Share

Bab 4

Penulis: Kaleng
Rumah Sakit Grup Liandra, bangsal lantai tiga.

Untungnya, Cindy hanya mengalami palpitasi jantung. Tidak ada masalah serius. Charles menyeka keringat di dahi Cindy, lalu menyelimutinya.

Shira membeku di samping ranjang rumah sakit. Dia menggenggam kotak kosong di tangannya, bagai boneka kayu.

Charles berbalik. Saat melihat kondisi Shira yang seperti ini, hatinya terasa seperti tersumbat sesuatu dan tenggorokannya terasa sakit.

Dia mengerutkan bibirnya dan menarik Shira ke dalam pelukannya.

Mata Shira yang halus dan cerah itu telah kehilangan warna aslinya. Kini telah menjadi kusam dan tidak bersinar lagi.

"Maaf, Shira. Aku salah paham padamu. Kuenya nggak masalah."

Dia menempelkan dagunya di kepala Shira dan membelai punggung wanita itu dengan lembut.

Namun, Charles menyadari bahwa Shira terus mencengkeram kotak itu dan gemetar tanpa henti.

"Shira, kamu kenapa? Apa isi kotak ini?" Pria itu membungkuk pelan untuk menatap mata Shira yang tertunduk. Namun, dia justru terkejut melihat pembuluh darah merah pekat di mata Shira.

Charles akhirnya menyadari ada yang tidak beres. Pria itu agak panik. "Kamu nggak enak badan? Aku ambil stetoskop dulu."

Pria itu pergi terburu-buru. Meninggalkan Shira dan Cindy di bangsal.

Cindy membuka matanya dan duduk di tempat tidur. Senyumnya tampak cerah, tidak menunjukkan tanda-tanda sakit sedikit pun.

"Shira, kenapa kamu selalu seperti plester yang nggak bisa aku singkirkan?"

"Apa kamu nggak sadar, setiap kali aku menggunakan trik kecil, kamu akan dipukuli seperti anjing dan nggak bisa bangun?"

Dia perlahan mendekatkan diri ke telinga Shira dan mencibir. "Sama seperti penculikan yang direkayasa waktu itu."

Shira bisa melihat tatapan bangga di mata Cindy. Dia pun berkata dengan suara serak, "Kamu yang merencanakan kasus penculikan waktu itu?"

"Betul. Oh ya, insiden kecil di acara pernikahanmu itu juga ulahku." Cindy mencibir. "Charles itu milikku. Beraninya kamu merebut lelakiku. Aku harap kamu dan adikmu menerima pelajaran dariku."

Diliputi oleh keterkejutan dan kemarahan, mata Shira langsung berubah merah. Dia mengangkat tangannya dan menampar wajah Cindy dengan keras.

"Menerima pelajaran? Kalau gitu, terima juga tamparan dariku!"

Shira menampar dengan keras. Pipi Cindy langsung memerah dan bengkak.

"Dasar jalang! Beraninya kamu memukulku! Kamu nggak takut Charles memberimu pelajaran?" teriak Cindy sambil memaki.

Mendengar nama Charles, Shira tertegun sejenak, lalu melengkungkan bibirnya membentuk senyum sinis. "Betul, dia nggak akan membantuku, jadi aku harus balas dendam sendiri!"

Dia menampar wajah Cindy sebanyak dua kali dengan kedua tangannya.

"Argh!" Cindy menjerit kesakitan. Dia baru saja mau melawan, tetapi dia mendadak dengar suara di luar pintu.

Tatapan matanya tiba-tiba berubah tajam. "Shira, kamu percaya nggak? Charles akan memilihku selamanya."

Selesai berbicara, dia tiba-tiba terjatuh ke arah jendela, lalu mencengkeram Shira dengan erat agar ikut terjatuh bersamanya.

Di luar jendela, ada semak-semak yang ditutupi duri tajam!

Cindy berteriak sambil menangis.

"Charles, tolong aku. Shira mau bunuh aku!"

