Share

Bab 90

Penulis: Lalacolla
last update Tanggal publikasi: 2026-08-23 22:16:07

Chandani tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Sekarang, semua pertanyaan-pertanyaan di otaknya sudah terjawab dengan jelas. Bertanya memang lebih baik, daripada hanya mengira-ngira bukan?

Merek sudah sampai di parkiran klinik Chandani. Noval membukakan pintu mobil untuk Chandani. Dia juga menemani Chandani membuka klinik.

Noval masih punya waktu tiga puluh menit sebelum memulai meeting dengan klien barunya.

“Cahya sama Rika belum datang?” tanya Noval sambil membantu Chandani menyalakan lampu kl
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 90

    Chandani tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Sekarang, semua pertanyaan-pertanyaan di otaknya sudah terjawab dengan jelas. Bertanya memang lebih baik, daripada hanya mengira-ngira bukan?Merek sudah sampai di parkiran klinik Chandani. Noval membukakan pintu mobil untuk Chandani. Dia juga menemani Chandani membuka klinik.Noval masih punya waktu tiga puluh menit sebelum memulai meeting dengan klien barunya.“Cahya sama Rika belum datang?” tanya Noval sambil membantu Chandani menyalakan lampu klinik.“Sebentar lagi biasanya Rika datang. Kalau Cahya memang agak lama, soalnya rumah dia agak jauh.”Noval melihat sekitarnya. Ini pertama kalinya dia memasuki klinik milik Chandani. “Kamu nyewa ruko ini?”Chandani menggelengkan kepalanya. “Bapak yang belikan. Katanya buat kado.”Noval tampak terkejut. Memberikan kado berupa ruko, bisa Noval tebak jika orang tua Chandani sangat mampu.Noval duduk di sebelah Chandani. “Boleh kamu ceritakan tentang keluargamu? Jika kamu tidak keberatan.”“Bapak

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 89

    Pagi hari, saat terbangun dari tidurnya, Chandani melihat satu bungkus kertas nasi di meja makan. Chandani membaca tulisan yang ada di sana.Tadi, habis jogging. Aku beli nasi uduk buat kamu. Tapi kamu lagi tidur. Aku nggak mau ganggu kamu tidur.“Tulisan tangannya bagus.” Chandani memuji tulisan tangan Noval yang tampak rapi.Chandani segera mengambil handphonenya. Jarinya sibuk mengetik pesan untuk Noval.Chandani : [Terima kasih sarapannya mas Noval.]Mas Noval : [Sama-sama. Kamu berangkat kerja sama siapa?]Chandani : [Naik ojek online mas.]Mas Noval : [Bareng aku aja ya? Nanti kabarin kalau sudah siap berangkat kerja.]Chandani : [Iya mas.]Nasi uduk yang Noval belikan terasa sangat nikmat. Chandani tersenyum, Noval dan perhatiannya mampu perlahan-lahan meluluhkan hati Chandani yang mengeras.Setelah berbicara banyak hal dengan Duna semalam, tidur Chandani terasa sangat nyenyak. Rasanya ada beban yang terangkat dari hatinya. Apalagi, ucapan selamat tidur cantik, dari Noval. Memb

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 88

    “Ternyata, sembilan tahun pacaran sama kamu. Aku tidak banyak tahu tentang kamu ya Chan?” Duna membelai rambut Chandani. Tapi gadis itu malah memundurkan badannya.“Aku minta maaf karena bukan pacar yang baik.”“Mantan pacar.” Chandani membenarkan kata-kata Duna.Mereka memang sudah putus tiga tahun, jadi yang benar adalah mantan pacar.Duna tertawa kecil. “Iya, mantan pacar.” Tangan Duna mencubit pelan pipi Chandani. “Kamu, kurusan ya?”“Semenjak putus sama kamu aku kurusan.” “Kamu mau masuk dulu? Kita ngobrol di dalam?”Belum sempat Chandani menjawab, Duna sudah menarik lengan Chandani. Gadis itu akhirnya memasuki unit apartemen Duna.Unit apartemen berukuran tiga puluh satu meter itu tampak kosong. Tidak ada hiasan dinding apapun. Dahulu, saat di Australia, Chandani lah yang menata unit apartemen Duna.Menghiasi dinding dengan makrame rajut benang, rak ambalan minimalis yang Chandani isi dengan pajangan lucu. Kini, apartemen Duna tampak kosong. Hanya ada televisi, satu set meja m

