INICIAR SESIÓNPunggung Tesa menegang ketika melihat iring-iringan kereta kuda perlahan menuruni bukit.
Derap langkahnya menggema. Di sisinya para pelayan telah siaga. Berdiri menyambut kehadiran rombongan Duke yang baru saja tiba dari kota Breda. "Astaga mereka lebih banyak dari yang aku kira." Soren berkomentar saat kereta kuda itu mendekat. Tapi yang paling menarik perhatian Tesa adalah kereta kuda itu jauh lebih besar dari kerGabriel tahu istrinya mengandung.Dua bulan berlalu sejak kematian Lady Jasmine. Saat itu musim gugur mulai datang, pohon-pohon mulai menguning. Kemudian berguguran, membuat kastil Veldam tampak seperti lukisan.Gabriel sudah mengurung diri selama berhari-hari di ruang kantornya mengurus bisnis perkereta apian dan perkapalan miliknya bersama Chole ketika tiba-tiba Ragnar masuk kemudian memberikan pengumuman."Duchess sedang mengandung, Duke."Pena modern yang sudah dilapisi dengan tinta di dalamnya yang sedang Gabriel genggam mendadak berhenti. Ia mengangkat kepala dari dokumen di atas meja dan mengerutkan alis.Ragnar melanjutkan. "Pagi ini Duchess memilih sarapan di kamar karena mengeluh kepalanya sakit. Dia hampir tidak bepergian beberapa hari terakhir karena sibuk mengajarkan Garret membaca serta menolak semua jadwal minum teh perkumpulan para ibu bangsawan. Itu menimbulkan gosip yang panas. Mereka menyebut Duchess sangat angkuh, jadi
"Aku rindu dengan Helena."Suara calon Duke membuat tidur Tesa di kereta kuda agak terganggu. Tetapi ia tetap menggeliat, kemudian membuka mata. Melihat kedua pria yang ia cinta sedang mengobrol dengan serius."Sudah lama sekali aku tidak berjumpa dengannya. Aku ingin bermain dan memanjat pohon bersamanya."Gabriel menahan diri untuk tidak segera merangkul anak itu dan mencubiti pipinya gemas. Sejak dalam perjalanan. Garret tidak pernah berhenti makan, mulutnya selalu mengunyah apa saja. Tesa benar kalau putranya ini memang menyukai semua jenis makanan."Menurutku, setelah ini mungkin kita bisa melakukan perjalanan ke Loma.""Tidak."Tesa mendelik dengan jawaban cepat Gabriel bahkan tanpa berpikir. Tesa tahu suaminya enggan ke Loma karena tidak ingin bertemu Mathius.Gabriel meringis kemudian mengulangi dengan lebih santai. "Kenapa tidak kau kirimkan saja surat untuk Helena?""Aku belum lancar menulis.
"Ikutlah dengan kami," pinta Tesa saat seluruh peti-peti mereka dikumpulkan.Tesa tidak pernah terlibat langsung dengan masalah 'Tupai' yang menjadi urusan suaminya dan Romeo. Ia hanya mendengar kabar terbaru secara berkala tentang situasi pria itu dan apa yang telah mereka lakukan padanya.Bagi Tesa keputusan Duke pastilah tepat dan bijaksana. Oleh sebab itu ia hanya menghormati dan mendukungnya. Lagipula ancaman nyawa bukanlah sesuatu yang sepele terlebih bila itu menyangkut putra mereka, Garret.Namun hal ini berbeda dengan Diana, meski pipinya mulai memunculkan rona, dan matanya sudah kembali cerah setelah tiga hari berlalu sejak kematian Lady Jasmine, tapi tidak bisa dipungkiri kepergian mereka membuat Diana lesu. Tesa sudah merasa terbiasa dengannya, dan pengalaman seminggu lebih di mansion membentuk persahabatan yang tidak mungkin bisa diabaikan."Aku membutuhkan pelayan pribadi tambahan untuk membantu Rose. Kau orang yang rapi dan cekatan,