Charles meluncur ke arah jendela bagai anak panah. Matanya terbelalak penuh amarah saat melihat dua orang yang terjatuh secara bersamaan.

Revan mengikutinya dari belakang sambil berteriak keras, "Tuan Charles, kamu hanya bisa menyelamatkan satu orang saja! Cepat tentukan pilihanmu!"

Tatapan Charles tertuju pada Shira, tetapi detik berikutnya, dia mengulurkan tangannya dan meraih lengan Cindy, lalu menariknya erat ke dalam pelukannya.

Dia memeluk Cindy erat-erat, seolah baru selamat dari musibah. "Kakak Ipar, syukurlah. Syukurlah, kamu baik-baik saja."

Mata Cindy berkaca-kaca. Dia memeluk erat Charles, lalu memperlihatkan senyum puas, yang menusuk mata Shira.

"Plester." Cindy diam-diam berbicara pada Shira melalui gerakan bibirnya.

Saat itu, Shira merasa seakan-akan seluruh anggota tubuhnya dipenuhi pecahan es. Hatinya begitu sakit sampai mati rasa.

Dia memejamkan matanya dengan putus asa. Tubuhnya terjatuh ke semak-semak seperti layang-layang yang talinya putus.

'Charles, ternyata kamu sama sekali tidak pernah mencintaiku.'

Bruk!

Shira mengalami mimpi yang sangat panjang.

Dia kembali ke malam yang dipenuhi hujan deras tiga tahun yang lalu. Malam yang seperti mimpi buruk.

Dia berdiri tanpa alas kaki di genangan darah. Tangannya gemetar saat menekan nomor ambulans.

Orang yang menjawab telepon adalah seorang pria. Suaranya dalam dan tenang. "Halo, silakan bicara."

Shira berusaha sekuat tenaga untuk menjaga suaranya tetap stabil. "Kami mengalami kecelakaan mobil di Jembatan Pawan. Ayah dan ibuku pingsan. Tolong cepat datang ke sini. Kumohon, kumohon!"

Dokter di ujung telepon sana dengan cepat memberinya serangkaian instruksi pertolongan pertama padanya. "Nona, bertahanlah. Kami akan segera sampai!"

Ambulans tiba dengan cepat. Dokter itu juga ikut datang. Dia tetap tenang dan mengarahkan upaya penyelamatan dengan tepat dan cepat.

Kali ini, dia akhirnya melihat jelas wajah dokter dalam mimpinya.

Dokter itu adalah Charles.

Ternyata, dialah yang menyelamatkan orang tuanya waktu itu.

Di bawah keterkejutan yang luar biasa, sebagai mekanisme perlindungan, otak Shira mengaburkan ingatannya tentang hari itu.

Itu sebabnya, dia merasakan rasa aman dan ketergantungan yang aneh saat bertemu dengan Charles lagi.

Charles adalah penyelamatnya di masa sulit. Pria itu menuntunnya keluar dari bayang-bayang kematian orang tuanya dalam kecelakaan mobil dan memberinya secercah warna cerah di dunianya yang kelabu.

Namun dalam sekejap mata, dia terjepit di meja operasi yang dingin.

Charles yang mengenakan masker tampak mengangkat pisau bedah. Mata gelap di balik kacamatanya memancarkan tatapan sedingin es, seakan siap membedahnya hidup-hidup!

"Jangan! Charles! Ini aku, Shira. Kumohon jangan!"

Shira menjerit dan meronta. Dia memanggil nama pria itu berulang kali, tetapi satu-satunya respons yang terdengar hanyalah suara gemeretak dari pisau bedah yang membedah tubuhnya.

"Shira, ini adalah utangmu."

Selesai berbicara, pria itu segera menurunkan pisaunya.

Darah bercipratan di pakaian putih lelaki itu, tetapi dia mengabaikannya. Tangannya tampak menggenggam sebuah ginjal yang segar dan hangat.

Itu ginjal kirinya Shira.

