INICIAR SESIÓNPagi harinya Dira sudah bangun pagi-pagi sekali atau dengan kata lain gadis itu tidak tidur selama semalaman, sehabis pembicaraan dengan Azka di meja makan, laki-laki itu langsung menyuruh Dira untuk masuk ke dalam kamarnya.
Namun, kenyataannya saat sudah berada didalam kamar dan berbaring di kasur empuk, matanya tidak kunjung tertutup juga. Jadi, Dira memutuskan untuk bermain ponsel lalu saat waktunya subuh gadis itu langsung pergi ke kamar mandi, untuk menyelesaikan kewajibannya.
Dan setelah semuanya selesai, di sinilah dia sekarang, di dapur bersama asisten rumah tangga Azka. Sebenarnya mereka semua menolak saat Dira akan membantu, mereka takut jika tuan mereka akan marah.
Azka tidak pernah membawa pulang perempuan kedalam rumah ini, kecuali ibu dan kakak perempuannya. Namun, dengan tiba-tiba saja Azka langsung membawa pulang Dira bahkan mengizinkan untuk menginap di sini. Gadis itu pasti cukup spesial untuk Azka.
Namun, Dira dengan segala kekeras kepalaannya memaksa mereka untuk membiarkan dirinya bekerja di dapur, seperti kata Azka tadi pagi, dia akan mengasuh Daffa dan melayani laki-laki itu. Bahkan sekarang gadis itu yang mengambil ali urusan memasak di dapur pagi ini. Moodnya cukup baik pagi ini walaupun dirinya tidak tidur semalaman.
“Makanan kesukaannya Pak Azka sama Daffa apa Mbak?” tanya Dira saat melihat-lihat bahan masakan di kulkas khusus makanan.
“Tuan Azka kalau sarapan jarang makan nasi, Non, palingan juga cuman roti panggang sama kopi hitam. Kalau Mas Daffa biasanya juga cuman makan biskuit sama susu, nanti jam sekitar jam sepuluh baru makan nasi,” jelas salah satu asisten rumah tangga Azka.
Dira mangut-mangut mengerti, tapi kalau sarapan hanya dengan roti dan biskuit mana kenyang? Dia biasanya selalu makan nasi jika sarapan, lagi pula bahan makanan di kulkas ini juga banyak, kenapa lebih memilih tidak sarapan.
“Saya masakin nasi aja ya, Mbak.” mendengar ucapan Dira, sontak saja ketiga asisten rumah tangga yang bertugas di bagian dapur itu menggelengkan kepalanya beberapa kali dengan panik.
“Jangan Non, nanti Tuan marah.”
“Nggak kenapa-apa Mbak, nanti saya yang tanggung jawab kalau Pak Azka marah. Mbak-Mbak ini tenang aja, ya.” Dira berucap sambil tersenyum menenangkan, yang sejujurnya tidak berefek apa pun kepada ketiga asisten rumah tangga Azka.
Lalu sedetik kemudian, Dira mulai mengeluarkan bahan-bahan yang akan dia masak untuk Azka dan juga Daffa. Sedangkan ketiga asisten rumah tangga Azka hanya menyaksikan itu sambil harap-harap cemas takut Azka marah.
Karena melihat banyaknya bahan makanan di kulkas, Dira memutuskan untuk memasak sayur asem, ayam bumbu kuning, ikan goreng, tahu, tempe dan pastinya kesukaannya sambal terasi. Perutnya saja sudah keroncongan membayangkan masakannya nanti.
Saat jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan, Azka dan Daffa turun dari lantai dua. Setiap pagi memang sudah tugas Azka untuk membangunkan dan memandikan Daffa lalu mereka akan sarapan bersama sebelum Azka pergi bekerja.
Saat kakinya sudah menapaki meja makan, harum masak nasi membuat Azka merasa mual seketika. Azka menurunkan Daffa di kursi yang biasa anak itu duduki lalu berteriak memanggil asisten yang bertugas di dapur.
“Mbak!” teriaknya dengan cukup keras yang membuat Daffa menatap ke arah sang Papa penasaran.
Para asisten rumah tangga Azka gelagapan sendiri mendengar teriakan murka dari tuan mereka, sementara Dira menatap ketiga perempuan itu dengan senyumnya sebelum berkata.
“Mbak tenang aja, biar saya yang menyamperi Pak Azka.” lalu gadis itu membawa ikan yang sudah dia goreng ke arah meja makan.
Azka memandang heran saat Dira muncul dari arah dapur sambil membawa piring berisi ikan goreng, jangan bilang kalau gadis itu yang memasak semua hidangan di meja makan ini.
