LOGINMelihat adegan itu, Andini juga hanya bisa tersenyum dan menjawab, "Baik."Sebuah drama keributan pun berakhir begitu saja.Tak lama kemudian, suasana di meja jamuan kembali meriah seolah-olah tadi tidak terjadi sesuatu yang berarti. Namun, Andini dan Surya tahu jelas gadis bernama Rinun itu pasti mengetahui sesuatu.Saat malam sudah larut, jamuan pun akhirnya hampir mencapai penghujungnya.Saat itu, Surya tiba-tiba menyentuh lengan Andini. Begitu menoleh, dia melihat tatapan Surya yang mengarah ke tempat Ganendra berada. Dia pun ikut menatap ke arah itu dan melihat pintu kayu berukir di sisi aula entah sejak kapan telah terbuka.Seorang pengawal berpakaian ketat berwarna biru dengan pedang panjang di pinggang memelesat masuk dengan cepat. Dia menembus barisan dayang-dayang dan pelayan yang berdiri di kedua sisi, lalu langsung mendekati Ganendra. Dia membungkuk, lalu mengatakan beberapa kata dengan tergesa-gesa dan suara yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua.Senyuman di wajah Ga
Malam itu, ruang jamuan Keluarga Gutawa diterangi cahaya lampu.Di aula besar itu, puluhan lampu kaca bergaya istana tergantung tinggi, menerangi setiap sudut hingga seterang siang hari.Hidangan lezat terus dihidangkan, cawan emas dan giok saling beradu. Suara musik lembut dan merdu, para penari menari anggun. Namun, fokus semua orang tanpa sadar jatuh pada Andini.Dengan senyuman hangat di wajahnya, Braja memperkenalkan Andini, "Ini paman buyutmu yang ketiga, Janur. Dia yang mengatur jalur perdagangan utara Keluarga Gutawa. Kalau ke depan kamu butuh bahan obat langka, langsung saja cari dia.""Ini paman buyutmu yang kelima, Farhan. Dia seorang komandan pengawal. Ini paman buyutmu yang ketujuh, Kenon. Dia punya koneksi yang luas dan informasi yang cepat ...."Andini mengikuti perkenalan Braja, mengangkat cawan untuk memberi salam satu per satu. Akan tetapi, dia tidak menunjukkan emosi apa pun di wajah, hanya saling bertukar pandang dengan Surya.Perkenalan Braja yang begitu rinci, tam
Hati Andini sedikit mendingin. Dia berpikir, demi harta karun itu, Kepala Keluarga Gutawa tentu akan senang melihatnya datang.Namun, ekspresinya tetap tenang. Dia berkata dengan sopan, "Aku datang tanpa diundang, maaf kalau mengganggu.""Jangan bicara begitu!" Hasanun sama sekali tak keberatan, tetap sangat antusias. "Keluarga Gutawa jadi meriah karena kedatanganmu! Ayo, ayo, hari ini harus dirayakan baik-baik!"Tanpa memberi kesempatan menolak, dia langsung maju, hendak mendorong Surya dan Andini keluar.Tak disangka, Ganendra tiba-tiba berbicara, "Kalau begitu, bagaimana kalau aku ikut meramaikan juga? Kepala Keluarga Gutawa nggak akan keberatan, 'kan?"Langkah kaki Hasanun langsung terhenti. Dalam hati, dia memaki Pangeran Kedua yang bermuka tebal ini, tetapi tidak berani menolak. Dia hanya bisa memaksakan senyuman. "Kalau Pangeran berkenan hadir, itu tentu kehormatan besar bagi Keluarga Gutawa! Silakan!"Tatapan dingin Surya sekilas mengarah pada Ganendra. Ganendra sedang menatap
Saat ini, Surya tahu bahwa dirinya sedang serakah.Padahal dulu dia bukan orang yang tamak. Dulu, terhadap takhta dan kekuasaan, dia tidak punya sedikit pun keinginan. Kemudian saat menjadi pemburu, selama sudah menangkap mangsanya, dia tak pernah pilih-pilih.Hanya saat ini. Hanya sekarang.Dia serakah terhadap setiap helaan napas Andini, berharap seandainya mungkin, selamanya dan seumur hidup bisa terus memeluknya seperti ini.Sayangnya, langit tak selalu mengikuti keinginan manusia. Suara Hasanun tiba-tiba terdengar dari luar, dipenuhi nada mabuk yang berat. "Pangeran! Surya! Ke mana perginya kamu?"Ganendra juga berbicara dengan lidah yang kacau, "Pengawalku bilang, dia masuk kamar dengan seorang perempuan.""Apa?" Hasanun sontak tersadarkan. "Di mana? Ini gawat, gawat! Kalau dia berbuat tak senonoh setelah minum, Andin pasti marah besar padaku!"Saat berikutnya, terdengar jelas di luar sudah ada pengawal yang memberi jalan. Pintu kamar didorong terbuka, Hasanun hampir tersungkur m
Mata Andini memanas. Kedua lengannya yang melingkari pinggang Surya tanpa sadar semakin mengencang.Surya juga memeluknya erat, seolah-olah bagian tubuhnya yang hilang selama ini akhirnya kembali ke tempatnya.Di dadanya, ada rasa puas yang sulit diungkapkan. Namun, rasa itu segera digantikan oleh kekhawatiran. "Racun di tubuhmu ....""Sudah dinetralisasi," jawab Andini dengan lembut. "Kalau nggak, gimana mungkin aku bisa datang ke sini mencarimu?"Surya merasa lebih tenang, tetapi tetap menghela napas. "Aku bukan sudah menyuruh Enes untuk menahanmu? Kenapa kamu tetap mengambil risiko seperti ini?"Andini membenamkan wajahnya dalam pelukan Surya, menghirup aroma tubuhnya dengan penuh kerinduan."Keluarga Gutawa sejak awal memang datang karena aku. Kalau begitu, aku nggak boleh menyeret para kakak-kakakku ikut terlibat."Dan juga Rangga.Memikirkan itu, Andini membuka mata, lalu mundur dari pelukan Surya. "Bagaimanapun, Rangga tumbuh besar bersamaku. Saat kecil, aku menerima banyak bant
Surya tidak menoleh padanya. Penglihatannya pun menjadi goyah dan buram karena pengaruh arak.Dia hanya bisa menurunkan suara, terdengar tidak senang. "Tolong beri jalan."Namun tak disangka, orang itu bukan hanya tidak menyingkir, melainkan justru mengulurkan tangan. Ujung jari yang halus menyentuh pergelangan tangannya.Wajah Surya langsung menggelap. Baru hendak menepis tangan itu, orang itu tiba-tiba menariknya dan menyeretnya masuk ke sebuah ruangan di samping.Di dalam ruangan, cahaya redup. Hanya ada sebuah lampu kaca di sudut yang memancarkan cahaya samar. Udara dipenuhi aroma yang terasa familier. Jernih, dingin, bercampur sedikit wangi obat.Alkohol menyerang, membuat Surya merasa langkahnya melayang. Namun, kekuatan perempuan ini terlalu besar untuk perempuan biasa.Bisa jadi dia bukan perempuan sembarangan. Mungkin saja orang yang diatur oleh Hasanun atau Ganendra.Dia menggeleng-gelengkan kepala, berusaha mengusir rasa pusing agar bisa menghadapi apa pun yang akan terjadi.







