Share

Bab 86

Penulis: Lalacolla
last update Tanggal publikasi: 2026-08-21 23:19:35

“Kenapa minta maaf?” Noval melepaskan pelukan Chandani. “Duduk dulu, yuk?”

Chandani duduk di sebelah Noval. Tidak ada jarak di antara mereka. Tubuh mereka saling berdekatan. Noval merangkul pundak Chandani. Membuat Gadis itu menyandarkan kepalanya di bahu Noval.

“Tadi, aku dengar Rayhan bicara kalau senyumku mirip mendiang Sheena.” Chandani berbicara dengan suara sangat pelan.

Untung saja, kedua telinga Noval masih berfungsi dengan sangat baik. Jadi dia masih bisa mendengarnya.

“Kamu dengar?”

“
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 147

    Setelah makanan mereka hampir habis, Noval tiba-tiba meraih tas selempangnya."Aku punya sesuatu buat kamu."Chandani yang sedang meminum es jeruk langsung menoleh. "Buat aku?"Noval mengangguk. Dia mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna krem dengan pita putih yang melilitnya. Kotak itu diletakkan di hadapan Chandani dengan hati-hati.Mata perempuan itu membesar. "Mas Noval, apa ini?""Buka saja."Chandani menyentuh kotak tersebut, kemudian memandang Noval dengan rasa penasaran."Aku pesan dari pengrajin di Bali.""Wah…”Chandani membuka pita putih itu perlahan. Dia mengangkat tutup kotaknya, lalu terdiam ketika melihat sebuah gelang cantik yang tersusun dari butiran mutiara air tawar.Mutiara-mutiara itu memiliki warna putih lembut dengan kilau alami yang indah. Bentuknya tidak sepenuhnya seragam, justru membuat gelang tersebut terlihat unik dan elegan. Di antara rangkaian mutiara itu terdapat sebuah detail kecil berwarna keemasan dengan ukiran nama yang begitu dikenalnya.Chandani

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 147

    Bandara Internasional Yogyakarta sore itu dipenuhi kesibukan yang seolah tidak pernah berhenti. Suara pengumuman dari pengeras suara terdengar bersahutan dengan percakapan para penumpang, derap langkah orang-orang yang menyeret koper, serta suara roda bagasi yang bergesekan dengan lantai mengkilap.Di balik dinding kaca yang membentang luas, langit Yogyakarta perlahan berubah lebih gelap. Cahaya matahari sore menyusup di antara awan, menciptakan pemandangan yang indah di ujung landasan pacu. Beberapa pesawat tampak bergerak di kejauhan, sementara kendaraan penjemput silih berganti memasuki area kedatangan.Chandani berdiri tidak jauh dari pintu keluar kedatangan domestik. Perempuan itu mengenakan blus putih sederhana yang dipadukan dengan celana jeans biru. Tadi setelah selesai Home Care Nadel, Chandani cepat-cepat pulang dan mandi, Rambut pendeknya dibiarkan tergerai, sesekali bergerak tertiup angin ketika pintu otomatis terbuka dan membiarkan udara dari luar masuk.Sejak lima belas

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 146

    Hari Sabtu akhirnya datang. Sudah sepuluh hari Chandani tidak bertemu Noval. Rasanya, hari-hari berlalu sangat lambat saat dia tidak bisa bertemu Noval. Bagi Chandani, sepuluh hari terasa jauh lebih panjang daripada yang seharusnya.Pria itu sedang berada di Bali untuk mengerjakan sebuah proyek besar yang menyita hampir seluruh waktunya. Dalam sehari, Noval bahkan hanya bisa menghubunginya ketika pekerjaannya sedang memberikan sedikit ruang untuk bernapas.Kadang hanya sebuah pesan singkat.Mas Noval ❤ [Sudah makan?]Atau sebuah panggilan selama beberapa menit menjelang tengah malam. Dan setiap kali layar ponselnya menyala dengan nama Noval, tanpa sadar senyum Chandani akan muncul. Meskipun hanya sebentar. Meskipun setelah panggilan berakhir, rasa rindu itu justru semakin terasa.Siang ini, Chandani berada di rumah Noval. Bukan untuk bertemu pria itu. Melainkan untuk melakukan Home Care kepada Nadel.Anak kecil itu sedang berada di ruang khusus yang Noval buat untuk terapi, Nadel ber

