Share

Chapter 96

Author: Alana Karin
last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-26 08:02:54

Sore hari Gerardo sudah kembali ke ruangannya, pada saat itu teleponnya berbunyi. Ia segera menerimanya.

"Halo, Tuan."

"Ya." Gerardo langsung membangkitkan tubuhnya begitu mendengar suara anak buahnya.

"Kita sudah tiba di bandara dan sedang dalam perjalanan membawa Dokter Karina. Tapi ada sebuah mobil SUV hitam yang mengikuti kita," terang anak buah Gerardo dalam telepon.

Gerardo mencengker
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Ranjang Hangat Sang Mafia   Chapter 122

    Shena tercekat. Matanya membelalak, bibirnya terbuka tanpa suara. Gerardo tersenyum samar, lalu melangkah masuk perlahan. Lalu melihat dua bayi kembar di sampingnya. Shena tak berkata-kata. Air matanya langsung mengalir, begitu juga dengan perasaannya yang selama ini terpendam. "Gerardo..." ucapnya lirih. Gerardo menghampiri ranjang dan menunduk perlahan, menatap bayi mungil mereka. Jemarinya menyentuh lembut tangan si bayi. Perasaannya membuncah dia benar-benar tidak mempercayai hari ini, menerima keajaiban setelah empat bulan tertidur dan melihat anaknya dengan sehat dan selamat. Shena menahan tangisnya, tidak ingin terisak terlalu keras. Namun matanya membenarkan segalanya betapa ia merindukan pria ini, betapa ia takut kehilangan. "Maaf aku tidak ada saat kau melahirkan," kata Gerardo serak, menatapnya. Shena menggeleng sambil menghapus air matanya. "Kau datang tepat waktu... karena aku hampir percaya kau tak akan datang..." Gerardo menyentuh pipinya lembut, l

  • Ranjang Hangat Sang Mafia   Chapter 121

    Teriakan Shena menggema di ruang bersalin. Tubuhnya sudah dibaringkan, wajahnya penuh keringat dan air mata. Para perawat dan dokter dengan sigap membantu proses kelahiran yang berlangsung lebih cepat dari perkiraan. Tuan James berdiri di luar ruangan dengan gelisah. Sesekali ia berdoa dalam hati, wajahnya tegang penuh kecemasan. Di tempat lain, di sebuah ruangan dengan penjagaan ketat, Gerardo terbaring lemah dalam kondisi koma. Tubuhnya dipenuhi selang dan alat bantu. Mesin monitor detak jantung terus berdetik dengan irama lambat dan stabil. "Sedikit lagi, Nyonya Shena! Tolong dorong lagi!" Shena menangis dalam lirih. Teriaknya bercampur dengan suara isak dan rasa sakit yang luar biasa. Mesin monitor di ruang ICU tempat Gerardo terbaring mendadak menunjukkan sedikit perubahan. Bip.Bip. Detak jantungnya naik perlahan. Jemarinya yang selama ini tak bergerak, sedikit menegang. "Dorong, Nyonya! Ayo... bayinya hampir keluar!" Shena memejamkan mata, menyalurkan seluruh

  • Ranjang Hangat Sang Mafia   Chapter 120

    Paman dan bini Shena mengangguk. "Ya, sama-sama tuan." Setelah berbincang sebentar keduanya pun pergi. Shena merasa sedikit canggung di rumah ini. Namun Tuan James terus berusaha membuat Shena nyaman. Sepanjang waktu mereka bercerita banyak hal, termasuk pekerjaan yang di miliki keluarganya. Kakeknya bukan seorang pebisnis besar, tetapi dia punya cukup aset untuk bertahan hidup. Shena terus bercerita termasuk kondisi pernikahan dan juga kehamilannya, serta beberapa hal yang membuat ia terancam dengan suaminya itu. "Ayo, Shena. Rumah ini kini milikmu juga," ucap Tuan James kemudian mengarahkan Shena untuk berusaha nyaman di rumah ini. "Selamat datang, Nona," katanya. "Saya Maria, kepala pelayan rumah ini. Kami sudah menyiapkan kamar untuk Anda, dan dokter pribadi keluarga juga sudah diberitahu mengenai kondisi Anda." "Terima kasih," jawab Shena, masih terkesan dengan suasana rumah itu. Kakeknya memegang lembut bahunya. "Kau bisa istirahat setelah dokter datang memeriksa

