LOGINArumi tersentak. Kalimat Garendra barusan bukan sebuah sanjungan, melainkan serangan telak yang menghujam tepat ke ulu hatinya. Seolah ada penekanan yang kuat, jika di antara mereka ada jurang pemisah.
“Benarkah? Bukankah kita berdua tahu alasannya kenapa kamu memilihnya?” Suara Bianca bergetar. Kalimat itu seolah mengkonfirmasi ketakutan terdalam Arumi, bahwa dirinya hanyalah bidak catur dalam permainan masa lalu pria di sampingnya. Genggaman tangan Garendra di pinggangnya memang terasa protektif, tapi entah mengapa, kini terasa seperti beban yang menghimpit. Arumi merasa oksigen di sekitar ballroom itu mendadak menipis. "Mas ... maaf, saya harus ke toilet sebentar," bisik Arumi dengan suara bergetar. Tanpa menunggu persetujuan Garendra, Arumi melepaskan kaitan tangan mereka dan bergegas membelah kerumunan. Wanita itu tidak peduli jika langkahnya terlihat sedikit serampangan. Ia hanya butuh dinding untuk bersandar dan napas untuk dihirup secara bebas. Di dalam toilet yang dilapisi marmer putih bersih dan lampu redup yang tenang, Arumi mencengkram pinggiran wastafel. Ia menatap pantulan dirinya. Gaun midnight blue itu memang indah, tapi wajah di baliknya tampak seperti orang asing yang sedang ketakutan. Dari Arah luar, suara sepatu hak tinggi yang mengetuk lantai marmer terdengar ritmis. Dari balik cermin, Arumi melihat pintu toilet tertutup dan dikunci dari dalam. Bianca muncul, bersandar pada pintu dengan tangan bersedekap. Gaun merahnya tampak kontras dengan ketenangan ruangan itu. "Melarikan diri?" tanya Bianca sinis. Ia berjalan perlahan menuju wastafel di samping Arumi, lalu mengeluarkan lipstik merah menyala. "Saya hanya ingin mencuci tangan," jawab Arumi mencoba tenang, meski jemarinya gemetar. Bianca tertawa sumbang. "Kamu tahu, Arumi ... Garendra itu pria yang sangat setia. Saking setianya, dia sulit melepaskan apa yang sudah menjadi miliknya selama bertahun-tahun." Bianca memoles bibirnya, lalu menatap Arumi lewat cermin. "Pernikahanmu ... hanya cara dia untuk membalas dendam padaku. Garendra ingin menunjukkan kalau dia bisa bahagia dengan siapa saja, bahkan dengan seorang janda sepertimu. Dia ingin menyakitiku dengan cara menempatkan orang lain di sisinya." Arumi menelan ludah dengan sedikit kesusahan. "Mas Garendra pria yang baik. Dia tidak mungkin sepicik itu." "Baik?" Bianca berbalik, kini menatap Arumi langsung dengan tatapan tajam. "Dia memang baik. Terlalu baik sampai dia rela menghabiskan sisa hidupnya dengan wanita yang tidak dicintai, hanya demi membuktikan bahwa dia sudah 'sembuh' dariku. Tapi kamu lihat tadi, kan?” Bianca sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Arumi. “Cara dia menatapku? Cara dia menegang saat aku mendekat?" Bianca melangkah maju, memperkecil jarak hingga Arumi bisa mencium aroma mawar yang tajam dari tubuhnya. "Garendra cinta mati padaku, Arumi. Kami punya sejarah yang tidak akan bisa kamu hapus hanya dengan satu atau dua tahun sebagai istri pajangan. Baginya, kamu itu seperti kain kasa; hanya penutup luka sampai dia merasa cukup kuat untuk kembali padaku." Kalimat itu bagai sembilu. Arumi teringat bagaimana Garendra tidur di sofa, bagaimana pria itu menjaga jarak, dan bagaimana tatapannya yang tulus tapi tetap terasa jauh. Apakah itu semua bukan bentuk penghargaan, melainkan ketidakmampuan untuk mencintai orang baru? "Kenapa Anda memberitahu saya semua ini?" tanya Arumi, suaranya kini terdengar lirih. "Supaya kamu tidak terlalu tinggi bermimpi," Bianca tersenyum dingin. "Jangan sampai kamu jatuh cinta padanya. Karena pada akhirnya, saat aku memanggilnya kembali, dia akan datang. Dan saat itu terjadi, kamu akan menjadi janda untuk kedua kalinya. Bedanya, kali ini duniamu benar-benar akan hancur." Bianca menyimpan kembali lipstiknya, lalu berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia menoleh sekilas. "Satu hal lagi ... cermin di kamarmu yang retak itu? Garendra pernah bilang padaku kalau dia benci barang yang rusak. Jadi, berhati-hatilah, Arumi. Jangan sampai kamu menjadi salah satu dari barang yang dibuang karena sudah tidak berguna." “D-dari