Kematian Lady Jasmine yang mendadak ternyata membawa duka bukan hanya pada Diana tapi masyarakat di Hila.Mereka sempat mendengar tentang berita penembakan tetapi tidak berani mendekat karena ada Duke. Saat pengumuman Lady Jasmine meninggal disampaikan. Berbondong-bondong orang datang untuk melayat. Namun yang Tesa sadari adalah cerita mereka tentang sang Lady selalu sama."Lady Jasmine adalah orang yang perhatian." Selama menjadi tahanan rumah, beliau banyak membantu para janda, manula dan anak-anak untuk berkegiatan membaca dan menulis. "My Lady terima kasih atas jasamu.""My Lady pergilah dalam damai.""Aku akan merindukanmu My Lady.""Kami akan menjaga buku-buku yang kau berikan dan akan terus belajar membaca dan menulis. Terima kasih karena sudah bersama kami My Lady."Dan masih banyak lagi kalimat-kalimat yang mereka ucapkan saat melayat. Hal itu membuat tangisan Diana sulit berhenti. Di antara semua orang, dialah
"Aku bermimpi Lord Veldam." Lady Jasmine suaranya sangat lemah. Tiga hari telah berlalu sejak penembakan. Tesa mengetahui dari suaminya bahwa si penembak sudah tertangkap. Dan pria itu berasal dari ibu kota Kirk yang sengaja dikirim untuk membunuh keturunan mantan komandan. Saat ini Lady Jasmine masih kesulitan, ia tertidur dengan posisi tengkurap dengan kain yang melintang di punggungnya. Tesa duduk di pinggir ranjang, mendengarkan dia bicara."Kurasa dia sangat dendam padaku, bertahun-tahun aku selingkuh. Dia tidak pernah tahu apapun, katakanlah bahwa aku sangat pintar atau justru dia sebenarnya tidak peduli padaku."Tesa diam menyimak."Tapi Veldam adalah pria yang baik, meski sepanjang hidupnya dia sibuk bekerja, dia tidak pernah luput dari tugasnya sebagai seorang suami. Pria sepertinya tidak akan kutemukan lagi sekalipun aku sangat cantik."Ia terbatuk kecil, lamanya tidur dengan posisi seperti itu membuat pernafasan Lady Jasmine s
Gabriel mendekap erat Garret di dadanya, putranya baru saja tertidur setelah berjam-jam menangis. Sayangnya Garret pasti akan terbangun jika Gabriel meletakkannya di kasur. Putranya sangat ketakutan, dan ia tidak mau dengan siapapun selain Papanya. Tidak dengan Raina, Diana, atau bahkan Romeo. Garret menolak mereka semua dan hanya ingin dipeluk oleh Gabriel. Ragnar sudah pergi beberapa jam lalu bersama prajurit dan rombongan Romeo mengejar si penembak. Dan Gabriel yakin pria itu tidak akan bisa lolos. Gabriel memerintahkan padanya harus membawa pria itu hidup-hidup. Dan sekarang, berjam-jam sudah berlalu, matahari mulai terbenam namun Tesa dan dokter Dixon belum juga keluar dari kamar tempat Lady Jasmine diobati. Pintu itu tertutup rapat, hanya Rose dan dokter Shiloh yang bolak-balik keluar masuk, pontang-panting membawa peralatan, dan di antara semua kesibukan itu, mereka tidak bicara. "Nanti," sahut dokter Shiloh ketika
"Aku tidak tahu bahwa di sini ada paviliun, siapa yang tinggal di sini?" tanya Monica pada diri sendiri.Ia melangkah mendekat, rasa penasarannya menang melihat paviliun itu sangat cantik dan ditumbuhi bermacam-macam bunga."Apa yang Anda lakukan di sini My Lady?" tanya sebuah s
Gabriel masih tidak menyangka bahwa Tesa benar-benar berada di ranjangnya.Wanita itu terlelap setelah kelelahan, tidurnya sama sekali tidak tenang. Ini adalah kebiasaan Tesa, saat mereka pertama kali tidur di bawah pohon ek dalam perjalanan, bahkan di tempat penginapan yang nyaman. Tesa
Tesa menggeliat, merapatkan pahanya lalu meringis saat merasakan nyeri di sana. Kesadarannya perlahan pulih. Pakaian yang dilucuti. Sofa yang berderit. Ciuman Duke.... Ia memejamkan mata, berusaha menghilangkan ba
Keheningan yang pekak segera menyergap ruangan itu begitu badai gairah mereka perlahan mereda. Satu-satunya suara yang terdengar hanyalah detak jantung yang masih berpacu dari sisa napas memburu. Gabriel tetap diam di posisi itu selama beberapa saat, menyandarkan keningnya di bahu Tesa







