LOGINTak mau terlalu memikirkan bekal di pangkuannya, segera saja Azka menaruh bekal itu di bangku samping pengemudi dan mulai menjalankan mobilnya meninggalkan rumahnya untuk pergi ke kantor.
Sesampainya di kantor, sudah jelas jika Azka menjadi pusat perhatian semua pegawainya. Karena selama Azka menjabat sebagai CEO perusahaan, tidak pernah sekali pun laki-laki itu menenteng wadah tupperware berwarna biru.
Jika tidak mengingat Azka adalah bos mereka, semua pegawai Azka mungkin sudah menertawakan laki-laki itu. Namun, Azka tidak ambil pusing dengan semua tatapan para pegawainya, dia akan memikirkan akan di apakan bekal yang dibawakan Dira untuknya ini nanti.
Azka menaiki lift khusus untuk para petinggi perusahaan sampai ke lantai tujuh, lantai tertinggi perusahaan milik Azka, yang di lantai itu hanya berisi ruang kerja Azka dan pantry juga ruangan sekertaris Azka tentu saja, Bambang.
Azka melewati meja sekertaris yang kosong itu lalu masuk ke dalam ruangannya, dia sudah menyiapkan diri jika saja Bambang akan mengejeknya nanti, karena membawa bekal ke kantor seperti anak TK.
Dan dugaan Azka tidak meleset sedikit pun, saat Bambang membuka pintu ruangannya dengan kesusahan, karena dia memegang dua cangkir kopi di kedua tangannya. Bambang masih belum melihat jika ada benda berwarna biru di tengah-tengah meja Azka.
Sambil menyeruput kopinya, Bambang berjalan mendekat ke arah Azka dan ketika matanya terarah pada benda berwarna biru itu, Bambang tidak langsung tertawa, dia memandang Azka dan tupperware itu secara bergantian dan tidak lama setelah itu tawa bahagia keluar dari mulutnya.
“Demi apa lo bawa bekal ke kantor,” ucapnya di antara tawanya, sambil menaruh kopi milik Azka di meja laki-laki itu.
Menenteng tupperware itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi lalu kemudian kembali tertawa dengan keras, “Lo udah mau bangkrut makanya bawa bekal?”
Bambang masih saja tertawa dan berjalan untuk duduk di sofa yang berada di ruangan Azka, masih sambil tersenyum. Bambang menaruh cangkir dan wadah tupperware yang dia bawa ke atas meja.
“Gue pikir tadi itu cuman gosip yang bilang lo ke kantor sambil membawa bekal kayak anak TK, tapi ternyata beneran lho ini.” Bambang saja sampai harus mengusap sudut matanya yang berair karena tertawa saking kerasnya.
“Lo salah kali.” Celetuk Bambang kepada Azka yang sedari tadi hanya diam menyaksikannya.
“Salah apa?” tanya Azka bingung.
“Bekal itu mungkin aja punya Daffa, tapi nggak sengaja terbawa.”
“Sialan lo!” mendengar umpatan kesal Azka, tidak membuat Bambang takut melainkan malah tertawa kembali, merasa lucu dengan keadaan Azka sekarang.
“Udah sana, keluar dari ruangan gue!” usir Azka kepada Bambang.
Lalu masih dengan tertawa Bambang keluar dari ruangan Azka dengan membawa cangkir yang berisi kopi miliknya.
Sepeninggal Bambang, Azka langsung memulai pekerjaannya dengan memeriksa tumpukan kertas yang sudah tersedia di meja kerjanya. Namun, baru sepuluh menit Azka memeriksa kertas-kertas itu, dia menghela napas kasar dan menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi.
Dia tidak bisa mengabaikan bekal itu begitu saja, demi Tuhan, bahkan di saat dirinya masih sekolah dulu, dia tidak pernah membawa bekal ke sekolah. Sementara sekarang di saat umurnya sudah menginjak angka tiga, dengan seenaknya gadis yang baru dikenalnya beberapa hari, malah dengan santainya menyuruh untuk membawa bekal.