mana Anda tahu jika di dalam kamar ada cermin itu?” Bianca enggan menjawab. Pintu tertutup dengan dentum pelan, meninggalkan Arumi dalam kesunyian yang mencekam. Arumi menunduk, menatap air yang mengalir dari keran wastafel. Hatinya terasa perih, lebih perih daripada saat ayahnya menyebutnya 'masa lalu yang kelam'. Ia teringat pesan singkat di ponsel Garendra tadi: “Dia sudah kembali ke Indonesia, Ren. Kamu yakin mau membawa Arumi ke pesta itu?” Arumi kini mengerti. Pesta ini bukan tentang memperkenalkan istri barunya kepada dunia. Pesta ini adalah tentang Garendra yang ingin menunjukkan pada dunianya yang lama—pada Bianca—bahwa dia sudah memiliki pengganti. Dan Arumi, dengan segala kenaifannya, dengan sukarela masuk ke dalam jebakan itu. Arumi menghapus air mata yang nyaris jatuh dengan ujung jari. Ia harus keluar dari sana. Wanita itu harus berdiri di samping Garendra lagi dengan kepala tegak, meskipun ia tahu, hatinya baru saja hancur berkeping-keping di balik pintu toilet hotel mewah tersebut.Evelyn menyandarkan kepalanya di dada bidang Angga, mendengarkan detak jantung pria itu yang teratur dan menenangkan. Rasa lelah dari acara seharian mendadak memuai begitu saja. "Tidak ... Aku tidak merasa lelah sama sekali," jawab Evelyn lembut, memutar tubuhnya di dalam lingkar lengan Angga hingga mereka berhadapan rapat. "Aku hanya merasa... hatiku begitu penuh. Dulu, aku pikir aku tidak akan pernah punya keluarga atau tempat untuk pulang setelah semua penderitaan itu. Tapi malam ini, di dalam pelukanmu... aku tahu aku telah menemukan rumahku yang sesungguhnya." Angga menatap manik mata Evelyn dengan tatapan yang begitu dalam, sarat akan pemujaan, kehangatan, dan janji suci yang abadi. Jemari kokohnya terulur merapikan helai rambut Evelyn, lalu menangkup kedua rahang halus istrinya. "Masa lalu yang kelam itu sudah selesai, Eve. Tidak akan ada lagi yang bisa menyakitimu, tidak akan ada lagi air mata kesedihan," bisik Angga mantap dengan suara yang mengalun rendah. "Mulai detik
Alunan musik orkestra yang melantunkan simfoni lembut bergema indah memenuhi grand ballroom hotel paling mewah di Jakarta. Ruangan raksasa itu telah disulap menjadi mahakarya visual yang menakjubkan—dindingnya dilapisi tirai sutra putih dengan ribuan tangkai mawar putih, lili, dan hydrangea impor dari Belanda yang mengalir bak air terjun di sepanjang lorong utama. Lampu-lampu kristal menggantung megah di langit-langit, memantulkan kilau cahaya keemasan yang menimpa hamparan karpet bunga liar. Hari yang ditunggu-tunggu selama berbulan-bulan itu akhirnya tiba. Pesta pernikahan Angga dan Evelyn—sebuah perayaan kebahagiaan sejati yang dihadiri oleh jajaran petinggi bisnis, mitra internasional Wiratama Group, serta kerabat terdekat. Di depan altar dan pelaminan megah yang dihiasi ukiran emas murni, Angga berdiri dengan tegap. Pria itu tampak amat tampan dan gagah dalam balutan tuksedo hitam buatan perancang busana kenamaan dunia. Kemeja putih bersih dengan dasi kupu-kupu hitam terpasan
Suasana di lantai eksekutif kantor pusat Wiratama Group satu bulan menjelang hari pernikahan terasa jauh lebih semarak dari biasanya. Namun, bukannya mereda, ritme kerja Angga justru meningkat dua kali lipat. Sebagai tangan kanan utama Garendra Wiratama, Angga bertekad menyelesaikan seluruh limpahan berkas investasi penting sebelum ia mengambil cuti panjang untuk bulan madunya bersama Evelyn. Pria itu tidak ingin menyisakan sedikit pun celah masalah di perusahaan saat ia memboyong sang calon istri untuk memulai lembaran baru hidup mereka. Di dalam ruang kerja sekretaris yang terletak tepat di luar ruangan CEO, Evelyn sedang menata tumpukan dokumen audit tahunan. Gaun kerja elegan berwarna krem yang mengenakan garis tubuh anggunnya melukiskan kecantikan seorang calon pengantin yang tinggal menghitung minggu menuju hari bahagianya. Rona bahagia di wajahnya tak pernah pudar, membuat setiap staf kantor yang lewat tak henti-hentinya memberikan ucapan selamat dan doa tulus. Pin
