Share

Bab 5

Penulis: Kaleng
Mata Charles tampak gelap dan dipenuhi urat merah, seolah-olah dia telah menjaga sisi tempat tidur Shira untuk waktu yang lama.

"Shira, kamu sudah bangun!" serunya sambil menggenggam tangan Shira dengan kaget.

Shira refleks tersentak. Dia buru-buru menarik tangannya kembali dan menatap pria itu dengan dingin.

Saat melihat tindakannya, senyum Charles langsung membeku. Hatinya terasa seperti tersumbat gumpalan kapas.

Pria itu mengerutkan bibirnya. "Shira, dalam situasi seperti itu, aku hanya bisa menyelamatkan orang yang paling dekat denganku. Lagian, Cindy memang didorong jatuh olehmu..."

Bibir pucat Shira bergetar. Dia menatap pria itu dengan tidak percaya.

"Aku nggak mendorongnya! Cindy sendiri yang menarikku agar jatuh bersamanya."

Charles menatapnya. Matanya dipenuhi kekecewaan. "Shira, aku selalu menganggapmu sebagai gadis yang baik. Nggak disangka, kamu penuh kebohongan. Kamu sudah bikin aku kecewa!"

Shira membuka mulutnya, tetapi tidak ada sepatah kata pun yang keluar. Air mata menggenang di kelopak matanya dan enggan jatuh.

"Kamu nggak perlu memasang tampang kasihan seperti itu. Bekas tamparan di wajah Cindy adalah buktinya!"

Shira memejamkan mata dan memalingkan wajahnya. Air mata mengalir di wajahnya seperti manik-manik yang pecah dan membasahi bantal.

Suaranya bergetar. "Charles, kalau aku bilang kasus penculikan Cindy waktu itu sama sekali nggak seperti yang kamu bayangkan, apa kamu akan percaya?"

Keheningan singkat menyelimuti ruangan itu. Pria itu menghela napas. "Jangan seperti itu, Shira."

Tangan Shira yang terkepal perlahan mengendur.

Dia tiba-tiba tertawa. Tawa yang membuat seluruh tubuhnya gemetar. Kemudian, dia bertanya dengan lembut, "Charles, apa kamu pernah mencintaiku, meski hanya sedikit saja?"

Alis Charles yang indah itu tampak berkerut. Pria itu menepuk punggungnya dengan lembut untuk menenangkannya. "Shira, aku mencintaimu. Aku tentu saja mecintaimu. Jangan menangis, ya? Lusa adalah ulang tahun pernikahan kita yang ketiga. Ayo kita adakan pesta pernikahan sekali lagi, oke?"

Pria itu menempelkan bibirnya ke dahi Shira, lalu mencium lembut mata Shira yang memerah. "Aku akan menikahimu lagi. Setelah Cindy pulih, aku akan mengantarnya kembali ke rumah lama. Kita masih akan sama seperti sebelumnya lagi."

Shira berbaring di ranjang rumah sakit. Dia menatap kosong ke langit-langit.

'Charles, sejak kamu mengambil ginjalku tiga tahun lalu, kita sudah nggak bisa kembali seperti dulu lagi.'

Mungkin karena khawatir pada Shira, Charles tidak kembali untuk menghadiri pesta ulang tahun Cindy.

Pria itu terus menemani Shira di rumah sakit. Dia menyuapi Shira air dan obat, serta merawat tubuhnya secara perlahan.

Pria itu menceritakan kisah-kisah lucu yang terjadi di berbagai departemen rumah sakit. Membuat sekelompok perawat tertawa terbahak-bahak sampai tidak bisa berdiri tegak.

Charles menyiapkan makanan berkhasiat obat untuk Shira. Demi memperoleh hasil terbaik, pria itu bahkan bereksperimen pada dirinya sendiri.

Pria itu memeriksa catatan medisnya berulang-ulang, seakan takut melewatkan perubahan sekecil apa pun.

Shira mendengar pembicaraan para perawat di luar bangsalnya.

