ANMELDENMalam semakin larut, dan atmosfer di dalam ballroom mewah itu berubah menjadi lebih liar. Dentum musik orkestra berganti dengan irama jazz yang lebih progresif, sementara botol-botol sampanye terus dibuka. Gelak tawa para pria pemegang saham yang mulai mabuk berbaur dengan aroma cerutu mahal.
Di sudut ruangan yang temaram, Bianca berdiri dengan anggun, meski matanya menatap tajam ke arah pasangan Garendra dan Arumi. Di tangannya, ia memegang sebuah botol kecil berisi cairan bening. Dengan gerakan yang sangat halus, ia memberikan kode kepada seorang pelayan muda yang tampak gugup. "Berikan gelas ini langsung pada Garendra Wiratama. Pastikan dia meminumnya sampai habis," bisik Bianca pelan, menyelipkan beberapa lembar uang ratusan ribu ke saku pelayan itu. Pelayan itu mengangguk, lalu membawa nampan berisi satu gelas kristal berkaki yang sudah dibubuhi obat perangsang dosis tinggi. Bianca tersenyum licik. Rencananya sederhana: membuat Garendra kehilangan kendali, membawanya ke kamar hotel di lantai atas, dan membiarkan skandal itu menghancurkan Arumi sekaligus mengembalikan Garendra ke dalam pelukannya. Namun, Arumi yang baru saja keluar dari toilet dengan hati yang hancur, memiliki insting yang lebih tajam dari yang Bianca duga. Sejak kembali ke sisi Garendra, Arumi tidak melepaskan pandangannya dari suaminya. Ia melihat bagaimana pelayan itu mendekat dan bagaimana Garendra, yang tampak terdistraksi oleh pembicaraan bisnis, menerima gelas tersebut. Garendra baru saja menyesap separuh isinya saat Arumi menyadari ada yang salah. Jakun suaminya bergerak naik turun, dan dalam sekejap, rona merah yang tidak wajar menjalar dari leher hingga ke telinga pria itu. Napas Garendra mendadak memberat, dan jemarinya yang memegang gelas mulai gemetar halus. "Mas, kamu tidak apa-apa?" bisik Arumi, segera memegang lengan Garendra. Garendra menoleh, tatapannya yang biasanya jernih kini mulai meredup, digantikan oleh kabut keinginan yang gelap dan membingungkan. "Panas, Arumi ... ruangan ini terlalu panas." Arumi melirik ke arah Bianca yang berdiri di kejauhan dengan senyum kemenangan. Seketika, Arumi paham. Ini bukan sekadar mabuk. Ini jebakan. Tanpa membuang waktu, Arumi mengambil gelas dari tangan Garendra dan meletakkannya di meja terdekat. "Ma, saya mau pulang!” tegas Arumi. "Tapi acaranya ....” "Sekarang, Garendra!" potong Arumi dengan nada yang tidak pernah digunakan sebelumnya. Ia merangkul lengan Garendra, memapah pria itu yang mulai limbung. Arumi mengabaikan tatapan heran rekan bisnis suaminya dan melangkah cepat menuju pintu keluar sebelum Bianca sempat mendekat. Sepanjang perjalanan di dalam mobil, Garendra terus melonggarkan dasinya. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Ia berkali-kali menurunkan kaca jendela, membiarkan angin malam Jakarta menerpa wajahnya. Namun, api di dalam tubuhnya justru semakin berkobar. "Arumi ... tolong …." desah Garendra rendah. Suaranya serak. Begitu sampai di rumah, Arumi hampir menyeret Garendra masuk ke kamar utama. Para pelayan yang melihat hanya bisa tertegun, tapi Arumi segera memerintahkan mereka untuk menjauh. Di dalam kamar, Garendra langsung jatuh terduduk di pinggiran ranjang, kepalanya tertunduk, sementara tangannya mencengkeram sprei dengan kuat hingga otot-otot lengannya menonjol. "Mas, saya ambilkan air dingin," ujar Arumi panik. Namun, sebelum wanita itu beranjak, sebuah tangan yang panas mencekal pergelangan tangannya. Dengan satu tarikan kuat, Arumi jatuh ke dalam pelukan Garendra. Pria itu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang istri, menghirup aroma tubuhnya yang menenangkan tapi kini justru memicu gairah yang tak terbendung. "Jangan pergi ... panas sekali, Arumi. Tubuh saya rasanya mau meledak," bisik Garendra di dekat telinga Arumi. Napasnya yang panas membakar kulit sensitif wanita itu. Arumi membeku. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga rasanya ia bisa pingsan. "Mas, kamu tidak sadar ... Kamu diberi sesuatu di pesta tadi." "Saya sadar ...." Garendra mendongak, menatap Arumi dengan mata yang memerah karena menahan diri. Kacamata yang biasanya bertengger rapi kini entah jatuh ke mana. "Saya tahu, kamu Arumi. Istri saya." Garendra menarik Arumi lebih dekat hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka. Ia mulai menciumi rahang Arumi dengan kelembutan yang menyiksa. Tidak ada kekerasan. Tangan Garendra yang besar mulai meraba punggungnya, menyusuri lekuk gaun velvet yang kini terasa seperti penghalang yang menyebalkan. "Mas, jangan ...." Arumi mencoba menepis tangan sang suami. Namun, suaranya justru terdengar seperti desahan kecil saat bibir Garendra menemukan titik sensitif di belakang telinganya. "Bantu saya, Arumi ... tolong!" Garendra memohon, suaranya sangat rendah dan parau. "Hanya kamu ...." Arumi merasakan pergolakan di batinnya. Di satu sisi, ia teringat kata-kata Bianca bahwa ia hanya 'obat penutup luka'. Namun, disisi lain, melihat Garendra yang begitu hancur dan membutuhkan dirinya, dinding pertahanan Arumi runtuh. Ia membiarkan tangan Garendra menangkup wajahnya, memandu bibirnya untuk bertemu dalam sebuah ciuman yang dalam dan memabukkan. Ciuman itu tidak seperti yang Arumi bayangkan. Tidak ada rasa dingin atau jarak. Garendra menciumnya seolah Arumi adalah satu-satunya sumber oksigen di dunia yang sedang terbakar. Tangan pria itu mulai bergerak berani, turun ke pinggang dan meremasnya pelan, menarik tubuh Arumi agar semakin menempel pada tubuhnya yang panas membara. Garendra membaringkan Arumi di atas ranjang dengan sangat perlahan, seolah wanita itu adalah porselen yang bisa pecah kapan saja. Ia berada di atas Arumi, menumpu berat tubuhnya dengan kedua tangan. Matanya menatap Arumi dengan intensitas yang membuat Arumi merasa sepenuhnya terlihat bukan sebagai janda, bukan sebagai aksesoris, tapi sebagai seorang wanita. "Kamu cantik sekali malam ini ..." bisik Garendra sebelum kembali membenamkan wajahnya di dada Arumi yang naik turun karena napas yang memburu. Jari-jari Garendra mulai membuka ziper panjang di punggung gaun Arumi. Suara resleting yang terbuka di keheningan kamar itu terdengar begitu provokatif. Arumi memejamkan mata, merasakan kulit punggungnya terpapar udara dingin kamar. Namun, segera digantikan oleh telapak tangan Garendra yang panas. Sentuhan itu menjalar, memicu arus listrik yang membuat seluruh tubuh Arumi bergetar. Garendra menciumi bahu Arumi yang terbuka, memberikan tanda-tanda merah kecil yang menandakan kepemilikan. Arumi mendesah pelan, jemarinya tertanam di rambut hitam Garendra, menarik pria itu semakin dalam. Namun, tepat saat gairah itu mencapai puncaknya, saat Garendra mulai menanggalkan kemejanya sendiri, Arumi teringat akan satu hal. Cermin yang retak. Kebencian Garendra pada barang rusak. Dan statusnya yang masih dianggap 'bekas'. Sialnya lagi, pria yang mengkungkung dirinya saat ini dalam posisi mabuk berat. "Mas ... tunggu," bisik Arumi, suaranya gemetar. Ia menahan dada bidang Garendra yang sudah tidak tertutup kain. "Kamu ... kamu melakukannya karena mabuk dan ditambah dengan obat itu!” Garendra terhenti. Ia menatap Arumi, napasnya masih memburu, peluh membasahi dahinya.Evelyn