Masuk“Mas, maaf, sepertinya saya tidak bisa ikut ke pesta itu.” Arumi sedang menata makanan di atas meja makan. Bukan karena tak ada pelayan di rumah megah tersebut.
Namun, bagi perempuan yang sudah menikah dua kali itu, menyediakan makanan untuk sang suami adalah sebuah kewajiban. Garendra mengerutkan dahinya. “Kenapa?” “Setelah saya pikir-pikir, saya tidak ingin merusak acara formal Mas dengan rekan-rekan kerja, Mas. Sebaiknya saya di rumah saja. Ibu juga lagi sakit,” jawab Arumi. Sebetulnya itu sebuah alasan karena Arumi sadar jika di acara tersebut akan ada seseorang yang ‘mungkin’ berarti bagi hidup sang suami. “Tidak bisa, Arumi. Kamu harus tetap ikut. Lagian, di rumah ini juga ada tiga yang jaga. Kita juga kesananya juga sebentar. Arumi terdiam, jemarinya meremas pinggiran taplak meja. Ketegasan dalam suara Garendra tidak menyisakan ruang untuk negosiasi. Pria itu melanjutkan sarapannya dengan tenang, seolah keputusan itu sudah mutlak seperti hukum alam. "Gunakan waktu hari ini untuk beristirahat. Penjahit dan penata rias akan datang siang nanti," tambah Garendra sebelum beranjak, meninggalkan Arumi yang terpaku menatap punggung tegapnya yang menghilang di balik pintu jati. *** Kamar utama berubah menjadi studio mode mini. Gaun yang dipesan Garendra telah tiba—sebuah mahakarya dari bahan velvet berwarna midnight blue yang senada dengan amplop undangan tempo hari. Potongannya elegan, menonjolkan lekuk tubuh Arumi tanpa harus mengekspos terlalu banyak kulit. “Sempurna,” ujar perias dengan kedua sudut bibir saling menukik tajam. “Kamu begitu cantik.” Arumi segera berdiri di depan cermin besar. Veil tipis yang menutupi lehernya memberikan kesan misterius sekaligus anggun. Untuk pertama kalinya, cermin itu tidak memperlihatkan sosok janda yang layu, melainkan seorang wanita yang memancarkan aura kelas atas. Pintu terbuka. Garendra masuk dengan setelan tuksedo hitam yang sempurna. Dia sedang membetulkan kancing lengannya saat langkahnya terhenti seketika. Keheningan menyelimuti ruangan itu. Tatapan Garendra yang biasanya sedingin es, perlahan mencair. Matanya menyapu sosok Arumi dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ada kilatan yang sulit diartikan di balik kacamatanya—sesuatu yang menyerupai kekaguman, atau mungkin... penyesalan? "Arumi," suara Garendra serak, hampir seperti bisikan. "Apakah ... terlalu berlebihan, Mas?" Arumi bertanya ragu, tangannya meraba kain beludru di pinggangnya. Garendra tidak menjawab dengan kata-kata. Dia melangkah mendekat, memangkas jarak yang selama ini dijaga dengan ketat. Tangannya terangkat, seolah ingin menyentuh pipi Arumi. Namun, pria itu segera mengurungkan niatnya dan hanya memperbaiki letak helai rambut yang keluar dari tatanannya. "Ayo berangkat. Jangan biarkan mereka menunggu." *** Lampu kristal di ballroom hotel bintang lima itu berpendar mewah, tapi sorot mata para tamu jauh lebih tajam. Saat Garendra masuk dengan Arumi yang menggandeng lengannya, suasana mendadak senyap sesaat. Bisik-bisik mulai menjalar seperti api di atas rumput kering. “Lihat Pak Garendra, sepertinya dia benar-benar sudah move on dari masa lalunya.” Garendra seolah tuli. Dia memperkenalkan Arumi kepada rekan-rekannya dengan nada bangga yang natural, seolah Arumi adalah permata yang paling berharga di ruangan itu. Arumi pun memainkan perannya dengan apik; tersenyum tipis dan menjawab secukupnya, persis seperti instruksi Garendra: menjadi pendamping yang sempurna. Namun, ketenangan itu hancur saat kerumunan di depan panggung utama terbelah. Seorang wanita dengan gaun merah menyala berdiri di sana. Kecantikannya mencolok, tipe kecantikan yang menuntut perhatian penuh. Namanya adalah Bianca—wanita yang namanya pernah memenuhi halaman depan majalah bisnis sebagai tunangan Garendra sebelum menghilang ke luar negeri tanpa kabar. Bianca berjalan mendekat dengan langkah penuh percaya diri. Senyumnya tertuju langsung pada Garendra, sama sekali mengabaikan keberadaan Arumi di sisi pria itu. "Lama tidak bertemu, Ren," suara Bianca terdengar