Share

Bab 5 - Membantu Nuna

Keesokan paginya Raul melakukan latihannya secara gila-gilaan, bahkan para Kesatria yang ada disana merasa bahwa latihannya jauh lebih berat dari pada mereka. Angkat beban dan berlari mengelilingi lapangan kuda sejak fajar tanpa istirahat sedikitpun.

Raul masuk kedalam arena dan berteriak, "Majulah !"

"Majulah Nick... berikan Tuan Muda Raul pertarungan yang bagus."

Nick masuk kedalam Arena dan menarik Pedang, "Kesatria Bintang satu wakil Kapten Nick... senang bisa bertukar pengetahuan dengan Tuan Muda !"

Raul menarik Pedangnya dan mengangguk, dia mengambil tindakan dan mengayunkan Pedangnya terlebih dahulu. Nick menangkisnya dan serangan Raul terasa sangat berat hingga mendorongnya, Raul melompat sambil berputar dan mengayunkan Pedangnya tanpa memberikan celah bagi lawannya untuk menyerang balik.

Nick merasa kesulitan dan dipaksa menggunakan Mana, Aura Pedangnya dapat menahan serangan Raul yang jauh lebih berat dan walaupun gerakannya acak setiap Raul mengayunkan Pedangnya serangannya akan menjadi lebih kuat dari sebelumnya.

Raul mengangkat Pedangnya sekali lagi dan Nick tersenyum, celah didadanya pada saat mengangkat Pedang adalah kesalahan yang fatal. Nick melakukan gerakan menusuk dan Raul menanggapinya dengan santai.

"Kena kau !" Raul berputar dan menghindari ujung Pedang Nick.

Bilah Pedang mendarat tepat didekat leher Nick dan sedikit melukainya, tetesan darah perlahan keluar dan semua Kesatria takjub dengan kemenangan Raul. Bahkan Gin tidak bisa menilai gerakan Pedang Raul yang sangat bebas, kendali seperti itu tidak hanya dimiliki tanpa latihan yang keras dan dedikasi semata. Dibutuhkan bakat yang nyata untuk benar-benar membuat gaya Pedangnya sendiri.

"Sederhana dan terlalu mencolok... kau sudah kalah !" Raul menyimpan kembali Pedangnya dan mengakhiri sesi latihan.

Nick masih tidak bisa percaya bahkan setelah dia menggunakan Aura Pedang dia masih kalah dalam pertarungan. Raul tahu bahwa dia tidak bisa menandingi Aura Pedang Nick dan lebih memilih kecepatannya sebagai faktor penentunya.

"Tuan Muda... apa maksud dari perkataan Anda ?" Tanya Nick dengan penasaran.

"Pola pikir dan metodemu sangat sederhana... setiap gerakanmu terlalu mencolok." Jawab Raul sambil meminum air yang Nuna bawa untuknya.

"Lalu bagaimana solusi untuk menutupi kekurangan saya ?" Tanya Nick dengan sungguh-sungguh.

Raul tersenyum melihat sorot mata yang Nick tunjukan kepadanya, itu adalah mata seseorang dengan tekad ingin menjadi kuat. Entah apa yang dilaluinya sampai memiliki kemauan seperti itu tapi Raul dapat menilai jika orang ini sangat layak.

"Berapa umurmu ?" Tanya Raul dengan penasaran.

"27 tahun." Jawab Nick dengan hormat.

"Bagus... jadilah Bawahanku dan bersumpah setia hanya kepadaku seorang. Aku akan membuatmu menjadi lebih kuat dan berkembang, buat keputusan besok dan jika kau merasa ragu maka abaikan saja perkataanku." Raul pergi meninggalkan mereka bersama Nuna dan pergi keluar.

Nick merasa bimbang dan untuk sekarang dia akan memikirkan baik-baik penawarannya, tapi tentunya ini juga menyangkut dengan masa depannya sendiri.

Raul berjalan santai bersama Nuna dan melihat keramaian pasar. untungnya uang saku miliknya 100 koin emas dan bisa dikatakan cukup banyak, walaupun dia tidak terlalu diperhatikan setidaknya Ayahnya bukan orang yang pelit.

Sampainya mereka di Geraja disana ada tiga orang Dewasa yang menekan Suster dan Anak-Anak, Nuna yang melihatnya bergegas ingin menghentikannya dan Raul menarik tangannya. Seorang Pria sedang dipukuli dan Pria itu adalah kenalan Nuna saat di Gereja.