"Bilang dulu, mau di mana cari baru bisa temukan pria luar biasa seperti Dokter Charles?"

"Jangan dipikirkan lagi. Pria tampan berpasangan dengan wanita cantik. Pasangan yang serasi buat Dokter Charles pastilah wanita cantik seperti Nyonya Shira."

Perawat lain tiba-tiba menyela, "Tapi sikap Nyonya Shira terhadap Dokter Charles begitu dingin. Apa mereka bertengkar?"

"Apa yang kamu khawatirkan? Setiap kali istrinya marah, Dokter Charles pasti bisa membujuknya. Kalian tunggu saja. Aku yakin perang dingin ini paling lama hanya bertahan sampai besok pagi!"

"Aku bertaruh malam ini. Lagian, suami istri nggak akan menyimpan dendam semalaman."

Begitu kata-kata ini terdengar sampai di bangsal, Charles terkekeh beberapa kali. Dia berpura-pura marah. "Omong kosong apa yang kalian katakan? Kalau kalian bikin istriku terganggu, aku akan suruh kepala departemen motong gaji kalian!"

Dulu, Shira akan tersipu malu, tetapi kali ini, dia hanya memegang gelas airnya dan minum dengan tenang. Bahkan, tanpa mengangkat pandangannya.

Charles merasakan firasat aneh dalam hatinya.

Sepertinya Shira telah berubah.

"Tanda tangan di sini. Aku tertarik sama rumah di selatan kota."

Shira mengeluarkan surat cerai.

Sebelum Charles sempat memeriksanya, ponselnya tiba-tiba berdering.

Nama 'Cindy' membuatnya mengerutkan kening. Dia benar-benar kehilangan minat untuk membaca isi perjanjian itu.

Dia segera menandatangani namanya di bagian bawah dan bangkit untuk menjawab telepon di luar.

Shira mengambil surat perjanjian cerai itu. Saat menatap tanda tangan Charles di atasnya, dia perlahan menghela napas.

Akhirnya, dia sudah bebas.

Dia mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan ke nomor misterius itu.

[Selesai.]

Balasan pesan itu langsung datang.

[Aku datang jemput kamu besok pagi.]

Shira mematikan ponselnya. Beban berat seakan terangkat dari hatinya.

Sebaliknya, di luar pintu, setelah mendengar apa yang dikatakan orang di ujung telepon sana, ekspresi Charles langsung berubah drastis.

Dia mulanya menolak dengan suara keras. Kemudian, di tengah isak tangis wanita di ujung telepon, dia pun memejamkan matanya dengan susah payah.

"Oke, aku janji padamu. Tapi ini terakhir kalinya."

Malam harinya, Shira tiba-tiba merasakan nyeri kram yang tidak menentu di perut bagian bawahnya. Awalnya, dia masih bisa menahannya.

Namun, rasa sakit itu bertambah hebat. Butiran keringat muncul di dahinya. Seluruh tubuhnya terasa seakan dikoyak.

Dalam keadaan linglung, dia berusaha keras untuk mengulurkan tangan dan mengguncang pria yang tertidur di samping tempat tidur.

"Charles…"

Pria itu tersadar dan dengan cemas menggenggam tangannya. "Kamu kenapa, Shira?"

"Perutku sakit sekali… Anakku!" Shira menggigit bibirnya erat-erat. Wajahnya yang cantik dan halus telah berubah pucat pasi.

Pandangannya kabur. Sebelum dia kehilangan kesadaran sepenuhnya, Charles memegang tangannya. Ada kesedihan yang mendalam dan tidak terelakkan di mata pria itu.

"Shira, nggak apa-apa. Kamu bakal baik-baik saja."

Entah berapa lama waktu berlalu, Shira berbaring di meja operasi yang dingin itu lagi. Tiba-tiba, tidak ada apa pun lagi di tubuh bagian bawahnya.

Bip, bip. Suara mesin yang dingin dan metalik itu terdengar.