merdu dan tajam. "Aku tidak menyangka seleramu berubah drastis. Dari apa yang aku dengar ... kamu lebih suka sesuatu yang 'bekas' sekarang?” Arumi merasakan cengkeraman tangan Garendra di lengannya mengeras. Jantungnya berdegup kencang. Di sinilah letak ujian sebenarnya dari pernikahan sandiwara itu. Garendra tidak memalingkan wajah. Dia justru menarik Arumi sedikit lebih maju, merangkul pinggang istrinya dengan posesif yang belum pernah Arumi rasakan sebelumnya. "Seleraku memang berubah, Bianca," jawab Garendra dengan nada datar tapi penuh penekanan. "Aku mulai menyadari bahwa ketulusan jauh lebih bernilai daripada sesuatu yang indah di luar tapi kosong di dalam. Kenalkan, ini Arumi. Istriku." Bianca mengepal erat, ia bahkan tidak menyangka jika pria yang selama ini selalu memohon padanya untuk tetap tinggal, saat ini dengan begitu bangganya memperkenalkan sang istri kepadanya.Evelyn menyandarkan kepalanya di dada bidang Angga, mendengarkan detak jantung pria itu yang teratur dan menenangkan. Rasa lelah dari acara seharian mendadak memuai begitu saja. "Tidak ... Aku tidak merasa lelah sama sekali," jawab Evelyn lembut, memutar tubuhnya di dalam lingkar lengan Angga hingga mereka berhadapan rapat. "Aku hanya merasa... hatiku begitu penuh. Dulu, aku pikir aku tidak akan pernah punya keluarga atau tempat untuk pulang setelah semua penderitaan itu. Tapi malam ini, di dalam pelukanmu... aku tahu aku telah menemukan rumahku yang sesungguhnya." Angga menatap manik mata Evelyn dengan tatapan yang begitu dalam, sarat akan pemujaan, kehangatan, dan janji suci yang abadi. Jemari kokohnya terulur merapikan helai rambut Evelyn, lalu menangkup kedua rahang halus istrinya. "Masa lalu yang kelam itu sudah selesai, Eve. Tidak akan ada lagi yang bisa menyakitimu, tidak akan ada lagi air mata kesedihan," bisik Angga mantap dengan suara yang mengalun rendah. "Mulai detik
Alunan musik orkestra yang melantunkan simfoni lembut bergema indah memenuhi grand ballroom hotel paling mewah di Jakarta. Ruangan raksasa itu telah disulap menjadi mahakarya visual yang menakjubkan—dindingnya dilapisi tirai sutra putih dengan ribuan tangkai mawar putih, lili, dan hydrangea impor dari Belanda yang mengalir bak air terjun di sepanjang lorong utama. Lampu-lampu kristal menggantung megah di langit-langit, memantulkan kilau cahaya keemasan yang menimpa hamparan karpet bunga liar. Hari yang ditunggu-tunggu selama berbulan-bulan itu akhirnya tiba. Pesta pernikahan Angga dan Evelyn—sebuah perayaan kebahagiaan sejati yang dihadiri oleh jajaran petinggi bisnis, mitra internasional Wiratama Group, serta kerabat terdekat. Di depan altar dan pelaminan megah yang dihiasi ukiran emas murni, Angga berdiri dengan tegap. Pria itu tampak amat tampan dan gagah dalam balutan tuksedo hitam buatan perancang busana kenamaan dunia. Kemeja putih bersih dengan dasi kupu-kupu hitam terpasan
Suasana di lantai eksekutif kantor pusat Wiratama Group satu bulan menjelang hari pernikahan terasa jauh lebih semarak dari biasanya. Namun, bukannya mereda, ritme kerja Angga justru meningkat dua kali lipat. Sebagai tangan kanan utama Garendra Wiratama, Angga bertekad menyelesaikan seluruh limpahan berkas investasi penting sebelum ia mengambil cuti panjang untuk bulan madunya bersama Evelyn. Pria itu tidak ingin menyisakan sedikit pun celah masalah di perusahaan saat ia memboyong sang calon istri untuk memulai lembaran baru hidup mereka. Di dalam ruang kerja sekretaris yang terletak tepat di luar ruangan CEO, Evelyn sedang menata tumpukan dokumen audit tahunan. Gaun kerja elegan berwarna krem yang mengenakan garis tubuh anggunnya melukiskan kecantikan seorang calon pengantin yang tinggal menghitung minggu menuju hari bahagianya. Rona bahagia di wajahnya tak pernah pudar, membuat setiap staf kantor yang lewat tak henti-hentinya memberikan ucapan selamat dan doa tulus. Pin