Pintu kaca ruang bersalin VIP itu perlahan terbuka. Angga mendorong dorongan bayi transparan tempat si kecil berbaring, sementara Evelyn berjalan di sampingnya seraya menuntun jemari mungil seorang anak perempuan berusia tiga tahun yang tampak menggemaskan dalam balutan gaun merah muda. "Mami!" panggil bocah kecil itu gembira, melangkah agak tergesa menggapai tepi ranjang tempat Arumi berbaring lemas namun berseri-seri. Garendra dengan cepat mengangkat tubuh mungil Arabella—putri kecil mereka yang tadinya dititipkan pada Evelyn di luar—lalu mendudukkannya perlahan di pinggir ranjang, tepat di samping Arumi. "Pelan-pelan ya, Bella... Mami masih lelah," bisik Garendra lembut, mengecup pipi bulat putrinya sebelum kembali merangkul bahu Arumi dari belakang. Bella menatap Arumi dengan mata bulatnya yang jernih, lalu mengulurkan jemari mungilnya mengusap lembut pipi sang mami. "Mami sakit?" tanya Bella polos, membuat hati siapa pun yang mendengarnya meleleh seketika. "Mami tidak apa-ap
Matahari pagi menyusup dari sela-sela gorden sutra di kamar utama kediaman Wiratama. Suasana yang semula tenang tiba-tiba pecah ketika Arumi, yang tengah duduk di tepi ranjang, mendadak memegang perutnya yang membesar rapat. Sembilan bulan penantian mencapai puncaknya. Sebuah remasan halus di perut bawahnya berubah menjadi kontraksi hebat yang membuat napasnya tertahan. "Ren..." panggil Arumi dengan suara gemetar, dahinya langsung dibasahi keringat dingin. "Garendra... sepertinya... sepertinya si kecil sudah mau keluar sekarang." Garendra yang sedang memasang kancing kemeja di depan cermin besar seketika membeku. Botol parfum mahal di tangan kirinya terlepas, jatuh menghantam karpet tebal tanpa ia pedulikan. Pria berkharisma yang dikenal dingin, tangguh, dan tak pernah goyah di hadapan dewan direksi mana pun itu mendadak tampak kehilangan seluruh orientasi dirinya. "A-apa?! Sekarang?!" suara Garendra melengking, naik beberapa oktav dari nada biasanya. Wajah tampannya pucat pasi d
Pintu kamar kost berukuran tiga kali empat meter itu tertutup pelan, menyisakan Evelyn yang berdiri mematung di balik daun pintu. Kamar sempit dengan satu tempat tidur tunggal, meja belajar kecil, dan lemari kayu sederhana itu mendadak terasa begitu lengang. Namun, dada Evelyn justru terasa sesak oleh kebahagiaan yang membuncah hebat hingga rasanya hampir tak tertampung. Evelyn menyandarkan punggungnya di pintu kayu yang dingin, perlahan mengangkat jemarinya untuk menyusuri permukaan bibirnya sendiri yang masih agak basah dan gemetar. Sentuhan bibir Angga yang menuntut, deru napas hangatnya yang memburu di udara malam, serta aroma parfum woody khas pria itu seolah masih tertinggal pekat di kulit leher dan rahangnya. Sensasi desiran hebat dari ciuman panas di dalam mobil tadi membuat lutut Evelyn terasa lemas seketika. Dengan senyum merekah lebar yang tak mampu ia tahan, Evelyn melangkah pelan mendekati tempat tidur. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas kasur busa tipisnya tanpa
Malam semakin larut, dan atmosfer di dalam ballroom mewah itu berubah menjadi lebih liar. Dentum musik orkestra berganti dengan irama jazz yang lebih progresif, sementara botol-botol sampanye terus dibuka. Gelak tawa para pria pemegang saham yang mulai mabuk berbaur dengan aroma cerutu mahal.Di su
“Mas, maaf, sepertinya saya tidak bisa ikut ke pesta itu.” Arumi sedang menata makanan di atas meja makan. Bukan karena tak ada pelayan di rumah megah tersebut. Namun, bagi perempuan yang sudah menikah dua kali itu, menyediakan makanan untuk sang suami adalah sebuah kewajiban. Garendra mengerutka
Suara detak jam dinding di kediaman besar keluarga Wiratama terasa seperti ketukan palu yang menghakimi. Bagi Arumi, rumah megah itu bukanlah istana, melainkan sebuah museum sunyi di mana setiap langkah kaki harus diperhitungkan volumenya. Tiga hari telah berlalu sejak janji suci diucapkan, tapi
"Saya tidak mempermasalahkan status kamu, biarlah itu jadi masa lalu. Tapi yang perlu kamu tahu, saya akan tetap menafkahimu meski tidak akan mengatur urusan pribadimu nantinya." Garendra mengatakannya tanpa nada merendahkan. Suaranya datar, sedingin ubin marmer di rumah megah itu. Kalimat itu te