"Ah!" teriak Shira. Dia terbangun dari mimpinya dan bertemu dengan sepasang mata gelap yang familier.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Rahasia di Balik Pernikahan Dokter   Bab 14

    Setelah dikurung lama, akhirnya Charles dibebaskan.Dia mengerutkan kening saat menatap pria jangkung dan gagah di depannya.Ternyata dialah yang membawa Shira pergi.Dia berkata kepada Sean dengan suara serak, "Kenapa kamu lepaskan aku? Apa kamu nggak takut Shira tahu kamu itu orang yang begitu kejam dan keji?"Sean tertawa terbahak-bahak, seolah mendengar lelucon paling konyol. Dia menatap Charles. Tatapan matanya sedingin es."Kamu kira aku sembunyikan semua ini dari Shira? Bagaimana kalau Shira tahu semua yang kulakukan ini?"Wajah Charles memucat. Pria itu langsung menyangkal. "Nggak mungkin, mana mungkin Shira membiarkanmu memperlakukanku seperti ini?"Wajah Sean langsung muram. Dia mendengus dingin. "Nggak mungkin? Kenapa nggak mungkin? Apa kamu lupa bagaimana kamu memperlakukannya dulu? Fakta kalau dia nggak memintaku untuk mengakhiri nyawamu saja sudah termasuk sangat baik!"Sean tidak berniat mengatakan apa pun lagi dan berbalik untuk pergi.Charles berteriak, "Berhenti! Berh

  • Rahasia di Balik Pernikahan Dokter   Bab 13

    Kota Gatham.Setelah melihat pesan dari informan di ponselnya, bibir Sean melengkung membentuk senyum dingin.Dia berkata dengan lembut, "Dia telah masuk perangkap."Shira tengah bermain-main dengan Lumi. Saat mendengar perkataan itu, dia pun berdiri dan berjalan ke arah Sean."Dia mau datang?"Orang yang dimaksudnya jelas adalah Charles.Sean mengangguk. "Benar. Kita sudah memasang jebakan di Gatham. Kita akan menangkap Charles begitu dia masuk ke Gatham."Dia memegang tangan Shira yang dingin dan gemetar, lalu menghiburnya."Shira, jangan khawatir. Aku akan balas seribu kali lipat rasa sakit yang dia berikan padamu."Shira menggigit bibirnya erat-erat. Suaranya sangat lembut. "Aku hanya ingin cari keadilan untuk Tiara dan anak dalam kandunganku. Mereka nggak bersalah."Sembari berbicara, air matanya mengalir di wajahnya seperti manik-manik yang pecah.Ternyata, Shira masih belum bisa melepaskan masalah Tiara dan ketiga anaknya.Jika kematian orang tuanya adalah duka seumur hidup, mak

  • Rahasia di Balik Pernikahan Dokter   Bab 12

    Di sisi lain, Cindy berpesta sepanjang malam dengan sekelompok sosialita di sebuah kelab malam.Ada beberapa pria penghibur yang berdiri di hadapan mereka. Semuanya berpakaian minim dan hampir menempelkan tubuh mereka ke tubuh Cindy.Sebaliknya, Cindy, yang dikenal sebagai wanita polos dan berbudi luhur di komunitas Howini, tidak menunjukkan rasa terkejut dan sepertinya sudah terbiasa dengan pemandangan ini.Jari-jarinya dengan lembut menelusuri perut seorang pria penghibur, sambil mengeluarkan suara tawa kecil.Melihat hal itu, seorang wanita menggodanya. "Cindy, kamu nggak takut adik iparmu datang menangkapmu karena bermain seperti ini?"Cindy melengkungkan bibirnya membentuk senyum sinis. "Mana mungkin si bego itu bisa berpikir begitu banyak? Waktu dia nggak sengaja mendengar pembicaraan kita sebelumnya itu, aku juga bisa dengan mudah menyakinkannya."Saat Charles mendengarkan percakapan mereka dari luar pintu, wajahnya makin muram, seolah-olah ditampar oleh realita.Detik berikutny

