LOGIN“Bulan depan aku pasti bisa merebut gelar sales terbaik.” Dua belas bulan Lia tidak berhasil menjadi sales terbaik karena selalu kalah dengan Elvan. Di bulan ke tiga belas, Lia masih kalah karena kliennya diberikan ke Elvan oleh atasannya. Merasa tidak adil, Lia ingin resign. Namun, Elvan justru mengajaknya taruhan. Lia menerima taruhan itu, dan dinamika hubungan mereka mulai berubah.
View More“Selamat pagi.”
Lia tersenyum dan menyapa setiap orang yang ditemuinya setelah memasuki area kantor PT Global Jaya.
Pagi ini Lia tidak berhenti tersenyum. Ia sangat antusias karena untuk pertama kalinya setelah satu setengah tahun bekerja Lia akhirnya bisa mendapatkan penghargaan sebagai sales terbaik.
Saat masuk ke ruang divisi, Lia menemukan Jamal, OB kantornya, sedang menyusun kue dan minuman di meja besar. Artinya perayaan sedang disiapkan.
Breaking record bulan ini sangat istimewa karena ada pesanan dari sebuah bengkel besar yang mencapai lima puluh ribu unit sparepart. Membuat target penjualan divisi sparepart motor terlampaui hampir dua kali lipat.
Semua pencapaian itu berkat Lia sehingga sudah pasti sales terbaik bulan ini adalah dirinya, Caliana Athaya Armania.
“Pagi, Farah,” sapa Lia pada rekan kerjanya yang sudah sibuk di telepon padahal waktu kerja mereka belum dimulai. Farah hanya membalas dengan lambaian dan Lia berlalu ke kubikelnya.
Lia menyalakan komputer, terlihat bersiap bekerja padahal sebenarnya yang Lia tunggu adalah pengumuman sales terbaik. Lia begitu antusias sehingga datang lebih pagi dari biasanya, bahkan rekan kerjanya baru beberapa yang muncul, termasuk Elvan Zyan Ghazi.
Elvan terlihat sedang membuat kopi di pantry sambil membantu Jaman memindahkan kotak-kotak kue ke meja.
Lia menatap Elvan dengan penuh kemenangan. Sebab bulan ini, ia berhasil mengalahkan pria itu.
Elvan Ghazi sudah menjadi sales nomor satu di divisi sparepart motor dua belas bulan berturut-turut. Namun, gelar itu tidak akan bisa lagi dipertahankan, mengingat Lia akan merebutnya.
“Lia, aku mau ngomong,” bisik Farah yang tiba-tiba sudah ada di sebelah Lia.
“Ngomong aja, Far,” sahut Lia yang kembali menatap Elvan. Sebelum Farah bicara, Lia kembali buka mulut, “Aku seneng banget akhirnya bisa ngalahin Elvan. Akhirnya, bisa juga ngalahin kulkas dua pintu itu.”
“Tapi, Li-“
Lia tidak membiarkan Farah bicara. “Aku heran, kok cowok pendiam dan dingin macam dia bisa dapat banyak klien dan penjualannya selalu nomor satu, kecuali bulan ini. Pakai cara apa dia ngerayu klien?”
“Dengerin aku, Li-“
Namun, Farah tetap tidak bisa menyelesaikan kalimat karena rekan-rekan kerja lain datang hampir di waktu bersamaan. Ruangan Divisi Penjualan Sparepart langsung ramai, dan saat Elvira, sales manager, datang, perayaan langsung dimulai.
Lia langsung menarik Farah agar bisa berdiri paling dekat dengan Elvira. Sementara Elvira memberi kata sambutan, Lia menunggu dengan tidak sabar.
“Tentu saja, semua pencapaian ini berkat kinerja kalian semua. Jadi, setiap orang mendapatkan apresiasi dalam bentuk bonus.”
Semua orang bertepuk tangan dengan semangat.
“Dalam kesempatan ini, saya juga ingin mengumumkan sales terbaik kita bulan ini yaitu …”
Lia menegakkan punggung, mempersiapkan diri karena namanya akan disebut.
“Elvan. Selamat ya bisa mempertahankan gelar sales terbaik yang ketiga belas.”
Semua orang memberikan selamat pada Elvan, tapi Lia membeku di tempat. Tatapan bingung Lia bertemu dengan mata Elvan.
“Bu-“ Lia sudah bersiap untuk protes ketika Farah menutup mulutnya, lalu menarik Lia ke pantry.
“Kalau kamu protes di depan umum akan mempermalukan dirimu sendiri,” bisik Farah.
