Share

Bab 3

Author: Kaleng
Shira tidak pulang ke rumah, melainkan membawa jenazah Tiara ke Kota Gatham semalaman untuk melakukan penilaian kematian.

Charles memegang kekuasaan penuh di Howini, jadi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Namun, dia tetap ingin mencari keadilan untuk Tiara.

"Nona Shira, ada harga yang harus dibayar untuk membuat kesepakatan dengan tuan kami."

"Katakan saja berapa yang kalian inginkan."

Shira masih saja sangat cantik, tetapi dia sekarang mengenakan kacamata hitam yang menutupi matanya yang bengkak parah.

"Kami nggak menginginkan uang. Tuan kami menginginkan Nona Shira."

Orang di hadapannya menyerahkan sebuah kontrak pernikahan.

Punggung Shira tiba-tiba menegang. Ujung jari yang ramping dan putih itu menjepit tanda putih di telapak tangan.

Dia pernah mendengar bahwa tuan muda dari kalangan elite Kota Gatham adalah seorang pria cacat yang kejam dan tidak berperasaan. Dia sudah mendekati ajalnya dan sedang mencari calon pengantin yang bisa memberinya keberuntungan.

Setelah terdiam cukup lama, Shira menjawab dengan suara yang sangat pelan, "Baiklah, aku setuju."

Pada dasarnya, dia sudah tidak punya apa-apa lagi. Kini dia hanya punya satu keinginan, yaitu agar Tiara bisa beristirahat dengan tenang.

Menikahi tuan muda ini berarti menjalani hidup seperti janda, 'kan? Dia tidak takut.

"Kami butuh tiga hari untuk melakukan persiapan. Tuan kami akan pergi ke Kota Howini untuk menangani masalah ini, lalu menjemputmu dan membawamu ke Gatham."

Shira mengangguk. Tenggorokannya terasa agak kering. "Aku mengerti. Aku akan minta Charles menandatangani surat cerai secepatnya."

Tiga hari. Acara pernikahan yang direncanakan oleh Charles juga akan dilangsungkan tiga hari lagi.

Shira segera menandatangani namanya di surat nikah. Rambut hitamnya yang tergerai menutupi kesedihan yang terpancar di bibirnya.

Charles tidak pulang ke rumah sepanjang malam.

Keesokan harinya, saat kembali, Charles tampak merangkul Cindy dalam pelukannya.

Karena baru saja menjalani operasi, wajah wanita itu kelihatan pucat. Dia bersandar di bahu Charles. Saat menatap pria itu, matanya dipenuhi kerinduan.

Keduanya sama sekali tidak terlihat seperti kakak ipar dengan adik ipar. Mereka bisa dengan mudah disangka sebagai pasangan pengantin baru.

Shira berdiri di lantai yang dingin tanpa alas kaki sambil menggendong kucingnya, Lumi. Dia mendengar Charles dengan cermat memberi instruksi kepada kepala pelayan tentang setiap detail kecil.

"Aku akan mendekorasi ulang rumah sesuai keinginan Cindy. Aku ingin merawat kakak iparku sendiri.

"Baik, Tuan Charles."

"Cindy suka karpet putih, jadi ganti karpet berwarna hangat ini."

"Dia alergi mawar, jadi nggak boleh ada sehelai pun kelopak mawar di rumah ini!"

"Dia baru saja menjalani operasi dan perlu tinggal di ruangan paling hangat dan paling banyak terkena sinar matahari."

Selesai berbicara, seluruh vila menjadi sunyi. Semua orang menatap Shira.

Semua orang tahu kalau Shira paling suka bunga mawar. Dia paling suka ruangan yang terkena sinar matahari. Dia juga paling suka bermain dengan Lumi di karpet berwarna hangat itu.

Shira menurunkan kelopak matanya sambil membelai kucing itu dalam pelukannya. Dia tidak mengangkat kepalanya sedikit pun.

Charles sepertinya juga menyadari sesuatu. Dia mengerutkan kening sambil menatap Shira. "Shira, Cindy baru saja menjalani operasi. Kamu harus pengertian padanya."

Shira akhirnya mengangkat kepalanya. Ada senyum sinis tersungging di bibirnya. "Kalau aku bilang nggak, apa kamu nggak akan memberikannya?"

"Apa masih kurang banyak yang kamu ambil dariku, lalu kamu berikan padanya?"

Nada suara Shira terdengar dingin, tetapi tangannya yang tersembunyi di balik lengan bajunya gemetar tidak terkendali.

Bukankah Charles telah mengambil ginjalnya, ginjal Tiara, dan memberikannya pada Cindy?

Kapan Shira pernah punya hak untuk menolak semua hal ini?