Beranjak dari kursinya untuk memeriksa bekal apa yang dibawakan Dira untuknya, saat sudah duduk di sofa ruang kerjanya, Azka mulai membuka wadah tupperware itu. segera saja setelah tutup itu dibuka, harum roti panggang menyeruak ke dalam indra penciumannya.
Ada sekitar lima potong roti panggang dengan beberapa selai di sana, Azka mengambil satu roti lalu kemudian mulai memasukkannya ke dalam mulutnya, ini enak. Tanpa sadar bibirnya mulai tertarik ke kanan dan kiri, tersenyum.
Tadi saat di rumah, Azka tidak makan banyak, dia hanya mampu menghabiskan beberapa suap dan meminum kopinya. Perutnya benar-benar terasa mual jadi dari pada memuntahkan sarapan paginya Azka lebih memilih menyudahi acara makannya.
Dan entah mengapa dirinya sekarang merasa benar, sarapan dengan beragam menu di meja makan yang membuat mata Daffa berbinar suka dan membawa bekal ke kantor seperti ini. Sederhana memang, namun entah mengapa Azka menyukai momen ini dan mungkin saja ke depannya Azka akan meminta Dira untuk membawakan bekal ringan seperti saat ini.
***
Sementara Dira saat ini telah selesai bersiap untuk berangkat ke kampus, gadis itu berjalan menghampiri Daffa yang tengah bermain di taman dengan dua orang pengasuhnya.
“Daffa, Kak Dira mau sekolah dulu, ya. Daffa nggak boleh nakal di rumah sama Mbak.” Dira berucap sambil berjongkok menyamai tingginya dengan Daffa yang tengah duduk.
“Nggak boleh sekoyah, sama Dapa aja di lumah,” katanya sambil menatap Dira penuh harap.
“Eh... kok gitu, Daffa-kan anak baik jadi nggak boleh nakal dong. Nanti Kak Dira janji bakal bawain Daffa ice cream kalau pulang, gimana?” tanya Dira sambil mencoba melakukan penawaran kepada Daffa.
Daffa masih menatapnya dengan mata bulat lucunya itu tanpa mengeluarkan suara, namun jelas jika anak itu keberatan dengan perginya Dira ke kampus.
“Kak Dira cuman sebentar kok, paling lama cuma tiga jam,” kata Dira lagi.
“Tiga?” Niat anak kecil itu mungkin akan menunjuk angka tiga dengan jarinya, namun yang terjadi malah menunjuk ke angka empat yang membuat Dira dan dua pengasuh Daffa tertawa dibuatnya.
“Iya, tiga,” jawab Dira sambil mencoba membenarkan angka tiga di jari tangan Daffa.
Daffa melihat kembali jari tangannya yang sempat dipegang Dira. Lalu mengangkat tangannya lagi dan bertanya kepada Dira.
“Tiga?”
“Iya, itu tiga, kalau yang tadi itu empat,” jawab Dira sambil tersenyum.
Daffa menganggukkan kepalanya beberapa kali dan tetap melihati jari tangannya yang masih menunjuk angka tiga.
“Jadi, Kak Dira bolehkan berangkat sekolah?” tanya Dira yang membuat Daffa dengan sepenuhnya menatap ke arah gadis itu.
“Cokat,” ucapnya kemudian.
“Cokat?” ulang Dira heran.
“Ice clim.”
“Oh... mau ice cream rasa coklat nanti?” tanya Dira yang hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh Daffa.
“Siap Bos, nanti Kak Dira bawain, sekarang Kak Dira berangkat dulu ya, dadah... Daffa.”
Sesampainya di kampus, Dira langsung memasuki kelasnya karena memang ini sudah jamnya, setelah hampir satu jam berkutat dengan mata kuliah yang menguras tenaga dan pikiran, akhirnya dosen mengucapkan beberapa kalimat akhir yang mengatakan sampai bertemu kembali minggu depan.
Dira baru saja keluar dari kelasnya dan akan segera pulang untuk membelikan ice cream untuk Daffa, jika saja Ratu tidak berdiri di depan kelasnya dengan raut wajah yang seperti menahan kesal.
