"Suruh dia masuk, Bu," sahut Garendra tanpa mengalihkan pandangan dari wajah Arumi.Pintu terbuka, menampakkan sosok wanita berkacamata dengan jas putih yang tersampir rapi. Dokter Marsya, yang merupakan kerabat sekaligus dokter keluarga, masuk dengan tas medisnya. Namun, begitu langkah kaki sang dokter mendekat ke sisi ranjang, Arumi yang semula tampak tak berdaya tiba-tiba bergerak gelisah. Matanya terbuka lebar, memancarkan kecemasan yang mendalam."Mas ... Mas Garen bisa tolong keluar?" bisik Arumi, suaranya gemetar tapi sarat akan penekanan.Garendra mengerutkan kening, merasa tertolak di saat ia baru saja ingin memberikan perhatian. "Kenapa? Biar saya di sini mendengarkan penjelasan dokter Marsya.”"Tidak usah, Mas. Tolong keluar saja," pinta Arumi lagi, kali ini ia berusaha bangkit meski kepalanya berdenyut hebat. Tangannya mencengkeram sprei dengan erat, wajahnya yang semula pucat kini diwarnai rona merah yang aneh—bukan karena demam, melainkan rasa malu yang memuncak. "Ibu
Last Updated : 2026-04-21 Read more