Wajah Cindy memucat. Dia menggigit bibirnya dan menarik lengan baju Charles. "Charles, kalau Adik Ipar nggak menerimaku, lebih baik aku pergi saja."

"Shira!" Wajah Charles berubah muram. Tatapan matanya penuh dengan peringatan. "Jangan keterlaluan."

Ucapannya yang santai membuat bahu ramping Shira bergetar.

Ternyata hati seseorang memang bisa begitu bias.

Charles memberikan kesehatannya, haknya untuk memiliki anak, dan cintanya pada Cindy.

Meski begitu, pria itu masih merasa belum cukup.

"Oke. Charles, berikan saja semua padanya." Sedetik sebelum air matanya jatuh, Shira langsung berbalik dan pergi.

Dia tidak menginginkan cinta yang tidak bisa dimilikinya.

Shira dan Lumi berada di ruang hewan peliharaan.

Hanya ini satu-satunya tempat yang bisa dia tinggali di vila sebesar itu.

Suara lembut Cindy terdengar. "Charles, jangan-jangan Adik Ipar nggak senang? Bagaimana kalau kamu pergi membujuknya?"

Pria itu berkata dengan suara dingin, "Jangan khawatir. Shira memang agak manja. Biarlah dia mengubah sifatnya itu."

Shira menggenggam kotak kecil di tangannya dan menggigit bibirnya dengan keras.

Kotak itu berisi abu Tiara.

"Jangan nangis, Kak Shira. Kalau Tiara sudah besar nanti, aku pasti akan melindungimu!"

Gadis kecil dalam ingatannya mengenakan baju rumah sakit dan mengayunkan tongkat ajaib di tangannya.

"Oke, Kakak akan tunggu. Dokter bilang penyakit Tiara akan segera sembuh. Bagaimana kalau Kakak ajak kamu pergi ke taman hiburan nanti?"

"Oke!"

Tawa riang Tiara masih terngiang di telinganya. Dalam sekejap mata, Tiara sudah terbaring di dalam kotak kecil itu. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun padanya.

Shira memeluk kakinya dan meringkuk di sudut, lalu menangis tersedu-sedu.

Di luar ruangan, Charles membeli barang-barang buat Cindy untuk merayakan kepulangannya dari rumah sakit.

Suara tawa memenuhi ruangan. Seakan menciptakan suasana riuh yang berasal dari dunia lain.

Saat malam tiba, Charles akhirnya kembali ke kamar tidur utama.

Shira bersandar di sisi tempat tidur. Ada sepoci teh herbal di sampingnya, yang samar-samar mengeluarkan aroma pahit.

Charles menatapnya. Pria itu baru menyadari bahwa berat badan Shira banyak menurun. Pergelangan tangannya yang sudah ramping, kini setipis tulang.

Begitu ringan, seakan-akan bisa menghilang kapan saja.

"Shira, kenapa kamu masih belum tidur?"

Dia melembutkan suaranya dan memeluk Shira.

"Jangan ngambek karena kejadian hari ini. Kakakku meninggal di usia muda. Kakak Ipar sendirian dan tubuhnya lemah."

"Aku berencana mengadakan pesta ulang tahun untuk Kakak Ipar besok. Ayo, kamu juga bantu-bantu aku. Biasanya perempuan suka apa saja?"

Pria itu menatapnya. Suaranya penuh antusias dan gembira.

Shira merasa tenggorokannya seakan tersumbat kapas.

Dia bertanya dengan lembut, "Charles, kamu ingat nggak besok hari apa?"

Dia mengerutkan kening. "Hari apa?"

Wajah Shira perlahan memucat. Dia memaksakan senyum. "Bukan apa-apa."

Besok adalah hari peringatan kematian orang tuanya.

Sejak mereka menikah, Charles setiap tahun pasti akan menemaninya pergi ritual sembahyang ke makam orang tuanya Shira.

Demi menjaga perasaannya, Charles tidak pernah merayakan apa pun di hari itu, tetapi hanya menghabiskannya bersamanya dengan tenang.

Namun, pria itu lupa sekarang.

Pria yang pernah mencintai dan melindunginya kini hanya peduli dengan Cindy saja.

Shira menarik napas dalam-dalam, lalu menahan emosinya yang bergejolak, dan mengeluarkan surat perjanjian cerai.

Dia menutupi bagian atasnya dan hanya membiarkan bagian tanda tangan terbuka, lalu mendorongnya ke hadapan Charles.

Pria itu mengerutkan kening. "Apa ini?"

Sebelum Shira sempat menjawab, suara gaduh tiba-tiba terdengar dari luar pintu.

"Tuan Charles, gawat! Nona Cindy diracuni dan pingsan!"

