Mag-log inTatapan Braja sudah berubah sepenuhnya. Matanya sudah memerah dipenuhi dengan keserakahan dan kegilaan bagaikan binatang buas."Nggak cukup. Nggak cukup. Masih jauh dari cukup," kata Braja sambil menatap tajam piringan batu yang terus ternodai darah dan bibirnya bergetar sampai mengeluarkan geraman pelan seperti orang yang mengigau."Kamu sama persis dengan orang di lukisan itu ... sama persis. Darahmu, hanya darahmu yang baru bisa jadi kuncinya. Kamu pasti bisa membuka harta karun itu. Pasti bisa. Kurang banyak saja ... kurang banyak saja ...," gumam Braja terus dan mengabaikan penderitaan dan perlawanan Andini, seolah-olah telah terperosok sepenuhnya ke dalam ilusi obsesif.Suara Braja yang terdengar serak dan gila bergema di lorong sempit itu bagaikan bisikan dari neraka.Andini berpikir jika darah itu terus mengalir seperti ini, dia akan mati. Dia mengernyitkan alisnya dan menahan rasa sakit yang luar biasa saat tangan kirinya menyusup ke lengan bajunya. Dia meraba jarum perak, lal
Lorong itu sempit dan panjang. Dindingnya dipasangi batu yang memancarkan cahaya hijau suram, nyaris hanya cukup untuk menerangi anak-anak tangga batu yang licin di bawah kaki.Jantung Andini berdetak kencang. Setiap langkah dilaluinya dengan kewaspadaan yang luar biasa.Akhirnya, mereka tiba di lokasi mekanisme pertama. Itu adalah sebuah ruang batu yang relatif lebih luas. Di tengahnya berdiri sebuah altar batu kuno setinggi setengah tubuh manusia.Permukaan altar itu tidak rata, bahkan dipenuhi ukiran totem yang amat rumit, memancarkan aura kuno dan liar.“Di sini tempatnya.” Suara Braja menggema di ruang batu yang sunyi. Cahaya keserakahan di matanya hampir meluap.Tanpa ragu sedikit pun, dia mengeluarkan sebilah belati tajam yang bertatahkan permata dari sakunya, lalu menyerahkannya ke hadapan Andini. Nadanya sarat perintah yang tak bisa dibantah. “Andini, gunakan darah sebagai pemicu. Teteskan ke dalam cekungan untuk mengaktifkan pintu hidup pertama ini!”Andini menatap belati din
Andini refleks menahan napas. Udara dingin seolah-olah membeku di tenggorokannya. Dia mengeratkan jubahnya, membisu mengikuti Braja dari belakang.Cahaya bulan yang pucat bagai kain tipis yang menyelimuti bagian dalam kawasan terlarang. Di luar dugaan, yang tampak di hadapan bukanlah benteng ketat atau mekanisme berlapis-lapis, melainkan sebidang tanah lapang yang agak tandus.Di sekelilingnya tumbuh rerumputan dan pepohonan biasa, yang memunculkan bayangan aneh di bawah sinar bulan. Di tengah lapangan itu, berdiri sebuah rumah tua.Kening Andini berkerut rapat. Keraguan di hatinya tumbuh liar bagai sulur. Dia menatap Braja yang berjalan di depan dengan wajah penuh kepuasan. Suaranya terdengar dingin saat bertanya, "Apa rahasia seratus tahun yang dimaksud Kepala Keluarga ada di sini?"Sebuah rumah tua?Sudut bibir Braja terangkat membentuk lengkungan puas nan misterius. Matanya berkilat licik dan rakus, seolah-olah tengah memandang anak kecil yang polos. "Masuk saja, nanti kamu tahu!"
Ikhsanun tiba-tiba menoleh tajam ke arah Hasanun. Alisnya berkerut rapat. Dengan suara berat, dia menegur, "Jangan asal bicara! Kepala Keluarga masih menunggu di kawasan terlarang! Jangan buang-buang waktu di sini!"Usai berkata demikian, dia tak lagi memedulikan Hasanun. Dia berbalik ke arah Andini, kembali melipat tangan. Sikapnya dingin dan tertutup seperti biasa, sementara suaranya tenang. "Andini, silakan."Andini mengangguk pelan. Pandangannya melintas tenang melewati Ikhsanun, lalu berhenti sejenak di wajah tampan Hasanun yang masih menyunggingkan senyuman usil.Tatapannya dalam laksana kolam dingin di bawah cahaya bulan. Tenang tanpa riak, tetapi seolah-olah menyimpan ribuan makna. Di sana terselip pemahaman dan peringatan yang samar, seakan-akan hendak menembus sikap santainya dan langsung menyentuh isi pikirannya yang gelap.Sesaat kemudian, Andini menarik kembali pandangannya dan tetap diam. Dia mengeratkan jubah hitam legam di tubuhnya, laksana noda tinta yang menyatu denga
Andini menyelimuti tubuhnya dengan jubah tebal berwarna hitam legam, nyaris menyatu sepenuhnya dengan pekatnya malam.Dia sedikit mendongak. Cahaya bulan yang dingin mengukir garis rahangnya yang tegang. Bulan yang tergantung tinggi di langit itu memancarkan sinar dingin yang menusuk mata, membuatnya tiba-tiba teringat pada beberapa bulan yang dia habiskan di Lembah Raja Obat.Setiap malam bulan purnama, semuanya bagaikan sebuah hukuman, membuatnya hidup lebih menyakitkan daripada mati. Namun setiap kali, dia berhasil bertahan. Maka kali ini pun pasti akan sama!Saat itu, dari luar halaman terdengar suara langkah kaki yang sengaja diperlambat, tetapi tetap jelas terdengar. Dua bayangan yang ditarik panjang oleh cahaya bulan datang satu demi satu, melangkah di bawah sinar perak yang bening.Itu adalah Ikhsanun dan Hasanun. Hari ini, entah kebetulan atau kesepakatan, keduanya sama-sama mengenakan jubah brokat putih keperakan. Kain jubah memantulkan cahaya dingin yang lembut di bawah sina
Rinun mencengkeram lengan Andini erat-erat. Tenaganya begitu besar hingga mengejutkan. Matanya dipenuhi ketakutan yang mengakar dan kekhawatiran yang mendalam terhadap kawasan terlarang.Andini buru-buru menekan tangan Rinun. Emosinya benar-benar meluap. Sorot matanya menyala tajam seakan-akan ingin menembus penjara gelap ini."Justru karena Surya mengalami sesuatu di kawasan terlarang itulah aku harus pergi! Aku harus tahu kebenarannya! Harus memastikan apa sebenarnya yang terjadi di dalam sana!"Suaranya tidak keras, tetapi sarat dengan tekad nekat seolah-olah telah membakar semua jalan mundur.Rinun tersentak dan terdiam. Menatap cahaya keteguhan yang tak terbantahkan di mata Andini, dia akhirnya memahami makna di balik kata-katanya dan keputusan berat yang telah diambil Andini.Melihat Rinun terdiam, Andini bertanya dengan suara rendah, "Jadi sekarang, bisa kamu beri tahu aku apa sebenarnya yang tersembunyi di dalam kawasan terlarang itu?"Rinun menatap Andini begitu saja. Dia tahu