Sementara Daffa yang melihat sosok Dira menjerit senang dan memanggil Dira dengan kata bunda. Dira balik senyum kepada Daffa lalu meletakkan ikan goreng di meja dan berjalan ke arah tempat duduk Daffa melewati Azka begitu saja.
“Hallo Daffa, hari ini sampai seterusnya Kak Dira bakal terus sama Daffa, seneng nggak?” tanya Dira sambil mengelus pelan kepala Daffa yang sudah ditumbuhi rambut yang hitam dan cukup tebal.
Daffa menganggukkan kepalanya beberapa kali dengan antusias, Azka memandang itu dalam diamnya sebelum memutuskan untuk bertanya kepada Dira.
“Dira.” panggil Azka.
“Iya Pak Azka,” jawab Dira sambil tersenyum.
“Kamu yang masak ini semua?”
“Iya Pak, itu semua saya yang masak. Itu ada sayur asem, ayam bumbu kuning, ikan goreng, tahu tempe sama ada menu kesukaan saya sambal terasi.”
“Kamu belum di kasih tau kalau saya nggak bisa makan nasi pagi-pagi?”
“Sudah kok, Pak.” mendengar jawaban Dira, Azka langsung memandang gadis itu dengan tajam.
“Lalu kenapa masih ada nasi di meja makan pagi ini?”
“Bapak Azka yang terhormat, seperti yang Bapak bilang kemarin. Saya mulai hari ini bertugas untuk menjaga Daffa dan melayani Bapak kan? Jadi, tugas utama saya adalah memasak untuk sarapan pagi, karena definisi sarapan menurut saya adalah makan nasi bukan roti atau biskuit, jadi itulah kenapa ada nasi pagi ini.” Dira menjelaskan sambil tetap tersenyum, dia tidak takut sama sekali dengan pandangan tajam yang Azka berikan kepadanya.
“Lagi pula Daffa itu masih kecil Pak, dia butuh asupan gizi yang benar. Hal kecilnya ya, termasuk sarapan pada jamnya dan juga makan tiga kali sehari.” Dira buru-buru menjelaskan karena sepertinya Azka akan mendebat apa yang dia katakan.
Azka menghela napas pelan, berusaha mengatur emosinya di pagi hari seperti ini. Dia baru saja akan membuka suara sebelum seruan Daffa membuatnya menghentikan niatnya untuk berkata.
“Nda, Dapa mau ikan,” katanya sambil menunjuk ikan goreng yang berada cukup jauh dari jangkauannya.
“Daffa mau ikan?” tanya Dira yang hanya diangguki oleh Daffa.
“Sama nasi, ya?” kini anak itu cemberut sambil menggelengkan kepalanya.
“Mau ikan,” katanya kembali.
“Yah, nasinya jadi sedih karena nggak dimakan, Daffa mau jadi anak nakal?”
“Dapa nggak nakal,” ucapnya lucu dengan menggelengkan kepalanya.
“Karena Daffa nggak nakal, makan ikan pakai nasi, ya? Nanti Kak Dira kasih bonus ayam juga.” mendengar ucapan Dira hampir saja membuat Azka menyemburkan tawanya, yang benar saja bonus ayam? Semua masakan yang tersedia di meja inikan memakai uangnya, yang berarti uang Daffa juga. Kenapa gadis itu bersikap seolah-olah semua masakan ini miliknya.
“Dikit,” jawabnya masih dengan cemberut sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada, persis seperti sang Papa jika sedang kesal dengan seseorang.
“Oke dikit.” lalu sedetik kemudian Dira dengan semangat mengambilkan nasi beserta sayur dan ikan juga ayam ke dalam piring Daffa.
“Suap,” ucap Daffa dengan begitu manja yang mau tak mau membuat Dira tersenyum.
Selesai sarapan Azka berpamitan kepada Daffa untuk berangkat bekerja, yang hanya diangguki kepala acuh oleh anak kecil yang kini sedang sibuk dengan ikan goreng di piringnya.
Azka yang melihat itu menghela napas lalu tersenyum kecil sebelum mengacak lembut kepala Daffa lalu berjalan keluar rumah. Dira yang melihat Azka melangkah menjauh berkata kepada Daffa sebentar.
“Daffa di sini sebentar ya, Kak Dira mau menemui Papa bentar.” Lagi-lagi Daffa hanya menganggukkan kepala acuh dan kembali fokus memakan ikan gorengnya.
