobil Azka, namun pria itu menghentikannya.“Kita perlu bicara.”Dira menghela napas sebelum memilih tetap duduk didalam mobil Azka.“Mas sekarang udah bicara,” ucapnya dengan pelan.“Aku minta maaf, Ra, aku tau sikapku akhir-akhir ini sangat kekanak-kanakan, aku nggak bisa bersikap dewasa menghadapi semuanya. Aku, aku salah Ra, aku minta maaf.” raut wajah frustrasi tidak bisa Azka sembunyikan lagi, kentara sekali jika pria itu sedang cemas saat ini.Dira menghadap Azka lalu gadis itu tersenyum seperti biasa.“Aku maafin, Mas.”Seharusnya Azka senang mendengar jawaban yang Dira berikan, namun kenyata
Keadaan Azka tidak jauh berbeda dengan Dira, pria itu menjadi terkena insomnia. Azka terlalu memaksakan tubuhnya untuk bekerja, tidak tidur tepat wakku dan menjadi jarang menemani Daffa bermain, untung saja ada mama dan neneknya yang menemani Daffa.Azka memikirkan hubungannya dengan Dira yang menjadi semakin jauh ini. Sejujurnya Azka tidak menyukai ini, namun, dia juga benar-benar masih bimbang. Azka mengaku jika dirinya bersalah telah membohongi Dira waktu itu, bahkan sampai sekarang.Namun, tidak bisakah Dira memberinya waktu, bukan malah menjauh seperti ini. Azka memang hanya perlu waktu untuk berpikir, tentang Claris dan Dira. Dua perempuan itu berputar-putar di kepalanya hingga membuat kepalanya hampir pecah.*Beberapa jam sebelum pesta, di kantor AzkaBambang masuk ke dalam ruangan Azka tanpa permisi. Laki-laki itu duduk di sofa yang ruangan Azka. “Nanti malam, lo ada undangan ulang tahun perusahaan.”“Gue malas datang, lo aja.”“Kita berdua berangkat, lo perlu datang buat men
Karena memang acara bakti sosial akan dilaksanakan hari sabtu besok, maka, kini Ratu dan Dira sedang berada di pasar untuk membeli perlengkapan yang akan mereka butuhkan di sana nanti.Sedari tadi Ratu tidak berhenti mendumel, gadis itu menyalahkan Dira yang terlalu patuh dengan perintah Dirga. Ratu sudah mengatakan jika mereka lebih baik belanja di supermarket saja, tapi Dira menolak dengan tegas.Dan di sinilah mereka sekarang, setelah hampir dua jam mengelilingi pasar yang membuat kaki Ratu terasa hampir copot. Dira mengajak Ratu minum es cincau di tempat parkir pasar, tidak jauh dari mobil Ratu berada.“Lo gimana sama Pak Azka?” sebenarnya Ratu sudah ingin bertanya ini dari dulu, namun gadis itu mencari momen yang tepat.“Nanti kalau gue cerita sama lo, lo bakal bilang lagi sama anak-anak.” Dira tertawa di akhir kalimatnya.“Itu-kan karena gue keceplosan, soalnya si Dirga mancing-mancing terus.”Dira hanya tersenyum mendengarnya.“Ra, sebenarnya gue pengen tanya sesuatu sama lo. T
Azka pulang ke rumah sekitar pukul delapan malam, di saat semua orang di rumahnya sudah selesai melakukan makan malam. Azka memasuki rumahnya dengan langkah cepat, dia masih belum bisa bertemu dengan Dira.Namun, seruan dari sang ibu dari ruang tamu, membuat Azka menghentikan langkahnya dan berjalan menghampiri ibunya yang tengah duduk di sofa ruang tamu. Ibunya tidak sendiri, ada Dira dan neneknya, entahlah, tapi Azka merasa sesuatu akan terjadi setelah ini.“Kamu tumben pulang telat?”“Kantor lagi banyak kerjaan Ma, ada apa?” Azka bertanya sambil duduk di sofa tunggal tidak jauh dari ibunya.“Mama udah ke pikiran ini sejak beberapa hari yang lalu sebenarnya, Mama juga udah minta saran sama Papa, dan Papa kamu setuju. Jadi, Mama pikir nggak ada alasan lagi buat kamu menolak keinginan Mama ini.”“Tentang apa, Ma?”“Mama rasa kamu dan Dira harus tinggal di rumah yang berbeda, sebelum pernikahan kalian dilaksanakan.” sontak saja kalimat yang ibunya lontarkan, membuat Azka membulatkan ma
Dira kembali ke rumah Azka sekitar pukul tujuh malam, diantar oleh Oki. Bisa di bilang ini waktu terlama, biasanya gadis itu pulang ke rumah Azka tidak selama ini. Jika memang terlambat, gadis itu pasti akan mengatakannya kepada Azka.Dira memasuki rumah Azka dengan langkah pelan, gadis itu baru saja melangkahkan kakinya ke ruang tamu dan sapaan ketus langsung terdengar di telinga Dira.“Dari mana kamu?!”Dira menolehkan kepalanya ke asal suara tersebut, dan dia menemukan Azka yang tengah berdiri dan menatapnya marah.“Aku dari kampus,” jawab Dira pelan.“Dari kampus dan pulang jam segini?!” Azka tertawa sinis kemudian.“Kamu pikir aku nggak tau kalau jadwal kuliah kamu hari ini siang? Dan kamu berangkat dari pagi sampai pulang malam kayak gini. Kamu nggak mikir gimana Daffa nyari bundanya terus, kamu nggak mikirin gimana mama sama nenek yang repot diamin Daffa? Kamu malah enak-enakkan keluyuran nggak jelas dan pulang diantar laki-laki lain!” Dira menghela napasnya pelan.“Aku nggak







