Chapter: Bab 78Sekitar pukul sepuluh pagi, Bagas yang seharusnya berada di kantor tiba-tiba pulang kembali bersama Bastian.Pada saat yang sama suasana lantai atas sedang sepi. Tuan dan Nyonya Besar pergi ke rumah eyang, sebagian pelayan sibuk di area bawah. Karena itu, kedatangan Bagas yang tampak pucat langsung mengundang bisik-bisik kecil.Bastian segera mencari Kania di halaman belakang. Setelah menemukan gadis itu sedang bersama Naren ia segera berkata. "Tuan Bagas meminta nona ke atas. Naren biar saya yang jaga."Kania sempat melihat ke arah beberapa pelayan yang mulai curiga, tapi ia tak punya pilihan. Ia tetap melangkah ke lantai dua, menuju kamar Bagas.Begitu pintunya terbuka, ia melihat Bagas sudah duduk di sofa dengan pakaian rumahan kaus hitam longgar dan celana training. Wajah pria itu tampak letih, dan dari cara ia bersandar, Kania tahu Bagas tidak sedang baik-baik saja.Namun yang membuat Bagas terfokus justru perempuan itu yan
Terakhir Diperbarui: 2026-09-01
Chapter: Bab 77Bagas mendinginkan pikirannya dengan berenang ke dalam kolam renang.Air dingin adalah satu-satunya hal yang sanggup meredam rasa gerah sekaligus amarah yang masih menempel di tubuhnya.Ia kembali menyelam, membiarkan fokusnya beralih sejenak ke aktivitasnya itu.Saat Bagas naik ke permukaan lagi, suara langkah terdengar mendekat."Mas," panggil Damar sambil mengangkat sebotol anggur merah.Bagas hanya menoleh sekilas, lalu kembali berenang tanpa menjawab.Damar duduk di kursi panjang dekat kolam, membuka tutup botol, dan menuang minuman itu ke dua gelas.Ia menunggu tanpa terburu-buru.Tak butuh waktu lama sampai Bagas menepi. Ia mengambil handuk, mengusap rambut dan wajahnya sebelum berdiri di depan Damar."Kamu dari mana?" tanya Bagas sambil meraih gelas yang disodorkan."Tadi ke ruang baca. Ngobrol sama Mbak Kania," jawab Damar."Ngobrol?"Bagas meneguk anggur itu. Hangatnya la
Terakhir Diperbarui: 2026-08-31
Chapter: Bab 76Kania merasakan jantungnya berhenti sesaat. Ia menelan ludah."Yang mas nggak suka?""Saya nggak suka hal-hal yang terlalu romantis," jawab Bagas tanpa ragu."Saya suka langsung ke inti. Tanpa basa-basi."Kania mengangguk pelan, mencoba tetap tenang meski hatinya terasa dicengkeram."Kalau pacar baru mas... minta sesuatu, boleh?" tanyanya hati-hati.Bagas tertawa kecil, lalu mengamati ekspresi Kania dengan pandangan yang sangat tajam."Saya juga suka membaca pergerakan lawan bicara saya," ucapnya santai.Kania mengerutkan kening. "Jadi mas tahu aku mau apa?"Bagas tidak menjawab dengan kata-kata.Ia hanya mengangkat dagunya sedikit, seolah mengajaknya berhenti bermain teka-teki."Kamu mau uang berapa?" tanya Bagas akhirnya, to the point.Kania terdiam sejenak... lalu mengucapkannya."Aku mau seratus juta, Mas."Ia butuh melunasi hutang kakaknya pada bosnya itu.