Setelah dijawab dengan anggukan kepala oleh Daffa, segera saja Dira berlari ke dapur dan mengambil wadah tupperware sebelum kembali berlari ke depan menyusul Azka. Di pintu depan, Dira sudah melihat Azka yang akan segera pergi dengan mobil yang dikendarainya.
“Pak Azka!” serunya dengan cukup keras yang membuat Azka menghentikan mobil yang dia kendarai.
Azka membuka kaca mobilnya dan memandang bertanya kepada Dira. Dira tidak menjawab, dia malah berlari ke arah Azka dengan senyum yang sedari tadi tidak pernah luntur dari wajahnya.
“Ini Pak.” Dira berucap sambil menyerahkan wadah tupperware yang dia bawa tadi.
“Itu apa?” tanya Azka tidak langsung menerima wadah yang diserahkan Dira.
“Ini bekal buat Bapak,” jawabnya sambil tersenyum, Dira tidak tau saja saat dirinya berkata seperti itu para pengawal Azka berusaha dengan keras untuk tidak tertawa.
“Kamu serius kasih saya bekal? Saya bukan anak kecil lagi.” Azka berucap dengan ragu.
“Emang yang bawa bekal cuman anak kecil aja? Orang dewasa nggak boleh bawa?” Dira berucap sambil cemberut.
“Tapi-“ belum sempat Azka menjawab perkataan Dira, gadis itu sudah lebih dulu menaruh wadah itu ke dalam mobil tepatnya di pangkuan Azka.
“Udah Pak dibawa aja, saya nggak bisa lama-lama, Daffa saya tinggal sendiri tadi. Dimakan ya Pak, dadah!” lalu segera saja gadis itu berlari kembali ke dalam rumah, meninggalkan Azka yang masih bingung sendiri dengan bekal di pangkuannya ini.
Pagi harinya Dira sudah bangun pagi-pagi sekali atau dengan kata lain gadis itu tidak tidur selama semalaman, sehabis pembicaraan dengan Azka di meja makan, laki-laki itu langsung menyuruh Dira untuk masuk ke dalam kamarnya.Namun, kenyataannya saat sudah berada didalam kamar dan berbaring di kasur empuk, matanya tidak kunjung tertutup juga. Jadi, Dira memutuskan untuk bermain ponsel lalu saat waktunya subuh gadis itu langsung pergi ke kamar mandi, untuk menyelesaikan kewajibannya.Dan setelah semuanya selesai, di sinilah dia sekarang, di dapur bersama asisten rumah tangga Azka. Sebenarnya mereka semua menolak saat Dira akan membantu, mereka takut jika tuan mereka akan marah.Azka tidak pernah membawa pulang perempuan kedalam rumah ini, kecuali ibu dan kakak perempuannya. Namun, dengan tiba-tiba saja Azka langsung membawa pulang Dira bahkan mengizinkan untuk menginap di sini. Gadis itu pasti cukup spesial untuk Azka.Namun, Dira dengan segala kekeras kepalaannya memaksa mereka untuk m
Perjalanan menuju ke rumah Azka hanya diisi keheningan, karena baik Azka mau pun Dira sepertinya tidak berniat untuk membuka suara setelah kejadian tadi. Dira sibuk berpikir setelah malam ini, kemana dia harus pergi sedangkan Azka kembali berpikir ucapan yang keluar dari mulutnya tadi.Sebenarnya Azka bisa saja membayar tunai melebihi orang yang baru saja mengambil alih kamar kos Dira tadi, namun entah kenapa otaknya berpikir alangkah baiknya membawa Dira untuk ke rumahnya.Sesampainya di rumah Azka, Dira masih saja asik dengan lamunannya. Azka yang melihatnya menghela napas lelah, kini mobil yang dikendarai oleh Azka telah berhenti di depan pintu masuk rumahnya.Melihat gadis disampingnya ini membuat rasa iba Azka keluar seketika, gadis ini sedari tadi tidak mengeluarkan reaksi yang sewajarnya saat kehilangan tempat tinggal seperti orang pada umumnya.Dira tidak menangis ataupun memohon agar tetap diberi izin untuk tinggal, malah gadis itu menerimanya dengan pasrah, dan yang lebih ti