“Kenapa Kak?” tanya Dira sambil berdiri didepan Ratu.
“Dirga bawel suruh gue nyari lo,” katanya ketus, namun Dira tidak akan sakit hati karena sejak mengenal Ratu, tidak pernah sehari pun gadis itu bisa berkata dengan santai.
“Kenapa?”
“Nggak usah banyak nanya deh, sekarang lo ikut gue,” katanya sambil berlalu.
Dira langsung berjalan menyamai langkah Ratu kemudian kembali berucap.
“Gue nggak bisa lama-lama Kak, soalnya udah ada janji.”
“Berisik lo!” Ratu berucap dengan tidak peduli.
Dira jadi kesal mendengarnya, untung saja Ratu adalah kakak tingkatnya, jika tidak sudah dipastikan Dira akan membalas ucapannya. Dengan cemberut akhirnya Dira mengalah dan memilih mengikuti Ratu yang berjalan ke aula kampus.
Di sana Dira melihat, Dirga, Oki, Mela dan Bagas yang tengah duduk melingkar di lantai dengan beberapa kertas dan tiga buah laptop. Dari raut wajah yang Dirga tunjukkan sepertinya ini bukan hal bagus dan benar saja, saat Dira juga Ratu tiba di sana dan ikut duduk dalam lingkaran itu Dirga langsung menyambutnya dengan ucapannya.
“Singkat aja, gue mau lo sama Oki bantuin timnya Ratu buat bikin proposal. Lo masih ada soft copy yang kemarin, kan?” tanya Dirga kepada Dira yang hanya diangguki beberapa kali oleh gadis itu.
“Bagus deh, gue mau paling lambat besok sore minimal soft copy udah ada sama gue.”
“Tapi Kak, gue-kan masih harus ngurus konsumsi.”
“Gue juga Kak, masih harus ngurus perizinan sama Bang Radit, gue-kan sekarang di bagian humas.” Oki juga ikut menyuarakan keberatannya dengan ikut andil dalam proposal.
Dirga menghela napas lelah mencoba mengontrol emosinya.
“Lo berdua dengerin gue baik-baik, percuma kalau lo ngurus konsumsi dan masalah perizinan kalau proposal aja belum ada bentuk fisiknya. Jadi, bantuin bikin proposal dulu baru selesaikan tugas kalian masing-masing. Gue cabut mau ngurus masalah pembicara sama Dekan.”
Sepeninggal Dirga mereka berlima yang ada di situ hanya mampu terdiam, sampai akhirnya Oki memulai pembicaraan.
“Udah sampai mana proposalnya?” tanya Oki kepada Mela yang langsung ditunjukkan gadis itu dengan membuka laptopnya.
Setelah membaca dengan singkat Oki menggaruk pelipisnya dengan bingung.
“Kalau ini sih belum semuanya.” Dira meringis mendengarnya lalu kemudian menatap Ratu yang tidak peduli dan malah asik dengan ponsel mahalnya.
“Yaudah kita cicil sendiri-sendiri aja Ki, lo sama Mela buat pembahasan sama penutup, nanti gue sama Bagas buat anggaran dananya,” ucapan Dira langsung disetujui oleh ketiga orang yang disebutkan namanya tadi.
Saat sedang asik dengan proposal itu, tiba-tiba saja Ratu menjerit histeris yang membuat beberapa orang di sana memandangnya dengan pandangan bermacam-macam. Tak terkecuali Dira, Oki, Mela dan Bagas mereka memandang Ratu dengan heran, sebelum Mela memutuskan bertanya.
“Kenapa Kak?”
“Pembicara kita kali ini Azka Nugraha?!” jeritnya kaget.
“Iya Kak,” jawab Mela sambil menganggukkan kepalanya.
“Kok gue nggak tau?” kini giliran Dira yang kaget mendengar ucapan Ratu, jadi selama ini dia kemana saja sampai baru tahu jika Azka adalah pembicara di seminar mereka.