  • Rahasia di Balik Pernikahan Dokter   Bab 11

    Kota Howini.Begitu melihat tulisan 'Gatham' di helikopter, Charles mengabaikan nasihat semua orang dan bersikeras menuju ke utara.Bahkan Kakek Adi yang usianya hampir 80 tahun pun terkejut. Pria tua berjanggut putih itu bersandar pada tongkatnya dan tampak sangat geram."Charles! Coba saja kalau kamu berani pergi ke Gatham.""Kakek, aku harus menemukan Shira. Dia istriku. Mana mungkin aku menelantarkannya begitu saja?"Kakek Adi membanting tongkatnya ke tanah. "Tahukah kamu seperti apa Gatham itu? Begitu kamu meninggalkan Howini, meski aku punya kemampuan luar biasa, aku juga nggak bisa melindungimu!""Aku nggak butuh dilindungi lagi. Aku harus pergi cari Shira. Aku nggak peduli Kakek setuju atau nggak."Kakek Adi menarik napas berat beberapa kali, lalu melambaikan tangannya, dan memberi isyarat kepada kepala pelayan untuk membawakan beberapa dokumen."Charles, sebaiknya kamu lihat semua ini dulu. Siapa tahu barang ini bisa membantumu."Charles mengambil dokumen itu. Saat melihat tul

  • Rahasia di Balik Pernikahan Dokter   Bab 10

    Kota Gatham.Sean Fanjaya sedang mengoleskan obat ke luka di tangan Shira.Kesepuluh jari Shira yang putih dan ramping telah lecet karena kerikil kasar. Hasil dari ukiran batu di dinding setelah menyaksikan pemandangan di dalam vila.Bahkan, rasa sakit di jari-jari yang lecet tidak bisa dibandingkan dengan rasa sakit yang menyayat hati Shira.Dia masih pingsan. Alisnya berkerut, seolah-olah sedang bermimpi buruk.Tiba-tiba dia terbangun kaget, sambil menggenggam tangan Sean erat-erat. "Jangan!"Sean mengerutkan kening dengan kasihan. Dia segera berkata, "Jangan takut, jangan takut. Shira, sudah nggak apa-apa lagi."Shira baru tersadar kembali. Dia mendongak dan mendapati lingkungan yang agak asing baginya. "Di mana... ini?""Kota Gatham, rumahku. Tempat yang benar-benar aman."Sean menutupi tubuhnya dengan selimut sambil berkata, "Aku jamin nggak ada seorang pun yang bisa menyakitimu di sini, Shira."Mendengar kata-kata itu, wajah Shira akhirnya kembali tenang. Dia mengerutkan bibirnya

  • Rahasia di Balik Pernikahan Dokter   Bab 9

    Charles menyeret Cindy kembali ke vila Keluarga Liandra. Dia sama sekali mengabaikan tangisan dan permohonan wanita itu."Charles, lepaskan aku. Kamu sudah bikin aku kesakitan!"Riasan di wajah Cindy agak luntur. Charles juga meninggalkan bekas merah besar di lengannya.Melihat itu, Charles menarik napas dalam-dalam beberapa kali, lalu menenangkan emosinya."Kakak Ipar, apa maksud perkataanmu itu?"Menghadapi pertanyaan dingin dari pria itu, mata Cindy langsung memerah. Dia kembali memasang tampang yang rapuh dan rentan."Maksud apa lagi? Aku cuma nggak mau kehilangan harga diri di depan teman-temanku!"Ekspresi wajah Charles masih tidak senang. "Meski begitu, kamu juga nggak boleh bilang Shira seperti itu! Dia itu istriku."Mendengar ini, air mata Cindy mengalir di pipinya seperti manik-manik yang pecah. "Ya, kalian semua berpasangan, tapi aku nggak! Kakakmu ninggal di usia muda. Dia memercayakan diriku kepada kalian sebelum dia meninggal. Seandainya aku tahu kalian semua nggak menyuk

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status