Akhirnya mobil yang dikendarai Azka telah berhenti di depan sebuah rumah, dengan pagar yang terbuat dari kayu jati. Azka menekan klakson di mobilnya beberapa kali. Lalu, pagar itu dibuka oleh seorang laki-laki yang Dira perkirakan adalah seorang satpam, karena mereka berpakaian serba hitam.Azka pun melajukan mobilnya untuk memasuki rumahnya. Dira benar-benar dibuat terkesima oleh halaman depan rumah Azka. Indah sekali. Jalan setapak dikelilingi pohon kanan dan kiri. Lalu saat masuk semakin dalam, Dira melihat sebuah taman kecil dengan satu buah gazebo yang dikelilingi kolam. Nyaman sekali pasti jika bisa bersantai di situ.Mobil yang Dira tumpangi berhenti tepat di depan sebuah pintu yang besar. Mungkin saja itu pintu utamanya. Azka keluar dari mobil diikuti Dira setelahnya. Dan di sana sudah ada sekitar empat orang yang sedang menunggu mereka dengan menundukkan kepalanya.Azka berhenti di depan mereka kemudian berkata. “Tolong parkirkan mobil saya.” tentu saja perintah Azka langsung
Azka telah sampai di alamat tempat kerja Dira, yang dia dapat dari hasil pencarian Bambang tadi. Sekarang masih jam lima sore. Tapi, Azka memutuskan untuk pulang kantor terlebih dahulu. Dia harus mencari Dira untuk Daffa. Anaknya itu sudah terlanjur di manja saat masih kecil. Jadi, sampai sekarang pun hal itu tidak bisa dia hindarkan dari Daffa.Toko baju ini lumayan besar. Dan setahu Azka, toko ini cukup terkenal di Malang. Jadi, mana mungkin dia mengelilingi toko tiga lantai ini, hanya untuk mencari keberadaan Dira? Bisa-bisa sampai jam enam nanti, dia baru menemukan keberadaan gadis itu.Azka turun setelah memarkirkan mobilnya di basemant toko ini. Langkahnya menuntun Azka sampai di lantai satu. Dia memperhatikan sekelilingnya dengan saksama. Menurut informasi dari Bambang. Dira bekerja sebagai kasir di bagian kosmetik di lantai satu.Jadi, saat dia telah berdiri di bagian kosmetik, tidak sulit menemukan sosok Dira yang sedang bekerja di tempatnya. Gadis itu cantik. Entah mengapa A
Part 2Kisah Indira “Maaf. Bapak, Papanya Daffa?” tanya Dira sopan.“Iya, saya Papanya Daffa,” jawab pria itu setelah menguasai keterkejutannya.“Tadi Daffa sendirian, jadi saya bantu cari orang tuanya. Maaf bikin Bapak khawatir.”Pria itu menggeleng pelan. “Nggak apa-apa. Saya yang harus terima kasih. Maaf kalau Daffa merepotkan.”“Sama sekali enggak, Pak. Daffa lucu kok.” Dira tersenyum manis.Azka terpaku sejenak menatap senyuman itu. Ia berdeham pelan untuk menguasai diri, lalu mengulurkan tangan.“Saya Azka. Azka Nugraha.”Dira tersontak terkejut. “Pak Azka? Pemilik Nugraha Company yang mau beri sambutan di Fakultas Ekonomi?”Azka terkekeh melihat kepolosan gadis di hadapannya. “Iya, saya Azka. Kamu kenapa?”“Ganteng banget,” ceplos Dira tanpa sadar. Wajahnya seketika memerah padam, membuat Azka kembali tertawa pelan. “Eh, maaf, Pak! Maksud saya— aduh, bingung jelasinnya.”“Santai saja. Kamu belum sebutkan nama kamu,” ucap Azka tenang.“Saya Indira, Pak. Senang bisa ketemu Bapak
Part 1Bunda!Langkah kaki Indira bergema kencang, dengan napasnya terengah-engah, serta peluh dingin yang mulai membasahi pelipis.Tubuhnya terasa begitu berat. Efek dari keputusan impulsifnya semalam—terbangun hingga pukul empat pagi demi mengejar deadline revisi proposal kegiatan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).Jika bukan karena tanggung jawabnya sebagai anggota divisi acara, Dira pasti sudah memilih meringkuk di bawah selimut."Indira!"Suara berat seorang pria terdengar memanggil namanya dari arah belakang. Dira mendadak menghentikan langkah, berbalik cepat, dan mendapati sosok yang paling ingin ia hindari pagi ini.Dirga. Ketua BEM bertangan dingin yang terkenal tak kenal kompromi. Pria itu berjalan mendekat dengan aura penuh dominasi seperti biasanya, membawa map tebal di tangan kiri.Dira berusaha mengulas senyum tipis, menutupi rasa lelah yang menggerogoti fisiknya. "Pagi, Kak Dir—""Mana proposalnya? Aman?" potong Dirga cepat, tanpa basa-basi.Dira mengepalkan kedua tangann