"Dokter Charles, plasenta istrimu sudah diangkat seluruhnya!"

"Antar ke vila secepatnya!"
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Rahasia di Balik Pernikahan Dokter   Bab 14

    Setelah dikurung lama, akhirnya Charles dibebaskan.Dia mengerutkan kening saat menatap pria jangkung dan gagah di depannya.Ternyata dialah yang membawa Shira pergi.Dia berkata kepada Sean dengan suara serak, "Kenapa kamu lepaskan aku? Apa kamu nggak takut Shira tahu kamu itu orang yang begitu kejam dan keji?"Sean tertawa terbahak-bahak, seolah mendengar lelucon paling konyol. Dia menatap Charles. Tatapan matanya sedingin es."Kamu kira aku sembunyikan semua ini dari Shira? Bagaimana kalau Shira tahu semua yang kulakukan ini?"Wajah Charles memucat. Pria itu langsung menyangkal. "Nggak mungkin, mana mungkin Shira membiarkanmu memperlakukanku seperti ini?"Wajah Sean langsung muram. Dia mendengus dingin. "Nggak mungkin? Kenapa nggak mungkin? Apa kamu lupa bagaimana kamu memperlakukannya dulu? Fakta kalau dia nggak memintaku untuk mengakhiri nyawamu saja sudah termasuk sangat baik!"Sean tidak berniat mengatakan apa pun lagi dan berbalik untuk pergi.Charles berteriak, "Berhenti! Berh

  • Rahasia di Balik Pernikahan Dokter   Bab 13

    Kota Gatham.Setelah melihat pesan dari informan di ponselnya, bibir Sean melengkung membentuk senyum dingin.Dia berkata dengan lembut, "Dia telah masuk perangkap."Shira tengah bermain-main dengan Lumi. Saat mendengar perkataan itu, dia pun berdiri dan berjalan ke arah Sean."Dia mau datang?"Orang yang dimaksudnya jelas adalah Charles.Sean mengangguk. "Benar. Kita sudah memasang jebakan di Gatham. Kita akan menangkap Charles begitu dia masuk ke Gatham."Dia memegang tangan Shira yang dingin dan gemetar, lalu menghiburnya."Shira, jangan khawatir. Aku akan balas seribu kali lipat rasa sakit yang dia berikan padamu."Shira menggigit bibirnya erat-erat. Suaranya sangat lembut. "Aku hanya ingin cari keadilan untuk Tiara dan anak dalam kandunganku. Mereka nggak bersalah."Sembari berbicara, air matanya mengalir di wajahnya seperti manik-manik yang pecah.Ternyata, Shira masih belum bisa melepaskan masalah Tiara dan ketiga anaknya.Jika kematian orang tuanya adalah duka seumur hidup, mak

  • Rahasia di Balik Pernikahan Dokter   Bab 12

    Di sisi lain, Cindy berpesta sepanjang malam dengan sekelompok sosialita di sebuah kelab malam.Ada beberapa pria penghibur yang berdiri di hadapan mereka. Semuanya berpakaian minim dan hampir menempelkan tubuh mereka ke tubuh Cindy.Sebaliknya, Cindy, yang dikenal sebagai wanita polos dan berbudi luhur di komunitas Howini, tidak menunjukkan rasa terkejut dan sepertinya sudah terbiasa dengan pemandangan ini.Jari-jarinya dengan lembut menelusuri perut seorang pria penghibur, sambil mengeluarkan suara tawa kecil.Melihat hal itu, seorang wanita menggodanya. "Cindy, kamu nggak takut adik iparmu datang menangkapmu karena bermain seperti ini?"Cindy melengkungkan bibirnya membentuk senyum sinis. "Mana mungkin si bego itu bisa berpikir begitu banyak? Waktu dia nggak sengaja mendengar pembicaraan kita sebelumnya itu, aku juga bisa dengan mudah menyakinkannya."Saat Charles mendengarkan percakapan mereka dari luar pintu, wajahnya makin muram, seolah-olah ditampar oleh realita.Detik berikutny