Terakhir Diperbarui: 2026-08-31
Chapter: Bab 75Di lantai kamarnya suasana tak lagi menegangkan seperti ketika masih ada eyang. Kania benar-benar bisa bernapas dengan lega lagi.Sampai ketika akhirnya derap langkah terdengar mendekat.Ia melihat siluet Bagas mendekat. Semula masih jauh hingga kini sudah ada di depannya. Pria itu menarik tubuhnya sedikit menjauh dari Naren yang sedang bermain.Seolah pria itu tak ingin mengabaikan sedetik kesempatan yang ada dengan mencium Kania. Perempuan itu tahu dirinya tak lebih dari sebatas pelampiasan. Beberapa saat mereka berpagutan. Kania kembali menatapnya. Namun ia tetap berusaha tenang.Tapi tangan Bagas sudah menggerayangi pinggangnya di balik seragam nanny yang dia kenakan. Dengan cepat Kania menahannya."Kamu bukannya pergi ke tempat kerja kenapa malah balik lagi? Gak langsung ke kantor?" Tanya Kania."Karena saya masih kangen sama pacar baru saya,""Aku gak kemana-mana, mas. Mas kerja aja."Bagas kemud
Terakhir Diperbarui: 2026-08-31
Chapter: Bab 74Hingga pagi ini Kania masih terngiang dengan momen semalam. Setiap kali ia memejamkan mata, momen itu kembali muncul, ketika bagaimana Bagas menyentuhnya, membisikan kalimat-kalimat bernada sensual yang mampu membakar jiwa asmara mudanya. Bahkan ia tak bisa tidur dengan nyenyak hanya karena memikirkan pria itu. Sungguhan jika mengingat rencananya untuk membakar amarah nyonya besar dengan masuk ke keluarga Wiratmodjo akan semakin dekat. Jika itu terjadi ia akan sangat merasa puas karena ketakutan nyonya besar itu berhasil ia wujudkan. Namun ia masih tidak terlalu terlena, hanya karena kata ajakan Bagas untuk menjalin asmara. Ia masih menyisakan sedikit ruang kewaspadaan. Ruang itu mengingatkannya bahwa Bagas adalah bencana yang mempesona, memabukkan, tapi dapat menghancurkan jika ia membiarkan dirinya terhempas terlalu jauh. Ia boleh saja tersentuh oleh perlakuannya. Ia boleh saja gemetar setiap kali mengingat
Terakhir Diperbarui: 2026-08-30
Chapter: Bab 73 "Aku cuma manusia biasa wajar kalau punya rasa. Tapi aku sadar diri, mas. Perasaan aku salah." Bersamaan dengan itu Bagas melepas dagu Kania. "Mas boleh menjauh setelah ini. Mas boleh singkirin aku." Namun setelah beberapa saat Bagas malah menarik tubuh itu ke dalam pelukannya bukannya menyuruhnya pergi atau memberi peringatan. Dia memeluknya erat seolah memang mereka adalah sepasang kekasih. Kania terkejut, dia hanya mematung sampai Bagas menempelkan hidungnya ke hidung Kania hingga napas mereka menyatu. "Mas gak marah?" Bagas menggeleng. "Di umur segini saya udah gak mau main-main soal perasaan sama perempuan. Saya cuma butuh perempuan yang nurut, perempuan yang rasa sayangnya ke saya sebesar rasa sayangnya ke anak saya. Tapi kenapa di saat saya butuh semua itu justru kamu yang datang, dan cuma kamu yang memenuhi semua
Terakhir Diperbarui: 2026-08-30
Chapter: Chapter 10.Marcel terdiam ternyata Drake hanya ingin memastikan hal ini. "Tentu saja sudah, aku akan mengirim bukti pesan yang ku kirim padanya." Drake tak merasa ada yang mencurigakan dari Marcel, dia juga langsung melihat pesan yang baru saja di kirim Marcel tentang bukti pesannya pada Madame Charlotte. Namun karena ini, keyakinannya tentang Madame Charlotte yang sudah menipu Seira kian kuat. Dan ia tak senang dengan hal ini. Marcel tak mendengar Drake berbicara apa-apa lagi. Dia pun berkata, "apa ada masalah?" "Tidak ada." "Oh iya, mengenai taruhan semalam, anggap saja batal. Karena waktunya tidak tepat, tidak menyangka jika akan ada Sarah di sana," ucap Drake. Marcel menghela nafas lega, dia mengangguk, "baik, baik, aku mengerti. Kita bisa taruhan lain kali lagi." Marcel tersenyum cerah di ujung sana. Drake kemudian menutup telepon itu, dan mengepal erat teleponnya. Dia segera menuju pintu keluar, dan melihat Hector beserta beberapa pengawal berjaga di luar. Mereka menunduk menyambutn
Terakhir Diperbarui: 2025-03-09
Chapter: Chapter 9.Keesokan Pagi. Seira terbangun dengan tubuh yang kaku dan berat. Saat pertama membuka mata dari tidurnya, pemandangan yang dilihatnya pertama kali adalah sosok Drake yang masih terlelap dengan posisi telungkup di sampingnya. Ada sedikit kegugupan, apalagi setelah ingat dengan apa yang terjadi semalam. Pelan-pelan ia bangkit dari ranjang, mengambil selimut untuk menutupi tubuhnya yang tidak mengenakan apapun. Namun, langkahnya terhenti ketika pria itu tiba-tiba membuka mata dan menatapnya. "Mau pergi kemana?" suara Drake yang masih dibalut sisa kantuk terdengar. "Aku ingin pulang," jawab Seira tenang, menghindari tatapannya. Pria itu memutar posisi tubuh kemudian duduk, menggeliat sejenak sebelum beranjak dari ranjang. Dia menekan kepalanya sejenak untuk menetralkan efek pusing di kepala. Ini tidak seperti biasanya, ia tidak pernah merasa pusing seperti ini, bahkan sebelum dia melakukannya dengan wanita itu semalam. Ini seperti efek sebuah obat, apakah semalam dia benar-benar mabu