Pintu kaca ruang bersalin VIP itu perlahan terbuka. Angga mendorong dorongan bayi transparan tempat si kecil berbaring, sementara Evelyn berjalan di sampingnya seraya menuntun jemari mungil seorang anak perempuan berusia tiga tahun yang tampak menggemaskan dalam balutan gaun merah muda. "Mami!" panggil bocah kecil itu gembira, melangkah agak tergesa menggapai tepi ranjang tempat Arumi berbaring lemas namun berseri-seri. Garendra dengan cepat mengangkat tubuh mungil Arabella—putri kecil mereka yang tadinya dititipkan pada Evelyn di luar—lalu mendudukkannya perlahan di pinggir ranjang, tepat di samping Arumi. "Pelan-pelan ya, Bella... Mami masih lelah," bisik Garendra lembut, mengecup pipi bulat putrinya sebelum kembali merangkul bahu Arumi dari belakang. Bella menatap Arumi dengan mata bulatnya yang jernih, lalu mengulurkan jemari mungilnya mengusap lembut pipi sang mami. "Mami sakit?" tanya Bella polos, membuat hati siapa pun yang mendengarnya meleleh seketika. "Mami tidak apa-ap
Matahari pagi menyusup dari sela-sela gorden sutra di kamar utama kediaman Wiratama. Suasana yang semula tenang tiba-tiba pecah ketika Arumi, yang tengah duduk di tepi ranjang, mendadak memegang perutnya yang membesar rapat. Sembilan bulan penantian mencapai puncaknya. Sebuah remasan halus di perut bawahnya berubah menjadi kontraksi hebat yang membuat napasnya tertahan. "Ren..." panggil Arumi dengan suara gemetar, dahinya langsung dibasahi keringat dingin. "Garendra... sepertinya... sepertinya si kecil sudah mau keluar sekarang." Garendra yang sedang memasang kancing kemeja di depan cermin besar seketika membeku. Botol parfum mahal di tangan kirinya terlepas, jatuh menghantam karpet tebal tanpa ia pedulikan. Pria berkharisma yang dikenal dingin, tangguh, dan tak pernah goyah di hadapan dewan direksi mana pun itu mendadak tampak kehilangan seluruh orientasi dirinya. "A-apa?! Sekarang?!" suara Garendra melengking, naik beberapa oktav dari nada biasanya. Wajah tampannya pucat pasi d
Pintu kamar kost berukuran tiga kali empat meter itu tertutup pelan, menyisakan Evelyn yang berdiri mematung di balik daun pintu. Kamar sempit dengan satu tempat tidur tunggal, meja belajar kecil, dan lemari kayu sederhana itu mendadak terasa begitu lengang. Namun, dada Evelyn justru terasa sesak oleh kebahagiaan yang membuncah hebat hingga rasanya hampir tak tertampung. Evelyn menyandarkan punggungnya di pintu kayu yang dingin, perlahan mengangkat jemarinya untuk menyusuri permukaan bibirnya sendiri yang masih agak basah dan gemetar. Sentuhan bibir Angga yang menuntut, deru napas hangatnya yang memburu di udara malam, serta aroma parfum woody khas pria itu seolah masih tertinggal pekat di kulit leher dan rahangnya. Sensasi desiran hebat dari ciuman panas di dalam mobil tadi membuat lutut Evelyn terasa lemas seketika. Dengan senyum merekah lebar yang tak mampu ia tahan, Evelyn melangkah pelan mendekati tempat tidur. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas kasur busa tipisnya tanpa
Malam semakin larut, dan atmosfer di dalam ballroom mewah itu berubah menjadi lebih liar. Dentum musik orkestra berganti dengan irama jazz yang lebih progresif, sementara botol-botol sampanye terus dibuka. Gelak tawa para pria pemegang saham yang mulai mabuk berbaur dengan aroma cerutu mahal.Di su
Arumi tersentak. Kalimat Garendra barusan bukan sebuah sanjungan, melainkan serangan telak yang menghujam tepat ke ulu hatinya. Seolah ada penekanan yang kuat, jika di antara mereka ada jurang pemisah. “Benarkah? Bukankah kita berdua tahu alasannya kenapa kamu memilihnya?” Suara Bianca bergetar.
Suara detak jam dinding di kediaman besar keluarga Wiratama terasa seperti ketukan palu yang menghakimi. Bagi Arumi, rumah megah itu bukanlah istana, melainkan sebuah museum sunyi di mana setiap langkah kaki harus diperhitungkan volumenya. Tiga hari telah berlalu sejak janji suci diucapkan, tapi
"Saya tidak mempermasalahkan status kamu, biarlah itu jadi masa lalu. Tapi yang perlu kamu tahu, saya akan tetap menafkahimu meski tidak akan mengatur urusan pribadimu nantinya." Garendra mengatakannya tanpa nada merendahkan. Suaranya datar, sedingin ubin marmer di rumah megah itu. Kalimat itu te