“Tapi, apa sebenarnya yang terjadi?” Lia begitu bingung sampai hampir menangis.
Namun, ketika mata Lia melihat Elvan, kemarahannya muncul. “Kenapa dia lagi yang jadi sales terbaik?”
“Makanya tadi aku mau ngomong, tapi nggak sempat,” ujar Farah.
“Kamu tahu sesuatu? Ada kesalahan input atau gimana? Elvan dapat pesanan besar di menit-menit terakhir, makanya penjualannya lebih tinggi?”
Lia bertanya sambil membuka handphone membuka aplikasi khusus penjualan milik perusahaan untuk mengecek capaian penjualan setiap sales. Mata Lia membelalak ketika menemukan pesanan 50 ribu unit yang seharusnya miliknya dicatatkan atas nama Elvan.
“Apa-apaan ini?!”
Sebelum Lia sempat bergerak untuk melabrak Elvan, Farah menahannya.
“Klien sendiri yang minta ganti sales menangani pesanan itu,” bisik Farah.
“Apa?” Lia tak percaya.
“Aku baru tahu tadi pagi. Jadi-“
Farah belum selesai bicara, karena Elvira mendekat dan langsung berkata, “Lia, ke ruangan saya sebentar.”
“Jangan emosi, ya,” bisik Farah sebelum Lia mengikuti langkah Elvira.
Ketika berjalan ke ruangan Elvira, Lia melihat Elvan terus memandanginya, tapi pria itu tidak mengatakan apa pun. Mungkin takut karena Lia terus memelototinya.
Satu jam kemudian Lia keluar dari ruangan Elvira, langsung mengarah ke pintu keluar dan masuk toilet. Dalam bilik toilet, Lia berteriak untuk mengeluarkan emosi. Sampai ada orang yang mengetuk pintu dan bertanya.
“Kak, kamu baik-baik aja?”
“Iya, cuma kaget ada kecoa,” jawab Lia.
“Oh, saya panggilkan OB ya.”
“Nggak usah, nanti saya aja. Makasih.”
Lalu orang itu tidak berkata apa-apa lagi dan terdengar langkah kaki menjauh, sepertinya orang itu pergi.
Lia langsung keluar dari bilik dan berdiri di depan wastafel sambil merengut. Berbicara dengan atasannya sama sekali tidak mengurangi kemarahan Lia, malah rasanya ingin meledak.
Menurut Bu Elvira, Lia belum layak untuk menangani pesanan besar dari Bengkel Olila. Karena jam terbang dianggap masih kurang. Makanya pesanan itu diserahkan pada sales yang lebih senior, yaitu Elvan.
Lia sudah mencoba membujuk Bu Elvira agar memberinya kesempatan, terutama karena dari awal Lia lah yang mengusahakan pesanan itu. Namun, bukannya setuju, Bu Elvira malah mengancam.
Jika Lia berkeras, maka bulan depan hanya boleh menangani satu klien, Bengkel Olila, dan klien lain miliknya akan diserahkan pada sales lain. Akhirnya Lia lelah beradu argumen dan keluar dari ruangan Elvira dengan marah.
Lia menatap bayangan dirinya di cermin. Setelah menarik napas dalam, Lia memutuskan untuk mengakhiri ketidakadilan ini dengan resign.
Lia melangkah mantap kembali ke ruangan, duduk di kubikelnya, lalu mengetik surat pengunduran diri dengan penuh emosi. Setelah selesai, Lia langsung mencetak surat itu.
Lia melangkah ke printer yang terhubung dengan semua komputer milik sales untuk mengambil surat resign-nya. Satu printer multifungsi itu digunakan untuk kebutuhan sepuluh sales di divisi penjualan sparepart motor.
Namun, Lia tidak sempat mengambil hasil cetakan surat pengunduran dirinya, karena Elvan lebih dulu mengambil kertas itu.