"Kalian bertiga berhenti." Raul berteriak dan mereka bertiga berbalik.

"Ho... bukankah ini Tuan Muda Raul... kami memiliki barang bagus apakah Anda bersedia mengeluarkan sedikit uang !" Kata Preman itu dengan santai.

"Ugh... jelaskan ada apa ini sebenarnya ?" Tanya Raul dengan dingin.

"Mereka punya hutang dan kami hanya menagihnya."

Seorang Anak yang memegangi rok Suster tidak tahan dan berteriak, "Kami hanya meminjam sepuluh koin perak dan mereka memaksa untuk menjual Geraja ini, mereka adalah penjahat."

"Jika ini hanya masalah uang maka aku akan melunasinya." Raul memberikan satu koin emas yang setara dengan 50 perak.

"Aku rasa tidak bisa... kami adalah Kelompok Serigala dan jujur saja tempat ini kami menginginkannya. Jika Anda tetap memaksa maka jangan salahkan kami bertindak kejam. Bahkan Earl Rain tidak akan berani membuat masalah dengan Kelompok Serigala kami." Ketiga Pria itu menunjukan tatonya.

"Hahaha... serigala katamu bukankah ini hanya anjing menggonggong tanpa punya kemampuan." Raul tertawa dengan keras dan tersenyum dengan penuh nafsu bertarung.

Pria itu memukul kearah Raul dan dengan cepat Raul menangkap pukulannya dengan tangan kirinya, dia menggunakan Qi miliknya dan memutar lengannya sampai patah. Dua lainya mengeluarkan pisau yang disimpan, mereka menyerang Raul secara bersamaan dan Nuna berteriak karena panik.

*Kling.*

Raul menarik Pedangnya dari sarungnya dan menebas mereka berdua dalam sekali serang, ketajaman Pedang Roso membelah tubuh mereka menjadi dua bagian dan Raul merasakan jika kegelapan Pedang ditangannya menyerap mana didalam tubuh Mayat itu.

Raul menyarungkan kembali Pedangnya dan menarik rambut Pria dibawahnya, "Katakan kepadaku... kau ingin mati atau hidup ?"

"Argh.... ampuni aku... jika kau membunuhku maka Kelompok Serigala akan membalas perbuatanmu."

*Bang.*

Raul membenturkan kepala Preman itu ketanah dan mengangkatnya, "Sudah dua orang dan jika ditambah dirimu memang apa bedanya. Karena kau ingin hidup maka katakan ini dan berteriak sekeras mungkin, katakan Kelompok Serigala tidak lebih dari anjing dan menggonggong tiga kali. Jika suaramu pelan dan membuatku tidak puas maka aku akan memotong kepalamu langsung ditempat."

Preman itu menelan ludahnya dan merasa takut, "Kelompok Serigala adalah Anjing bersama dengan orang-orangnya. Woof... woof... woof..."

Mereka yang mendengar teriakan ini merasa ingin tertawa, Raul mempermalukannya didepan umum dan melepasnya.

"Sana pergi." Raul menendang pantat Preman itu dan membiarkannya pergi. Sisanya dia menyuruh Penjaga mengurus mayat-mayat.

Suster itu berjalan dan memberi hormat, "Terimakasih Tuan Muda Raul atas bantuannya... tapi saya takut jika mereka akan membalas Tuan Muda nantinya. Mereka adalah Kelompok yang tidak takut dengan Bangsawan dan memberikan teror."

"Tenang saja... mulai besok mereka tidak akan ada lagi." Raul melihat Nuna dan berkata, "Kau disini saja dan bermainlah dengan teman-temanmu. Aku ingin pergi keluar dan berbelanja !"

"Tapi Tuan Muda... jika Anda bertemu mereka..."

"Memangnya apa yang bisa dilakukan mereka, banyak penjaga dan mereka tidak akan berani membunuh didalam Kota." Raul berjalan keluar dan memiliki maksud lain.

Raul sengaja melepaskan Pria itu agar dia menunjukan jalan ke markasnya, untungnya banyak seni yang dia kuasai dan Raul meninggalkan jejak Qi Murni yang bisa dilacak. Selama dia mengikut jejaknya maka menemukan markasnya akan lebih mudah, peraturan pertama jika ada yang berani membuat masalah maka itu harus dibersihkan sampai ke akar-akarnya agar dikemudian hari tidak ada masalah lain yang akan mereka ciptakan.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status