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 145

    Basement apartemen malam itu cukup ramai. Beberapa mobil baru saja masuk dan suara mesin terdengar bergema di antara deretan kendaraan yang terparkir.Noval berjalan di samping Chandani menuju lift. Di tangan kanannya ada dua kantong plastik besar berisi bahan makanan yang baru saja mereka beli. Tangan kirinya menggenggam tangan Chandani.Langkah mereka tidak terlalu cepat.Noval bahkan beberapa kali memperlambat langkah ketika menyadari Chandani berjalan sedikit di belakangnya."Berat?" tanya Chandani sambil melirik kantong belanjaan."Enggak kok sayang.”"Aku bantu bawain ya?”"Enggak usah sayang.""Serius?""Iya, sayang." Noval tersenyum.Mereka telah sampai di depan lift. Noval menekan tombol berbentuk bulat, kemudian berdiri sambil tetap menggenggam tangan Chandani.Beberapa detik kemudian, suara mobil terdengar dari belakang. Chandani menoleh ke belakang. Wajahnya sedikit berubah ketika melihat mobil berwarna putih yang baru saja berhenti tidak jauh dari mereka. Noval mengikut

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 143

    Sore itu, suasana di ruang kerja Noval terasa jauh lebih tenang dibandingkan beberapa hari terakhir. Chandani duduk di sofa panjang di sudut ruangan, dengan kedua tangan menggenggam gelas air putih yang sejak tadi belum banyak disentuh. Tubuhnya memang sudah jauh lebih baik dibandingkan ketika berada di rumah sakit, tetapi Noval masih memperlakukannya seolah-olah, Chandani masih sakit. Di atas meja, di hadapan Chandani terdapat beberapa berkas milik Noval, laptop yang sedang terbuka, serta satu kotak kecil berisi biskuit.Noval yang duduk dibalik meja sedang berbicara dengan Zaidan mengenai pekerjaan.“Kalau struktur bagian belakang tetap seperti gambar terakhir, kita harus mengubah posisi kolomnya.” ujar Zaidan sambil menunjuk layar laptop.Noval mengangguk. “Geser dua puluh sentimeter. Jangan mengorbankan luas ruang keluarga hanya karena kita mempertahankan posisi kolom.”“Anggarannya?”“Aku hitung ulang malam ini.”Chandani hanya memperhatikan mereka dari kejauhan. Sesekali matany

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 142

    Sudah dua hari. Dua hari tanpa pesan dari Noval. Dua hari pula Chandani tidak berani menghubungi laki-laki itu.Awalnya Chandani mencoba meyakinkan dirinya bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Noval mungkin sedang sibuk dengan pekerjaan. N and N Architect sedang menangani beberapa proyek sekaligus, dan Chandani tahu betul betapa padatnya jadwal laki-laki itu.Namun, semakin lama, rasa tenang itu justru berubah menjadi kegelisahan. Pagi itu Chandani duduk di dapur klinik sambil menatap layar ponselnya. Percakapan terakhir mereka masih berada di sana. Tidak ada pesan baru.Jarinya sempat bergerak membuka ruang percakapan Noval. Mengetik sesuatu. Lalu menghapusnya dengan cepat. Chandani menghela napas panjang.“Kenapa cuma mau mengirim pesan saja susah sekali?” gumamnya.Chandani takut. Bukan takut Noval marah, melainkan takut dirinya mengganggu.Bagaimana kalau Noval sedang rapat? Bagaimana kalau pekerjaannya sedang berantakan? Bagaimana kalau pesan darinya justru membuat Noval mer

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status