"Duke kau memanggilku?" Tesa melongokkan kepala dari celah pintu. "Sembilan puluh sembilan," sahut Duke menyindir. "Aku menunggumu seharian ini. Bukannya kau harusnya membantuku mengganti perban?" Tesa menahan senyum, walau baru merawat Duke selama beberapa hari, namun ia sudah merasa terbiasa dengan komentar pria itu yang penuh cibiran. "Aku tidak tahu kau masih menghitung, Duke," jawabnya ringan. "Kalau aku tidak menghitung, aku akan mati bosan." Tesa menyelipkan diri ke dalam kamar, membawa nampan berisi kain kasa steril, gunting kecil, mangkuk air hangat bercampur antiseptik, dan ramuan beraroma pahit. Ia menutup pintu dengan ujung kaki, lalu meletakkan nampan di meja samping ranjang. Duke sudah duduk setengah bersandar. Dadanya telanjang, hanya dibalut perban tebal melintang dari bahu hingga sisi rusuk. Kulitnya masih pucat akibat kehilangan darah beberapa hari lalu, namun rona di pipinya
Last Updated : 2026-03-18 Read more