  • Ranjang Hangat Sang Mafia   Chapter 119

    Beberapa saat kemudian, Hector dan anak buah Gerardo lainnya membawa Gerardo ke rumah sakit. Tubuh mereka juga terluka tapi mereka lebih mementingkan keselamatan Gerardo. Sesampainya di rumah sakit yang di kelola keluarga Gerardo, tim medis segera menyambut dengan tandu. Tubuh Gerardo langsung dibawa ke ruang operasi. Dia di tangani dengan serius saat ini. *** Sedangkan di tempat lain, di rumah Tuan Damian, suasana masih diselimuti duka yang pekat. Shena duduk terdiam di ruang tamu, mengenakan pakaian hitam sederhana. Wajahnya pucat, matanya sembab, seolah air mata telah mengering tapi rasa sakitnya justru menetap. Beberapa saat kemudian, seorang pria dan seorang wanita melangkah masuk. Raut wajah mereka dipenuhi kekhawatiran yang tulus. “Shena,” panggil sang wanita pelan. Shena mengangkat wajahnya perlahan. “Paman… Bibi…” Paman itu mendekat, duduk di hadapannya. “Kami datang menjemputmu.” Shena mengerutkan kening. “Menjemput? Kita mau ke mana, Paman?” Pria itu s

  • Ranjang Hangat Sang Mafia   Chapter 118

    Gerardo tetap tidak merespon, pria itu terus merokok. Lalu berkata. "Mungkin kamu benar dan aku akan tetap mengatur rencana untuk menghabisi Javier. Bukan untuk membalas dendam pada kematian Julius tapi untuk menunjukan kekuatan Olympus dalam menaklukan Pegasus. Sudah sejak dulu impianku untuk menghabisi Javier lalu mengambil Pegasus untuk tunduk di bawah kita," ucap Gerardo. Saat mengatakan itu Diego dan Hector melihat kilapan berapi-api, kebangkitan dan juga semangat juang yang tinggi. Tepat saat itu Gerardo melihat Shena berjalan keluar dari area pemakaman dengan wajahnya yang sembab dan pakaian yang berlumur tanah, dia berjalan dengan di dampingi pengawal dan Lily. Mereka tidak berjalan kearahnya, dan Gerardo sudah tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Shena masuk ke dalam mobil tuan Damian, tanpa berbicara pada Gerardo. Tidak lama mobil itu melaju. Gerardo berpikir tebakannya benar, Shena benar-benar akan pergi dari rumahnya. Hector menatap Gerardo. "Tuan apa kita

  • Ranjang Hangat Sang Mafia   Chapter 117

    Shena melepas diri dan berlari ke kamar. Perasaannya campur aduk tak menentu. Baru saja ia bahagia, baru saja hidupnya sedikit lebih baik, tapi ayahnya malah pergi meninggalkannya selamanya bahkan ketika dia belum sempat melihat dirinya bahagia sepenuhnya, melihat calon cucunya terlahir ke dunia. Gerardo tidak mampu menahannya, dia segera beranjak dari sana. Begitupun beberapa anak buahnya yang juga ingin menemuinya dari segala arah di rumah itu. Situasi terasa mencekam. Gerardo menginstruksikan mereka untuk masuk ke dalam ruang kerja. Wajah Gerardo terlihat mengeras. Keinginan membunuh orang semakin kuat. "Tuan, kami sudah membawa tubuh Julius pulang," ucap Alfonso. Gerardo menatapnya tajam lalu bergulir pada anak buah yang lain. "Siapa yang berani membiarkan Julius keluar sendiri?" tekan Gerardo. Alfonso menunduk mewakili rekan-rekannya. "Awalnya orang-orang sudah menahannya tetapi beliau sendiri yang memaksa untuk tetap pergi, tuan." Gerardo tidak berkata lagi, ke

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status