Tidak ada yang menjawab pertanyaan Ratu sampai gadis itu kembali bersuara.
“Gue mesti dandan cantik nih pas waktu seminar, seenggaknya gue harus dapat nomer ponselnya.”
“Duda kayak dia mana mau sama cewek bar-bar kayak lo!”
“PAK AZKA DUDA?!” kini giliran Dira yang menjerit histeris dan mengundang beberapa tatapan yang secara terang-terangan memandangnya.
selamat membaca dan berkenalan dengan azka juga dira teman-teman, aku usahakan update setiap hari yaa
Azka mengemudikan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, bersyukurlah Azka karena jalanan masih cukup sepi, karena memang masih pagi, jika tidak, sudah dipastikan Azka menerima umpatan dari para pengendara di jalanan.Setelah memarkirkan mobilnya dengan asal di depan tempat kos Dira, Azka segera turun dari mobilnya dan berjalan setengah berlari ke arah kamar gadis itu, lalu menggedor pintunya dengan keras.“Ra, buka pintunya, Daffa di rumah sakit!”“Dira! Kamu didalam, kan?”“Ra, buka pintunya! Daffa cariin kamu dari semalam, buka pintunya, Ra!”Mungkin karena kegaduhan yang Azka perbuat, penghuni kamar kos di sebelah kamar Dira mulai membuka pintu kamarnya.“Pak Azka, ya?”Merasa namanya dipanggil, Azka menolehkan kepalanya kepada gadis yang Azka perkirakan usianya sama dengan Dira.“Iya, kenapa?”“Sebentar-” gadis itu kembali masuk ke dalam kamarnya dan tidak berapa lama kemudian, gadis itu keluar dengan membawa kunci.“Ini kunci kamarnya Dira, disuruh kasih ke Pak Azka.” Azka
Sepanjang perjalanan, hanya diam yang mengisi keheningan didalam mobil yang ditumpangi oleh Azka dan Dira. Dira memalingkan wajahnya ke arah jendela disampingnya, enggan melihat ke arah Azka. Sementara Azka sedari tadi ingin mengajak Dira bicara, namun Azka menahannya karena merasa jika suasana saat ini kurang pas.Sesampainya di depan tempat kos Dira, gadis itu baru saja akan keluar dari mobil Azka, namun pria itu menghentikannya.“Kita perlu bicara.”Dira menghela napas sebelum memilih tetap duduk didalam mobil Azka.“Mas sekarang udah bicara,” ucapnya dengan pelan.“Aku minta maaf, Ra, aku tau sikapku akhir-akhir ini sangat kekanak-kanakan, aku nggak bisa bersikap dewasa menghadapi semuanya. Aku, aku salah Ra, aku minta maaf.” raut wajah frustrasi tidak bisa Azka sembunyikan lagi, kentara sekali jika pria itu sedang cemas saat ini.Dira menghadap Azka lalu gadis itu tersenyum seperti biasa.“Aku maafin, Mas.”Seharusnya Azka senang mendengar jawaban yang Dira berikan, namun kenyata
Keadaan Azka tidak jauh berbeda dengan Dira, pria itu menjadi terkena insomnia. Azka terlalu memaksakan tubuhnya untuk bekerja, tidak tidur tepat wakku dan menjadi jarang menemani Daffa bermain, untung saja ada mama dan neneknya yang menemani Daffa.Azka memikirkan hubungannya dengan Dira yang menjadi semakin jauh ini. Sejujurnya Azka tidak menyukai ini, namun, dia juga benar-benar masih bimbang. Azka mengaku jika dirinya bersalah telah membohongi Dira waktu itu, bahkan sampai sekarang.Namun, tidak bisakah Dira memberinya waktu, bukan malah menjauh seperti ini. Azka memang hanya perlu waktu untuk berpikir, tentang Claris dan Dira. Dua perempuan itu berputar-putar di kepalanya hingga membuat kepalanya hampir pecah.*Beberapa jam sebelum pesta, di kantor AzkaBambang masuk ke dalam ruangan Azka tanpa permisi. Laki-laki itu duduk di sofa yang ruangan Azka. “Nanti malam, lo ada undangan ulang tahun perusahaan.”“Gue malas datang, lo aja.”“Kita berdua berangkat, lo perlu datang buat men