  • Rahasia di Balik Pernikahan Dokter   Bab 11

    Kota Howini.Begitu melihat tulisan 'Gatham' di helikopter, Charles mengabaikan nasihat semua orang dan bersikeras menuju ke utara.Bahkan Kakek Adi yang usianya hampir 80 tahun pun terkejut. Pria tua berjanggut putih itu bersandar pada tongkatnya dan tampak sangat geram."Charles! Coba saja kalau kamu berani pergi ke Gatham.""Kakek, aku harus menemukan Shira. Dia istriku. Mana mungkin aku menelantarkannya begitu saja?"Kakek Adi membanting tongkatnya ke tanah. "Tahukah kamu seperti apa Gatham itu? Begitu kamu meninggalkan Howini, meski aku punya kemampuan luar biasa, aku juga nggak bisa melindungimu!""Aku nggak butuh dilindungi lagi. Aku harus pergi cari Shira. Aku nggak peduli Kakek setuju atau nggak."Kakek Adi menarik napas berat beberapa kali, lalu melambaikan tangannya, dan memberi isyarat kepada kepala pelayan untuk membawakan beberapa dokumen."Charles, sebaiknya kamu lihat semua ini dulu. Siapa tahu barang ini bisa membantumu."Charles mengambil dokumen itu. Saat melihat tul

  • Rahasia di Balik Pernikahan Dokter   Bab 10

    Kota Gatham.Sean Fanjaya sedang mengoleskan obat ke luka di tangan Shira.Kesepuluh jari Shira yang putih dan ramping telah lecet karena kerikil kasar. Hasil dari ukiran batu di dinding setelah menyaksikan pemandangan di dalam vila.Bahkan, rasa sakit di jari-jari yang lecet tidak bisa dibandingkan dengan rasa sakit yang menyayat hati Shira.Dia masih pingsan. Alisnya berkerut, seolah-olah sedang bermimpi buruk.Tiba-tiba dia terbangun kaget, sambil menggenggam tangan Sean erat-erat. "Jangan!"Sean mengerutkan kening dengan kasihan. Dia segera berkata, "Jangan takut, jangan takut. Shira, sudah nggak apa-apa lagi."Shira baru tersadar kembali. Dia mendongak dan mendapati lingkungan yang agak asing baginya. "Di mana... ini?""Kota Gatham, rumahku. Tempat yang benar-benar aman."Sean menutupi tubuhnya dengan selimut sambil berkata, "Aku jamin nggak ada seorang pun yang bisa menyakitimu di sini, Shira."Mendengar kata-kata itu, wajah Shira akhirnya kembali tenang. Dia mengerutkan bibirnya

  • Rahasia di Balik Pernikahan Dokter   Bab 9

    Charles menyeret Cindy kembali ke vila Keluarga Liandra. Dia sama sekali mengabaikan tangisan dan permohonan wanita itu."Charles, lepaskan aku. Kamu sudah bikin aku kesakitan!"Riasan di wajah Cindy agak luntur. Charles juga meninggalkan bekas merah besar di lengannya.Melihat itu, Charles menarik napas dalam-dalam beberapa kali, lalu menenangkan emosinya."Kakak Ipar, apa maksud perkataanmu itu?"Menghadapi pertanyaan dingin dari pria itu, mata Cindy langsung memerah. Dia kembali memasang tampang yang rapuh dan rentan."Maksud apa lagi? Aku cuma nggak mau kehilangan harga diri di depan teman-temanku!"Ekspresi wajah Charles masih tidak senang. "Meski begitu, kamu juga nggak boleh bilang Shira seperti itu! Dia itu istriku."Mendengar ini, air mata Cindy mengalir di pipinya seperti manik-manik yang pecah. "Ya, kalian semua berpasangan, tapi aku nggak! Kakakmu ninggal di usia muda. Dia memercayakan diriku kepada kalian sebelum dia meninggal. Seandainya aku tahu kalian semua nggak menyuk

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status