Terakhir Diperbarui: 2025-03-09
Chapter: Chapter 8.Seira tertegun dan segera sadar dari lamunannya. Suara dalam dan berat yang keluar darinya menambah kegugupannya. "Iya, Tuan." Kemudian Seira duduk di sofa di samping Drake dengan gerakan gugup. Kegugupan itu membuat Drake dapat menyimpulkan jika Seira memang belum pernah berhadapan dengan pria. Para pelayan terus menyuguhi mereka minuman, Drake menarik pinggang Seira kian dekat. Sampai tak ada jarak di antara mereka. Hal ini membuat Seira semakin gugup dan sesak nafas, aura dominan menyeruak kuat dari dalam diri pria ini. "Minumlah!" Tawar Drake sambil menunjuk segelas anggur yang ada di depannya dengan matanya kepada Seira. Seumur-umur Seira belum pernah minum anggur, meskipun usianya sudah legal, dan ia bekerja di tempat seperti ini tapi dia tetap ingin menghindarinya. "Kenapa?" Drake bertanya saat Seira tak juga menyentuh gelas anggurnya. "Saya tidak pernah minum alkohol." "Berapa usiamu?" Seira segera menjawab, "21 tahun." Drake mengangguk, kepolosan yang di tunjukkan S
Terakhir Diperbarui: 2024-03-25
Chapter: Chapter 7.Suasana bar di lantai utama semakin ramai. Kemesraan yang terjalin antara Sarah dan Vincent juga tidak terkendali, entah mereka seperti sengaja melakukan itu di depan Drake. Tapi itu juga terlihat alami, mengalir begitu saja seperti memang mereka melakukannya karena perasaan cinta. Drake terus meneguk minumannya untuk gelas yang ke sekian kali. Kemudian mengentakkan gelasnya ke atas meja dengan cara kasar. "Di mana wanita itu mengapa belum datang juga?" tanya Drake dengan kilapan mata serius pada Marcel. Marcel tertegun, dia juga tidak tahu harus menjawab apa, semua ada dalam kendali Madame Charlotte dia yang mengatur cepat atau lambatnya. Drake benar-benar tidak sabar, bukan karena dia merasa cemburu dengan tingkah Sarah dan Vincent. Namun entah kenapa sejak dia meneguk gelas Whiskey pertamanya dia merasa ada perasaan yang berbeda yang membuatnya naik lebih cepat. Dan ingin dia tuntaskan. Sial! "Apa yang kau bilang pada Charlotte tentang wanita pesananku malam ini?" tanya Drak
Terakhir Diperbarui: 2024-03-25
Chapter: Chapter 6.Di saat ini Madame Charlotte sedang berusaha keras mencari wanita seperti itu. Dia sudah menghubungi banyak kenalannya. Namun mencari wanita Virgin di kota ini sangatlah sulit, rasanya seperti mencari jarum di tumpukan jerami, apalagi mengingat pergaulan anak muda sekarang yang kelewatan itu semakin membuatnya kesulitan, mungkin ada tapi sangat jarang. Tapi demi uang ia akan melakukan cara apapun. Pandangan Madame Charlotte berputar ke sekeliling, namun entah bagaimana tiba-tiba matanya tertuju dengan tubuh sesosok gadis muda yang sedang mengikat rambutnya di depan kaca toilet kamar mandi. Saat ini Madame Charlotte yang tengah ada di sudut kamar mandi itu memperhatikan gadis dengan seragam pelayan itu. Jika di pikir gadis itu sangat cantik dan juga muda, hanya saja nasibnya sedikit kurang beruntung saat dia hanya bekerja menjadi seorang pelayan. Madame Charlotte sudah sangat lama menjadi mucikari di bar ini, namun dia baru kali ini melihat gadis itu di sini. Sepertinya dia memang
Terakhir Diperbarui: 2024-03-22
Chapter: Chapter 5."Tidak usah!" Tapi Drake menolak, dia sudah tidak memedulikannya, "karena jika aku pergi maka mereka akan puas dan berpikir jika aku cemburu," ucap Drake. "Kau benar!" Marcel ikut menyetujui perkataan Drake. "Baiklah." Hector pun mengangguk. Dia tahu pentingnya menjaga harga diri bosnya di hadapan sang mantan istri. "Aku sungguh tidak menyangka jika wanita itu akan berkhianat dengan Vincent sahabat mu sendiri," ucap Marcel. Sudah bukan rahasia lagi pengkhianatan yang di alami Drake, di kalangan pebisnis keluarga Drake dan keluarga Sarah adalah dua keluarga yang sangat tersohor. Drake juga tidak tahu bagaimana bisa sahabat yang dia percayai itu akan mengkhianatinya seperti ini. Padahal satu tahun yang lalu ketika dia memeriksakan diri -Vincent adalah salah satu temannya yang menemaninya di rumah sakit. Tapi tidak ia sangka Vincent akan berkhianat seperti ini. Saat ini hubungannya dengan Vincent sangat dingin sejak satu tahun terakhir. Tapi dia masih belum melakukan apapun, ini ka
Terakhir Diperbarui: 2024-03-22