Wajah Charles memucat. Dia bergegas keluar dari kamar tidur. "Cindy, kamu kenapa?"

Shira tertegun sejenak. Dia juga mau menyusul, tetapi dia dikejutkan oleh Charles yang tiba-tiba berbalik.

Charles mendorong pintu dengan kasar, lalu melontarkan pertanyaan dingin, "Shira, apa saja yang kamu masukkan ke dalam kuemu? Cindy pingsan setelah makan kue buatanmu!"

Melihat kotak kecil di samping bantal Shira, pria itu tiba-tiba mendengus dingin. "Shira, hebat kamu sekarang. Beraninya kamu menaruh racun di dalam kue?"

Shira berseru kaget, "Nggak! Kamu nggak percaya aku?"

Mata Charles merah padam. Pria itu menunjuk wajah pucat Cindy dan busa putih di sudut mulut wanita itu, lalu menegur Shira dengan marah, "Kamu mau aku bagaimana percaya padamu? Apa masih belum cukup kamu mencelakai Cindy sekali?"

Selesai berbicara, tanpa menunggu penjelasan Shira, pria itu merebut kotak itu dari tangan Shira dan melemparkannya ke luar jendela sambil berkata, "Barang kotor."

"Jangan!"

Shira menjerit dan mencoba menghentikannya, tetapi yang dilihatnya hanyalah kotak itu terbuka di udara dan isinya yang berwarna putih keabu-abuan berjatuhan tertiup angin kencang.

Diikuti bunyi 'krek'... Dia seakan-akan mendengar hatinya hancur berkeping-keping.

Tidak bisa disatukan kembali lagi.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rahasia di Balik Pernikahan Dokter   Bab 14

    Setelah dikurung lama, akhirnya Charles dibebaskan.Dia mengerutkan kening saat menatap pria jangkung dan gagah di depannya.Ternyata dialah yang membawa Shira pergi.Dia berkata kepada Sean dengan suara serak, "Kenapa kamu lepaskan aku? Apa kamu nggak takut Shira tahu kamu itu orang yang begitu kejam dan keji?"Sean tertawa terbahak-bahak, seolah mendengar lelucon paling konyol. Dia menatap Charles. Tatapan matanya sedingin es."Kamu kira aku sembunyikan semua ini dari Shira? Bagaimana kalau Shira tahu semua yang kulakukan ini?"Wajah Charles memucat. Pria itu langsung menyangkal. "Nggak mungkin, mana mungkin Shira membiarkanmu memperlakukanku seperti ini?"Wajah Sean langsung muram. Dia mendengus dingin. "Nggak mungkin? Kenapa nggak mungkin? Apa kamu lupa bagaimana kamu memperlakukannya dulu? Fakta kalau dia nggak memintaku untuk mengakhiri nyawamu saja sudah termasuk sangat baik!"Sean tidak berniat mengatakan apa pun lagi dan berbalik untuk pergi.Charles berteriak, "Berhenti! Berh

  • Rahasia di Balik Pernikahan Dokter   Bab 13

    Kota Gatham.Setelah melihat pesan dari informan di ponselnya, bibir Sean melengkung membentuk senyum dingin.Dia berkata dengan lembut, "Dia telah masuk perangkap."Shira tengah bermain-main dengan Lumi. Saat mendengar perkataan itu, dia pun berdiri dan berjalan ke arah Sean."Dia mau datang?"Orang yang dimaksudnya jelas adalah Charles.Sean mengangguk. "Benar. Kita sudah memasang jebakan di Gatham. Kita akan menangkap Charles begitu dia masuk ke Gatham."Dia memegang tangan Shira yang dingin dan gemetar, lalu menghiburnya."Shira, jangan khawatir. Aku akan balas seribu kali lipat rasa sakit yang dia berikan padamu."Shira menggigit bibirnya erat-erat. Suaranya sangat lembut. "Aku hanya ingin cari keadilan untuk Tiara dan anak dalam kandunganku. Mereka nggak bersalah."Sembari berbicara, air matanya mengalir di wajahnya seperti manik-manik yang pecah.Ternyata, Shira masih belum bisa melepaskan masalah Tiara dan ketiga anaknya.Jika kematian orang tuanya adalah duka seumur hidup, mak