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 87

    Setelah berbicara tentang perasaan satu sama lain, Chandani mengantarkan Noval pulang sampai parkiran basement. Malam ini, Chandani masih belum bisa menerima perasaan Noval. Tapi, jawaban Noval sudah cukup membuatnya bahagia. Noval akan menunggunya, hingga hatinya siap.Pintu lift terbuka di lantai empat. Seorang laki-laki tengah tersenyum dan berdiri di depan pintu unit apartemen. Duna, sedang menunggunya.“Hai.” sapa Duna sambil tersenyum.“Aku belikan martabak buat kamu.” Duna memberikan kantong plastik putih berisi martabak telur.“Aku tadi ketemu teman-teman kuliah dulu. Kamu ingat Arjuna? Dia sekarang kelihatan berbeda banget setelah pengobatan kanker nasofaring.”Arjuna adalah teman baik Duna waktu kuliah. Mereka sangat akrab. Dahulu, Chandani sering kumpul bersama teman-teman Duna.“Tadi, kamu dapat salam dari Arumi. Katanya, dia pengen ketemu kamu. Arumi sudah punya anak satu sekarang.”Ketika Chandani pergi ke fakultas ekonomi bisnis, Arumi menyambutnya dengan sangat baik. A

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 86

    “Kenapa minta maaf?” Noval melepaskan pelukan Chandani. “Duduk dulu, yuk?”Chandani duduk di sebelah Noval. Tidak ada jarak di antara mereka. Tubuh mereka saling berdekatan. Noval merangkul pundak Chandani. Membuat Gadis itu menyandarkan kepalanya di bahu Noval.“Tadi, aku dengar Rayhan bicara kalau senyumku mirip mendiang Sheena.” Chandani berbicara dengan suara sangat pelan.Untung saja, kedua telinga Noval masih berfungsi dengan sangat baik. Jadi dia masih bisa mendengarnya.“Kamu dengar?”“Iya.” “Kamu dengar juga tidak jawabanku?”Chandani menggelengkan kepalanya. Setelah mendengar ucapan Rayhan, Chandani langsung kembali berjalan ke ruang perawatan.Noval mengeluarkan handphone dari saku celana panjangnya. Kedua ibu jarinya sibuk mencari-cari sebuah foto.Noval menunjukkan foto itu kepada Chandani.“Senyum kamu tidak mirip dengan Sheena.”Chandani mengamati foto seorang wanita cantik yang tengah tersenyum di pantai. Wanita terlihat sangat cantik menggunakan setelan crop top berw

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 85

    “Ini bagus lukanya. Nggak ada nekrosis. Sepuluh hari lagi boleh lepas jahitan.” ucap Rayhan sambil menutup luka Chandani dengan perban anti air.“Jangan kena air dulu ya mbak?”Chandani tersenyum tipis. Ucapan Rayhan tadi mengganggu pikirannya. Apa senyumnya benar-benar mirip dengan mendiang istri Noval? Apa Noval mendekatinya karena hal itu?Noval menyadari jika Chandani tiba-tiba terdiam sejak tadi. Chandani juga mengalihkan pandangan darinya? Chandani tidak melihatnya, seperti biasanya. Ekspresi wajah Chandani terlihat seperti - sedih?Jemari panjang Noval menggenggam pergelangan tangan Chandani. “Beneran bagus kan lukanya? Soalnya tadi dia masuk kerja dan kayaknya agak banyak jalan.”“Aman kok Val. Tenang saja.” jawab Rayhan yang sedang menjauhkan peralatan rawat luka dari bed. “Obat pereda nyeri dari rumah sakit masih ada?” tanya Rayhan ke Chandani.“Masih.” jawab Chandani singkat.“Masih banyak nggak?” tanya Noval ke Chandani. Tapi Chandani tidak menjawab. Hanya menatap wajah N

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status