Karena memang acara bakti sosial akan dilaksanakan hari sabtu besok, maka, kini Ratu dan Dira sedang berada di pasar untuk membeli perlengkapan yang akan mereka butuhkan di sana nanti.Sedari tadi Ratu tidak berhenti mendumel, gadis itu menyalahkan Dira yang terlalu patuh dengan perintah Dirga. Ratu sudah mengatakan jika mereka lebih baik belanja di supermarket saja, tapi Dira menolak dengan tegas.Dan di sinilah mereka sekarang, setelah hampir dua jam mengelilingi pasar yang membuat kaki Ratu terasa hampir copot. Dira mengajak Ratu minum es cincau di tempat parkir pasar, tidak jauh dari mobil Ratu berada.“Lo gimana sama Pak Azka?” sebenarnya Ratu sudah ingin bertanya ini dari dulu, namun gadis itu mencari momen yang tepat.“Nanti kalau gue cerita sama lo, lo bakal bilang lagi sama anak-anak.” Dira tertawa di akhir kalimatnya.“Itu-kan karena gue keceplosan, soalnya si Dirga mancing-mancing terus.”Dira hanya tersenyum mendengarnya.“Ra, sebenarnya gue pengen tanya sesuatu sama lo. T
Azka pulang ke rumah sekitar pukul delapan malam, di saat semua orang di rumahnya sudah selesai melakukan makan malam. Azka memasuki rumahnya dengan langkah cepat, dia masih belum bisa bertemu dengan Dira.Namun, seruan dari sang ibu dari ruang tamu, membuat Azka menghentikan langkahnya dan berjalan menghampiri ibunya yang tengah duduk di sofa ruang tamu. Ibunya tidak sendiri, ada Dira dan neneknya, entahlah, tapi Azka merasa sesuatu akan terjadi setelah ini.“Kamu tumben pulang telat?”“Kantor lagi banyak kerjaan Ma, ada apa?” Azka bertanya sambil duduk di sofa tunggal tidak jauh dari ibunya.“Mama udah ke pikiran ini sejak beberapa hari yang lalu sebenarnya, Mama juga udah minta saran sama Papa, dan Papa kamu setuju. Jadi, Mama pikir nggak ada alasan lagi buat kamu menolak keinginan Mama ini.”“Tentang apa, Ma?”“Mama rasa kamu dan Dira harus tinggal di rumah yang berbeda, sebelum pernikahan kalian dilaksanakan.” sontak saja kalimat yang ibunya lontarkan, membuat Azka membulatkan ma
Dira kembali ke rumah Azka sekitar pukul tujuh malam, diantar oleh Oki. Bisa di bilang ini waktu terlama, biasanya gadis itu pulang ke rumah Azka tidak selama ini. Jika memang terlambat, gadis itu pasti akan mengatakannya kepada Azka.Dira memasuki rumah Azka dengan langkah pelan, gadis itu baru saja melangkahkan kakinya ke ruang tamu dan sapaan ketus langsung terdengar di telinga Dira.“Dari mana kamu?!”Dira menolehkan kepalanya ke asal suara tersebut, dan dia menemukan Azka yang tengah berdiri dan menatapnya marah.“Aku dari kampus,” jawab Dira pelan.“Dari kampus dan pulang jam segini?!” Azka tertawa sinis kemudian.“Kamu pikir aku nggak tau kalau jadwal kuliah kamu hari ini siang? Dan kamu berangkat dari pagi sampai pulang malam kayak gini. Kamu nggak mikir gimana Daffa nyari bundanya terus, kamu nggak mikirin gimana mama sama nenek yang repot diamin Daffa? Kamu malah enak-enakkan keluyuran nggak jelas dan pulang diantar laki-laki lain!” Dira menghela napasnya pelan.“Aku nggak