Lia pulang ke rumah orangtuanya saat matahari berada di puncak kepala. Sebelumnya, Lia sudah memberitahu Mama lewat pesan kalau pergi ke luar karena ada urusan. Namun, pesan itu tetap tidak membuat Lia luput dari kemarahan Papa.“Dari mana kamu? Baru pulang jam segini!”Omelan Papa menjadi kalimat pertama yang Lia dengan saat masuk rumah. Papa sama sekali tidak membalas salam yang Lia ucapkan, malah terus memarahi dan menginterogasi Lia.“Kamu pergi ke mana? Dengan siapa? Harusnya bilang dulu sebelum pergi. Kamu tak tahu ‘kan Mama mencarimu sepagian karena kamu menghilang.”Lia mengabaikan Papa dan pergi ke dapur. Setelah mengambil sebotol air dingin di kulkas, Lia langsung naik tangga dan masuk ke kamarnya.“Lihat itu, anak yang kamu besarkan. Sudah berani melawan dia. Dipikirnya kita-“Lia mengambil earphone dan menyetel musik agar tak lagi mendengar suara Papa. Sebelum ini, hubungan Lia dengan Papa memang kurang baik. Salah satu alasannya, karena Lia memilih kerja di luar kota.Adan
Lia membiarkan panggilan dari Elvan hingga berhenti sendiri. Namun, Elvan masih mencoba menghubungi sehingga Lia akhirnya mengangkat telepon.“Sorry, ganggu tidurmu, tapi ada hal penting yang perlu kuomongin.”“Mau ngomong apa?”“Nggak enak ngomong di telepon, kita ketemuan.”Sebenarnya, Lia malas bertemu Elvan. Namun, nada mendesak dalam suara Elvan tidak bisa Lia abaikan. Pasti ada hubungannya dengan kejadian tadi malam. “Kapan?”“Pagi ini. Mau kujemput di rumah?”“Aku lagi di luar. Nanti ku shareloc, kamu samperin.”“Oke.”Panggilan ditutup, lalu Lia membagikan lokasinya.Tidak sampai sepuluh menit Elvan sudah terlihat dan langsung duduk di samping Lia setelah memesan seporsi nasi kuning.“Mau ngomong apa?” tanya Lia tanpa basa-basi.“Makan dulu baru ngobrol,” jawab Elvan.Lia hanya mengangkat bahu. Ternyata bagi Elvan makan selalu jadi hal nomor satu. Setelah nasi disajikan, Elvan langsung makan dengan cepat.“Lapar apa doyan?” Lia takjub dengan kecepatan Elvan makan.“Takut kamu
Sepanjang makan malam bersama itu Lia memberengut, tidak banyak bicara, dan hampir tidak menyentuh makanannya. Berbanding terbalik dengan Elvan yang makan dengan lahap seperti tidak ada masalah apa pun.“Kok kamu masih bisa makan?” bisik Lia.Elvan malah balik bertanya, “Kamu kenapa nggak makan?”“Mana bisa makan,” sahut Lia sebal, tapi tetap berusaha berbicara dengan pelan. “Ortu kita mau jodohin kita. Kok kamu bisa sesantai ini?”Elvan memandang Lia, lalu beralih ke para orangtua yang sedang makan sambil mengobrol. “Paling cuma bercanda,” ujar Elvan. “Lihat aja, sekarang mereka asyik membicarakan politik dan gossip artis. Mana ingat mereka soal jodoh-jodohan tadi.”Berbeda dengan Elvan yang santai, Lia justru khawatir. “Gimana kalau serius?”Elvan menelengkan kepala. “Ya, tinggal tolak. Kecuali kamu memang mau, bisa deh aku pertimbangkan.”“Nggak sudi!” Lia menyahut dengan cepat, tapi Elvan tidak terlihat tersinggung.“Nanti kalau ortumu nanya tinggal bilang nggak mau. Nggak mungkin
Setelah sarapan, Lia mandi dan bersiap. Kemudian pergi bersama orangtuanya. Pertama, mereka mengunjungi salah satu toko oleh-oleh milik orangtua Lia.“Pilih beberapa jajanan untuk dibawa ke rumah Fahmi,” kata Mama saat Lia melihat-lihat rak jajanan.Lia mengambil beberapa bungkus jajanan untuk Fahmi, lalu mengambil satu keranjang lagi dan mengisinya sampai penuh. Lia berniat membawa jajanan untuk oleh-oleh rekan kerjanya.“Kok bayar, Kak Lia? Kan anak yang punya toko,” ujar Rani, kasir di toko.“Tetap harus bayar dong, ntar tokonya rugi kalo anak yang punya ngambil mulu tanpa bayar,” sahut Lia dengan nada bercanda. “Yang di keranjang ini, nanti dipacking terus dikirim ke alamat ini.” Lia menulis alamat di kertas dan menyerahkannya pada Rani.“Siap, Kak Lia.”Mama menghampiri Lia dan berkata, “Kita beli hadiah buat Fahmi berdua aja, soalnya Papa mau ngecek pembukuan dulu.”Lia penasaran dan bertanya pada Papa.“Ada masalah ya?” “Nggak, cuma pengecekan rutin,” jawab Papa tanpa penjelasa






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.