menyandarkan kepalanya di dada bidang Angga, mendengarkan detak jantung pria itu yang teratur dan menenangkan. Rasa lelah dari acara seharian mendadak memuai begitu saja. "Tidak ... Aku tidak merasa lelah sama sekali," jawab Evelyn lembut, memutar tubuhnya di dalam lingkar lengan Angga hingga mereka berhadapan rapat. "Aku hanya merasa... hatiku begitu penuh. Dulu, aku pikir aku tidak akan pernah punya keluarga atau tempat untuk pulang setelah semua penderitaan itu. Tapi malam ini, di dalam pelukanmu... aku tahu aku telah menemukan rumahku yang sesungguhnya." Angga menatap manik mata Evelyn dengan tatapan yang begitu dalam, sarat akan pemujaan, kehangatan, dan janji suci yang abadi. Jemari kokohnya terulur merapikan helai rambut Evelyn, lalu menangkup kedua rahang halus istrinya. "Masa lalu yang kelam itu sudah selesai, Eve. Tidak akan ada lagi yang bisa menyakitimu, tidak akan ada lagi air mata kesedihan," bisik Angga mantap dengan suara yang mengalun rendah. "Mulai detik
Alunan musik orkestra yang melantunkan simfoni lembut bergema indah memenuhi grand ballroom hotel paling mewah di Jakarta. Ruangan raksasa itu telah disulap menjadi mahakarya visual yang menakjubkan—dindingnya dilapisi tirai sutra putih dengan ribuan tangkai mawar putih, lili, dan hydrangea impor dari Belanda yang mengalir bak air terjun di sepanjang lorong utama. Lampu-lampu kristal menggantung megah di langit-langit, memantulkan kilau cahaya keemasan yang menimpa hamparan karpet bunga liar. Hari yang ditunggu-tunggu selama berbulan-bulan itu akhirnya tiba. Pesta pernikahan Angga dan Evelyn—sebuah perayaan kebahagiaan sejati yang dihadiri oleh jajaran petinggi bisnis, mitra internasional Wiratama Group, serta kerabat terdekat. Di depan altar dan pelaminan megah yang dihiasi ukiran emas murni, Angga berdiri dengan tegap. Pria itu tampak amat tampan dan gagah dalam balutan tuksedo hitam buatan perancang busana kenamaan dunia. Kemeja putih bersih dengan dasi kupu-kupu hitam terpasan
Suasana di lantai eksekutif kantor pusat Wiratama Group satu bulan menjelang hari pernikahan terasa jauh lebih semarak dari biasanya. Namun, bukannya mereda, ritme kerja Angga justru meningkat dua kali lipat. Sebagai tangan kanan utama Garendra Wiratama, Angga bertekad menyelesaikan seluruh limpahan berkas investasi penting sebelum ia mengambil cuti panjang untuk bulan madunya bersama Evelyn. Pria itu tidak ingin menyisakan sedikit pun celah masalah di perusahaan saat ia memboyong sang calon istri untuk memulai lembaran baru hidup mereka. Di dalam ruang kerja sekretaris yang terletak tepat di luar ruangan CEO, Evelyn sedang menata tumpukan dokumen audit tahunan. Gaun kerja elegan berwarna krem yang mengenakan garis tubuh anggunnya melukiskan kecantikan seorang calon pengantin yang tinggal menghitung minggu menuju hari bahagianya. Rona bahagia di wajahnya tak pernah pudar, membuat setiap staf kantor yang lewat tak henti-hentinya memberikan ucapan selamat dan doa tulus. Pin
Pintu kaca ruang bersalin VIP itu perlahan terbuka. Angga mendorong dorongan bayi transparan tempat si kecil berbaring, sementara Evelyn berjalan di sampingnya seraya menuntun jemari mungil seorang anak perempuan berusia tiga tahun yang tampak menggemaskan dalam balutan gaun merah muda. "Mami!" panggil bocah kecil itu gembira, melangkah agak tergesa menggapai tepi ranjang tempat Arumi berbaring lemas namun berseri-seri. Garendra dengan cepat mengangkat tubuh mungil Arabella—putri kecil mereka yang tadinya dititipkan pada Evelyn di luar—lalu mendudukkannya perlahan di pinggir ranjang, tepat di samping Arumi. "Pelan-pelan ya, Bella... Mami masih lelah," bisik Garendra lembut, mengecup pipi bulat putrinya sebelum kembali merangkul bahu Arumi dari belakang. Bella menatap Arumi dengan mata bulatnya yang jernih, lalu mengulurkan jemari mungilnya mengusap lembut pipi sang mami. "Mami sakit?" tanya Bella polos, membuat hati siapa pun yang mendengarnya meleleh seketika. "Mami tidak apa-ap