  • Rahasia di Balik Pernikahan Dokter   Bab 12

    Di sisi lain, Cindy berpesta sepanjang malam dengan sekelompok sosialita di sebuah kelab malam.Ada beberapa pria penghibur yang berdiri di hadapan mereka. Semuanya berpakaian minim dan hampir menempelkan tubuh mereka ke tubuh Cindy.Sebaliknya, Cindy, yang dikenal sebagai wanita polos dan berbudi luhur di komunitas Howini, tidak menunjukkan rasa terkejut dan sepertinya sudah terbiasa dengan pemandangan ini.Jari-jarinya dengan lembut menelusuri perut seorang pria penghibur, sambil mengeluarkan suara tawa kecil.Melihat hal itu, seorang wanita menggodanya. "Cindy, kamu nggak takut adik iparmu datang menangkapmu karena bermain seperti ini?"Cindy melengkungkan bibirnya membentuk senyum sinis. "Mana mungkin si bego itu bisa berpikir begitu banyak? Waktu dia nggak sengaja mendengar pembicaraan kita sebelumnya itu, aku juga bisa dengan mudah menyakinkannya."Saat Charles mendengarkan percakapan mereka dari luar pintu, wajahnya makin muram, seolah-olah ditampar oleh realita.Detik berikutny

  • Rahasia di Balik Pernikahan Dokter   Bab 11

    Kota Howini.Begitu melihat tulisan 'Gatham' di helikopter, Charles mengabaikan nasihat semua orang dan bersikeras menuju ke utara.Bahkan Kakek Adi yang usianya hampir 80 tahun pun terkejut. Pria tua berjanggut putih itu bersandar pada tongkatnya dan tampak sangat geram."Charles! Coba saja kalau kamu berani pergi ke Gatham.""Kakek, aku harus menemukan Shira. Dia istriku. Mana mungkin aku menelantarkannya begitu saja?"Kakek Adi membanting tongkatnya ke tanah. "Tahukah kamu seperti apa Gatham itu? Begitu kamu meninggalkan Howini, meski aku punya kemampuan luar biasa, aku juga nggak bisa melindungimu!""Aku nggak butuh dilindungi lagi. Aku harus pergi cari Shira. Aku nggak peduli Kakek setuju atau nggak."Kakek Adi menarik napas berat beberapa kali, lalu melambaikan tangannya, dan memberi isyarat kepada kepala pelayan untuk membawakan beberapa dokumen."Charles, sebaiknya kamu lihat semua ini dulu. Siapa tahu barang ini bisa membantumu."Charles mengambil dokumen itu. Saat melihat tul

  • Rahasia di Balik Pernikahan Dokter   Bab 10

    Kota Gatham.Sean Fanjaya sedang mengoleskan obat ke luka di tangan Shira.Kesepuluh jari Shira yang putih dan ramping telah lecet karena kerikil kasar. Hasil dari ukiran batu di dinding setelah menyaksikan pemandangan di dalam vila.Bahkan, rasa sakit di jari-jari yang lecet tidak bisa dibandingkan dengan rasa sakit yang menyayat hati Shira.Dia masih pingsan. Alisnya berkerut, seolah-olah sedang bermimpi buruk.Tiba-tiba dia terbangun kaget, sambil menggenggam tangan Sean erat-erat. "Jangan!"Sean mengerutkan kening dengan kasihan. Dia segera berkata, "Jangan takut, jangan takut. Shira, sudah nggak apa-apa lagi."Shira baru tersadar kembali. Dia mendongak dan mendapati lingkungan yang agak asing baginya. "Di mana... ini?""Kota Gatham, rumahku. Tempat yang benar-benar aman."Sean menutupi tubuhnya dengan selimut sambil berkata, "Aku jamin nggak ada seorang pun yang bisa menyakitimu di sini, Shira."Mendengar kata-kata itu, wajah Shira akhirnya kembali tenang. Dia mengerutkan bibirnya

  • Rahasia di Balik Pernikahan Dokter   Bab 9

    Charles menyeret Cindy kembali ke vila Keluarga Liandra. Dia sama sekali mengabaikan tangisan dan permohonan wanita itu."Charles, lepaskan aku. Kamu sudah bikin aku kesakitan!"Riasan di wajah Cindy agak luntur. Charles juga meninggalkan bekas merah besar di lengannya.Melihat itu, Charles menarik napas dalam-dalam beberapa kali, lalu menenangkan emosinya."Kakak Ipar, apa maksud perkataanmu itu?"Menghadapi pertanyaan dingin dari pria itu, mata Cindy langsung memerah. Dia kembali memasang tampang yang rapuh dan rentan."Maksud apa lagi? Aku cuma nggak mau kehilangan harga diri di depan teman-temanku!"Ekspresi wajah Charles masih tidak senang. "Meski begitu, kamu juga nggak boleh bilang Shira seperti itu! Dia itu istriku."Mendengar ini, air mata Cindy mengalir di pipinya seperti manik-manik yang pecah. "Ya, kalian semua berpasangan, tapi aku nggak! Kakakmu ninggal di usia muda. Dia memercayakan diriku kepada kalian sebelum dia meninggal. Seandainya aku tahu kalian semua nggak menyuk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status