Matahari pagi menyusup dari sela-sela gorden sutra di kamar utama kediaman Wiratama. Suasana yang semula tenang tiba-tiba pecah ketika Arumi, yang tengah duduk di tepi ranjang, mendadak memegang perutnya yang membesar rapat. Sembilan bulan penantian mencapai puncaknya. Sebuah remasan halus di perut bawahnya berubah menjadi kontraksi hebat yang membuat napasnya tertahan. "Ren..." panggil Arumi dengan suara gemetar, dahinya langsung dibasahi keringat dingin. "Garendra... sepertinya... sepertinya si kecil sudah mau keluar sekarang." Garendra yang sedang memasang kancing kemeja di depan cermin besar seketika membeku. Botol parfum mahal di tangan kirinya terlepas, jatuh menghantam karpet tebal tanpa ia pedulikan. Pria berkharisma yang dikenal dingin, tangguh, dan tak pernah goyah di hadapan dewan direksi mana pun itu mendadak tampak kehilangan seluruh orientasi dirinya. "A-apa?! Sekarang?!" suara Garendra melengking, naik beberapa oktav dari nada biasanya. Wajah tampannya pucat pasi d
Pintu kamar kost berukuran tiga kali empat meter itu tertutup pelan, menyisakan Evelyn yang berdiri mematung di balik daun pintu. Kamar sempit dengan satu tempat tidur tunggal, meja belajar kecil, dan lemari kayu sederhana itu mendadak terasa begitu lengang. Namun, dada Evelyn justru terasa sesak oleh kebahagiaan yang membuncah hebat hingga rasanya hampir tak tertampung. Evelyn menyandarkan punggungnya di pintu kayu yang dingin, perlahan mengangkat jemarinya untuk menyusuri permukaan bibirnya sendiri yang masih agak basah dan gemetar. Sentuhan bibir Angga yang menuntut, deru napas hangatnya yang memburu di udara malam, serta aroma parfum woody khas pria itu seolah masih tertinggal pekat di kulit leher dan rahangnya. Sensasi desiran hebat dari ciuman panas di dalam mobil tadi membuat lutut Evelyn terasa lemas seketika. Dengan senyum merekah lebar yang tak mampu ia tahan, Evelyn melangkah pelan mendekati tempat tidur. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas kasur busa tipisnya tanpa
Arumi tersentak. Kalimat Garendra barusan bukan sebuah sanjungan, melainkan serangan telak yang menghujam tepat ke ulu hatinya. Seolah ada penekanan yang kuat, jika di antara mereka ada jurang pemisah. “Benarkah? Bukankah kita berdua tahu alasannya kenapa kamu memilihnya?” Suara Bianca bergetar.
“Mas, maaf, sepertinya saya tidak bisa ikut ke pesta itu.” Arumi sedang menata makanan di atas meja makan. Bukan karena tak ada pelayan di rumah megah tersebut. Namun, bagi perempuan yang sudah menikah dua kali itu, menyediakan makanan untuk sang suami adalah sebuah kewajiban. Garendra mengerutka
Suara detak jam dinding di kediaman besar keluarga Wiratama terasa seperti ketukan palu yang menghakimi. Bagi Arumi, rumah megah itu bukanlah istana, melainkan sebuah museum sunyi di mana setiap langkah kaki harus diperhitungkan volumenya. Tiga hari telah berlalu sejak janji suci diucapkan, tapi
"Saya tidak mempermasalahkan status kamu, biarlah itu jadi masa lalu. Tapi yang perlu kamu tahu, saya akan tetap menafkahimu meski tidak akan mengatur urusan pribadimu nantinya." Garendra mengatakannya tanpa nada merendahkan. Suaranya datar, sedingin ubin marmer di rumah megah itu. Kalimat itu te







